"Akan ku gunakan kekuatanku untuk melindungi orang-orang. Meskipun aku harus meminjam kekuatan dari iblis sekalipun."
Bercerita tentang seorang yang menjalani reinkarnasi disebuah dunia fantasi dimana sihir, legenda, dan mahluk mitologi adalah sebuah hal yang biasa ditemui sehari-hari.
Dengan harapan menjalani kehidupan yang aman dan nyaman, ia menjalani hari sebagai pahlawan tanpa tanding, seseorang yang "tak terkalahkan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Atmareja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23 Perjumpaan | Gadis
Aku merasa harus berhati-hati dengan lingkungan di sini, aku merasakan firasat tidak baik. Aku pun mengaktifkan skill pertahanan ultimate Shield, sebuah kubah tak kasat mata melindungi kami ketika kami tidur.
Setelah sedikit bercengkrama dan beberapa skinship, kami memutuskan untuk tidur. Kami pun tertidur lelap. Selamat malam.
***
Pagi hari kota Mistbele.
Kami sudah meninggalkan penginapan dan menuju hutan tempat reruntuhan penjara bawah tanah berada. Jaraknya tidak jauh di dalam hutan, jadi kami bisa segera menemukannya.
"Kita sarapan dulu disini."
"Yah, mari kita mengisi perut terlebih dahulu."
Aku tersenyum melihat Cordelia yang dengan sigap mempersiapkan beberapa potong roti sebagai sarapan kami.
***
Kami berjalan menuju ke kedalaman. Aku mengaktifkan Sena dan memintanya memindai keberadaan monster. Beberapa monstwr lemah muncul di radar. Namun itu tidak membuat ku khawatir karena mereka semua monster lemah.
"Berhati-hatilah!"
Aku mengingatkan Cordelia.
"Yah, kita harus waspada."
"Aahhh ketemu."
Beberapa jamur muncul dihadapan kami.
"Apakah jamur ini yang kita cari?"
"Seertinya bukan, menurut keterangan dalam misi, jamur itu hanya ada di lapisat terdalam ruang bawah tanah ini. Ini terlalu dangkal."
"Begitu rupanya, kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanan kita."
Cordelia mengangguk.
***
Setelah berjalan beberapa lama dan melalui berbagai hambatan kecil seperti monster-monster lemah di sepanjang perjalanan kami akhirnya tiba di lapisan paling bawah. Atau paling tidak itulah yang kami pikirkan.
"Ruangan ini? Tidak ada pintu lain, ini jalan buntu. Apakah ini lapisan terakhir?"
Cordelia bertanya-tanya d ngan sedikit rasa penasaran.
"Sepertinya begitu, tapi tidak ada apa-apa disini. Ini hanyalah lantai yang luas. Kalau begitu mari kita melihat-lihat keadaan sekitar. "
"Baiklah." Cordelia langsung berjalan menuju arah yang berlawanan dengan ku.
Setelah beberapa lama kami memutari tempat ini, kami tidak menemukan apapun.
"Mari kita istirahat sejenak."
"Yaahh, sepertinya ini sudah waktunya makan siang."
Cordelia ternyata sangat handal dalam urusan seperti ini. Dia kemudian kembali menyodorkan makanan kepadaku.
"Sayang, kau tahu, ini sangat menyenangkan bagiku."
"Eehhh,,, benarkah?"
"Yah, bertualang bersama denganmu terasa sangat menyenangkan. Mengingat kita menghabiskan waktu bersama-sama."
Aku melihat kilauan di matanya, wajahnya juga terlihat berseri-seri. Aku melihat dia semakin menunjukan kecantikannnya.
"Akupun begitu."
"Aahh,, benarkah?"
"Yah, aku selalu menikmati kehidupanku yang sekarang."
Kami terus berbincang-bincang hingga tanah yang kami injak sepertinya bergetar.
"Apa ini? Cordelia!"
Dia mengangguk dan kami mengangkat tubuh kamu. Sebelum sempat aku mengaktifkan Sena dan radarku , tanah dihapadan kami bergerak keatas dan membentuk gunubgan tanah seukuran lutut.
Getaran tanah belum mereda dan dari tengah-tengah gundukan sebuah benda dengan muncul kepermukaan.
"Jamur!!"
Cordelia berteriak.
Yah itu adalah jamur. Jamur besar seukuran bayi yang baru lahir. Dengan warna cokelat tua dan ada benjolan merah totol-totol diatas kepalanya serta tubuhnya yang sekaligus juga wajahnya berwarna kecoklatan.
"Cih, dasar manusia!"
Kami mendengar suara.
"Jamurnya bicara!!!" Cordelia kembali berteriak.
Perlahan jamur itu membalikkan tubuhnya dan menghap kami, jamur yang memiliki semua atribut wajah, mulut, hidung, mata dan telinga.
Kami kaget dengan hal ini. Saling menatap tanpa berkata apa-apa.
"Dia berjalan melompat!!" Cordelia berteriak lagi, sementara aku hanya bisa tersenyum.
Setelah beberapa kali lompatan, dia akhirnya berdiri cukup dekat dengan kami.
"Manusia, pergi! Seenaknya kalian mesra-mesraan disini. Aku jijik melihatnya."
"Dia benar-benar bicara?" Sepertinya Cordelia kehilangan keperibadiannya kali ini.
"Tidak-tidak, kami tidak bermaksud untuk melakukan itu disini."
"Baguslah kalau begitu." Dia menjawab dengan tenang.
"SEKARANG KELUARRRRRRR!!!"
Eehhh,,,dimana ketenangannya yang tadi??!
Dengan berteriak dia segera menyuruh kami keluar.
Cordelia terbahak-bahak melihat jamur ini. Yah memang jamur ini memiliki tampilan yang sedikit lucu.
"Namaku, Milo. Mohon maaf jika kami mengganggu anda tuan."
"Cih, kau bisa sopan juga bocah mesum."
Melihat fakta bahwa aku di ejek sebuah jamur yang dapat bicara, Cordelia tak kuasa untuk kembali terkekeh-kekeh dan menutup mulutnya menahan tawa.
Aku sementara disatu sisi hanya bisa menghela nafas.
"Mohon maaf tuan jamur, jika kehadiran kami mengganggu anda, sebwnarnya kami kesini untuk mencari jamur hitam untuk pengobatan. Dapatkan andaemunjukan tempatnya kepada kami?"
"Cih, kau kesini hanya untuk mencuri jamur."
Aku tidak mengerti kenapa dia tidak begitu bersahabat.
"Bolehkah kami bertanya kepada tuan jamur. Bisakah saya mendapatkan jamur tersebut, sebagai gantinya saya akan memberikan sesuatu untuk anda."
Cordelia mulai menggunakan keterampilan nya.
"Cih!!! Kalian manusia, memangnya apa yang bisa kau berikan padaku?" Sepertinya dia tertarik.
"Kami memiliki ini."
Cordelia mengambil roti yang kami makan tadi, ini adalah roti lapis yang berisi olesan madu didalamnya.
Dia mengendusnya. Kemudian Cordelia menyodorkan roti kedalam mulutnya. Dia memakannya.
"Ini tidak enak."
Lalu dia kembali memakannya.
"Ini sama s kali tidak enak."
Kalimat seperti itu sering ia katakan sambil menguyah roti hingga semuanya habis.
Kami saling pandang dan tersenyum. Dia adalah karakter tsundere dari manga taupin anime yang saya baca di kehidupan saya yang dulu. Saya mengerti itu.
Cordelia menyodorkan roti keduanya, kemudian dia meng habiskannya juga. Setelah menghabiskan tiga potong roti, sebuah suara dari perutnya menggema. Kami saling tatap dan tersenyum.
"Apakah, anda sudah merasa kenyang tuan jamur?"
"Panggil aku Mush. Kau boleh memanggilku begitu. Tapi bocah mesum disana tidak!"
Cordelia tersenyum dan aku hanya bisa tersenyum kecut.
"Nah tuan jamur, bagai mana dengan permintaan saya tadi?"
"Ahhh baiklah."
Dia m lompat-lompat beberapa kali secara tak beraturan kemudian kembali ke tempatnya semula, kemudian beberapa jamr berwarna hitam dengan ukuran normal tumbuh dari tanah.
"Jamurnya?!!"
"Itu adalah jamur yang kau cari, ambilah!"
Cordelia memungutinya satu-persatu.
Setelah beberapa pelecehan verbal terhadapku, kamipun meninggalkan jamur tersebut yang sepertinya membenciku untuk alasan yang tak ku mengerti.
Kami melangkah menuju jalan pulang.
Kami kembali ke penginapan. Cordelia mengatakan bahwa jamur ini adalah jamur langka yang hampir tak dapat ditemukan satu kali dalam setahun bahkan mungkin dalam seratus tahun. Memiliki khasiat yang sangat manjur untuk pengobatan dan memiliki harga yang sangat mahal.
Aku terkejut mendengarnya, karena kupikir sebelumnya ini hanyalah jamur biasa.
Kami menghabiskan malam ini di penginapan untuk kembali pulang pada esok hari.
***
Di atas Lionsky Cordelia memelukku dengan erat. Sementara aku memacu kendaraan terbang ini dwngab kecepatan tinggi.
Kami akhirnya mencapai ibu kota dan segera menuju kantor serikat.
***
"Tidak mungkin, tidak mungkin jamur itu. Itu adalah jamur langka.
Beberapa orang berkomentar di belakang kami ketika aku menunjukan jamur tersebut kepada petugas.
Dia m mpersilahkan kami untuk masuk kedalam ruangan ketua serikat.
"Hahahaha,,, aku memang berjudi dengan memberikan misi ini pada kalian, tapi aku memang merasa jika kaloan akan mendapatkannya, ternyata firasatku itu benar. Hahahaha."
Dengan puas, Nuala Irithyl sang ketua perserikatan tertawa akan keberhasilan kami.
"Baiklah, kalau bagitu. Karena misinya sudah selesai, kami permisi." Aku sedikit kesal dan bermiat segera mengakhiri obrolan ini.
"Tunggu tunggu, apakah kau tidak ingin mengetahui siapa yang mengajukan misi ini?"
"Itu tidak ada hubungannya dengan ku, aku tak perduli siapa yang menyuruh kami, selama kami di bayar kami berniat untuk melakukannya."
"Hahaha, seperti yang ku kira. Baiklah, kalian bisa pergi. Nanti aku akan mengabari kalian."
Wajahnya terlihat berseri-seri. Sepenting apa jamur itu? Entahla
Bagi yg suka novel fantasi & romance mampir yuk,,,,
“That Time One Summoned Class In The Another World”
PREMIS:
Mengenai dunia paralel. Mc dibenci oleh Heroine, tapi si Heroine lama-kelamaan suka sama Mc. ]