Bukan salahmu karena kamu lahir dari seorang wanita yang belum menikah.
Tapi takdir begitu kejam. Hanya karena tidak punya Ayah, hampir semua orang mencemoohnya.
Saat mengetahui dia lahir dari pemerkosaan, Syahida bertekad untuk mencari keadilan buat ibunya yang selama ini telah berjuang sendiri merawat dan membesarkan dirinya..
Bisakah Syahida membuktikan kalau ibunya wanita baik-baik yang tidak mendapatkan keadilan
Dan bagaimana pula perjalanan cintanya?..
Yuuuk ikuti kisahnya di novel ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Kevin menceritakan bagaimana Andra dan cara meruntuhkan pertahanan Andra, juga kriteria wanita yang membuat Andra jatuh cinta.
"Andra tujuh tahun lebih tua dariku, dia kekasih kaka perempuanku, tapi dia mengira kakaku Kayla menghinati dia karena harta, kamu ingat cerita kaka perempuanku yang gila?"
Syahida mengangguk santai.
"Dia sangat mencintai Andra, Andra pun berubah bej*t seperti sekarang karena merasa dikhianati Kayla, padahal dia tidak tahu kalau papa tirinya sudah menodai kakakku, Gurazi memutar fakta, seolah Kayla yang menggoda dia karena dia banyak harta," air mata Kevin menetes membayangkan kakak perempuannya yang masih di rumah sakit jiwa.
"Aku akan berusaha membuka mata Andra dengan mencoba melakukan hal yang serupa," seru Nadien.
"Tidak mudah, tapi kalau membuat Andra tergoda cukup dengan menantang dia dengan penampilan seksi kamu, tapi … membuat Andra menyukaimu kamu harus punya strategi,"
"Tunggu, Andra tidak bersalah, kenapa aku harus mematahkan hatinya?" Tanya Nadien.
"Dia tidak akan patah, mungkin nanti kamu yang malah patah hati, Andra tidak suka wanita yang melakukan bedah plastik, jika misi kamu selesai, katakan pada Andra kalau ini bukan kamu," seru Kevin.
"Baiklah, aku akan mempersiapkan hatiku," ucap Syahida alias Nadien.
***
Setiap kali Nadien datang ke kantornya, Andra tidak bisa mengalihkan perhatiannya, matanya fokus pada Nadien yang selalu berpenampilan menantang. Berulang kali Andra menelan salivanya menahan diri karena melihat Nadien yang begitu mempesona.
Semakin sering bersama Nadien semakin sulit melupakan bayangan Nadien. Andra menumpahkan perasaan yang dia tahan pada wanita penghibunya, namun wajah Nadien selalu terbayang. Andra mensiasati perasaannya yang meledak pada Nadien dengan membayangkan wanita penghibur yang dia tiduri itu Nadien. Ternyata hal itu sangat berhasil walau masih penasaran dengan Nadien.
Kini Nadien datang lagi ke kantor Andra karena banyak pekerjaan yang mereka tangani, berkat kerja sama ini Andra merasa sangat beruntung, karena memenengkan beberapa tender, membuat Andra puas menjalin kerja sama dengan perusahaan Nadien.
Hanya ada Nadien dan Andra di ruangan itu.
"Gila, sepertinya ac di ruangan ini rusak," seru Andra sambil melepas jas yang dia pakai, lalu membuka beberapa kancing bagian atas kemejanya.
Melihat Nadien yang juga berkeringat Andra merasa tidak enak, dia langsung menelpon bagian teknisi kantornya.
"Maaf Nadien, ac ruangan ini sepertinya rusak, mau pindah ruangan?" Tanya Andra.
"Tidak perlu, sebentar lagi pekerjaan saya selesai," jawab Nadien santai.
"Tapi kamu pasti kepanasan," seru Andra.
"Maaf, saya bukan tidak sopan, tapi saya sangat tidak tahan, tapi nanggung, satu lembar lagi," seru Nadien sambil membuka blazer kerjanya.
Andra semakin tidak bisa menahan diri, melihat Nadien yang bercucuran keringat, juga hanya mengenakan dalaman kerjanya. Seketika Andra tidak bisa menahan dirinya. Dengan tiba-tiba dia memojokkan Nadien di sandaran Sofa, dan menyerang bibir Nadien lebih Dulu.
"Emmmppp!!!" Nadien berusaha berontak karena penyerangan Andra. Namun dia kalah tenaga dengan Andra.
Andra terus menyerangnya tanpa ampun. Nadien berusaha melawan, namun Andra terus menindih dirinya. Tangan Andra menyusuri ceruk leher Nadien yang seksi juga terus turun kebagian dada. Sedang mulutnya masih bertahan menyerang bibir Nadien.
Nadien terus berusaha berontak dan akhirnya berhasil melepaskan diri dari Andra. "Plakkkkk!!!!" Tamparan keras dari Nadien mendarat di pipi Andra.
"Saya memang janda!!! Tapi saya punya harga diri, dengan begini anda sudah melecehkan saya," ucap Nadien penuh kemarahan.
Andra tegang, karena sangat menyesal tidak bisa menahan dirinya.
Nadien memakai kembali blazernya, lalu meraih tas dan beberapa berkas, dengan langkah cepat dia meninggalkan ruangan Andra. Sedang Andra mematung di sofa menyesali perbuatannya.
"Astaga, apa yang aku lakukan?" Ringis Andra mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sedang Nadien terus pergi meninggalkan kantor Andra. Dia berjalan sambil mengetik pesan di ponselnya.
[Berhasil Kev, aku sudah memainkan emosi dia, sebentar lagi dia akan mengejarku untuk minta maaf] pesan Nadien untuk Kevin.
[Bagus, sebentar lagi kamu pasti akan masuk kerumah Gurazi, siapkan mental kamu untuk bertemu si bej*t itu] balasan dari Kevin.
Nadien pergi dari kantor itu dan kembali ke kantornya.