( Revisi )
Yuni Astuti 23 tahun, terpaksa menerima tawaran Inggrid Bosnya untuk menikah kontrak dengan Angga Wijaya 35 tahun suami dari Inggrid. Inggrid memerintahkan Yuni untuk hamil dan melahirkan seorang anak untuk Angga karena Inggrid telah divonis mandul oleh Dokter.
Setelah Yuni hamil dan melahirkan seorang anak, Inggrid dan Angga akan mengambil anak itu dan meminta Yuni pergi jauh dari kehidupan mereka berdua.
Bagaimanakah kelanjutan hubungan Yuni dan Angga selanjutnya?
Akankah Yuni berhasil hamil dan melahirkan seorang anak untuk Angga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ocehan Ibu Mertua
Sarah datang kerumah Inggrid dan Angga, dia berniat untuk meminta uang karena esok hari adalah jadwalnya untuk chek kesehatan ke Dokter. Tak disangka, Inggrid dan Angga sedang ribut besar.
Awalnya Sarah hanya berdiri didepan pintu sambil menguping, tapi akhirnya dia ikut campur dengan keributan itu karena menganggap Inggrid sudah keterlaluan. Dia memaki Angga dengan kata kata kasar dan tidak sopan dikatakan oleh seorang istri pada suaminya sendiri.
"Kamu pembohong besar Angga, pembual, aku tidak akan percaya dengan kata katamu lagi!" Maki Inggrid.
"Aku minta maaf Inggrid, aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Aku jatuh hati pada Yuni, dan aku sendiri tidak tau apa penyebabnya," Angga memasang wajah menyesal.
Sarah tersenyum, dia senang karena akhirnya Angga jatuh hati pada Yuni. Hanya saja dia terlalu bodoh, sampai dia tidak tau alasan dia jatuh hati pada wanita sederhana itu.
Yuni selalu ada untuk Angga, kapanpun dimanapun. Dia selalu bisa melayani Angga bukan hanya soal urusan ranjang, tapi juga urusan perut. Tutur bicaranya lembut, tidak kasar dan menekan gendang telinga. Intinya, Yuni jauh lebih baik daripada Inggrid.
"Aku sudah tidak peduli soal anak lagi, sekarang juga ceraikan dia!" Pinta Inggrid.
Sarah langsung menerobos masuk kedalam rumah, dia menentang dengan keras permintaan Inggrid.
"Tidak bisa. Mereka sudah setengah jalan dan kamu mau hubungan mereka berakhir begitu saja tanpa membuahkan hasil? Aku tidak setuju Angga bercerai dari Yuni!" Ucap Sarah lantang.
"Bu, tolong jangan ikut campur dengan urusan rumah tanggaku!" Bentak Inggrid.
"Inggrid, coba berkaca pada dirimu sendiri. Sudahkah kamu menjadi istri yang baik untuk anakku? Sudahkah kamu memberikan cinta, perhatian dan waktumu untuknya?"
Inggrid membisu, dia tak mampu mengeluarkan kata kata lagi. Selama ini Inggrid terlalu asyik dengan dunianya sendiri, asyik berselingkuh hingga tidak sadar Yuni telah menjerat dan merebut hati Angga darinya.
Inggrid wanita keras kepala, dia sulit sekali menerima nasihat dari orang lain. Jangankan orang lain, saat orangtuanya masih hidup dia juga tidak mau mendengarkan nasihat mereka.
"Apa aku terlalu keras pada Angga? Dan aku terlalu tidak tau diri?" Keluh Inggrid dalam hati.
Tidak tega melihat istrinya disudutkan oleh sang Ibu, Angga menarik tangan Inggrid dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Ish, anak itu. Selalu saja menyelamatkan istrinya dari cengkraman ku!" Keluh Lastri.
***
Inggrid terus saja membisu dan menunjukan wajah tidak berdaya. Kalau sudah begitu, Angga mana tega mengajak Inggrid ribut dan bertengkar. Hati Angga yang tadinya mengeras, seketika jadi melunak.
Dalam diam Inggrid berpikir untuk menyudahi hubungannya dengan Hendrik. Dia ingin fokus merebut cinta dan perhatian Angga dari Yuni yang kini telah menjadi saingan cintanya.
"Jika Yuni hamil dan melahirkan seorang anak, kamu akan menceraikannya bukan?" Desak Inggrid.
"Aku tidak bisa janji," sahut Angga. Dia sendiri masih bimbang untuk melakukan hal sejahat itu pada Yuni.
"Kalau kamu tidak mau menceraikan dia, maka aku yang akan meminta cerai darimu," ancam Inggrid.
Angga melotot, dia tak menyangka Inggrid berani mengancam dirinya. Dua duanya adalah hal yang sulit bagi Angga, karena memang Angga mencintai Inggrid juga Yuni.
Mana mungkin Angga membiarkan rumah tangga yang sudah dibina olehnya begitu lama hancur begitu saja karena orang ketiga? Sepertinya Angga harus merelakan Yuni pergi jika waktunya sudah tiba nanti.
Angga memeluk Inggrid, dia mencoba menenangkan Inggrid yang sedang terbakar emosi. Inggrid mendorong Angga menjauh, dia tidak suka karena bau parfum Yuni masih menempel di tubuh Angga.
"Pergilah mandi, cuci tubuhmu sampai bersih sampai bau wanita j@lang itu hilang darimu!" Ucap Inggrid.
***
Angga mengajak Inggrid untuk makan malam bersama. Sebelum pergi ke ruang makan, Angga meminta Inggrid untuk bisa menahan emosinya pada sang Ibu mertua. Sarah memang menyebalkan tapi dia adalah wanita yang paling berjasa dalam hidup Angga dan perlu dihormati.
Suasana makan malam saat itu terasa berbeda, hening tanpa ada tawa atau canda. Seluruh anggota keluarga sibuk dengan isi pikiran masing masing, sampai lupa untuk menyantap isi piring mereka.
"Apa perlu Ibu mendatangkan koki restoran bintang lima kerumah ini?" Celetuk Sarah.
"Tidak perlu Bu, masakan Bibi dirumah kita enak kok," ucap Angga.
"Tapi kalian berdua sepertinya tidak punya selera makan," Sarah memandangi piring anak dan menantunya secara bergantian.
"Sama, piring Ibu juga masih utuh. Apa Ibu juga sedang tidak enak makan?" Tanya Angga balik sambil melempar senyum kecil.
Bersambung...