Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part *33
Tubuh Rama terasa benar-benar rapuh saat ini. Kakinya yang sedang menginjak lantai teras depan rumah orang tuanya terasa sangat lelah. sangat-sangat lemah seolah tidak lagi kuat untuk menahan berat tubuhnya sendiri.
"Tidak. Itu tidak mungkin. Sinta tidak akan menikah. Dia tidak akan menikah dan tidak akan meninggalkan aku. Apalagi menikahnya dengan kak Wana Tidak akan pernah."
"Dia tidak akan bersedia untuk menikah dengan kak Wana, Dorin. Tidak akan pernah." Teriak Rama dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Sontak, tangan Dorin langsung menyentuh pundak Rama. "Sadarlah, Ram! Sadar akan kenyataan. Apa yang kamu tolak, itulah kenyataan yang sesungguhnya. Walau kau menolak dengan sangat keras sekalipun, keadaan tidak akan pernah berubah. Dia yang harusnya milikmu sekarang sudah jadi milik kakakmu."
Seketika, tubuh Rama benar-benar ambruk. Pria itu benar-benar tidak kuat lagi untuk menahan berat tubuhnya sendiri. Sambil menggeleng pelan, dia tersandar pada tembok yang ada di belakangnya. Mata pria itu kini benar-benar memerah.
"Tidak," ucapnya lirih. "Sinta tidak mungkin menikah dengan kak Rama. Tidak mungkin. Karena dia tidak akan pernah meninggalkan aku."
"Tapi itulah kenyataannya, Ram. Sinta-- "
"Tidak!" Rama masih menolak. Kali ini nada penolakan itu terdengar sangat nyaring. "Sinta tidak akan menikah. Kalian bohong! Kalian semua bohong. Aku tidak percaya dengan apa. yang kalian katakan. Sinta tidak akan menikah."
"Rama! Sadarlah!"
"Tidak!"
Setelah kata itu terucap, Rama langsung menepis tangan Dorin dengan kasar. Dia sepertinya ingin meninggalkan Dorin sekarang.
"Ram. Kamu mau ke mana?"
"Aku akan cari Sinta. Aku akan pastikan sendiri kalau dia tidak menikah. Semua ini bohong."
"Rama! Ini nyata. Tidak bohong. Kamu mau cari Sinta ke mana? Kamu tidak akan menemukannya di kediaman Wijaya. Karena aku dengar dari mama, setelah resepsi tadi malam, mereka tinggal di hotel."
Deg. Jantung Rama seakan berhenti berdetak seketika. Begitu pula dengan langkah kakinya. Langkah itu juga ikut terhenti gara-gara ucapan yang Dorin lontarkan barusan.
Perlahan, Rama memutar tubuhnya untuk melihat Dorin yang telah ia tinggalkan.
"Kamar ... hotel? Ba-- bagaimana mungkin?"
"Tentu saja mungkin. Karena kenyataannya adalah, Sinta dan kak Wana telah menikah."
Rama terpaku sesaat. Hanya sesaat saja. Karena detik berikutnya, Rama seakan kehilangan keseimbangan tubuh. Lalu tiba-tiba, pria itu memuntahkan darah dari mulutnya.
Hal itu tentu saja langsung membuat Dorin panik. "Ram!"
Dorin bergegas menghampiri Rama. "Kamu baik-baik saja? Kita ke rumah sakit sekarang."
"Tidak. Aku tidak ingin ke rumah sakit, Dorin."
"Tapi, Ram. Kamu-- "
"Aku baik-baik saja. Dorin, aku ingin ke hotel tempat Sinta menginap. Aku ingin ke sana sekarang juga. Kamu tahu di mana hotelnya, bukan?"
"Aku .... " Terlihat sekali kalau saat ini, Dorin sedang dalam keadaan bingung. Namun akhirnya, dia memilih untuk mengatakannya. "Iya. Aku tahu."
"Dia ada di .... " Dorin mengatakan alamat hotel dan nomor kamar tempat Sinta dan Wana menginap.
Iya. Tentu saja ia tahu. Karena keluarga mereka sibuk membicarakan prihal kamar pengantin itu tadi malam. Kamar yang telah disiapkan oleh para orang tua, dengan di bantu oleh kedua teman Sinta tentunya.
"Terima kasih. Aku ke harus ke sana sekarang," ucap Rama dengan suara yang sangat lemah.
"Jangan pergi sendiri, Ram. Biarkan aku ikut kamu. Kondisi fisikmu sekarang sangat tidak baik-baik saja menurut aku. Jadi, dari pada kamu membahayakan dirimu sendiri dan orang lain yang tidak bersalahnya, lebih baik izinkan aku ikut kamu."
Rama tidak langsung menjawab. Dia terdiam sejenak seolah mempertimbangkan apa yang telah Dorin katakan barusan. Sesaat kemudian, pria itu mengangguk tanda setuju.
"Baiklah. Kita pergi bersama ke sana."
"Bagus. Biar aku yang bawa mobil. Kamu duduk manis saja."
"Hm. Terserah kamu."
Merekapun meninggalkan kediaman Hermawan dengan mobil Dorin. Sedangkan mobil Rama, tetap terparkir di tempat sebelumnya.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, Rama benar-benar terlihat tidak baik-baik saja. Selain fisiknya yang lemah dan lelah. Batinnya juga terlihat tidak baik-baik saja.
"Ram, janji sama aku setelah kita ke hotel, kita langsung ke rumah sakit ya."
"Hm. Lihat kondisinya nanti," ucap Rama pelan, hampir tak terdengar.
Dorin yang tahu seberat dan sesakit apa perasaan si sepupu, kini memilih diam. Tidak bicara lagi hingga mobil tiba ke tempat yang ingin mereka tuju.
Sayangnya, saat mereka tiba di sana, kamar itu sudah tidak ada lagi penghuni. Saat bertanya pada resepsionis, mereka baru tahu kalau pasangan pengantin yang menginap tadi malam ternyata sudah meninggalkan kamar itu tadi siang.
Wajah Rama benar-benar semakin terlihat buruk. Hatinya kini hancur lebur. Kenyataan yang susah payah ia tolak, tetap jadi kenyataan yang benar-benar nyata.
Langkah Rama gontai menuju mobil. Sampai di dalam mobil, pria itu masih diam seribu bahasa. Setelah mobil Dorin jalankan beberapa menit, barulah Rama menoleh ke samping untuk melihat Dorin.
"Rin."
"Hm?"
"Jadi ... Sinta benar-benar menikah dengan kak Wana?"
Dorin terdiam sejenak. Bibirnya terasa cukup berat untuk menjawab apa yang sepupunya itu tanyakan. Tapi akhirnya, pertanyaan harus tetap di jawab, bukan?
"Itu ... iya. Kamu tahu sendiri, bukan? Aku sudah menjelaskan hal ini berulang kali."
"Tapi .... "
"Kenyataan, tetaplah kenyataan, Rama. Tidak akan bisa diubah hanya karena kamu tidak ingin menerimanya."
Air mata Rama jatuh perlahan. Pria itu terlihat sangat menyedihkan saat ini. Rasa khawatir, cemas, dan prihatin muncul dengan jelas di hati Dorin. Pria itupun langsung menepikan mobilnya sebelum menenangkan si sepupu.
"Nasi sudah menjadi bubur, Ram. Tidak bisa kamu ubah lagi. Apa yang telah terjadi, tidak akan bisa di ubah. Kuatlah. Hanya itu yang bisa kamu lakukan sekarang."
"Tapi kenapa? Kenapa mereka melakukan hal ini padaku?"
Dengusan pelan Dorin perdengarkan. "Karena kamu sendiri. Heh ... Rama, aku ingin bela kamu, tapi rasanya, hati ini menolak. Aku sudah bilang padamu kemarin, Ram. Aku sudah berusaha menyelamatkan kamu. Tapi apa yang terjadi? Kamu tidak mau mendengarkan aku."
"Rama. Kita sepupu. Kita juga teman. Aku peduli padamu. Makanya kemarin, aku susah payah berusaha untuk memberimu kabar. Berusaha untuk membuatmu sadar kalau di keluarga mu memang ada hal yang tidak beres yang akan terjadi. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu tidak ingin mendengarkan aku, bukan?"
Penyesalan Rama semakin besar sekarang. Sesal itu kini memenuhi hati, menggerogoti jiwa. Sungguh, rasa kesal itu kemakan batinnya dengan lahap.
"Aku terlalu bo*doh, Dorin. Terlalu percaya diri. Aku terlalu percaya kalau ... tidak. Seharusnya, Sinta hanya bisa jadi milik aku. Tapi kenapa mereka menjodohkan Sinta dengan kak Wana? Kak Wana juga, kenapa mau menikahi Sinta? Padahal ia tahu kalau Sinta adalah kekasih adiknya."