Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Merindukan kehangatan
Medisya mengangkat wajahnya. Mencoba untuk menatap Alvian yang baru saja selesai membuang pecahan gelas tadi. Mulutnya sudah siap terbuka untuk menanyakan sesuatu. Tapi Alvian terlebih dulu menariknya ke arah Lily yang sedang menatapnya tidak suka.
"Lily, dia istri kakak. Kamu pasti sudah tau namanya 'kan?" Tanya Alvian. Netra pria itu menatap Medisya. Seakan menyuruh Medisya untuk menyapa Lily.
Dan Medisya hanya bisa menurut. Ia menjulurkan tangannya pada Lily. Namun gadis kecil itu mengabaikannya. Sampai Alvian menarik tangan Medisya yang mulai bergetar karena terlalu lama terabaikan dan menggenggamnya.
"Aku tidur duluan ya, kak. Ngantuk!" Seru Lily kemudian beranjak ke dalam kamar Alvian.
Melihat sikap Lily yang menunjukan bahwa ia tidak menyukai Medisya membuat perempuan itu menatap suaminya takut.
"Lily nggak suka sama aku ya, mas?"
Pertanyaan itu keluar tanpa disengaja dari bibir Medisya. Entah mengapa suasana hati Medisya menjadi sangat buruk malam ini. Ia takut Lily tidak mau menerimanya sebagai bagian dari keluarganya.
Namun hatinya sedikit tenang ketika Alvian memberi usapan kecil pada tangannya yang sedang ia genggam.
"Mungkin," balas Alvian tidak menutupi sikap adiknya itu. "Tidak usah terlalu dipikirkan. Dia hanya cemburu karena kamu merebutku darinya."
"Kamu terbangun karena mimpi lagi?" Lanjut Alvian bertanya.
Medisya mengangguk membenarkan. Mimpi buruk itu kembali mendatanginya meski tidak terlalu menakutkan seperti mimpi yang lalu-lalu.
"Makanya berdoa dulu sebelum tidur." Medisya menunduk kecil merasakan usapan tangan Alvian di kepalanya. "Tidur lagi sana. Aku ingin berbicara dengan Lily."
Medisya mengangguk kecil. "Mau ambil minum dulu. Haus," ucapnya berhasil membuat sudut bibir Alvian terangkat.
Ia melangkahkan kakinya untuk mengambil gelas kosong dan mengisinya dengan air mineral. Sebelum kembali ke kamar, Medisya menyempatkan diri untuk menatap suaminya yang ternyata menunggunya masuk ke dalam kamar. Pria itu mengangguk singkat. Seakan meyakinkan pada Medisya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Tidur, Sya," titah Alvian membuat Medisya menyimpan kembali hal yang ingin ia ungkapkan.
Medisya menggigit bibir bawahnya lalu masuk ke kamar dengan tergesa. Tangannya bergerak menyentuh dadanya sendiri. Ada rasa sesak yang tidak bisa diungkapkan. Tentang Lily yang tidak menyukainya. Dan juga tentang keinginannya yang tidak bisa terwujud.
Berbeda dengan Medisya yang sedang merasakan sesak di hatinya. Alvian justru merasa sedikit marah pada sikap Lily. Mungkin Alvian dapat memaklumi sikap Lily jika gadis itu masih kecil. Namun sekarang Lily sudah terbilang dewasa. Dan sikapnya tadi tidak pantas ditunjukan oleh gadis seusianya.
"Lily," panggil Alvian melihat Lily sedang meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Aku nggak mau dengar apa-apa! Kakak pasti mau membahas perempuan itu 'kan?"
"Namanya Medisya. Kakak tidak suka kamu menyebutnya tanpa nama," ucap Alvian datar.
"Terserah aku!" Sentak Lily membuat Alvian semakin kesal dengan sikap adiknya itu.
"Kakak akan telfon papah untuk jemput kamu pulang!"
Mendengarnya membuat Lily langsung membuka selimutnya lalu duduk menghadap Alvian. "Kakak mengusir aku dari sini?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak udah nggak sayang lagi sama aku? Kakak lebih memilih perempuan itu dari pada adik kakak sendiri?"
Alvian mengusap wajahnya kasar mendengar tuduhan-tuduhan asal dari Lily. Tidak ada yang tau bahwa sekarang ia tengah mencoba menstabilkan emosinya. Ia masih cukup sadar untuk tidak berbuat berlebihan pada Lily.
"Lily, kakak mohon mengerti posisi kakak sekarang ini!" Sentak Alvian membuat Lily kembali menangis.
"Aku mau pulang,, hiks,, kakak jahat! Aku nggak suka sama kakak!"
"Ya sudah pulang sana! Kakak tidak akan menahan kamu di sini!"
"Kakaaak," rengek Lily takut mendengar bentakan dari Alvian.
Sedangkan Alvian menghela nafasnya. Jika ia tidak membentak Lily, maka gadis itu tidak akan diam.
"Istirahatlah. Kita bicara lagi besok," putus Alvian lalu keluar dari kamar. Ia tidak bisa terus-terusan menghadapi Lily yang seperti itu. Karena Alvian takut akan lepas kendali dan justru menyakiti perasaan adiknya. Membentaknya saja Alvian harus menanggung rasa bersalah di hatinya.
Alvian merebahkan tubuhnya di sofa tempatnya tadi berbicara dengan Lily. Seumur-umur ia tidak pernah semarah ini pada gadis kecil itu. Netranya hampir terpejam jika saja suara decitan pintu yang sangat pelan membuatnya terjaga. Ia menatap Medisya yang sedang di ambang pintu kamar. Sepertinya perempuan itu terkejut Alvian ada di sana.
Melihat istrinya bergeming di tempatnya membuat Alvian bangkit. Ia mendorong perempuan itu agar masuk kembali ke dalam kamar kemudian menutup pintu kamarnya.
"Kenapa belum tidur?" Cecarnya tidak suka. Medisya seharusnya beristirahat agar anak di dalam kandungannya baik-baik saja dan tetap sehat.
"Nggak bisa tidur," adu Medisya. Ia memang sudah berusaha untuk kembali tidur. Namun pikirannya yang tertuju pada sikap Lily menahan Medisya agar tetap terjaga.
"Kenapa?" Tanya Alvian sembari menata bantal dan menyuruh Medisya untuk berbaring dengan dagunya yang terangkat.
"Lily--"
"Aku sudah bilang agar tidak usah memikirkannya," Sela Alvian tajam. "Istirahat, Sya. Lebih baik kamu memikirkan kandunganmu sendiri."
"Tidur. Aku akan menjagamu," ulang Alvian.
Medisya diam mendengar perkataan Alvian. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Alvian. Mengenai keinginannya yang entah kenapa susah sekali untuk diabaikan. Tapi ia terlalu takut untuk menyampaikannya.
Melihat Alvian duduk bersandar pada kepala ranjang di sebelahnya membuat Medisya menahan nafasnya sejenak.
"Mas Alvian bisa tidur di sini," ucap Medisya sangat pelan.
Alvian melirik Medisya lalu tersenyum kecil. "Terima kasih tawarannya. Tapi sepertinya keberadaanku di samping kamu akan membuat kamu tidak nyaman. Aku akan keluar setelah memastikan kamu tertidur."
"Enggak," elak Medisya.
Alis Alvian terangkat. Ia menatap Medisya yang juga menatapnya serius dengan mata indahnya. Alvian menyadari bahwa Medisya sedang mencoba untuk mempercayainya. Jadi ia merebahkan tubuhnya di samping Medisya dengan lengan kanan yang ia gunakan untuk menutup mata.
Jujur saja Alvian sangat tidak suka dengan kecanggungan di antara mereka. Ia ingin mengajak Medisya berbicara. Namun Alvian takut akan membuat Medisya tidak nyaman.
Di sisi lain Medisya memejamkan matanya erat. Wangi tubuh Alvian benar-benar berhasil mempengaruhinya. Tidak ada yang tau bahwa sekarang Medisya sedang berusaha mati-matian untuk tidak memeluk tubuh hangat itu.
Entah kenapa sejak tadi ia ingin sekali memeluk Alvian. Ya, Medisya merindukan pelukan Alvian yang sangat menghangatkan. Tapi ia tidak berani mengatakan itu.
Medisya berbalik, meringkuk memunggungi Alvian. Ia pikir itu akan membuatnya lupa dengan hangatnya pelukan Alvian. Namun Medisya justru semakin menginginkan pria itu.
"Aku akan keluar," kata Alvian karena merasakan Medisya bergerak gelisah di sampingnya.
Sedangkan Medisya yang mendengarnya bergegas bangkit. Entah keberanian dari mana yang Medisya dapatkan saat tangannya terjulur menahan lengan Alvian.
"Jangan," larang Medisya dengan mata sendunya.
"Ya sudah tidur!" Sentak Alvian. Ia merasa serba salah sekarang ini. Medisya tidak mengizinkannya keluar. Tapi perempuan itu tidak akan tidur jika Alvian berada di sampingnya.
"Nggak bisa,,"
"Sekarang kenapa lagi? Sudah aku bilang untuk berhenti memikirkan Lily. Kamu--"
"Aku udah nggak mikirin Lily."
"Lalu kenapa? Kamu perlu sesuatu?"
Medisya menggeleng kecil. Namun beberapa detik kemudian kepalanya mengangguk cepat.
"Katakan, mungkin aku bisa membantumu untuk mendapatkannya."
Medisya menatap Alvian ragu. Ia menarik nafasnya dalam lalu berkata dengan cepat.
"Peluk aku, mas."
###