Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Berlayar
"Seperti laut yang tenang, aku ingin tenggelam dalam keheningan. Seumur hidupku, aku tidak tahu akan menyapa lautan dengan kapal segagah ini." ~Luana Casavia.
.
.
.
Langkah Luana terhenti, ketika sudut matanya menangkap sosok yang kini berdiri di hadapan.
Menaikkan kepala dengan gerakan cepat, bola mata Luana mendapati Jovi sudah berdiri tegak di depannya.
"Maaf Nyonya, tetapi Anda mengambil jalan yang salah."
Ucapan Jovi itu terdengar sopan sekali, namun tetap saja masih ada sebongkah rasa kesal yang tersisa di lubuk hati Luana. Mengingat bahwa Jovi adalah pria yang selalu berada di samping Rey, Luana semakin merasa bahwa dia sendirian di sana.
"Mari ikut saya, Nyonya," ujar Jovi lagi.
Seakan tidak memberikan ruang untuk Luana menjawab, lelaki muda itu sudah melangkah lebih dulu.
Luana tidak punya pilihan selain membalikan badan, memandangi Jovi yang kini berjalan tepat di depannya. Terpaut beberapa langkah, Luana sempat berpikir sejenak apakah dia harus ikut atau tidak.
Sosok Rey sudah tidak lagi tampak, mungkin lelaki itu sudah pergi entah ke mana. Menyadari nyonya mereka belum bergerak sedikit pun, Jovi memelankan langkah hingga ia berbalik badan.
"Kapalnya akan segera berangkat, Nyonya," ujar lelaki itu lagi. "Sebaiknya kita segera pergi dari sini."
Luana menarik dan mengembuskan napas dengan malas, memijat pelipisnya sekilas untuk menghilangkan rasa penat yang begitu saja hadir.
Padahal baru saja dia berpikir dia akan bersenang-senang hari ini, ternyata harapan itu tampaknya hanya akan menjadi angan-angan belaka.
Jovi masih menunggu, hingga akhirnya Luana memutuskan untuk mengayun langkah perlahan.
Seiring dengan geretan langkah yang tidak bersemangat, dalam hati Luana berulang kali melantunkan doa.
Agar Madam Collins cepat menemukan keberadaan Beatric, agar anak majikannya itu segera kembali ke posisinya yang benar.
Hingga Luana bisa pergi dari sana, dan tidak perlu terlibat lebih jauh dalam kehidupan Rey sang bangsawan.
***
Luana terkesima.
Jovi menghentikan langkah dengan jarak beberapa meter di hadapannya, ketika kini sebuah kapal pesiar dengan ukuran lebih kecil telah bersandar di tepian pelabuhan.
Yacht itu tampak mewah dan gagah, dan Luana yakin ini adalah pertama kalinya ia melihat kapal sebagus itu di Heidelberg.
Armada itu bertajuk Sichterman, yang diproduksi oleh perusahaan raksasa di Belanda.
"Kita akan naik ke atas sana?" tanya gadis itu memastikan. Takut-takut dia salah melangkah, khawatir akan berakhir diusir dari kapal mewah itu.
Rey masih belum tampak di pelupuk matanya, dan kini Luana dihadapkan pada sebuah armada yang begitu menyita perhatian.
Sebenarnya akan ke mana mereka? Apakah mereka akan benar-benar berlayar?
"Tuan Rey sudah mempersiapkan perjalanan ini, Nyonya," jawab Jovi. "Dan itu benar, Anda harus segera naik karena kapal ini harus segera berangkat. Tuan Rey sudah berada di dalam, sedang bersama Kapten di ruang kemudi."
Luana hanya bisa mengerjapkan mata tidak percaya. Dia tidak tahu bahwa si bangsawan gila yang tadi sempat diumpatnya ternyata mempersiapkan sesuatu yang tampak indah seperti ini.
Luana sama sekali belum pernah menaiki yacht, apa lagi yacht yang sebagus ini.
"Mari, Nyonya."
Jovi sudah kembali mengayun langkah, lebih dulu menyeberang untuk mendaratkan kaki di pelataran kapal pesiar mewah itu.
Berbalik badan, ia mengulurkan tangan dengan sangat sopan untuk membantu Luana berpindah tempat sekarang.
Tangan asisten Rey itu masih menggantung di udara, namun kini satu-satunya hal yang Luana pikirkan adalah fakta bahwa Rey tidak berada di sampingnya.
"Aku bisa sendiri," ujar Luana menolak dengan halus. Dia tidak ingin terlibat pasal lagi, apabila nanti Rey mengetahui dia menyambut uluran tangan Jovi.
Jovi menarik satu sisi bibirnya, mempersilakan Luana untuk ini naik ke atas kapal itu. Dengan satu lompatan, Luana mendarat dengan baik dan kini telah berpindah ke atas kapal.
Semilir angin yang berembus semakin kencang sukses membuat surai Luana berterbangan, dengan ujung dress-nya yang juga bergerak karena tertiup angin.
Melihat ke sekitar beberapa saat, Luana tidak sadar ia melengkungkan senyuman. Mungkin rasa kesalnya tadi bisa memudar, sebab laut kini sedang melambaikan tangan ke arahnya.
"Anda bisa menunggu di kabin utama, Nyonya," kata Jovi lagi. "Tuan Rey akan segera menyusul."
Luana menganggukan kepala, mengikuti langkah kaki Jovi untuk masuk lebih dalam ke kapal itu. Maniknya tidak henti mengerjap, memuji di dalam hati bagaimana interior kapal itu sungguh sangat luar biasa.
Ini bisa jadi pengalaman sekali seumur hidup, yang dirasakan oleh Luana. Dan di detik yang bersamaan perempuan itu juga berpikir, apakah sikapnya tadi pada Rey sudah keterlaluan atau tidak.
Jovi mengantar Nyonya Lueic itu menuju kabin utama, dan Luana semakin melebarkan matanya tidak percaya.
Beberapa sofa tampak tersusun rapi, dengan bantal yang menghias di atasnya. Ternyata kapal itu juga dilengkapi dengan lemari hingga televisi, dengan meja yang di atasnya sudah terdapat beberapa macam minuman dan makanan.
Yang lebih memanjakan mata adalah, Luana bisa melihat bagaimana laut dan langit memeluknya erat dari posisinya duduk sekarang.
Jovi sudah meminta izin untuk undur diri, meninggalkan Luana yang masih memandang takjub ke sekitar.
Menaiki tangga, lelaki muda itu menuju ruang kemudi untuk menemui atasannya.
"Dia sudah naik?"
Rey sama sekali tidak menoleh ke arah Jovi, tetapi suara pintu yang terbuka menandakan bahwa ada orang lain yang baru saja hadir.
Jovi menganggukkan kepala, mengambil posisi untuk berdiri tepat di samping Rey.
Ada seorang lagi kapten yang bertugas untuk mengemudikan yatch itu, dengan Rey yang berdiri bersisian untuk mengamati kondisi.
"Sudah, Tuan," jawab Jovi cepat. "Nyonya sudah berada di kabin utama."
Bola mata Rey mengawasi pemandangan di depannya dengan awas. Matahari sudah berada di peraduan, dengan sinar yang teramat terang terlihat.
Cuaca Heidelberg pagi ini tampak begitu cerah, dan sepertinya semesta memang mendukung pelayaran yang akan terjadi beberapa saat lagi.
Sang Kapten yang bertugas menarik satu handy talky, berbicara dengan bahasa Jerman yang fasih untuk mengatakan bahwa kapal mereka siap untuk berangkat.
Suara samar terdengar dari handy talky, ketika kini Kapten yang berusia hampir di pertengahan 40 tahunan itu menoleh untuk memberikan tanda kepada Rey.
"Kita bisa berlayar dalam lima menit ke depan, Tuan," ujar sang Kapten memberitahu.
Dengan kedua tangan yang tersampir di pinggang, Rey mengangguk tanda setuju.
"Kuserahkan semuanya kepadamu, Kapten," katanya. "Pastikan perjalanan ini berjalan dengan lancar."
Berbalik badan, Rey sudah melangkah untuk keluar dari ruang kemudi. Jovi mengikuti sang bangsawan tepat di belakang, yang kini berjalan pelan menyusuri sisi samping kapal.
.
.
.
~Bersambung~
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar