NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Monster Tak Berwajah

"Sri Rahayu."

Sukma mengulang nama itu pelan. Udara malam di teras depan mendadak terasa lebih tipis. Jari-jarinya menyentuh permukaan kalung perak berbandul ikan yang tergeletak di telapak tangan Sigit.

Logika Sukma langsung menarik garis merah. Sri Rahayu pasti nama ibu kandung Sigit.

Tapi Sukma ndak punya waktu memproses masa lalu suaminya. Fajar baru saja pecah keesokan paginya saat ancaman itu datang mengetuk pintu pekarangannya secara terang-terangan.

Sesosok perempuan tua berdiri di ujung jalan setapak desa. Usianya mungkin akhir enam puluhan, tapi posturnya masih tegap.

Mata Sukma memindai cepat bagai radar. Perempuan ini memakai setelan kebaya dan kain batik motif parang yang masih sangat kaku.

Warnanya cerah. Lipatannya licin. Sama sekali ndak ada bekas lecek, debu jalanan, atau bau apak keringat layaknya penumpang bus malam kelas ekonomi rute Banyuwangi-Malang yang harus duduk ditekuk belasan jam.

Ini bukan penampilan seorang nenek miskin yang nekat menempuh perjalanan ratusan kilometer karena rindu cucu.

Ini penampilan orang yang sudah diupah, diberi ongkos lebih, dan disuruh ganti baju bagus sebelum tampil di panggung.

"Sigit... Cah Bagus." Perempuan tua itu merentangkan kedua tangannya. Suaranya dibuat bergetar menahan tangis.

"Iki Mbah, Le. Mbah Yuli teko golek'i kowe."

Sigit yang baru saja keluar membawa sapu lidi langsung menghentikan langkahnya.

Matanya yang tajam menatap perempuan itu tanpa berkedip. Ndak ada kehangatan yang terpancar dari bola mata anak sembilan tahun tersebut.

Mbah Yuli melangkah maju, tangannya bersiap memeluk.

"Teganya bapakmu nyembunyiin kamu di desa ini bertahun-tahun. Ayo melu Mbah balik nang Banyuwangi. Kumpul ambek keluarga ibumu."

Sigit memundurkan kakinya satu tindak. Sapu lidi di tangannya digenggam makin erat. Tatapannya dingin, bahkan mungkin sanggup membekukan.

"Ibu saya Sukma Ayu," ucap Sigit datar. Suaranya ndak keras, tapi cukup tajam untuk memotong sandiwara perempuan tua itu.

"Saya ndak pergi ke mana-mana."

Tangan Mbah Yuli yang menggantung di udara perlahan turun. Wajah melankolisnya mendadak kaku.

Dia jelas ndak menyangka anak kecil ini punya benteng mental setebal baja, sama sekali ndak mempan dipancing drama ikatan darah.

Sukma maju, memosisikan tubuhnya tepat di depan Sigit. Menjadi tameng hidup.

"Sampeyan salah alamat lek mau cari cucu buangan, Mbah," tembak Sukma tanpa basa-basi.

"Ndak ada anak Banyuwangi di rumah ini. Berapa mertuaku bayar sampeyan buat bikin ribut pagi-pagi?"

Mbah Yuli gelagapan sebentar, tapi raut wajahnya cepat berubah sinis. Dia mendengus kasar.

"Anak ini darah daging anakku, Sri Rahayu! Kowe cuma ibu tiri sing numpang urip!"

"Dan saya sing ngasih anak ini makan pakai beras keringat saya sendiri saat keluarga Banyuwanginya entah sembunyi di lubang mana selama sembilan tahun," balas Sukma sengit. Matanya menelanjangi motif busuk perempuan itu.

"Balik. Sebelum saya teriak panggil orang satu kampung."

Mbah Yuli membuang muka. Dia merogoh saku kebayanya, melempar sesuatu ke atas lincak bambu. Kalung perak berbandul ikan.

Kalung yang semalam Sigit tunjukkan, rupanya dikembalikan lagi oleh Mbah Yuli secara paksa pagi ini.

"Ambil iku. Iku barang ibumu!" bentak Mbah Yuli pada Sigit.

Tapi sebelum perempuan itu benar-benar berbalik pergi, dia mendekatkan wajahnya ke telinga Sukma. Sandiwara nenek rindu cucunya lenyap total, berganti nada ancaman birokrasi yang mematikan.

"Jaga-jaga aja, Kowe," bisik Mbah Yuli dingin. "Sampeyan pikir sampeyan aman? Di kantor kecamatan, nama Sutrisno Priyanto sudah ada sing nyoba hapus dari Kartu Keluarga. Kita lihat, anak ini nanti ikut siapa lek status suamimu wes ndak diakui desa."

Mbah Yuli meludah ke tanah, lalu berjalan cepat meninggalkan pekarangan.

Sukma membeku. Jantungnya serasa ditikam balok es.

Dia baru saja mencerna ancaman itu saat Bik Pon, tetangganya yang loyal, tiba-tiba muncul dari balik semak belukar pembatas rumah dengan napas memburu.

Perempuan gempal itu celingukan memastikan Mbah Yuli sudah jauh, lalu menarik lengan daster Sukma kencang-kencang.

"Yu Sukma! Ati-ati sampeyan!" bisik Bik Pon panik. "Wong wedok iku wingi ndak langsung mampir kene!"

"Maksudnya piye, Bik?"

"Aku wingi isuk lihat de'e mudun teko colt diesel nang pertigaan. De'e langsung dicegat ambek mertuamu, Si Lasmi!" Bik Pon menelan ludah susah payah.

"Terus mereka berdua naik ojek, bablas! Jare Lik Noto, Sing Ngojeki, de'e nang kantor kecamatan! Ngurus dokumen, Yu! Lasmi sing mbayari kabeh ongkos biayane!"

Mesin di kepala Sukma berputar gila-gilaan.

Ini bukan drama keluarga biasa. Ini serangan hukum terencana. Di era Orde Baru, administrasi kependudukan adalah segalanya.

Kalau Lasmi membiayai Mbah Yuli mengklaim Sigit secara resmi di tingkat kecamatan, dan di saat bersamaan ada yang berusaha menghapus nama Sutrisno dari desa... status hukum keluarga ini bisa hancur lebur.

Perempuan tanpa suami di rumah sangat rentan digilas mesin birokrasi. Mereka bisa mengusirnya kapan saja dari tanah ini dengan alasan dokumen ndak sah.

Ratusan kilometer dari ketegangan di Sumber Brantas, beberapa hari dari drama disana. Sutrisno duduk bersila di atas dipan pos perbatasannya yang sumpek.

Tangan kanannya memegang selembar kertas surat yang sudah lecek. Surat dari Sukma yang baru saja tiba lewat kurir logistik militer.

Istrinya menceritakan kemunculan perempuan tua bernama Yuli dari Banyuwangi.

Sutrisno membaca paragraf pertama. Matanya menyapu deretan kalimat yang menjelaskan ciri-ciri kedatangan perempuan itu.

Dia ndak perlu repot-repot menyelesaikan bacaannya.

Sutrisno melipat surat itu kembali. Wajahnya datar. Otot lehernya menegang. Sebagai prajurit intelijen yang biasa membedah siasat musuh, pola serangan ini terlalu mudah ditebak.

Dia meraih buku catatan kecil bersampul kulit hitam dari dalam laci. Pulpennya menggores keras di atas kertas buram.

Lasmi. Tentu saja. Ibu angkatnya itu sedang menggunakan taktik bumi hangus. Lek Lasmi ndak bisa mengendalikan uang weselnya, maka Lasmi akan menghancurkan pondasi keluarganya sekalian.

Membawa Mbah Yuli adalah cara paling licik untuk menarik Sigit keluar dari Kartu Keluarganya, melemahkan posisi Sukma secara hukum.

Sutrisno menutup bukunya pelan. Dia menatap ke luar jendela pos, ke arah hutan lebat yang tak berujung. Jarak ratusan kilometer ini membelenggu tangan dan kakinya.

Tapi dia ndak akan tinggal diam. Kalau Lasmi bermain api menggunakan dokumen kecamatan, dia akan meruntuhkan atap kecamatan itu sekalian dari jarak jauh. Sutrisno mulai menyusun rencana balasan, mencari tahu siapa kawan lamanya di militer yang punya kendali atas Camat Batu.

Kembali ke Sumber Brantas. Malam turun membawa kabut tebal dan hawa dingin yang menusuk tulang.

Di dalam rumah, anak-anak sudah tertidur lelap.

Sigit memeluk lutut di atas dipannya, napasnya teratur tapi Sukma tahu anak sulungnya itu hanya pura-pura tidur. Bocah itu punya kebiasaan waspada yang kelewat batas untuk anak seusianya.

Sukma duduk sendirian di lincak teras depan. Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi.

Sinar lampu teplok dari balik kaca jendela menerangi separuh wajahnya yang kelelahan. Di telapak tangannya, kalung perak berbandul ikan milik Sri Rahayu itu terasa sangat dingin.

Ancaman Mbah Yuli terus berputar-putar menghantui kepalanya. Nama suaminya sedang dicoba dihapus dari sistem kependudukan.

Ini lebih menakutkan dari pukulan fisik. Sistem birokrasi adalah monster tak berwajah yang bisa mencekik lehermu tanpa meninggalkan sidik jari.

Dia memutar otak. Mencari celah untuk melawan administrasi kecamatan esok pagi.

Namun, di ujung gang sana, di bawah temaram lampu jalan yang berkedip, Sukma menangkap pergerakan diam-diam.

Lasmi berjalan mengendap-endap keluar dari rumahnya. Perempuan tua yang biasanya pelit itu terlihat menenteng kantong kresek hitam berisi sebotol arak dan sebungkus rokok kretek mahal.

Langkahnya tergesa menuju rumah Pak RT.

1
Ai_Li
Saya mampir kak
INeeTha: Makasih Kaka, semoga suka dan baca sampai tamat🙏
total 1 replies
SENJA
kabur kan bisanya 🤣
SENJA
naaah iya
SENJA
waaah sutrisno tau 🤭
SENJA
ayoklah dilawan! 💪
SENJA
dua perempuan bau tanah yang jahat 🤬
SENJA
ini jahat banget udah tua juga🤬
SENJA
maruk semua weeeh 🤬
SENJA
wakakaa hayo sono apa lagi lakonmu? 🤭🤣
SENJA
apa ada kelainan ingatan ipul? masa udah lupa lagi kan baru ketemu 🤭
SENJA
astaga keluarga apaan ini 🤬
SENJA
bagussssss 💪
SENJA
hajar aja si parno ini ancen gateli tenan tuek iki 🤬
SENJA
hmmm ada rahasia toh 🤭🤬
SENJA
wakaaka beda konteks itu maj nyupang 🤣
SENJA
lu jangan mau disuruh suruh urus aja nak anak sama wati
SENJA
wah mana pendidik kabur lho 🤬🤣
SENJA
laaaah sok mendidik padahal kurang terdidik 🤭
Dewiendahsetiowati
mantab hajar aja keluarga benalu
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
INeeTha: Hehe gini kak, temanya memang cukup sering dipakai di banyak cerita 😄 Di sini aku coba bawain dengan versiku sendiri, terutama dari gaya dan settingnya. Semoga Kakak tetap enjoy bacanya yaa.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!