NovelToon NovelToon
HOT Duda Itu Majikan Hatiku

HOT Duda Itu Majikan Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Duda
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)

...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."

Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.

Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23 Efek Samping "Hampir" Ciuman Pagi Hari

...🌹🌹🌹...

Satu jam setelah "Insiden Nyaris Bibir Bertemu Bibir" di ruang tengah, atmosfer di dapur penthouse terasa lebih panas daripada kompor induksi yang lagi dipakai Zolla buat masak mie instan.

Zolla sengaja menyibukkan diri. Dia memotong sawi dengan kecepatan cahaya, padahal hatinya lagi disko. Ingatan tentang napas Arkeas di lehernya tadi benar-benar bikin Zolla overthinking sampai ke akar-akarnya.

"Duh, Zolla... fokus! Jangan baper! Dia itu cuma duda kesepian, bukan berarti dia naksir lo!" gumam Zolla pelan, mencoba menetralkan wajahnya yang masih terasa hot.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang sangat ia kenal mendekat. Arkeas masuk ke dapur dengan kemeja yang sudah dipakai dengan benar (nggak terbalik lagi), tapi wajahnya tetap sedatar papan penggilesan.

"Kopi saya mana?" tanya Arkeas, suaranya kembali ke mode "CEO Dingin", padahal telinganya masih agak merah.

Zolla menunjuk cangkir hitam di atas meja pantry tanpa menoleh. "Tuh. Sudah saya buatin. Tanpa gula, sepahit hidup Mas Arkeas yang jomblo lima tahun."

Arkeas menarik kursi tinggi di depan pantry, duduk di sana sambil memperhatikan punggung Zolla. "Zol, soal yang tadi..."

"Yang mana ya, Mas? Tadi banyak kejadian sih. Kejadian Alisya nendang mainan atau kejadian Mas yang tiba-tiba kayak mau nelen saya?" potong Zolla, akhirnya berani menoleh dengan tatapan menantang.

Arkeas terdiam, jemarinya mengetuk-ngetuk cangkir kopi. "Itu... itu murni reaksi biologis. Saya cuma... kaget. Ya, kaget karena kamu bangun siang banget. Saya kira kamu pingsan."

"Halah! Reaksi biologis kok sampai peluk-peluk? Sampai mau nyium segala? Mas Arkeas kalau bohong jangan tanggung-tanggung dong, scam banget tahu nggak!" Zolla tertawa mengejek, meskipun tangannya sedikit gemetar saat menuang mie ke mangkuk.

...🌹🌹🌹...

Arkeas menyesap kopinya, mencoba mencari ketenangan di balik kafein pahit itu. "Dengar, Zolla. Menjadi duda selama lima tahun itu nggak gampang. Ada kalanya... radar saya sedikit error kalau ada perempuan yang terlalu sering sliweran di depan mata pakai daster satin tipis."

Zolla berhenti makan. Ia menatap dasternya sendiri, lalu menatap Arkeas. "Oalah... jadi Mas Arkeas ini lagi curhat kalau Mas lagi 'haus'?"

"Zollana!" Arkeas memijat pelipisnya. "Bahasa kamu kasar sekali."

"Tapi bener kan? Mas tadi bilang sendiri kalau Mas sudah terlalu lama sendirian. Mas butuh kehangatan?" Zolla mendekat, ia bersandar di meja pantry, tepat di depan Arkeas. "Kenapa nggak cari pacar aja sih, Mas? Kan banyak tuh model-model atau kolega Mas yang antre mau jadi Mamanya Alisya."

Mata Arkeas menajam. Ia menarik tangan Zolla, membuat gadis itu sedikit tersentak ke arahnya. "Karena mereka nggak bisa bikin seblak. Mereka nggak bisa bikin Alisya ketawa sampai air liurnya netes. Dan mereka... mereka nggak punya bau stroberi murahan yang bikin saya nggak bisa tidur kalau nggak nyium baunya."

Zolla mematung. Ini dia. Momen di mana Arkeas InjitAsmo menjatuhkan bom atom di hatinya. "Mas... Mas barusan puji saya atau hina saya sih?"

"Saya jujur," Arkeas melepaskan tangan Zolla, suaranya melembut. "Tapi jangan harap saya bakal jadi cowok romantis yang kasih kamu bunga tiap hari. Saya bukan tipe begitu. Saya lebih suka langsung 'tanda tangan kontrak' kalau saya sudah yakin."

"Kontrak apa? Kontrak kerja?"

"Kontrak kepemilikan," bisik Arkeas dengan tatapan yang bikin Zolla meremang sampai ke tulang belakang.

...🌹🌹🌹...

Hujan di luar makin deras, bikin udara Jakarta jadi sangat dingin. Alisya sudah tidur pulas di boks bayinya setelah tadi sempat "interupsi" momen panas Papanya.

Arkeas yang merasa sangat lelah (efek beban pikiran sebagai CEO dan beban batin sebagai duda), merebahkan dirinya di sofa panjang ruang tengah. Zolla yang awalnya mau balik ke kamar, malah dipanggil lagi.

"Zol, sini sebentar," panggil Arkeas, matanya terpejam.

"Apa lagi, Mas? Mau minta pijit?"

"Temenin saya. Saya nggak bisa tidur kalau suasana sepi begini," ucap Arkeas pelan.

Zolla ragu sejenak, tapi ia akhirnya duduk di karpet samping sofa, menyandarkan kepalanya di pinggir sofa dekat dengan tangan Arkeas. Suasana jadi sangat hening, hanya ada suara rintik hujan dan detak jam dinding.

Tanpa sadar, tangan Arkeas turun, mengusap lembut kepala Zolla. "Zol... jangan pergi ya. Maksud saya... jangan pernah mikir buat cari kerjaan lain atau cowok lain. Tetap di sini. Sama saya. Sama Alisya."

Zolla tersenyum tipis, matanya mulai sayu karena nyaman diusap-usap. "Mas Arkeas ini... sebenernya takut banget kehilangan saya ya?"

"Iya," jawab Arkeas jujur—sesuatu yang sangat langka. "Saya takut balik lagi ke masa di mana rumah ini cuma kerasa kayak kantor kedua. Dingin dan sunyi."

Zolla tidak membalas lagi karena ia sudah mulai terlelap. Arkeas membuka matanya sedikit, melihat Zolla yang tidur dalam posisi duduk bersandar di sofanya. Ia menghela napas, lalu perlahan ia turun dari sofa, ikut duduk di karpet dan menarik Zolla ke dalam dekapannya.

Ia menyelimuti mereka berdua dengan selimut rajut. Di bawah guyuran hujan di luar sana, di dalam penthouse mewah itu, dua jiwa yang sedang beradaptasi ini akhirnya menemukan frekuensi yang sama.

...🌹🌹🌹...

Malam harinya, Zolla bangun dan menemukan dirinya sudah berada di kamar dengan selimut rapi. Di meja samping tempat tidur, ada sebuah kotak kecil dengan pita hitam elegan.

Zolla membukanya. Sebuah smartwatch terbaru dengan warna rose gold yang sangat cantik. Di bawahnya ada secarik kertas kecil.

"Pakai ini. Biar kalau jantung kamu detaknya nggak beraturan lagi pas saya deketin, saya bisa dapet notifikasinya di HP saya. - Arkeas"

Zolla tertawa geli sekaligus baper parah. "Dasar duda gila! Posesifnya sampai ke detak jantung banget?!"

Zolla segera memakainya dan memotretnya untuk diunggah ke Close Friend Instagram dengan caption: "POV: Dikasih alat pemantau jantung sama si Bos Posesif. Jantung aman? Enggak."

Tanpa ia sangka, hanya dalam dua menit, Arkeas membalas story tersebut.

Arkeas: "Jangan lupa, mulai besok detak jantung kamu adalah laporan harian saya. Paham?"

...🌹🌹🌹...

(Bersambung ke Episode 24...)

1
falea sezi
alahh alah mas duda bucenn/Curse//Curse/
falea sezi
lanjooot
kikyoooo: wokey
total 1 replies
Indri
Terlalu berani karakter zolla
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!