Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — Kesepakatan Pisah
Aku mendengarkan rekaman itu satu kali.
Damar melarangku memutarnya lagi sebelum kami membuat salinan forensik. Bukan karena isinya berubah, tetapi karena aku terus mencari nada yang bisa membuat ketakutanku terdengar lebih kecil.
Tidak ada.
Dari suara Nadira enam tahun lalu, aku baru berani mengakui sesuatu: terlalu banyak hal tiba-tiba menjadi mudah sebelum aku memilih menikah.
“Aku tetap bertanya lebih dulu,” kataku.
Damar duduk di seberang meja, menandai lampiran pada draf kesepakatan pisah.
“Benar.”
“Aku tetap mengatakan iya.”
“Benar.”
“Jadi pilihanku nyata.”
Damar berhenti menulis.
“Pilihan bisa nyata dan tetap dibuat dalam keadaan yang sengaja dibentuk orang lain.”
Papan audit pernikahan yang belum dihapus kembali menarik perhatianku. Kolom YANG KUPILIH tidak kosong. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk diriku sendiri, mengubah seluruh hidupku menjadi pertunjukan palsu hanya karena panggungnya dibangun tanpa izin.
Tapi aku juga tidak akan menganggap cinta sebagai tanda tangan kosong.
“Masukkan fellowship Yogyakarta ke daftar kerugian,” kataku.
“Kerugian karier atau pelanggaran privasi?”
“Keduanya. Mereka mengambil kesempatan yang bahkan tidak sempat kutolak sendiri.”
Damar mengetik, lalu memutar layar laptop ke arahku.
Draf kesepakatan itu terdiri dari dua belas halaman. Ini belum permohonan cerai. Aturan sementara agar aku dan Nadira dapat hidup terpisah tanpa jaringan lama ikut campur lagi.
Poin pertama: Rendra tidak boleh memasuki rumah, kantor, atau tempat tinggalku tanpa undangan tertulis.
Poin kedua: seluruh akses terhadap ponsel, kendaraan, kalender, surel, kartu gedung, akun kesehatan, dan data keuangan dibekukan.
Poin ketiga: tidak ada komunikasi melalui Tara, Gilang, staf Ruang Tengah, keluarga, atau penerima pembayaran lain.
Poin keempat: seluruh dokumen Lingkar Aman dan jaringan Kalyana harus disimpan, diaudit, dan diserahkan melalui pengacara.
Poin kelima: tidak ada pembayaran baru kepada orang dalam hidupku tanpa persetujuan tertulis dariku.
Poin keenam: aku dapat mengambil barang dari rumah kapan saja dengan pendamping yang kupilih.
Poin ketujuh: Rendra tidak boleh menggunakan ancaman terhadap arsip Aditya, reputasi keluarga, atau kondisi mentalku untuk menunda proses hukum.
Poin kedelapan: rekening rumah tangga dibekukan hanya pada bagian yang membutuhkan dua tanda tangan. Pengeluaran pribadiku dipisahkan pada rekening baru yang tidak terhubung dengan administrator Kalyana.
Poin kesembilan: staf rumah, pengemudi, klinik, dan vendor tidak boleh menyampaikan informasi kepadaku atas nama Rendra atau kepadanya atas namaku. Permintaan maaf, hadiah, makanan, ataupun pesan pribadi juga tidak boleh dititipkan melalui mereka.
Damar sempat melirikku ketika membaca kalimat tentang makanan.
“Spesifik sekali,” katanya.
“Dia bisa membuat sup terdengar seperti surat perintah pulang.”
Damar akhirnya tertawa pagi itu.
“Saya masukkan sup ke definisi komunikasi tidak langsung.”
“Jangan. Nanti dokumennya terlihat seperti ditulis orang lapar.”
Aku membaca setiap kalimat sampai batasnya terasa jelas.
Pertemuan dijadwalkan pukul satu di kantor Damar. Nadira datang delapan menit lebih awal dan menunggu di ruang tamu sampai kami memanggilnya.
Ia tidak membawa pengacara keluarga.
Elsa ikut sebagai penasihat kepatuhan, tetapi duduk jauh dari Nadira dan membuka laptop sendiri.
Damar meletakkan draf di tengah meja.
“Ini kesepakatan sementara. Tidak menghalangi gugatan perdata, pidana, atau permohonan cerai.”
Nadira membaca halaman pertama tanpa mengangkat wajah. Ia tidak berusaha memulai percakapan pribadi. Tidak bertanya apakah aku sudah makan. Tidak menatap jari manisku yang kosong lebih lama daripada seharusnya.
Pada poin tentang rumah, ia menandai satu kalimat.
“Barang pribadi Nadira tidak boleh dipindahkan,” katanya.
“Sudah tertulis,” jawab Damar.
“Tambahkan bahwa staf rumah tidak boleh mengemas atas inisiatif sendiri.”
Aku menatapnya.
“Mereka pernah melakukannya?”
“Ketika kau bepergian, kepala rumah biasa memindahkan barang sesuai jadwal pembersihan.”
“Jadwal yang kamu buat.”
“Iya.”
Damar menambahkan batas tersebut.
Nadira membaca lagi. Wajahnya tetap tenang.
Ia menyetujui poin pertama sampai keenam tanpa perdebatan. Pada poin ketujuh, Elsa meminta bahasa ancaman diperluas menjadi penggunaan media dan pihak ketiga. Damar menerimanya setelah Nadira menyatakan setuju.
Aku hampir tidak percaya prosesnya berjalan setenang itu.
Lalu kami sampai pada lampiran keamanan.
Damar membacakan, “Seluruh pelacakan dan protokol perlindungan darurat dihentikan. Pengamanan hanya dapat diaktifkan oleh Nadira, kuasa hukumnya, atau aparat berdasarkan ancaman yang dapat diverifikasi.”
Nadira meletakkan pena.
“Aku tidak setuju.”
Aku bersandar.
“Bagian mana?”
“Penghentian total protokol darurat.”
“Aku tidak mau dilacak.”
“Aku tidak meminta akses lokasi rutin.”
“Lalu apa?”
“Alarm ancaman aktif, deteksi akses data, dan pemberitahuan kalau orang dalam daftar risiko mendekati tempatmu.”
“Daftar risiko milik siapa?”
“Untuk sementara, tim independen.”
“Dipilih siapa?”
Aku terdiam sepersekian detik.
“Kita pilih bersama.”
Nadira hampir tertawa.
“Bersama berarti kamu tetap punya suara atas orang yang boleh berada di dekatku.”
“Surya sudah menyiapkan serangan media. Raka memiliki jadwalmu. Ada bukti kendaraan ayahmu mungkin dirusak. Ini bukan ketakutan yang kubuat sendiri.”
“Bahaya yang nyata tidak otomatis memberimu hak atas sistemnya.”
“Aku tidak meminta hak mengendalikannya.”
“Kamu menolak menandatangani kalau tidak ada sistem yang kamu setujui.”
Aku melihat dokumen, lalu kembali menatapnya.
“Karena kalau terjadi sesuatu dan semua peringatan dimatikan, tidak ada cara mengembalikan waktunya.”
“Kalau semua peringatan tetap hidup, aku tidak pernah tahu apakah hidupku milikku.”
Kalimat itu membuatku diam.
Elsa membiarkan pertentangan kami menggantung beberapa detik sebelum menutup laptop.
“Ada jalan tengah. Vendor independen dipilih Nadira. Data hanya masuk kepada Damar atau orang yang Nadira tunjuk. Rendra tidak menerima akses, laporan, atau hak veto.”
“Dan aku boleh mematikan kapan saja,” kata Nadira.
“Iya,” jawab Elsa.
Aku masih belum mengambil pena.
“Apa keberatanmu?” tanya Nadira.
“Kalau ancamannya berasal dari keluarga Kalyana, vendor biasa mungkin tidak mampu mengenalinya.”
“Berikan daftar ancamannya tanpa memegang sistem.”
“Daftar itu berubah.”
“Kalau berubah, kirim kepada Damar.”
“Informasi bisa terlambat.”
Nadira menatapku lama.
“Kamu masih menganggap kecepatan lebih penting daripada izinku.”
Rahangku menegang.
“Aku menyetujui sebelas halaman,” kataku. “Untuk lampiran keamanan, aku minta waktu dua puluh empat jam.”
“Tidak.”
“Nadira—”
“Kamu boleh menolak. Tapi jangan mengubah penolakanmu menjadi alasan agar bagian lain tidak berlaku.”
Damar mendorong dua versi dokumen.
“Kami dapat menandatangani pasal-pasal yang disepakati sekarang. Lampiran keamanan dicatat sebagai sengketa terbuka.”
Aku membaca halaman tanda tangan.
“Kalau saya menandatangani, seluruh akses rutin dihentikan hari ini?”
“Iya.”
“Termasuk akses rumah sakit dan kartu gedung?”
“Iya.”
Aku melihat tanda tanganku yang masih belum ada di halaman terakhir.
Selama bertahun-tahun, begitu banyak hal dalam hidup Nadira berubah hanya karena satu keputusan yang kubuat lebih dulu.
Kali ini, setidaknya, aku bisa berhenti.
Aku mengambil pena.
Rendra menandatangani setiap halaman yang disepakati, lalu menyerahkan pena kepada Elsa sebagai saksi.
Aku menandatangani setelahnya.
Batas itu akhirnya ada di atas kertas.
Dan kali ini, aku yang menentukannya.
Rendra berdiri lebih dulu.
“Rekaman malam sebelum lamaran sudah diserahkan seluruhnya. Tidak ada salinan lain yang akan kusimpan setelah verifikasi.”
“Aku tidak membuatnya untukmu.”
“Aku tahu.”
Ia berjalan ke pintu, kemudian berhenti tanpa berbalik.
“Fellowship itu seharusnya menjadi pilihanmu.”
“Seharusnya.”
“Aku tidak punya penjelasan yang membuatnya lebih baik.”
“Bagus. Jangan cari.”
Aku tidak menjawab.
Rendra keluar.
Setelah Rendra pergi, Damar mengirim salinan kesepakatan ke semua pihak dan meminta konfirmasi pencabutan akses. Satu per satu jawaban masuk: rumah sakit, gedung, operator kendaraan, vendor keamanan, bank, dan administrator kantor.
Pukul tiga lewat dua belas, ponsel Damar berbunyi.
Ia membaca pesannya, lalu wajahnya berubah.
“Ada masalah?” tanyaku.
“Media meminta tanggapan.”
“Tentang perpisahan?”
“Bukan cuma itu.”
Ia memutar layar ke arahku. Seorang editor dari situs gosip mengirim tangkapan layar berupa tabel jadwal.
Namaku tercetak di bagian atas.
Di bawahnya ada waktu aku meninggalkan Ruang Tengah pagi tadi, nomor kendaraan Damar, alamat kantornya, jam pertemuan dengan Rendra, dan rencana kembali ke kantor sore ini.
Baris terakhir memuat kegiatan yang bahkan belum sempat kumasukkan ke kalender umum.
18.00 — pertemuan dengan Banyu Pradana, lokasi menunggu konfirmasi.
Editor itu menulis satu pertanyaan:
Apakah benar Ibu Nadira sedang menyiapkan perceraian sekaligus membuka rahasia kematian ayahnya?