( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasca ekspedisi
12 Februari.
Markas Organisasi Laios.
"Kalian gagal, ya..."
Suara itu mengalun ringan, memecah keheningan ruangan yang remang-remang.
"Maafkan kami, Tuan Laios. Akan tetapi, kekuatan pedang hitam tersebut jauh melampaui perkiraan kami."
Seorang bawahan menunduk dalam-dalam, menahan napas di bawah tekanan aura sang pemimpin.
Laios yang sedari tadi berdiri membelakangi ruangan, menatap kosong ke luar jendela besar, perlahan memutar tubuhnya.
"Lalu, di mana pemuda yang aku perintahkan kalian untuk dibawa?"
"Dia ada di depan, Tuan."
"Begitu ya... Untuk sekarang, pemuda bernama Cortinus itu, jangan sampai bertemu denganku dahulu."
"Baik, Tuan Laios."
Leona membungkuk hormat, lalu melangkah mundur dan keluar dari ruangan, meninggalkan sang pemimpin dalam kesendiriannya kembali.
Laios berjalan mendekati meja kayu mahogani miliknya. Jemarinya yang lentik meraih segelas anggur merah yang pekat.
Ia meminum seteguk anggur tersebut, membiarkan cairan sedingin es itu membasahi tenggorokannya. Kemudian, sebuah pemandangan ganjil tercipta. Laios mulai menggerakkan tubuhnya, menari dalam keheningan total selama sepuluh menit penuh.
Setiap lekuk gerakan dalam tariannya terasa sangat halus, presisi, dan elegan. Gerakan yang hanya bisa dimiliki oleh seorang profesional terlatih yang terbiasa menghibur lautan manusia dalam pertunjukan sirkus besar.
"Leoric Nightvale..."
Laios bergumam di sela tarian solonya, menyebut nama itu dengan nada yang halus.
"Apakah dia mau untuk direkrut, ya?"
Ia berhenti melangkah sejenak, menatap langit-langit ruangan.
"Tidak, tidak, tidak. Momen di mana aku melihatnya bertarung dengan kelima monster di Kerajaan Nightdoom kala itu..."
"Sangat indah..."
Hingga akhirnya, tawa berat membumbung dari mulut Laios. Pria itu tenggelam dalam hiburan yang ia ciptakan sendiri, berbicara pada kekosongan di dalam ruangan yang jika semakin lama dilihat, terasa semakin suram dan mencekam.
Di setiap sudut ruangan itu, terdapat bendera berbagai kerajaan yang berserakan tak keruan di lantai. Beberapa di antaranya mengusung lambang-lambang kenegaraan agung yang kini telah dicoret kasar menggunakan cat merah pekat, membentuk lambang silang.
Salah satu lambang kerajaan yang dicoret itu adalah milik Kerajaan Peak Cavalry. Kain benderanya yang megah kini berakhir mengenaskan, terinjak-injak oleh sepatu Laios yang menari sembari membawa segelas anggur merah di tangannya.
13 Februari.
Kerajaan Nightdoom.
Raja Rasdinand berdiri membeku di dekat jendela aula kastil. Ia baru saja menerima laporan darurat dari penjaga gerbang luar bahwa ada satu kereta kuda yang terlihat sedang bergerak mendekat dalam kecepatan tinggi.
Rasdinand segera memerintahkan pasukannya untuk terus mengawasi pergerakan kereta tersebut. Di dalam kepalanya, berkecamuk pertanyaan tentang bagaimana kabar dari tim ekspedisi yang baru saja ia berangkatkan tiga hari lalu, tepatnya pada tanggal 10 Februari.
Namun, ketenangan sang raja runtuh dalam sekejap.
Raja Rasdinand yang saat itu sedang memegang secangkir kopi hangat, mendadak melepaskan pegangannya begitu saja. Cangkir keramik itu jatuh menghantam lantai, hancur berkeping-keping bersama cairan hitam yang berhamburan, tepat setelah prajurit laporan menyebutkan siapa sosok yang memegang tali kekang delman kereta kuda tersebut.
Dia adalah salah seorang elite guard yang memimpin ekspedisi. Basten Nahan.
Begitu nama itu berdengung di telinganya, sang raja tidak membuang waktu lagi. Ia langsung memerintahkan para penjaga untuk segera membuka gerbang utama dan mengumpulkan seluruh pasukan medis di halaman depan istana.
"Bagaimana bisa..."
"Kereta kuda yang kembali... Hanya satu?"
Gumam Rasdinand lirih. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, memaksa otaknya untuk tetap fokus dan mengesampingkan asumsi terburuk.
Di halaman bawah, di tengah persiapan penuh penyambutan sederhana yang mendadak ricuh, kereta kuda itu akhirnya menerobos masuk. Dari atas kursi kusir, Basten mengangkat satu tangannya tinggi-tiga, memberi isyarat sandi militer bahwa mereka tidak sedang diikuti oleh musuh.
Kereta memasuki perimeter dalam gerbang kerajaan, disambut dengan sikap hormat besar dari seluruh jajaran pasukan yang berbaris rapi.
Namun, belum sempat ritual penyambutan resmi itu selesai dilakukan secara penuh, Basten meloncat turun dari kursi kusir dan langsung berteriak kasar dengan nada yang sangat tinggi, memutus semua formalitas.
"PANGGIL MEDIS, CEPAT! DI SINI ADA ORANG-ORANG YANG MEMBUTUHKAN PERAWATAN PENUH!"
Para petugas medis yang sudah bersiaga langsung berlari menghampiri gerbong kereta. Mereka seketika terperanjat, menahan napas melihat kondisi Edward dan Deon yang terbaring dengan wujud yang teramat mengenaskan.
Sementara itu, di sudut paling gelap di dalam kereta, terdapat Leoric yang duduk terdiam.
Pemuda itu memeluk kedua lututnya erat-erat, menyembunyikan sebagian wajahnya. Sorot matanya kosong, mati, tak merespons dunia luar, sementara jemari tangannya bergerak-gerak gelisah memainkan jari-jari kakinya sendiri secara berulang.
Begitu salah seorang perawat medis mencoba melangkah mendekat untuk menanyakan kondisinya secara langsung, reaksi Leoric di luar dugaan.
"Jangan mendekat! Pergi!.....kumohon......kumohon...."
Wajah Leoric mendadak berubah menjadi ekspresi ketakutan yang teramat sangat. Ia berteriak histeris, menyentak tubuhnya mundur hingga membentur dinding gerbong, lalu memasang pose protektif melindungi kepalanya sembari memohon-mohon dengan tubuh gemetaran agar sang perawat menjauh darinya.
Rasdinand yang menyaksikan kekacauan itu dari kejauhan segera melangkah lebar mendekati Basten. Pakaiannya tampak koyak dan kotor, namun ekspresi wajahnya tetap terpasang tegas menahan beban.
"Cortinus."
Rasdinand menatap tajam mata Basten.
"Ada di mana Cortinus, dan semua pasukan yang berangkat bersama kalian?"
Basten menarik napas dalam, mencoba menstabilkan suaranya.
"Semuanya gugur, Yang Mulia. Cortinus menghilang. Tapi, rasanya misi untuk menjemput putri dari Kerajaan Peak Cavalry berhasil."
Rasdinand menghela napas panjang yang terasa sangat berat. Ia bergumam pelan pada dirinya sendiri. Sedari awal, ia sudah memiliki firasat kuat bahwa ekspedisi yang terpaksa ia izinkan ini akan membawa dampak dan kabar yang luar biasa besar bagi kerajaan ini. Entah itu kabar suka, atau justru petaka.
Rasdinand kemudian mengeraskan ekspresi wajahnya. Ia meninggikan nada suaranya, memancarkan kembali wibawa mutlaknya sebagai seorang penguasa tertinggi Nightdoom agar pasukannya tidak larut dalam kepanikan.
"Basten Nahan, aku memerintahkanmu untuk memikul beban tanggung jawab terhadap seluruh laporan kronologi ekspedisi kali ini. Beristirahatlah sebentar, dan berikan aku jawaban atas segala pertanyaan yang akan dilontarkan padamu di ruang rapat raja hari ini. Dan untuk selebihnya, bubarkan kerumunan ini dan berikan perawatan terbaik pada mereka yang membutuhkan!"
"Baik, Yang Mulia!"
Jawaban tegas itu menggelegar serempak dari seluruh pasukan yang ada di halaman, termasuk Basten yang kemudian berbalik untuk menuntun langkah kaki Anastasya turun dari kereta kuda dengan penuh kehati-hatian.
Setelah beberapa jam yang menegangkan, situasi di area depan kastil akhirnya mulai terkendali.
Bahkan jika melihat kondisi benua ini secara makro, kerajaan-kerajaan yang masih sanggup berdiri tegak setelah dihantam bencana insiden langit berdarah tempo hari, perlahan-lahan mulai menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Mereka sedikit demi sedikit mulai memulihkan infrastruktur dan fungsi internal pasca-bencana besar itu.
Siang harinya, di sepanjang lorong marmer istana kenegaraan Nightdoom, dua orang bangsawan tampak berjalan santai sembari berbisik-bisik, mengobrolkan gosip hangat mengenai kondisi geopolitik benua saat ini.
"Count Ford, menurut analisis Anda, ada berapa kerajaan yang masih sanggup berdiri kokoh semenjak insiden mengerikan itu?"
"Menurut pandangan saya, setidaknya ada lima kerajaan dengan fondasi militer terkuat di benua ini yang masih bisa bertahan dari amukan monster langit."
"Jadi begitu ya... Untungnya, kerajaan kita adalah kerajaan dengan kekuatan militer terkuat kedua di benua ini."
"Ya, Anda benar, Count Sirian. Jika bukan karena dedikasi dan jasa besar dari para prajurit garda depan kita, mungkin kerajaan Nightdoom juga sudah hancur lebur dan rata dengan tanah seperti yang lain."
Di waktu yang bersamaan, di sektor lain istana, atmosfer terasa jauh lebih pengap. Ruang medis utama dipenuhi bau obat-obatan yang menyengat.
Edward tampak terbatuk-batuk kecil di atas ranjangnya. Seluruh permukaan tubuh pria itu dibalut oleh kain perban putih yang tebal.
"Uhuk... Uhuk..."
"Nona... Nona Clarissa..."
Edward memanggil dengan suara yang sangat lemas, nyaris berbisik. Matanya mengerjap-ngerjap, namun pancaran kebingungan dan keheranan yang mendalam langsung menyelimuti wajahnya karena ia menyadari bahwa dirinya tidak dapat melihat apa pun lagi. Gelap gulita.
Para perawat yang sedang berjaga di sekitar ranjang seketika memegangi dada mereka sendiri. Mereka tidak sanggup menahan air mata yang mulai menetes perlahan, merasa teriris melihat kondisi Edward yang justru terbangun lebih dulu daripada teman kokinya, Deon, yang harus kehilangan kedua kakinya akibat pertempuran.
Sementara itu, di ruang kamar isolasi khusus, Leoric masih terbaring telentang di atas tempat tidur dengan tatapan mata yang kosong, mengarah lurus ke langit-langit tanpa berkedip. Rambut hitamnya berantakan, acak-acakan menutupi dahi.
Seorang pelayan pribadi yang ditugaskan khusus untuk menjaga dan merawat Leoric saat ini sedang duduk di kursi sudut, dengan tangan gemetaran menuangkan obat tidur dosis aman ke dalam cangkir minuman Leoric.
Pelayan itu bahkan tidak berani melangkah mendekati area ranjang. Sebab, ia tahu betul, setiap kali ada manusia yang mencoba mengikis jarak dengan tubuh pemuda itu, maka Leoric akan langsung menunjukkan ekspresi ketakutan yang luar biasa histeris.
"Hufftt... Sebenarnya... Apa yang telah terjadi pada Anda saat berada dalam perjalanan ekspedisi itu, Tuan?"
Gumam pelayan itu lirih pada dirinya sendiri, menatap prihatin pada sosok pahlawan kerajaan yang kini jiwanya telah remuk tak bersisa.
Di sisi lain kompleks istana utama, Clarissa ditempatkan di kamar yang berbeda. Kelopak matanya bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Ia terbangun dengan kondisi tubuh yang luar biasa lemas, disertai rasa lapar yang menggerogoti perutnya.
Melihat sang pasien tersadar, para pelayan yang ditugaskan di ruangan itu secara kompak langsung menghampiri ranjang Clarissa, membawa nampan berisi makanan hangat dan minuman.
"Nona Clarissa, Anda sudah tersadar. Hormat saya."
Kata seorang pelayan senior sembari dengan cekatan menuangkan segelas air putih hangat untuk Clarissa.
Clarissa memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri, memandang sekeliling dengan linglung.
"Di mana aku?..."
"Anda saat ini sedang berada di dalam salah satu kamar di istana utama Kerajaan Nightdoom, Nona Clarissa."
Clarissa tersentak, matanya melebar seketika. "Huh?! Aku ada di Nightdoom?!"
"Apa... Apakah mereka..."
Perkataan Clarissa yang terbata-bata langsung dipotong dengan lembut oleh salah seorang pelayan yang sedang memegang mangkuk bubur di dekatnya.
"Saya akan menjelaskan kepada Anda mengenai bagaimana kondisi teman-teman Anda secara perlahan, Nona. Yang pasti, untuk saat ini, Anda harus mengisi energi dan makan dahulu."
Mendengar janji itu, tanpa membantah lagi, Clarissa langsung melahap habis bubur yang disajikan di hadapannya dengan cepat. Ia benar-benar tidak sabar dan membutuhkan jawaban serta penjelasan utuh dari para pelayan maupun perawat yang ada di sana.
Siang itu, matahari bersinar terik di atas atap kastil. Di depan pintu ganda ruang kerja raja, Basten berdiri tegak. Ia merapikan jubah militernya sejenak, lalu melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang mantap dan tegas.
Basten tahu betul, apa pun kalimat yang akan keluar dari mulutnya di hadapan sang raja setelah detik ini, pasti akan mengubah jalannya sejarah dan masa depan kerajaan ini untuk selamanya.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.