NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Jejak Yang Menuntun Pulang

Jakarta terasa seperti kota mati bagi Arlan, meski jutaan lampu jalanan masih berpijar terang.

Sudah memasuki minggu ketiga sejak kepergian Kinara, dan Arlan mulai kehilangan arah. Di kantor, ia tidak lagi mengamuk.

Ia justru menjadi sangat pendiam.

Seringkali, Maya menemukannya hanya duduk melamun menatap satu-satunya barang yang Kinara tinggalkan di meja kerjanya: sebuah bolpoin tua yang sering wanita itu gunakan untuk mencatat ide novel.

​Setiap malam, Arlan akan pulang ke mansion, namun ia tidak langsung masuk.

Ia akan duduk di dalam mobil di depan gerbang selama berjam-jam, memandangi jendela kamar mereka yang gelap.

Ia takut masuk ke dalam. Ia takut menghadapi kenyataan bahwa tidak ada lagi suara tawa lembut atau omelan kecil yang menunggunya di balik pintu itu.

​"Pak, ini informasi yang Anda minta," ucap Pak Baskoro suatu sore, meletakkan sebuah amplop cokelat di meja kerja Arlan. "Tapi seperti pesan Ibu Kinara... beliau ingin waktu sampai hatinya membaik."

​Arlan menatap amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada alamat sebuah desa di Yogyakarta. Tempat yang selama ini menjadi pelarian Kinara.

​"Apa dia... apa dia terlihat bahagia di sana, Baskoro?" tanya Arlan dengan suara serak.

​"Beliau terlihat lebih tenang, Pak. Sering duduk di teras sambil menulis," jawab Baskoro jujur.

​Arlan menarik napas panjang. Ia teringat kata-kata terakhir Kinara: “Setelah hatimu membaik... tolong cari aku.”

​Arlan menatap telapak tangannya sendiri.

Apakah hatinya sudah membaik? Apakah monsternya sudah benar-benar mati? Ia telah mendonasikan sebagian besar aset yang menjadi sengketa dengan ayah Kinara ke yayasan pendidikan, ia telah memutuskan hubungan dengan Paman Samuel secara hukum, dan ia telah mulai belajar mengendalikan emosinya.

​"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Baskoro," bisik Arlan.

"Bukan karena aku ingin memaksanya kembali, tapi karena aku takut dia lupa kalau dia masih punya seorang suami yang sedang berusaha menjadi manusia baru."

​Sementara itu, di sebuah sudut desa yang asri di Yogyakarta, Kinara sedang terduduk di teras rumah kayu neneknya.

Langit sore itu berwarna jingga kemerahan, sangat indah, namun hatinya terasa sepi. Ia memegang sebuah buku naskah baru, namun tidak ada satu kata pun yang sanggup ia tulis sejak pagi.

​Pikirannya selalu terbang kembali ke Jakarta.

Ia membayangkan Arlan. Apakah pria itu makan dengan teratur? Apakah Arlan masih sering terbangun tengah malam karena mimpi buruk tentang masa lalunya?

​"Nduk, kalau rindu itu jangan disimpan sendiri.

Nanti jadi penyakit," ucap Nenek Kinara sambil meletakkan secangkir teh jahe di meja.

​Kinara tersenyum pahit.

"Aku yang meminta pergi, Nek. Aku yang bilang padanya untuk mencariku setelah hatinya membaik. Tapi sekarang... malah aku yang merasa hatiku tidak akan pernah membaik kalau tidak ada dia."

​Kinara mengelus pipinya sendiri.

Ia merindukan sentuhan kasar tangan Arlan.

Ia merindukan bagaimana pria itu akan merengek manja hanya karena ingin dipeluk saat ia sedang sibuk menulis.

Ia menyadari bahwa di balik semua sifat posesif Arlan, pria itu hanya seorang anak kecil yang trauma akan kehilangan, dan ia—Kinara—telah memberinya luka kehilangan yang paling dalam.

​"Kalau dia tidak datang, Nek... apa artinya dia sudah membenciku?" tanya Kinara lirih.

​"Cinta yang benar itu seperti arus sungai, Nduk. Dia mungkin berkelok, mungkin terhalang batu, tapi dia akan selalu tahu jalan menuju laut," jawab Nenek bijak.

​Malam itu, Arlan tidak bisa tidur.

Ia berkemas sendiri.

Ia tidak membawa jas formal atau jam tangan mewah.

Ia hanya membawa beberapa potong kaus dan kemeja santai. Ia ingin datang sebagai Arlan, pria biasa, bukan sebagai CEO Arlan Group.

​Ia menyetir sendiri mobilnya dari Jakarta menuju Yogyakarta. Perjalanan belasan jam itu ia tempuh tanpa rasa lelah. Setiap kilometer yang ia lewati terasa seperti langkah untuk menebus dosanya. Ia terus mengulang kata-kata di kepalanya: Aku bukan lagi monster. Aku adalah Arlan-mu.

​Pagi berganti siang, dan siang berganti sore saat mobil Arlan mulai memasuki jalanan desa yang sempit.

Jantungnya berdegup kencang saat melihat papan nama desa yang disebutkan Baskoro.

Ia menghentikan mobilnya agak jauh dari rumah kayu itu. Ia ingin berjalan kaki, ingin merasakan udara yang sama dengan yang dihirup istrinya.

​Arlan berjalan menyusuri pematang sawah.

Dari kejauhan, ia melihat sebuah rumah kayu dengan teras yang dipenuhi bunga melati.

Dan di sana, di kursi kayu yang menghadap matahari terbenam, ia melihat wanita itu.

​Kinara sedang melamun, menatap cakrawala dengan tatapan rindu yang sama.

​"Kinara..."

​Suara itu sangat pelan, namun sanggup menghentikan napas Kinara.

Kinara menoleh perlahan, menyangka itu hanya halusinasinya karena terlalu rindu.

Namun, di sana stood Arlan.

Berdiri di ujung teras dengan kemeja hitam yang lengannya digulung, wajahnya tampak lelah namun matanya bersinar dengan keteduhan yang belum pernah Kinara lihat sebelumnya.

​Arlan melangkah naik ke teras. Ia tidak bicara.

Ia hanya menatap Kinara dengan mata yang berkaca-kaca.

​"Aku datang..." bisik Arlan. "Aku datang untuk menjemput pelukanku."

​Kinara bangkit dengan kaki yang lemas.

Air matanya langsung tumpah tanpa bisa dibendung. Sebelum ia sempat berkata apa pun, Arlan sudah melangkah maju dan menariknya ke dalam pelukan yang sangat, sangat erat.

​Grep.

​Arlan menenggelamkan wajahnya di leher Kinara, menghirup dalam-dalam aroma yang selama ini menghantui mimpinya.

Tubuh Arlan bergetar hebat.

Ia menangis dalam diam, memeluk Kinara seolah-olah seluruh dunianya baru saja kembali ke tangannya.

​"Maafkan aku... tolong jangan pernah pergi lagi," isak Arlan parau.

​Kinara membalas pelukan itu tak kalah erat. Ia melingkarkan tangannya di punggung lebar suaminya, menangis sesenggukan di dada Arlan.

"Aku juga minta maaf... aku merindukanmu, Arlan. Aku sangat merindukanmu."

​Di bawah langit senja Yogyakarta yang mulai meredup, dua jiwa yang sempat hancur itu akhirnya menyatu kembali.

Tidak ada lagi monster, tidak ada lagi dendam. Yang ada hanyalah Arlan dan Kinara-nya, dalam sebuah pelukan yang menjanjikan masa depan yang lebih baru.

catatan :

tetap kawan terus yah kesayangannya Kirana dan Arlan🤍 btwwww jangan lupa like, komen, dan share yah xixixixi😅💋

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!