NovelToon NovelToon
The Happy A Villain

The Happy A Villain

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / TimeTravel / Chicklit / Tamat
Popularitas:349.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sisi Miring Petagon

Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.

Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?

Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?

Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja

27 Oktober 2020

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

WARNING TYPO BERTEBARAN

***

Melisa POV

Sinar mentari memasukki rumah besar mengusik tidur seorang gadis. Gadis membuka mata berlahan. Tanganya

meraih segelas air yang berada dimeja. Gadis cantik dengan rambut berantakan meminum air putih dengan pelan.

Suara ketukan terdengar ditelinganya. Berlahan gadis yang bernama Melisa membuka pintu menampilkan bi Surti.

“ Non dicari ayah ditaman” kata bi Surti lembut.

Melisa mengangguk kemudian menutup pintu. Melisa mejamkan mata untuk berganti jiwa. Aku berlahan membuka  kedua mataku.

“ Melisa mengangguku bermain dengan Toto” kataku menuju ruang ganti.

Aku mengambil kaos putih dengan rok selutut. Aku mengulung rambutku tinggi menampilkan leher jenjangku. Aku keluar memakai sandal berjalan menuju ke taman.

“ Meong” suara oren yang imut. Kaki kecilnya datang kearahku. Aku menangkap oren dengan kedua tanganku. Aku mengendong oren yang terasa berat dibandingkan pertama kali aku mengendongnya.

Aku meginjakkan kaki di taman yang luas dengan berbagai tumbuhan yang ditaman dengan rapi. Aku melihat ayah dengan pakaian kerjanya duduk manis. Tangannya memegang secangkir kopi panas. Ayah tampak menikmati kopi dengan kitmat.

Aku menghampiri ayah dengan pelan. Aku duduk didepan ayah dengan tanganku sibuk bermain dengan oren. Ayah melihat interaksi kami mengangkat sudut bibirnya.

“ Kamu diskors Mel” kata ayah memulai percakapan.

“ Iya yah” kataku dengan anggukan.

Ayah seperti kehilangan kata-katanya ada guratan kekecewaan. Aku yang melihatnya merasa bersalah.

“ Katanya kamu mencontek dan mengancam seorang siswi beasiswa. Kalau boleh ayah tahu bagaimana ceritanya?” tanya ayah lembut.

“ Aku membantu seorang gadis miskin yang kesulitan melepas jepit rambut. Ada anak yang melihatnya mengira aku menjambaknya kemudian memotretnya. Anak tersebut salah paham terhadap kami. Kemudian aku difitnah mencontek padahal aku mengerjakan ujian ini dengan kemampuanku. Pengawas tidak mempercayai perkataanku hanya dengan bukti satu foto bahkan pengawas tidak mau mendengar pembelaanku” kataku kesal menjelaskan dengan singkat.

“ Terkadang niat baik dibalas dengan kejahatan hanya demi keuntungan pribadi” kata ayah menasehati.

Aku membalas dengan anggukan.  Ayah meneguk kopi untuk merilekskan diri. Ayah menatapku dengan intens membuatku gerogi.

“ Apa yang bisa ayah lakukan untukmu?” tanya ayah pelan.

“ Biar Melisa yang mengurusnya... ayah menonton saja” kataku dengan senyum manis menghiasi pipiku.

Rasa sedihku berganti dengan susunan rencana yang berada diotakku. Aku melihat ayah tersenyum miring.

“ Rupanya putri ayah sudah besar” kata ayah memujiku.

Aku membalas ayah dengan tawa kecil. Tiba-tiba oren naik keatas meja untuk tidur dimeja. Membuat kami tertawa melihat tingkah rondom oren.

Sebuah bunyi pesan masuk ke ponselku. Aku membaca isi pesan dari Gio yang mengatakan dokter Sutaji sudah bergerak. Aku memandang ayah dengan wajah memelas.

“ Ayah... aku ingin keluar jalan-jalan” kataku berbohong dengan nada manja.

Aku melihat ayah ingin menolak namun tidak tahan dengan tingkah imutku akhirnya ayah mengizinkan. Aku beranjak pergi dari tempat duduk meningalkankan ayah sendirian. Sebelum itu sebuah ciuman mendarat dipipi ayah.

Aku berjalan masuk ke dalam rumah yang disusul oren dari belakang. Aku mengangkat oren kemudian mengendongnya. Aku memberikan makan oren diruangannya. Aku melihat oren memakan makanannya dengan lahab membuat hati kecilku bahagia.

Aku pergi ke kamar untuk berganti pakaian sekaligus berganti jiwa, Aku memberikan rencana kepada Melisa. Aku mengawasi pergerakan Melisa dari alam bawah sadar.

Melisa berganti rok dengan celana jeans serta jaket kulit warna hitam yang membukus tubuhnya.  Melisa keluar kamar ke garasi. Melisa keluar rumah mengendarai motor sport berwarna hitam. Melisa membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.

Melisa menemui Tris untuk masuk kedalam rencana. Melisa sempat menganti model rambutnya menjadi warna pink dengan masker dan kacamata hitam menutupi wajahnya.

Melisa mengkordinasi anak buahnya menjadi tiga kelompok. Kelompok A terdiri Melisa, Gio dan Yan yang akan masuk kedalam gedung. Kelompok C terdiri Tris dan anak buahnya yang memandu sekaligus menjadi penyerang jarak jauh. Kelompok C terdiri kelompok sisa yang bertugas membuat pengalihan. Penempatan kelompok C dan B terpisah untuk memungkinkan membantu dan melindungi kelompok A.

“ Apa kalian semua paham?” tanya Melisa.

Melisa sudah memberikan arahan yang dibalas dengan anggukan anak buahnya. Melisa tidak mengunakan seluruh anak buahnya karena ini misi penyusupan.

“ Aku ingin kita mengerjakan misi ini dengan rapi” perintah Melisa yang dibalas anggukan.

Melisa menatap seseorang laki-laki dengan postur seperti anak kecil. Laki-laki itu bernama Yan. Yan salah

satu anak buah Melisa yang memiliki kelincahan dalam menghindar. Selain itu, Yan sangat pandai dalam menembak.

“ Yan mari bergerak Gio sudah menunggu dimarkas musuh” kata Melisa.

Yan menganggu kemudian Melisa dan Yan pergi terlebih dahulu menuju tempat musuh. Disusul oleh kelompok lain yang berpencar untuk melakukan tugasnya.

-----

Aku mengarahkan Melisa masuk kedalam gedung untuk menemui Gio yang sudah berada disana. Melisa masuk kedalam gedung tua yang terbengkalai dengan tumbuhan yang tumbuh liar didalamnya. Gedung pengap dengan pencahayaan yang minim. Debu bertumpuk bersama sarang laba-laba yang berada dimana-mana menambah kesan tua dan menyeramkan.

Kami mengelilingi gedung dengan tangan kami memengang pistol. Kami menemukan Gio yang bersembunyi dibalik pintu. Gio fokus mendengarkan perbincangan sekelompok orang dengan pria paruh baya.

Sekitar 30 menit akhirnya beberapa orang keluar dengan membawa sebuah kotak brangkas. Kami  segera bersembunyi sampai mereka tidak ada. Kami menemui Gio yang sedang bersembunyi.

“ Apa yang terjadi?” tanya Melisa

“ Buktinya berada dikotak kayu yang dibawa orang tadi. Sedangkan kuncinya berada didokter Sutaji” kata Gio

“ Dimana dokter Sutaji?” tanya Melisa

“ Penjara bawah tanah” kata Gio

“ Sekarang kita pencar. Aku ke penjara bawah tanah dan kalian ambil kotak itu” kataku memerintah Yan dan Gio.

“ Tapi...” bantah Gio yang Melisa balas tatapan tajam membuat Gio dan Yan menuruti perintah Melisa.

Melisa pergi kepenjara bawah tanah. Melisa berjalan menuruni tangga menuju  keruangan bawah tanah. Ruangan yang sangat gelap dengan debu bertebaran. Melisa sudah memasukki ruang bawah tanah yang memiliki pintu besi dan pipa yang terpasang disetiap sisi. Pipa yang dipasang memiliki berbagai ukuran.

“ Apa kegunaan pipa-pipa ini?” tanyaku dialam bawah sadar. Tanganku sibuk membelai bulu Toto dengan otakku yang berpikir keras.

Melisa menemukan dokter Sutaji berada didalam penjara besi. Dokter dalam keadaan yang menyedihkan dengan tangan dan kakinya diikat dengan rantai. Tubuhnya kurus dengan luka diseluruh tubuh. Bekas luka ada yang mulai mengering dan ada beberapa luka tambahan. Dokter Sutaji tampak tak berdaya bahkan untuk mengangkat lehernya tidak sanggup. Melisa yang melihatnya merasa tidak tega.

Aku melihat kaki dokter Sutaji yang terdapat kunci berangkas. Aku merasakan adanya keanehan dalam misi kali ini. Aku tetap diam mengarahkan Melisa untuk membuka penjara dengan kunci dalam kotak kaca yang ditaruh dipojok.

DOR PYARR suara tembakan dan pecahan kaca terdengar mengema. Aku menghelan nafas atas sikap Melisa yang bertindak tanpa berpikir. Melisa segera mengambil kunci.

Melisa membuka pintu penjara dengan kunci yang dipegangnya. Melisa langsung melepaskan rantai yang diikat dokter Sutaji. Rantainya terkunci sehingga Melisa mengarahkan pistol ke gembok. Melisa berniat menolongnya tapi kuhalangi karena pasti akan mengundang keributan.

Aku melihat diatas dokter ada sebuah kode. Aku mengamati kode dengan sesama dan teliti. Butuh kurang lebih 5 menit untuk memecahkan kode. Aku meminta Melisa untuk berjalan kearah kotak kayu yang tertutupi beberapa karung.

Melisa menggunakan kekuatannya untuk memindahkan karung-karung. Aku sempat melihat sebuah kotak kecil yang terlihat seperti pintu. Aku menggunakan kaki Melisa untuk menendang. Aku harus memastikan bahwa itu sebuah pintu rahasia.

“ Benar” kataku tersenyum sambil mengelus Toto.

Melisa membuka kotak kayu yang terkunci dengan pistol. Kotak kayu terbuka menampilkan sebuah kunci. Melisa masuk kedalam penjara untuk membebaskan dokter Sutaji. Seluruh rantai telah lepas dari tubuh dokter Sutaji dan Melisa mendapatkan kunci berangkas.

DOR bunyi tembakan yang berasal dari belakang. Melisa melihat darah keluar dari perut bagian kanan. Melisa segera mengubah posisiku menjadi 180 derajat untuk membalas tembakan.

Tangan Melisa ditendang dengan keras hingga tangannya terhempas kelantai. Pistol hitamku terlepas dari gengaman tangan tanganku. Pistolku melambung jauh keatas hingga terjatuh. Melisa berusaha berdiri untuk mengambil pistolnya.

Sebuah tangan besar menarik rambut pink Melisa yang terikat. Pria besar berotot menjambak rambut pink Melisa tanpa ampun. Rasanya seluruh sarafku terputus. Melisa refleks memegang kedua rambutnya untuk mengurangi rasa sakit.

Pria besar itu menekan Melisa untuk duduk bersimpuh. Kemudian kaki Melisa dipijak oleh kaki pria besar itu. Aku merasa bahwa kedua tulang kakiku patah.

Suara seretan dan rintihan terdengar ditelingaku. Rintihan itu semakin mendekat menampilkan Yan dan Gio yang babak belur dengan tubuh berlumuran darah. Yan dan Gio dilempar ke sampingku. Aku melihat keadaan Yan dan Gio yang sekarat. Aku berpikir bagaimana caranya bisa kabur dari mereka.

“ LEPASKAN MEREKA B*****T” teriak Melisa memaki.

“ HAHAHAHAHAHA” suara tawa yang mengelegar memenuhi ruangan.

Melisa memandang tajam kearah suara itu. Berlahan sosok yang tertawa terlihat jelas dimata Melisa. Menampilkan kak Arjeno yang tertawa keras menertawakan ketidakberdayaan kami. Kak Arjeno menghentikan tawanya memandang kami dengan jijik.

“ Kalian para tikus seharusnya tidak menganggu seekor singga” kata kak Arjeno sombong.

“ Kecoak yang mengaku seekor singga” kata Melisa membalas merendahkan.

PLAKKK sebuah tamparan mendarat dipipi Melisa. Dibalik masker Melisa merasakan sebuah rasa asin dari darah yang mengalir dibibirnya. Melisa memandang tajam Arjeno.

“ Ini akibat kalian mencoba ikut campur urusan kami jadi kalian harus merasakan penderitaan yang tidak pernah kalian bayangkan” kata kak Arjeno angkuh.

“ Penakut” kata Melisa meremehkan.

Melisa mendapatkan tatapan tajam dari kak Arjeno. Kak Arjeno memengang dagu Melisa dengan kuat membuat Melisa merintih.

“ Kalian takut rahasia kejahatan kalian terbongkar sehingga kalian menghalangi kami” kata Melisa menghina.

PLAKK sebuah tamparan kedua kalinya yang diberikan kak Arjeno pada Melisa.  Melisa merasakan bibirnya robek lagi. Tangan kak Arjeno mencoba melepas masker yang dipakai Melisa. Melisa mencoba menghalangi menggunakan tangan namun jambakan dari pria besar semakin kuat. Akhirnya Melisa mengunakan giginya untuk mengingit tangan kak Arjeno hingga berdarah.

“ Aouhh” jeritan kak Arjeno.

Kak Arjeno memegang tangannya yang berdarah. Kaki kak Arjeno menendang bagian perut Melisa berulang kali hingga Melisa tidak berdaya. Seluruh tubuh Melisa terasa sakit luar biasa. Aku bisa merasakan bahwa beberapa tulangku patah. Darah diperut Melisa keluar semakin banyak.

“ Tinggalkan tikus itu disini kemudian nyalakan gas racun” kata kak Arjeno memerintah anak buahnya.

Pria besar itu melepaskan Melisa dengan kasar. Pria besar itu berjalan menjauh bersama temannya meninggalkan Melisa, Yan, Gio, dan dokter Sutaji. Gas racun dinyalakan melalui pipa-pipa yang ada.

Melisa merasa tubuhnya sakit dengan tangan dan kakinya tidak bisa digerakan. Badannya terasa lemah tak berdaya. Darah mengalir keluar semakin banyak. Warna merah darah menghiasi lantai tercampur bersama debu. Berlahan Melisa menutup mata dengan memandang orang-orang yang setia padanya mati bersamanya.

Aku membuka mata dengan cepat segera berdiri dengan kekuatan kesadaran. Aku mengabaikan rasa sakit yang menghantamku. Tanganku segera menyobek kain pakaian yang dipakai. Kain yang dirobek untuk membantu menghalangi racun gas masuk kedalam tubuh. Robekan kain sudah dipasangkan dihidung dan mulut dokter Sutaji, Yan dan Gio.

Aku mengambil rantai untuk mengikat keanggota tubuh mereka. Aku menyeret mereka bertiga seperti menyeret kereta api.

Aku bersyukur kak Arjeno yang bodoh itu tidak menutup pintu penjara. Aku membuka pintu kecil yang kutemukan saat membongkar karung.

Aku menendang sekuat tenaga. Kemudian memasukkan mereka bertiga kedalam sebelum gas racun membunuh kami. Aku segera masuk kedalam lorong sempit. Sebelumnya aku sudah menutup pintunya.

Aku mengirim pesan pada kelompok B untuk menyelamatkanku dan kelompok C untuk melakukan kerusuhan.

“ Dasar adik dan kakak sama saja... biang perkara” kataku kesal.

Setelah mengikuti lorong yang panjang, sempit, pengap dan gelap akhirnya aku bisa keluar dari gedung. Aku menyeret mereka bertiga menuju mobil yang sudah dipasang Tris.

Dari kejauhan Tris menuju kemari bersama beberapa orang. Mereka segera menolong ketiga orang yang sedang

kuseret.

BOOM bunyi ledakan dibagian belakangku. Aku menoleh melihat gedung yang meledak. Gedung tua yang dilahab si jago merah.

Kepalaku terasa berputar dengan perutku yang mual. Kaki dan tanganku terasa lemas tak sanggup lagi menompang tubuhku. Nafasku semakin cepat dan memburuk dengan dadaku terasa sesak. Pandanganku semakin kabur hingga kegelapan menguasaiku. Sayup-sayup terdengar suara yang memanggi namaku yang semakin menghilang.

***

1
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Hikam Sairi
mampir
Sulati Cus
bagus walaupun ada typo tp ak suka, sukses buat othor
Inonk_ordinary
wooooowww syukaaaaaa
Arshyla_17
Seru bgt deh... Semoga Slalu semangt ya author😊
est
suka
est
😭 aku sedih thor melisa ma cogan yg baik aja jgn ma di gara2 apa kek
Silvya Devy
Karyamu luarbiasa Thor. 😘😘😘😘
Fikayra
Sumpah ceritanya suka bikin nyesek tp aku suka banget alurnya. . aku bacanya smpe maraton 2hr dari awal sampe selesai sumpah banjir air mata, melisa bener2 wanita tangguh bahkan dy bisa jungkir balikin kehidupan elgartara dari yg gk paham akan kisah hidup melisa smpe sebuah kebenaran membuat penyesalan dihidup elgartara. .perjuangan elgartara dan melisa bener2 nguras emosi dan banjir air mata. .👍🏻👍🏻👍🏻
Hasan
maaf thor bukannya sewaktu sebelum menempati tubuh melisa tuh jiwa lisa lg mengambil s2 ya jd kok setelah menempati tubuh melisa yg seharusnya msh sekolah pinternya jd berkurang jauh ya? 🤔🤔
Ida Blado
org sakit hati yg stres itulah reyhan,,,kasihan kmu
Ida Blado
q pikir bkl bisa nampar reyhan dgn fakta,,,, ternyata mlh nangis bombay,,cemen
Ida Blado
lalu apa gunanya vidio yg tersebar itu kalau gk bisa jdi bujti,,, di sini keprofesionalnya si penulis di pertanyakan
Ida Blado
sukurin loe El,,, bahagia gue loe sakit hati 😂
Ida Blado
di sini mulai aneh,bagaimana bisa org udah mati masih menempati tubuhnya.melisa oke krn dia transmigrasi,,, lah melisa yg asli kn udah mati,kok masih nempatin tubuhnya,,,konyol
Ida Blado
cerita ini sebenernya bagus andai alurnya ttp stabil,,,,namun di part2 berikutnya sgt di sayangkan,dimana melisa yg di fitnah dn gk bisa m^nunjukan bukti alias banyak drama.terlebih jdi buronan dn perusahaan bpk'a bermasalah,,, nah di situpah alurnya amburadul jauh dri ekspektasi.
Eka Maulidia
p
Sri Rahayu
seruuu.....
Yaya Cici
seneng nya
Siti Nurain
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!