Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 23
Aku terbaring di kamar yang berlantaikan kayu. Aku melihat sekeliling tempat di mana aku bangun. Di lihat dari kamar ini, nuansanya begitu khas dan kuno. Sepertinya rumah ini adalah rumah tradisional khas negara P.
Samar-samar aku mendengar suara seseorang.
"Tolong! Tolong!"
Aku bangun dan mencari asal suara itu. Aku menelusuri setiap ruangan di rumah ini. Suara itu semakin jelas terdengar di telingaku. Mataku tertuju pada ruangan yang lampunya begitu terang. Aku menghampiri ruangan tak berpintu itu. Mataku terbelalak saat melihat apa yang terjadi di ruangan itu. Nampak seorang pria berusia hampir setengah abad sedang mencoba merudal paksa seorang gadis muda tepat didepan mataku. Aku berlari kearah pria tua itu untuk mencoba menolong gadis itu. Namun saat aku hendak meraih kerah baju pria tua itu, tanganku menembus tubuh pria itu seperti hologram. Aku terus mencoba menggapai mereka lagi. Tapi yang aku lakukan hanya sia-sia.
Aku menatap kedua telapak tanganku.
"Apa yang terjadi padaku?"
Keberadaanku bahkan tidak dirasakan oleh mereka.
Kejadian mengerikan itu terus berlanjut. Aku melihat pria itu melucuti pakaian gadis muda di hadapannya satu persatu.
"Tidak... tidak... tidak!!!! Tolong dia!! Tolong dia!!!"
Gadis itu mencoba merangkak menjauh untuk kabur. Namun tangan pria tua itu terlalu cepat untuk menghalanginya.
"Tolong!! Tolong aku!!!"
Jeritan gadis muda itu terdengar pilu. Kakiku lemas. Aku terjatuh tak berdaya.
'Plak!'
Satu tamparan keras dari pria tua itu melayang ke pipi gadis muda di hadapannya.
"Hahaha."
Tawa menjijikan menggema di ruangan itu.
"Mau kemana sayang."
Tangan mungil gadis itu mencoba mempertahankan kain yang tersisa di tubuhnya.
"Ayah... Ampun."
Saat mendengar kalimat itu keluar dari bibir mungilnya, dadaku merasa sesak dan sakit.
"Hahaha."
Namun pria tua itu tidak menghiraukannya. Tamparan dan pukulan di terima oleh gadis itu. Pipinya lebam. Sudut bibirnya berdarah. Tangan yang mempertahankan sisa kain itu juga terluka. Tubuh mungilnya kini tak berdaya. Genggaman kuat pada sisa kain ditubuhnya terlepas. Akhirnya ia pasrah menerima perlakuan pria tua itu saat ia merampas kain terakhir ditubuhnya.
Aku tidak sanggup melihat apa yang terjadi di depan mataku. Pria tua itu menyentuh tubuh telanjang gadis muda di hadapannya dengan tangan keriputnya yang menjijikan. Dadaku sangat sesak. Air mataku bercucuran. Tanganku gemetar. Tiba-tiba rasa sakit menyerang kepalaku. Sontak aku memegangi kepalaku. Pandanganku mulai kabur lagi.
"Mila? Carmila?!"
Samar-samar aku mendengar teriakan seseorang memanggil namaku.
'Deg!'
Seketika aku membuka kedua mataku. Dengan air mata yang masih mengalir aku menatap sekelilingku. Darah mengalir dari hidungku. Tanganku refleks menyekanya. Aku sekarang sudah berada di pelukan Gerald
"Mila!"
Mark yang khawatir menghampiriku. Namun di dorong menjauh oleh Gerald.
"Kau..!"
"Mila? Apa kamu baik-baik saja?"
Tanya Tuan Josep.
"Apa yang terjadi?"
Tanyaku.
"Kamu tiba-tiba saja pingsan."
Jelas Gerald dengan suara lembut.
Aku merasakan sesuatu yang aneh di tanganku. Sebuah kalung.
"Mengapa.. Mengapa aku melihat hal itu saat aku menggenggam kalung ini?"
"Kamu bisa bangun? Mau aku antar ke klinik sekolah?"
Tanya Tuan Josep.
"Biar aku saja!"
Mark merebutku dengan paksa dari pelukan Gerald. Mark menggendongku pergi. Aku menatap Gerald yang berwajah masam.
"Sudah berapa lama aku pingsan?"
"5 menit aku rasa."
"5 menit?!"
"Tapi mengapa yang kurasakan seperti sudah berjam-jam?"
"Turunkan aku Mark."
"Tidak. Kamu harus di periksa!"
Aku pun turun dengan paksa lalu berlari ke arah Gerald yang hendak pergi dari kelasku. Aku meraih tangan kanannya. Aku menunjukan kalung yang ku genggam di depan wajahnya.
"Apa ini? Kau... harus menjelaskannya padaku!"
Wajahnya tampak kaget.