Novel ini merupakan kelanjutan cerita dari Novel Wanita Lucu Itu Istriku.
Marina merupakan gadis cantik, berambut ikal panjang, dan lemah lembut. Parasnya yang cantik membuat banyak kaum Adam menaruh hati padanya, tak terkecuali sahabatnya sendiri, yakni Daren. Pria blasteran Indo-Jerman itu sudah lama menyukai Marina. Namun, wanita itu tak peka terhadap cinta. Karena minimnya pengalaman dalam dunia percintaan.
Marina terkenal cukup pendiam, dia hanya bereaksi keras bila bertemu pria yang bernama Aljav. Pria itu selalu saja mengejeknya sebagai titisan body losion. Keduanya adalah anak dari dua pasang sahabat, yakni Alea dan Dina.
Sejak kecil hubungan mereka tak pernah akur. Namun, di tengah hubungan yang buruk itu, kedua orang tua Aljav justru menjodohkan Marina dan Aljav, meski tahu Marina sangat membenci pria tersebut. Sejujurnya ada alasan lain di balik perjodohan konyol itu. Apakah alasannya? dan bagaimanakah cara Aljav dan Marina mempertahankan rumah tangga mereka yang sering di warnai kesalahpahaman?
Saksikan kisahnya berikut ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suharni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 23. Kami Tak Seakur Itu.
Di sebuah teras rumah berlantai coklat. Kala itu langit hitam kelam tanpa cahaya rembulan. Malam yang begitu dingin menusuk hingga ke sanubari seorang anak kecil nan mungil. Dia duduk di atas teras sembari bermain boneka. Gadis kecil itu sangat pendiam. Tak banyak yang dapat melihat senyumannya selain kedua orang tua bocah itu sendiri. Dia tak suka di ganggu, tak suka pula di sanjung.
Perangainya yang seperti itu membuat satu anak lelaki merasa gemas dan penasaran. Namun sayang, sifat gengsi lelaki itu sangat mendominasi. Harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui rasa kagum itu. Ya, dia kagum.
Setiap hari dia menggangu sang gadis kecil itu, hingga menangis. Tak pernah ada keakraban di antara mereka. Pertengkaran hingga ejekan kerap kali mewarnai hubungan keduanya.
Boneka itu di ambil, lalu kemudian di acak-acak rambutnya, dan berakhir dengan pengrusakan. Lelaki itu membuang boneka sang gadis kecil ke dalam lumpur depan rumah.
Sang Gadis marah dan menangis. Dia berteriak dan memukul-mukul dada lelaki itu. Namun sayang, tangisannya tak meluluhkan hati lelaki tersebut. Karena bocah kecil angkuh itu sangat menyukai gadis itu menangis. Alasannya simpel, ternyata tangisannya mampu mengalihkan pandangan lelaki itu dari gadis lain, dia terlihat sangat cantik. Alasan yang tak masuk di akal bukan?
"Kamu merusak bonekaku! kamu merusaknya. Aku akan mengadukanmu sama Ayah. Hu, hu, hu," tangis gadis kecil itu sembari memukul-mukul dada lelaki tadi. Dia menangis sesenggukan merasa tak di hargai.
Sementara bocah angkuh itu hanya melempar senyuman, menampakkan giginya yang setengah rusak.
"Kamu jahat! aku benci kamu! aku tidak mau melihat mukamu lagi!" lanjut gadis kecil itu sembari menghapus ingusnya yang turun membentuk angka sebelas. Namun, sang bocah lelaki itu masih tetap tak bergeming. Anehnya, dia semakin terpesona pada gadis kecil itu kala tangisannya semakin kencang.
Merasa sakit hati, karena permintaan maaf dari sang lelaki tak kunjung terucapkan, akhirnya gadis itu pergi dengan membawa segores luka di hatinya yang patah.
Semenjak saat itu, hubungan keduanya tak pernah akur. Bahkan semakin memburuk hingga bertahun-tahun lamanya.
"Aljav, apakah kamu sudah siap nak?" Pertanyaan seorang wanita paruh baya mengagetkan Aljav dari lamunan masa kecilnya.
Ya, Aljav Alexander Gautam. Pria dingin dan angkuh itu tengah mengingat momen masa kecil bersama Marina yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya. Lamunan itu buyar kala Mama Alea datang untuk membawa pria tersebut turun ke lantai bawah. Dimana penghulu telah siap untuk menikahkan dirinya dan Marina.
"Sudah ma," jawab Aljav datar.
Sejujurnya pria itu tak bersemangat sama sekali. Mengingat ada hati yang dia patahkan di luar sana, yakni Naura khil. Sang kekasih yang minggu lalu menuntut pernikahan darinya. Namun, harus kandas karena adanya perjodohan. Akan tetapi, sebelum Aljav akhirnya mantap menikahi Marina, pria itu berjanji akan menceraikan Marina ketika wanita itu merasa tersiksa dengan pernikahan tersebut, hingga akhirnya Marina lah yang meminta perceraian, bukan dirinya. Dengan begitu, janjinya pada Naura akan terlaksana. Naura pun menyetujui ucapan Aljav. Terdengar tak masuk akal memang. Namun, tak ada pilihan lain. Aljav sudah terlanjur berjanji. Tanpa ia sadari, justru dirinyalah yang di anggap boneka oleh Naura.
Sementara di tempat yang sama, tetapi di ruang berbeda. Marina juga mengingat momen masa kecil yang sama seperti Aljav tadi. Mungkin mereka memang di takdirkan berjodoh, hingga mengingat momen serupa.
Bedanya adalah Marina merasa sesak ketika mengingat momen itu. Sedangkan Aljav tampak datar. Entah apa yang di pikirkan oleh pria dingin tersebut. Raut wajahnya sangat tak terbaca. Dia pandai dalam menyembunyikan perasaan.
"Marina, apakah kamu sudah siap sayang?" tanya Bunda yang sudah berdandan cantik. Wanita paruh baya itu tampil cantik seakan tak mau melewatkan momen bahagia dalam hidupnya.
Wajah Marina terlihat sangat sendu. Meski tampak cantik di hari yang seharusnya di sebut bahagia, tetapi tidak dengan hati dan pikirannya. Wajah cantik Marina tak dapat menutupi hatinya yang kalut sekaligus takut. Ya, Marina takut di persunting Aljav. Pertengkaran yang kerap kali terjadi, membuat wanita itu ketakutan. Dia takut tak bisa hidup bahagia, dan berakhir dengan perceraian.
Marina juga tak bisa membayangkan, jika harus tinggal bersama pria angkuh itu di sepanjang hidupnya. Menghabiskan masa depan yang tak berujung bahagia.
Bayang-bayang perceraian selalu menghantui pikiran Marina. Terlebih lagi dia sangat takut di sakiti secara lahir dan batin oleh pria yang bernama Aljav.
"Bunda, apakah pernikahan ini tak bisa di hentikan?" tanya Marina akhirnya setelah lama diam. Suara wanita cantik itu terdengar sangat lirih.
Bunda duduk di tepi ranjang yang sedari tadi menjadi pijakan Marina kala melamun. Dia mengusap kepala putri semata wayangnya itu penuh kasih sembari tersenyum.
"Apakah kamu takut?" tanya Bunda lembut.
Marina menoleh kepada Bunda. Tatapan mata wanita itu sangat menyiratkan kesedihan. Dia terluka dan ketakutan.
"Bunda, Marina sangat takut. Bukan takut pada pernikahan ini, tetapi setelah pernikahan. Marina tak bisa membayangkan seperti apa kondisi rumah tangga Marina nanti. Apakah kami akan bahagia atau tidak," lirih Marina sembari menitikkan air mata.
Sekali lagi Bunda mengusap air mata Marina. Lalu kemudian mendaratkan ciuman hangat di kening putrinya itu.
"Kamu jangan terlalu banyak berpikir sayang. Di awal pernikahan mungkin akan terasa aneh dan canggung, tapi seiring berjalannya waktu, kalian pasti akan terbiasa," jawab Bunda bijaksana. Namun, tak membuat Marina tenang. Dia justu semakin meradang. Pendiriannya masih tetap sama, yakni menolak menikahi Aljav.
"Tapi Bunda, hubungan kami tak seakur itu. Banyak berbedaan di antara kami. Marina tak pernah cerita pada Ayah dan Bunda, karena Marina tak mau membuat kalian khawatir. Tapi sekarang situasinya berbeda Bunda. Kami akan menikah, dan sebentar lagi Marina akan menyandang status Nyonya Aljav Alexander Gautama. Pria yang tak pernah menghormatiku."
Marina ingin mengatakan hal lainnya, bahwa Aljav sudah memiliki kekasih, dan sebenarnya dia telah mengambil tempat kekasihnya itu, karena sebuah perjodohan konyol. Namun, Marina tak tega melihat wajah sendu Bundanya.
"Tapi bukankah kalian yang memutuskan agar pernikahan ini tetap terjadi? mengapa sekarang kamu terlihat seperti tak menginginkan pernikahan ini?" sangsi Bunda. Marina ingin menjawab ucapan Bunda, tetapi Ayah datang dan menghentikan kalimatnya yang sudah sampai di pangkal tenggorokan.
"Kalian sedang apa disini? penghulu sudah memanggil kalian. Apakah kalian ingin membuat penghulu dan para tamu menunggu?" ujar Ayah yang sudah berada di ambang pintu.
"Iya, kami akan segera turun," jawab Bunda.
"Baiklah, aku tunggu di bawah."
Bunda kembali menatap Marina yang masih berwajah sendu, namun tak memudarkan kecantikannya.
"Sudahlah sayang, kamu pasti hanya ketakutan saja. Bunda yakin, Aljav pasti sanggup membahagiakanmu."
"Ayo kita turun ke bawah. Jangan buat calon suamimu menunggu terlalu lama, atau dia sendiri yang akan datang menjemputmu disini," tutup Bunda yang di akhiri godaan pada penghujung kalimatnya.
Sungguh Marina tak ingin menikahi Aljav. Pria itu tak akan bisa membahagiakan Marina seperti yang di impikan Ayah dan Bunda. Angan-angan bahagia itu hanyalah kekosongan belaka. Tak akan pernah terjadi. Mungkin tangisan yang akan mewarnai kehidupan rumah tangganya nanti. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Marina saat ini.
To be continued.
semangat selalu Thor 💪💪
di tunggu feedbacknya 🙏😊😘
salam dari "My Bos CEO" yuk semua kepoin kuy 🤗