Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Lorong Harta Karun dan Rahasia Perpustakaan
Kekosongan yang mencekam segera menyelimuti mereka saat Jack membuka pintu kayu ek yang berat. Mereka melangkah keluar, derap langkah kaki mereka bergema pelan di lantai batu dingin. Mereka tidak lagi berada di ruang pemakaman yang mengerikan, melainkan di sebuah lorong sempit yang menjanjikan jalan keluar, namun yang ada di ujungnya hanyalah dinding batu pekat sebuah jalan buntu.
“Sialan,” desis Jack, tangannya sigap menggenggam gagang pedang. “Kita kembali ke tempat kita mulai.”
“Tidak,” sela Kieran, matanya yang tajam menyapu dinding di sebelah kiri mereka. Ada tiga patung batu besar, pahatan prajurit dengan ekspresi kaku, berdiri tegak di ceruk dinding. “Lihat, patung yang ini posisinya miring.”
Falix dan Aura segera mendekat. Patung yang dimaksud Kieran adalah pahatan seorang jenderal yang memegang tombak. Tombak itu, alih-alih mengarah ke depan, sedikit miring ke samping. Falix, dengan kekuatan yang tersisa, segera mendorong patung itu. Batuan tua itu berderak pelan, bergeser dari posisinya semula.
Ggrrkkkk... Brak!
Tepat ketika patung itu kembali tegak lurus, dinding batu di hadapan mereka, yang tadinya jalan buntu, tiba-tiba bergerak. Bukan bergeser ke samping, melainkan terbelah di tengah dan tertarik ke dalam, mengungkapkan sebuah lorong gelap yang sebelumnya tersembunyi. Udara dingin yang lembap menerpa wajah mereka.
“Kerja bagus, Kieran,” puji Jack, segera mengangkat obor untuk menerangi jalan.
Mereka berempat melangkah masuk ke lorong rahasia itu. Lorongnya berbeda. Di sini, ukiran pada dinding tidak lagi menampilkan adegan pemakaman, tetapi lebih banyak menggambarkan pesta dan perburuan. Lantai yang mereka pijak juga terasa lebih halus dan bersih.
“Apa kita ada di lantai delapan?” gumam Falix, mengusap debu dari telapak tangannya.
Keheningan melanda. Tak ada yang tahu pasti. Mereka telah berada di bawah tanah begitu lama, berkelana di labirin makam Raja Bodoh, Asaarmata, sehingga konsep ‘lantai’ sudah terasa absurd. Mereka hanya tahu mereka bergerak lebih dalam atau lebih tinggi dan yang terpenting, menjauh dari ancaman mayat hidup.
Lorong itu berakhir pada sebuah ruangan kecil yang disinari cahaya samar yang entah datang dari mana. Ruangan itu hampir kosong, kecuali dua benda yang diletakkan dengan penuh perhatian, sebuah guci keramik besar dengan glasir biru pekat yang berkilauan, dan sebuah lukisan kanvas yang terbingkai mewah.
“Lihat itu,” bisik Kieran, langkahnya terhenti. “Guci itu… dan lukisan itu.”
Falix, yang terkenal akan naluri serakahnya, segera berseru, matanya membesar penuh gairah. “Ini harta karun! Jelas ini harta karun yang tidak sempat mereka kubur!”
Jack menyentuh bingkai lukisan itu, ekspresinya berubah serius. “Ini bukan sekadar ruang penyimpanan. Ini lantai penyimpanan harta. Lihat detail lukisannya. Garis, pewarnaan… Kurasa ini dibuat oleh seorang pelukis terkenal di masa itu. Nilainya pasti tak terhingga.”
Lukisan itu menampilkan seorang wanita bangsawan yang memegang setangkai bunga teratai, senyumnya misterius, seolah menyembunyikan ribuan rahasia. Sementara guci di sebelahnya dipenuhi ukiran naga-naga kecil yang meliuk.
Aura tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengeluarkan kameranya dan mulai mengambil gambar. Ia mengabadikan setiap sudut lukisan, setiap detail glasir pada guci. Bagi mereka, ini adalah harta karun emas dan permata. Bagi Aura, ini adalah bukti sejarah sebuah jendela ke masa lalu yang menunjukkan kekayaan dan keindahan yang pernah dimiliki Raja Asaarmata.
Falix, yang benar-benar tidak bisa menahan diri, segera melangkah maju, tangannya terulur untuk menyentuh, bahkan mungkin mengangkat guci itu.
“Jangan!” seru Kieran tegas, suaranya tajam seperti ujung belati. Ia mencengkeram lengan Falix, cengkeraman yang kuat dan mendesak. “Kau tidak tahu jebakan apa yang mungkin ada di sini. Kita mencari petunjuk, bukan kekayaan, Falix! Fokus!”
Wajah Falix memerah karena malu dan frustrasi. “Tapi… tapi ini bisa membuat kita kaya raya, Kieran! Hanya satu guci saja!”
“Kekayaan tidak akan berarti apa-apa jika kita mati di sini!” balas Kieran, matanya menatap tajam ke mata Falix, memaksa temannya untuk mundur.
Jack mengangguk setuju, kembali menjaga kewaspadaan. “Kieran benar. Kita tidak tahu kapan dinding itu akan tertutup lagi. Ayo cepat tinggalkan tempat ini.”
Mereka terus bergerak menyusuri lorong yang tampak tak berujung, sampai cahaya di ujungnya menjadi lebih terang. Mereka tiba di sebuah ruangan yang jauh lebih besar, tingginya mencapai dua kali lipat lorong sebelumnya. Ini adalah Perpustakaan Kuno.
Ribuan buku, gulungan, dan manuskrip berbaris rapi di rak-rak kayu jati yang menjulang tinggi, beberapa rak bahkan sudah lapuk dimakan usia. Bau kertas tua, debu, dan tinta kering mendominasi udara. Itu adalah aroma yang menenangkan bagi Aura, namun terasa aneh bagi yang lain.
“Kita istirahat di sini,” putus Jack. “Perpustakaan ini mungkin adalah tempat teraman di seluruh kompleks makam. Kita bisa mengisi ulang energi sambil mencari sesuatu yang berguna.”
Mereka segera meletakkan tas ransel mereka. Falix dan Jack segera mengeluarkan bekal makanan dan minuman. Kieran, setelah memastikan tidak ada pintu jebakan atau bahaya tersembunyi, duduk bersandar di salah satu rak.
Aura, di sisi lain, tidak membuang waktu. Baginya, ruangan ini adalah surga informasi. Dia berjalan di antara rak-rak, jari-jarinya menyentuh punggung buku yang bersampul kulit tebal, mencari petunjuk, mencari sepotong kisah sejarah yang bisa menjelaskan siapa sebenarnya Raja Asaarmata dan, yang lebih penting, mengapa putra kelimanya, menjadi raja bodoh seperti yang dicatat dalam sejarah resmi.
Ia menarik sebuah buku yang disampul beludru merah tua. Debu bertebangan saat ia membukanya. Halamannya dipenuhi dengan tulisan tangan yang anggun. Itu bukan catatan sejarah.
Ia membaca dengan saksama:
“Di bawah bayangan Rajawali, jiwa raja terbit dan terbenam. Cinta yang kuberikan adalah kebijaksanaan, bukan belenggu. Tetapi hati yang gila akan kekuasaan, akan menumpahkan darah dalam diam. Takkan ada tahta yang tegak tanpa pengorbanan yang suci.”
Aura mengerutkan kening. “Puisi… atau kode?” Ia membalik halaman. Sisanya adalah deskripsi metode-metode filosofis tentang cara memimpin, berfokus pada keadilan dan kebenaran sebuah kontras yang mencolok dengan julukan “Raja Bodoh” yang melekat pada Asaarmata.
Ia meletakkan buku itu dan mengambil yang lain, sampulnya dari kulit binatang. Ketika ia membukanya, yang ditemukan hanya ada sketsa dan deskripsi jenis-jenis serangga langka, lengkap dengan manfaat dan racunnya.
"Kenapa?"
Pertanyaan itu berputar di benak Aura. Kenapa ada buku-buku filosofis dan ensiklopedia serangga di sini? Kenapa tidak ada catatan sejarah formal? Rasa frustrasi mulai merayapinya. Ia mengambil gambar setiap tulisan yang ia temukan. Ia mencari dengan sungguh-sungguh, berharap menemukan satu pun gulungan yang menyebutkan Pangeran Asaarmata, atau bahkan petunjuk yang menjelaskan mengapa ia bisa menemukan makam ini makam yang seharusnya sudah hilang dari sejarah.
Namun, ia tidak menemukan apa pun yang menarik, tidak ada nama, tidak ada tanggal. Hanya keragaman yang membingungkan.
Saat Aura tenggelam dalam lautan buku, Kieran bangkit. Ia mengamati teman-temannya yang sedang makan, dan kemudian matanya beralih ke Aura yang tampak tegang dan gelisah di antara rak-rak. Kieran mendekatinya dengan langkah pelan.
“Aura,” panggilnya pelan.
Aura tersentak, sedikit terkejut, lalu menutup buku yang sedang ia pegang. Wajahnya ditekuk, ekspresinya jauh dari kesan ramah.
“Ya?” jawab Aura singkat, nada suaranya ketus, tidak senang karena konsentrasinya terpecah.
Kieran mencondongkan tubuh sedikit, tatapannya lembut namun penuh keingintahuan. “Apa yang sedang kamu cari, Aura? Kamu tampak sangat… terobsesi.”
“Mencari tentang putra raja bodoh itu, kenapa?” Aura membalas, matanya memancarkan kelelahan dan rasa tidak puas. “Aku sudah mencari di mana-mana, dan yang kutemukan hanya puisi samar dan ensiklopedia serangga! Seolah-olah sejarah yang kita tahu tentang Asaarmata dan putranya hanyalah kebohongan besar!”
Kieran melihat ekspresi wajah Aura. Bukan hanya ketidakpuasan. Ada hal aneh yang terjadi, sesuatu yang lebih dalam. Aura biasanya adalah orang yang paling bersemangat dan ceria dalam kelompok mereka. Kini, ia terlihat dingin, keras, seolah-olah penemuan makam ini telah membebani jiwanya.
“Dengar, Aura,” kata Kieran, suaranya merendah. Ia meraih bahu Aura dengan sentuhan ringan, mencoba menyalurkan ketenangan. “Kita tidak bisa menemukan semuanya dalam satu bab. Sejarah selalu menyimpan rahasia, dan makam ini mungkin sengaja dirancang untuk membingungkan mereka yang mencarinya. Ambil napas.”
Aura menghela napas panjang, melepaskan ketegangan yang menyesakkan. “Aku hanya merasa… ada sesuatu yang tidak beres, Kieran. Ada kepingan yang hilang, dan aku merasa aku yang bertanggung jawab untuk menemukannya.” Ia menggelengkan kepalanya. “Aku lelah. Aku akan berhenti sebentar.”
“Bagus,” kata Kieran, senyum tipis terukir di bibirnya. Ia tahu, di balik keangkuhan dan kecerdasannya, Aura juga butuh istirahat.
Keduanya berjalan kembali menuju area tempat Jack dan Falix sedang berkumpul. Keempatnya duduk melingkar di lantai batu perpustakaan. Aura menerima sepotong roti kering dan minuman dari Jack.
Suasana menjadi sedikit lebih ringan saat mereka makan dan minum bersama. Falix mulai bercerita tentang rencana gila yang akan ia lakukan dengan harta karun di lorong tadi, dan Jack menggodanya dengan lelucon kasar. Tawa kecil terdengar, memecah keheningan sakral perpustakaan.
Aura memperhatikan mereka. Persahabatan mereka, meskipun dibalut sarkasme dan pertengkaran kecil, adalah jangkar yang menahan mereka di tengah kegilaan ini. Ia tersenyum, senyum tulus yang sudah lama tidak terlihat di wajahnya.
Namun, di benaknya, tekad itu tetap menyala. Ia tidak akan berhenti. Ia akan menemukan rahasia di balik makam Raja Bodoh itu, dan mengapa putra kelimanya, Asaarmata, telah ditinggalkan sejarah. Petunjuknya ada di sini, di suatu tempat di antara buku-buku yang lapuk ini.
Setelah merasa cukup istirahat, Aura berdiri. “Aku akan melihat rak di sudut sana. Mungkin ada petunjuk di balik gulungan yang terselip.”
Jack mengangguk. “Baiklah. Tapi kita tidak akan lama di sini. Begitu kau selesai, kita harus mencari jalan keluar. Aku tidak suka berlama-lama di tempat yang penuh rahasia dan jebakan ini.”
Kieran memperhatikan punggung Aura yang kembali bersemangat. Ia tahu, meskipun mereka telah mengisi perut dan meregangkan kaki, petualangan mereka baru saja dimulai. Di dalam makam ini, setiap langkah adalah penemuan, dan setiap penemuan membawa mereka lebih dekat pada kebenaran yang mengerikan.