BEBAS PROMO
Ibuku pernah merusak rumah tangga seseorang dan pergi meninggalkan ayahku, dia lebih memilih melanjutkan hidup bersama selingkuhan nya itu.
Ternyata wanita yang bunuh diri karena ulah ibuku adalah ibu angkat suamiku. Sebelum bunuh diri wanita itu sempat menjadi gila, itulah kenapa presdir ini selalu menyiksaku di dalam istana mewahnya.
Akankah Andin harus menerima siksaan dari suaminya terus menerus? Ataukah takdir berbaik hati menciptakan kebahagiaan setelah ini?
Hanya kisah ciptaan, tak berniat menyinggung atau mencela pihak manapun. Authorinstagram : @sofiatus.gans
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OppaSuga26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke villa
Hans tak mengatakan ia akan pergi membawa Andin kemana, di tengah menangis nya ia mengingat akan Alvin yang berjanji menemui nya setelah menyelesaikan pekerjaan.
Memberanikan diri memulai pembicaraan dengan Hans.
"Tuan.. kita akan kemana?"
Matanya tak berani menatap Hans.
"Villa!"
*Aku tidak mengatakan apapun kepada kak Alvin, dia akan mencari cari.. sekarang harus berbuat apa..?
"Kita akan ke villa"
Andin bingung ia mengulangi kembali yang Hans katakan.
"Memangnya ada apa? kamu tidak sudi kah jika kembali ke villa ku?"
Andin menggeleng pelan
"Tidak tuan, bukan begitu"
"Kamu juga sudah sadar, buat apa masih menetap di rumah sakit..?"
Andin diam.
"Atau kamu terlalu asik karena dijaga dokter Alvin disana??"
Degg ucapan itu membuat Andin merasa aneh, sebenarnya ada apa dengan Hans, nada bicara nya seolah menyinggung, itu membuat Andin bingung.
"Tidak tuan"
Andin yang dari tadi hanya mengatakan 'iya tuan, tidak tuan' membuat Hans berdecak kesal.
"Cckk Kamu ini, selain iya tuan, baik tuan, tidak tuan, bukan begitu tuan, apa ada kosa kata lain di otak kecil mu itu??"
Andin menelan ludahnya kasar.
*Habis lah aku,,, dia.. apa dia marah?? apa yang aku perbuat sampai sampai dia kesal..? sebelumnya aku tak boleh banyak bicara dan hanya boleh menjawab dengan singkat, sekarang apa lagi...???
"Maaf tuan"
Andin tak tahu apa salahnya, dia berpikir meminta maaf adalah jalan terakhir.
"Selain itu tidak ada kata lain ka?"
Mendengar ucapan Hans, Andin bingung sendiri.
"Umm?"
"Maksud ku, apa aku ini hantu?"
"Tidak tuan"
"Lagi lagi tidak tuan, saat bersama Alvin kamu terlihat sangat banyak bicara, lalu saat bersama ku, hanya kata-kata itu saja, apa kosa kata di otak mu mati ketika melihat wajah ku??"
"Maaf tuan"
"Sudahlah, sepertinya telinga mu itu ada masalah"
"Tidak tuan, bukankah tuan meminta saya hanya bertanya saat perlu, dan menjawab setingkat nya..?"
Kalimat itu membuat Hans terbungkam, ia mengingat benar hari itu, entah kapan hari itu dia lupa karena setiap hari Hans memarahi Andin.
*Benar juga, kenapa aku malah berkata seperti itu? aishh..
Gerutu Hans dalam hatinya kesal.
Mereka sampai di villa, dua orang yang berdiri sigap di gerbang besar membukakan gerbang tersebut agar mobil yang Hans bawa bisa masuk, setelah membuka mereka kembali ke sisi mereka berdiri tadi dan membukuk memberi hormat.
Mobil berhenti, Andin meraba raba, di sampingnya mencari sesuatu yang dapat membuka pintu mobil. Saat ia menemukan nya, Hans segera membuka pintu itu.
"Siapa?"
Tanya Andin dengan mata tertutup nya.
"Turun lah dengan baik!"
"Tu-tuan??"
"Jangan banyak bicara dan turun lah!"
"Iya tuan"
Saat kedua kakinya menapa benar di atas tanah, Hans berdiri di belakang Andin dan membuka penutup itu.
"Tuan, tak apa saya bisa sendiri"
Andin merendah, dia tak ingin memancing Hans marah dengan membantu dirinya membuka penutup itu.
"Sudahlah!, lengan mu pendek!, mana sampai!"
Sebenarnya Hans tulus membantu, bicara nya saja yang masih kasar.
"Tumbuhlah sedikit lebih tinggi, itu ada gunanya!"
Hans pergi setelah melontarkan kalimat itu kepada Andin. Gadis itu berjalan baik di belakang Hans, dia tertunduk diam sampai sampai saat Hans menghentikan langkah kaki nya, ia malah menabrak punggung Hans.
Bbrruk Hans berbalik dan menatap tajam Andin, dengan segera gadis itu meminta maaf.
"Maaf tuan, saya tak sengaja"
"Pergi temui Bi Darmi, setiap malam dia menangis!"
Hans kembali melanjutkan langkah nya, Andin masih terdiam bahkan saat Hans sudah menaiki anak tangga.
*Dia apakan bi darmi?? mana mungkin saat aku di rumah sakit dia menjadikan bi darmi sebagai pengganti ku?? jika memang benar begitu maka Hans itu benar-benar jahat!
Dia segera berlari kecil mencari Bi Darmi ke dapur, sayang tak di temukan, ia kembali berlari ke kamar pelayan. Disana Bi Darmi tengah sangat damai membersihkan seprei ranjang nya.
Di balik pintu yang sedikit terbuka, gadis itu nampak jelas apa yang Bi Darmi lakukan di dalam. Ia menarik nafas menenangkan diri, dan mengetuk pelan pintu di depan mata nya itu.
Tok tok tok
Bi Darmi mendengar ketukan itu, ia meninggalkan pekerjaan nya dan membuka pintu, begitu tau orang di baliknya adalah Andin yang selama ini ia doakan, Bi Darmi tanpa ragu memeluk Andin.
Andin sedikit terkejut, perlahan tangan nya merayap dan memeluk Bi Darmi. Setelah puas menangis sesegukan dalam pelukan itu, Bi Darmi menjauh, dan sadar jikalau dirinya adalah pelayan, tak pantas jika ia memeluk Andin, apalagi Andin adalah nyonya.
"Bi Darmi?"
Panggil Andin pelan, melihat sikap Bi Darmi yang aneh, setelah menangis sesegukan ia berbalik dan mengacuhkan keberadaan Andin.
"Bi??"
Sekali lagi Andin memanggil, bahkan bi Darmi tak mengizinkan ia masuk.
"Bi? ada apa?"
Andin masih berdiri di luar pintu.
"Nyonya ada perlu apa datang kesini?"
Mendengar itu, hati Andin terasa sakit.
Bagaimana tidak, pernikahan ini hanya untuk pelampiasan saja, Bi Darmi orang yang paling dekat dengan Andin di villa ini, yang berperilaku baik kepadanya setiap hari, memanggilnya nyonya? Ayolah, sebutan itu menjadi penghalang besar antara Andin dan Bi Darmi.
"Bi, Andin.."
Melangkah kan kaki hendak masuk, namun Bi Darmi sedikit berteriak menghentikan langkah Andin.
"Berhenti!!"
"Ada apa bi?"
"Nyonya, tak pantas jika anda masuk ke kamar pelayan!, mengertilah dan pergilah keluar, jika tidak tuan akan marah"
Andin mengangguk sedih, ia keluar dan disusul Bi Darmi.
"Nyonya sudah kembali, selamat.."
"Bi, Andin.."
"Nyonya ingin makan?"
Andin menggeleng berulang.
"Lalu ada perlu apa kemari?"
"Bi, Andin..."
Tak melanjutkan kalimatnya, Andin memeluk erat Bi Darmi.
"Bi.. Andin.. Andin hiks hiks ketemu sama Ayah..."
Ujar nya begitu bahagia yang terdengar dari balik isakan tangis. Bi Darmi mengelus lembut punggung Andin memberinya kehangatan.
"Andin, bibi juga senang.."
Melepas pelukan nya.
"Bi, jangan panggil Andin begitu lagi.. ini.. ini.."
"Tak apa jika harus panggil seperti itu jika ada tuan, saat berdua panggil bibi dan nona cantik saja.."
Andin mengangguk dengan senyum kotak nya.
"Nona mau makan?, mari, sambil bibi ceritakan hari hari yang berlalu tanpa kegadiran nona cantik disini.."
Merangkul Andin dan berjalan ke dapur. Bi Darmi mendudukkan Andin ke salah satu kursi di meja makan.
"Tunggu disini yah nyonya.."
*Eh? nyonya lagi..? astagaa.. disini kan ada Hans, bagaimana aku lupa..
Bi Darmi manata makanan yang sudah matang di piring yang akan Andin kenakan, ia menyuapi Andin seperti putri kecilnya sendiri sembari mengunyah, Andin terus mendengarkan cerita yang di beri tahu Bi Darmi.
Ada tawa, juga ada sedih dan banyak lagi.. layaknya seorang gadis kecil yang sulit makan sehingga membuat ibunya harus bercerita agar dengan mudah dapat menyuapi.
-------------------------
BERSAMBUNG...