NovelToon NovelToon
Malam Jum'At Keliwon

Malam Jum'At Keliwon

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.

Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: SUMUR TUA DAN PENJAGA BATU LANGIT

"AYO! JANGAN BUANG WAKTU!" teriak Eyang Sastro.

Mereka bertiga berlari menuruni lereng gunung dengan sekuat tenaga. Kabut tebal menyelimuti jalan setapak, membuat jarak pandang sangat terbatas. Namun, adrenalin dan rasa takut akan keterlambatan membuat kaki mereka bergerak lebih cepat dari biasanya.

"Eyang! Kita ke mana dulu ini?!" tanya Raga sambil berlari membelah angin malam.

"Ke Sumur Tua dulu! Di Desa Siti harjo, di bawah kaki gunung sana!" jawab Eyang Sastro. "Batu Meteor itu adalah yang paling mudah didapat dibandingkan Harimau Hitam, tapi bukan berarti tidak berbahaya!"

Mbah Joyo berlari di belakang terengah-engah. "Sumur tua itu kan sudah tidak dipakai ratusan tahun, Eyang! Katanya dasarnya tidak kelihatan, sangat dalam dan angker sekali!"

"Justru itu! Karena batu itu benda langit, dia punya magnet kuat yang menarik makhluk-makhluk air dan penghuni bawah tanah. Pasti ada penjaganya di sana!"

Sekitar satu jam berlari dan berjalan cepat, mereka akhirnya sampai di lokasi yang dimaksud. Terletak di pinggir desa yang sudah sepi, terdapat sebuah bangunan kuno berbentuk lingkaran yang terbuat dari batu bata merah. Itulah sumur peninggalan zaman dahulu yang kini sudah ditumbuhi rumput liar dan pohon beringin besar yang akar-akarnya menjalar sampai menutupi sebagian mulut sumur.

Suasana di sana sangat dingin dan mencekam. Bau belerang dan bau amis tanah sangat menyengat.

"Ini dia..." bisik Mbah Joyo sambil menunjuk ke arah lubang hitam pekat di tengah bangunan itu. "Sumur Tanah Merah. Konon katanya kalau ada orang yang jatuh, badannya tidak pernah ketemu lagi."

Raga mendekati mulut sumur itu. Ia menyalakan senter dan mengarahkannya ke bawah.

Senter hanya mampu menerangi dinding sumur yang licin dan berlumut hitam. Lebih dalam lagi, gelap gulita. Tidak terlihat air, tapi terdengar suara gemericik air yang sangat jelas dari kedalaman yang tak terduga.

"Bagaimana cara turunnya, Eyang? Tidak ada tangga," tanya Raga.

"Kita harus turun menggunakan tali. Untungnya tadi aku sempat bawa tali tambang panjang di punggung," jawab Eyang Sastro. Ia segera mengeluarkan gulungan tali tebal yang sangat kuat.

"Joyo, kau tunggu di atas pegang tali. Raga, kau ikut aku turun. Kita cari batu itu."

"Aku juga mau turun, Eyang!" seru Mbah Joyo.

"Tidak! Kau harus jaga pintu masuk. Kalau ada gangguan dari luar, kau yang hadapi. Kami yang urus dalamnya," tegas Eyang Sastro.

Mbah Joyo mengangguk patuh. "Hati-hati kalian ya. Ya Allah, lindungi cucuku dan Eyang Sastro..."

Tali diikatkan kuat-kuat pada pohon beringin yang besar. Eyang Sastro turun lebih dulu, diikuti Raga tepat di atasnya.

Sret... sret...

Mereka merayap turun perlahan. Semakin ke bawah, udara semakin lembap dan dingin. Suara air semakin keras.

Setelah turun sekitar 15 meter, kaki mereka akhirnya menginjak tanah basah. Mereka sampai di dasar sumur.

Ternyata dasar sumur itu bukan air, melainkan sebuah lorong gua yang luas dan gelap! Air mengalir deras melalui sungai bawah tanah di sisi kiri mereka. Dinding gua memancarkan cahaya hijau kebiruan yang samar dari lumut-lumut khusus yang hidup di sana.

"Wow..." Raga takjub meski takut.

"Tenang Raga. Kita cari cahaya yang paling terang. Batu meteor itu biasanya bersinar sendiri di gelap," bisik Eyang Sastro.

Mereka berjalan menyusuri sungai bawah tanah itu. Langkah mereka hati-hati karena bebatuan sangat licin.

Tiba-tiba...

BYUrrR!!!

Dari dalam air sungai yang gelap, melompat keluar makhluk-makhluk menyeramkan! Tubuh mereka seperti manusia tapi kulitnya hijau kebiruan, kepala seperti kodok besar dengan mata menonjol, dan tangan mereka berselapirrr. Mereka berteriak dengan suara parau!

"KRRKKKK!!! MENCURI!!! MENCURI!!!"

Itu adalah Jin Air atau Popok, penjaga sumur dan sumber air!

"AWAS!!!" teriak Eyang Sastro.

Ia segera mengeluarkan tongkatnya dan mengayunkannya!

TRANG!!!

Cahaya putih memancar! Beberapa makhluk yang terkena langsung menjerit dan terlempar kembali ke dalam air!

"Mereka tidak mau kita ambil batunya, Raga! Hajar balik! Jangan biarkan mereka sentuh tali atau tubuh kita!" seru Eyang Sastro.

Raga segera mencabut Keris Berluk 9! Bilahnya bersinar terang!

"Jangan menghalangi jalan kami! Kami datang bukan mencuri, tapi menebus hak!" teriak Raga. Ia menangkis serangan makhluk yang mencoba mencengkeram kakinya.

Pertarungan kecil terjadi di dalam gua sempit itu! Untungnya benda pusaka Raga dan kesaktian Eyang Sastro cukup untuk menahan mereka.

"KE SANA! RAGA! LIHAT!" tunjuk Eyang Sastro.

Di ujung lorong, tepat di atas tumpukan batu karang, terlihat sebuah benda bersinar sangat terang berwarna biru putih. Bentuknya tidak beraturan, sebesar kepala orang dewasa, dan mengeluarkan aura panas yang terasa sampai ke kulit.

Itulah Batu Meteor!

"Itu dia! Cepat ambil!" teriak Eyang Sastro sambil terus menahan serbuan makhluk-makhluk itu.

Raga berlari sekencang-kencangnya melewati sungai dangkal itu. Ia sampai di hadapan batu itu. Saat tangannya menyentuh permukaan batu itu, rasanya hangat dan bergetar hebat, seakan batu itu hidup dan memiliki denyut nadi.

"BERHASIL!!!" Raga segera memasukkan batu itu ke dalam kantong kain tebal yang disiapkan.

"AYO KITA NAIK SEKARANG!!!" teriak Raga.

Mereka berdua lari kembali ke titik tali. Makhluk-makhluk itu mengejar tapi tidak berani mendekat terlalu dekat karena takut pada cahaya keris dan aura Eyang Sastro.

"TARIK KEK!!!" teriak Eyang Sastro ke atas.

Wusss... wusss...

Mereka ditarik naik dengan cepat. Saat kepala mereka muncul ke permukaan sumur...

BRAAAAKK!!!

Air di dalam sumur mendidih! Makhluk-makhluk itu menjerit marah dari bawah tapi tidak berani naik ke dunia atas karena siang bolong sebentar lagi dan mereka takut pada energi positif dunia luar.

Mereka selamat!

 

"Alhamdulillah... selamat juga kalian..." Mbah Joyo langsung memeluk Raga dan Eyang Sastro saat mereka naik ke atas.

Raga mengeluarkan batu itu dari kantongnya. Batu itu bersinar indah di tengah kegelapan malam.

"Wah... indah sekali..." gumam Mbah Joyo terpesona.

"Sudah dapat yang pertama!" Eyang Sastro tersenyum lebar tapi wajahnya tetap lelah. "Sekarang yang kedua! Kepala Harimau Hitam yang hidup! Itu yang paling berat!"

"Harimau Hitam itu tinggal di mana, Eyang?" tanya Raga.

"Tinggal di Gua Lawa, di tebing curam sisi utara gunung. Itu harimau siluman, bukan harimau biasa. Dia panglima hewan buas. Tangkap hidup-hidup? Itu hampir mustahil, Raga. Kalau tidak dibunuh dulu, dia yang makan kita."

"Tapi Kanjeng Raden minta yang hidup, Eyang. Kalau mati, tidak sah," kata Raga cemas.

"Ya makanya susah! Kita harus cari cara buat lumpuhkan dia atau bikin dia pingsan tanpa mencederai nyawanya."

Tiba-tiba, Raga teringat sesuatu. Ia melihat gelang akar bahar di tangannya.

"Eyang... Gelang Akar Bahar ini kan katanya bisa menenangkan binatang buas dan menolak racun? Bisa tidak kita pakai ini buat penawar?"

Eyang Sastro membelalakkan mata. "BENAR JUGA! AKU LUPA! Akar Bahar Hitam itu memang musuh alami segala jenis wibawa hewan buas! Kalau kau pakai itu dan membaca mantra penjinak... mungkin dia bisa jadi jinak sedikit!"

"Berarti ada harapan!"

"Ayo! Kita ke Gua Lawa sekarang juga! Waktu semakin sedikit! Sebelum fajar menyingsing kita harus sudah kembali ke puncak!"

Mereka tidak beristirahat sedikitpun. Segera minum air, makan sepotong roti, lalu langsung bergerak lagi menuju utara gunung, menuju sarang monster paling ganas di seluruh wilayah itu.

 

Perjalanan ke Gua Lawa sangat berat. Mereka harus memanjat tebing-tebing batu yang curam dan licin. Suasana di sana sangat kering dan panas, berbeda dengan bagian gunung lainnya.

Sesampainya di area sekitar gua, mereka bisa mencium bau anyir dan bau bangkai yang sangat menyengat.

Di depan mulut gua yang gelap dan besar itu, terlihat tulang-belulang manusia dan hewan yang berserakan. Tanda bahwa tidak ada yang pernah keluar hidup-hidup dari sana.

Tiba-tiba...

"GRRRRRRRRR...."

Suara auman rendah terdengar dari dalam gua. Getarannya terasa sampai ke tanah.

Dari dalam kegelapan gua, keluar sepasang mata hijau menyala yang sangat besar. Perlahan, sosok itu melangkah keluar.

Tubuhnya sangat besar, lebih besar dari harimau biasa. Bulu-bulunya hitam legam mengkilap tanpa satu pun corak kuning, seolah menyatu dengan malam. Taring-taringnya putih tajam panjangnya lebih dari 5 sentimeter. Cakarnya besar dan tajam menggores tanah.

Itu Harimau Hitam.

Ia menatap mereka dengan tatapan lapar dan buas. Mulutnya berbusa merah.

"GRRR!!! AUUUUMMMM!!!"

Harimau itu siap menerkam!

"Raga! Ingat rencananya! Pakai gelang itu! Keluarkan energinya!" teriak Eyang Sastro.

Raga maju perlahan melangkah maju sendirian meninggalkan Eyang Sastro dan Mbah Joyo di belakang. Jantungnya berdegup kencang sekali.

Ia melepas gelang akar bahar dari tangannya, lalu memegangnya di depan dada. Ia memejamkan mata dan membaca mantra yang diajarkan Eyang Sastro tadi.

"Ya Hayyu Ya Qayyum... Bi hurmatil musthofa... Tunduk lah segala yang buas... patuh lah segala yang liar..."

Gelang di tangannya mulai bersinar merah hangat. Cahaya itu memancar keluar membentuk lingkaran pelindung.

Harimau Hitam yang tadinya mau menerkam tiba-tiba berhenti. Ia mendesis, menggeleng-gelengkan kepalanya seakan kesakitan atau bingung melihat cahaya itu. Ia mundur selangkah, lalu menggeram tidak nyaman.

"Tenang... tenang kawan... aku tidak mau menyakitimu..." bisik Raga lembut tapi tegas. Ia terus maju mendekat.

Eyang Sastro dan Mbah Joyo menahan napas. Jantung mereka mau copot melihat Raga berjalan begitu dekat dengan mulut harimau yang bisa mencabik nyawanya dalam sepersekian detik.

Raga sampai tepat di hadapan harimau itu. Jaraknya hanya satu meter.

Harimau itu mengaum tepat di wajah Raga!

"AUUUUMMMM!!!"

Angin kencang menerpa wajah Raga, tapi ia tidak mundur. Ia justru mengulurkan tangannya yang memakai gelang itu perlahan-lahan mendekati kepala harimau itu.

"Ayo... tidur... istirahat..."

Saat tangan Raga menyentuh bulu halus di kepala harimau itu...

TRING!!!

Sebuah suara lonceng halus terdengar. Mata hijau harimau itu perlahan memudar. Kakinya lemas. Tubuh raksasa itu perlahan terkulai lemah dan jatuh tertidur pulas di hadapan mereka!

Raga berdiri tegak, napasnya memburu hebat.

"Berhasil... Eyang... berhasil..." bisik Raga lemas.

Eyang Sastro dan Mbah Joyo langsung lari mendekat.

"GILA! LUAR BIASA RAGA! KAU BENAR-BENAR PENDEKAR SEJATI!" seru Eyang Sastro takjub.

"Nah! Sekarang bagaimana kita bawa dia ke puncak? Dia kan besar sekali?" tanya Mbah Joyo.

Eyang Sastro tersenyum. Ia mengeluarkan sebuah bubuk putih halus.

"Gampang! Ini bubuk penyusut benda! Kita taburkan, dia akan mengecil jadi seukuran kucing biasa, tapi tetap hidup! Nanti pas di depan Kanjeng Raden baru kita kembalikan ukuran aslinya!"

"Wah canggih Eyang!"

Mereka segera menaburkan bubuk itu. Benar saja, tubuh harimau raksasa itu mengecil perlahan menjadi sebesar kucing anggora yang gemuk dan lucu, tapi tetap terlihat garang meski sedang tidur.

Raga menggendongnya dengan hati-hati.

"Dapat juga! Batu Meteor ada! Harimau hidup ada!" Raga tersenyum bangga.

"Bagus! Sekarang tinggal yang terakhir! Duel 3 lawan 3!" Eyang Sastro menatap ke arah puncak gunung. "Ayo kita naik lagi! Permainan panas sebentar lagi dimulai!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!