NovelToon NovelToon
Pernikahan Perawan Tua

Pernikahan Perawan Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Berondong
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Franciarie

"Pantesan jadi perawan tua, kaku banget, sih!"

Komentar senada sudah menjadi makanan harian Prita. Tapi, Prita nggak punya energi lebih untuk membalas kata-kata jahat itu. Pada akhirnya, Prita selalu diam dan memahami bahwa memang kenyataan sepahit ini. Di usianya yang sudah 35 tahun, pernikahan masih terasa jauh dari bayangan. Jangankan menikah, pacar pun Prita nggak punya.

Tapi, permintaan ayahnya yang sedang sakit kanker, membuat Prita mulai memikirkan pernikahan. Haruskah dia menikah dengan sembarang orang demi melihat sang ayah bahagia di detik-detik terakhir hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franciarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Percaya Terlalu Sulit

Ruang HRD sudah sepi ketika aku dan Mbak Chiki memutuskan duduk di sofa dekat jendela. Bayangan sore merambat di lantai keramik, menandai waktu pulang kerja yang seharusnya terasa lega. Tapi, aku masih merasa sesak. Gelas matcha di tanganku sudah berembun, tapi belum kuminum sama sekali. Aku hanya menatapnya kosong, seperti mencari jawaban dari cairan hijau pucat itu.

Mbak Chiki, di sisi lain, menatapku penuh rasa penasaran. Kedua alisnya terangkat, sorot matanya seolah sedang membongkar pikiranku satu per satu.

“Ta,” panggilnya, memecah keheningan. “Jujur, deh, sama gue! Si Leo itu siapa? Kok, lo nggak pernah cerita, tiba-tiba bilang dia calon suami lo di depan semua orang?”

Aku menarik napas panjang. Rasanya dada ini seperti penuh lumpur. “Mbak, gue juga nggak ngerti kenapa bisa ngomong begitu. Semua itu cuma spontan. Gue cuma … nggak tahan sama Raditya dan semua gosip itu. Buntu banget gue, Mbak.” Suaraku hampir bergetar.

Mbak Chiki mendengkus pelan, lalu melipat tangan di dada. “Ta, gue udah lama kenal sama lo. Lo tipe orang yang nggak gampang bawa-bawa nama orang, apalagi cowok. Tapi, Leo ini … siapa, sih? Cowok mana yang mau repot antar-jemput lo tiap hari kalau nggak punya rasa? Jangan-jangan lo yang sembunyiin dia dari gue?”

“Nggak mungkin Leo suka sama gue, Mbak,” potongku cepat.

“Kenapa nggak mungkin?” Matanya melebar seperti sedang menantang logikaku. “Lo pikir lo nggak pantas disukai cowok ganteng, gitu? Halah, Ta! Jangan kebanyakan merendahkan diri sendiri, deh! Dari cara dia liat lo aja kelihatan kalau dia nggak main-main.”

Aku mengalihkan pandangan, menatap langit oranye di luar jendela. Kata-kata Mbak Chiki menamparku. “Bukan gitu, Mbak! Leo itu … ya, Leo. Dia cuma anak sahabat Ibu. Kami udah kenal dari kecil. Jadi, gue nggak pernah anggap dia cowok yang perlu dapat perhatian lebih.” Suaraku terdengar ragu. Ada perasaan aneh saat mengucapkannya.

“Leo itu anaknya Tante Maya?” Mbak Chiki memiringkan kepalanya.

Aku mengangguk pelan. “Iya, Tante Maya yang itu.”

Mbak Chiki memang pernah bertemu beberapa kali dengan Tante Maya saat mampir ke rumah. Tapi, anehnya, Mbak Chiki nggak pernah bertemu Leo sama sekali. Pertemuan mereka terjadi nggak sengaja. Semua gara-gara Raditya.

“Pantesan mukanya ada mirip-miripnya sama Tante Maya. Ganteng juga brondong satu itu.” Mbak Chiki mendadak meraih ponsel dengan bersemangat. Jemarinya lincah menari di layar. “Ta, jangan bilang si brondong ganteng itu punya followers cewek-cewek cakep yang banyak banget di Instagram.”

Aku mengernyit. “Apa?”

“Nama lengkapnya Leo siapa?” tanyanya tanpa mengalihkan mata dari layar. “Gue mau cari di Instagram.”

“Eh, nggak usah repot-repot, Mbak. Lo kan—”

“Nama lengkapnya siapa, Ta?” Matanya menatapku tajam, seperti detektif yang nggak mau ditipu.

Aku menghela napas. “Leo Arya … Mahesa? Maheswara? Mahameru?” Aku mengingat-ngingat keras, tapi malah terasa bodoh sendiri.

Belum sampai aku selesai bicara, Mbak Chiki sudah mengetik cepat di kolom pencarian. Hanya butuh beberapa detik sebelum dia berseru, “Nah! Ketemu! Leo Aditya Mahesa. Sembarangan aja lo ganti-ganti nama orang,” protes Mbak Chiki sambil memamerkan layar ponselnya.

“Tuh, kan! Gila! Followers-nya 300 ribu lebih, Ta. Foto-fotonya kece semua! Nih, lihat! Ini fotonya lagi di kafe yang lagi viral itu di Bandung, kan? Eh, ini lagi di Bali. Astaga! Ini fotonya sama mobil sport. Dia pake jasa fotografer, ya?”

Aku menatap layar ponsel itu. Foto-foto Leo berjejer rapi, penuh gaya kasual, tapi mahal. Senyum tipisnya yang pernah kulihat secara langsung, mendadak terasa asing saat dipamerkan di dunia maya. Ada banyak komentar dari wanita-wanita muda. Beberapa bahkan terang-terangan menggoda dengan emoji hati dan kalimat manis.

Hatiku terasa diremas. Ada rasa aneh yang menyebar, antara kesal dan … cemburu? Kenapa dia pilih aku, sementara di luar sana ada begitu banyak wanita cantik yang memujanya? Apa dia cuma kasihan padaku?

“Ta.” Suara Mbak Chiki memecah lamunanku. “Lo sadar nggak, sih? Cowok kayak gini bisa aja dapat cewek muda yang cantik banget. Tapi, dia malah deketin lo. Itu, sih, bukan main-main,” katanya sambil terkekeh.

Aku mendengkus pelan. Bukan main-main atau aku justru permainan buat dia?

Bayangan cewek-cewek cantik di kolom komentar membuatku merasa semakin kecil. Aku menatap pantulan wajahku di layar ponsel. Wajahku kusut dengan kerutan yang mulai nampak di sudut mata. Kantung mata menggantung dan gelap. Jelas aku bukan tipe wanita yang layak bersaing di antara ratusan ribu followers-nya.

Pesan masuk di ponselku mengalihkan pikiranku.

Ibu : Ayah sudah bisa pindah ke kamar biasa, Mbak.

Aku menghela napas lega. Akhirnya ada kabar baik di tengah semua kekacauan ini. Begitu jam pulang tiba, aku langsung menuju rumah sakit bersama Leo.

Perjalanan ke rumah sakit terasa hening. Aku bersandar di kursi mobil, tapi otakku penuh dengan bayangan gosip kantor, Raditya, dan … Leo. Sejak tadi, aku ingin meminta maaf padanya karena sudah seenaknya mengaku dia calon suamiku lagi. Tapi, mulutku terasa terkunci.

Saat tiba, aroma antiseptik menyambut kami di lorong rumah sakit. Bau obat-obatan yang menyengat bercampur dengan wangi sabun lantai membuat kepalaku sedikit pening. Aku melangkah cepat menuju ruang perawatan baru Ayah.

“Ayah barusan minum obat. Lagi tidur sekarang,” bisik Ibu sambil menempelkan telunjuk di bibir.

Aku mendekat, lalu memeluk Ayah dengan hati-hati. Tubuhnya masih kurus, tapi aku bisa merasakan hangat tangannya saat menyentuhnya. Mata Ayah masih memejam, tapi napasnya terlihat lebih teratur.

“Alhamdulillah, Bu,” bisikku pada Ibu.

Ibu mengangguk. “Kata dokter, kondisi Ayah sudah stabil. Saturasi oksigen udah normal. Parunya nggak sesak lagi kayak kemarin. Cuma butuh istirahat dan makan yang dijaga.”

Aku menatap wajah Ayah yang tenang. Perasaan lega menyeruak, meski semua masalah di kepalaku belum hilang.

Leo masuk membawa tas besar berisi buah dan camilan. “Ini buat Om, Tante,” katanya sopan.

“Wah, terima kasih, Leo,” jawab Ibu dengan senyum hangat.

Leo melirikku sekilas. “Mbak, mau istirahat sebentar? Nanti aku aja belanja keperluan Om. Biar nggak repot.”

Ibu langsung ikut menyahut, “Bagus, tuh. Mbak Prita, temenin Leo, ya. Ibu butuh handuk bersih, selimut, sama diapers buat Ayah.”

Aku mengangguk patuh. “Oke, Bu.”

Supermarket dekat rumah sakit malam itu cukup ramai. Suara roda troli bercampur dengan musik pop dari speaker langit-langit. Lampu neon yang terlalu terang membuat wajahku terlihat pucat di pantulan kaca lemari pendingin.

Leo berjalan di depanku sambil mendorong troli. Sesekali dia menoleh, memastikan aku nggak tertinggal.

“Mbak mau roti yang mana?” tanyanya sambil memegang dua bungkus roti gandum berbeda merek.

“Yang itu aja, yang lebih lembut,” jawabku sambil menunjuk roti di tangan kanannya.

Leo mengangguk dan meletakkan roti ke troli. “Mbak jangan pegang yang berat, ya. Biar aku aja.” Dia dengan mudah meraih keranjang kecil yang tadi kugenggam.

Aku sempat protes, “Leo, gue bisa—” Keranjang itu sebenarnya memang nggak terlalu berguna. Aku mengambilnya agar nggak terlalu kosong tanganku.

“Nggak usah. Aku lebih kuat,” potongnya ringan. “Kalau semua Mbak lakuin sendiri, tenagaku jadi mubazir ini.”

Aku terdiam. Ada kehangatan aneh yang merayap ke dada. Selama ini, aku terbiasa melakukan semuanya sendiri. Tapi, Leo membuatku merasa nggak sendirian.

Saat kami melewati rak pendingin, Leo berhenti. “Mbak mau es krim? Aku beliin,” katanya sambil tersenyum kecil.

Aku menggeleng cepat. “Enggak, Leo. Gue mau … tanya sesuatu.”

Dia membelakangi troli. Matanya menatapku serius. “Tanya apa, Mbak?”

Aku menarik napas panjang. “Kenapa lo bilang suka sama gue? Lo cuma bercanda, kan?” Aku tertawa kecil untuk menutupi gugup, tapi tawaku terdengar sumbang.

Leo menggeleng pelan. “Mbak, aku nggak pernah bercanda soal perasaan. Aku suka sama Mbak. Dari dulu.”

Aku tercekat. “Tapi …, kenapa? Gue ini jauh lebih tua. Ada banyak cewek cantik yang lebih cocok buat lo. Lo tinggal pilih.” Aku menggigit bibir.

Apa aku terdengar putus asa sekarang?

“Instagram lo ....” Suaraku mengecil. “Banyak banget cewek cakep yang follow lo. Lo tinggal tunjuk sembarangan juga mereka pasti mau.”

Leo tersenyum kecil, tapi sorot matanya serius. “Mbak pikir aku peduli soal itu? Semua orang bisa lihat foto keren di Instagramku, tapi cuma Mbak yang lihat waktu aku hancur. Mbak Prita yang bikin aku bertahan waktu Papi meninggal. Mbak yang nyuruh aku makan, yang bikin aku ngerasa nggak sendirian.”

Aku terdiam. Kenangan itu muncul kembali. Leo remaja yang duduk di sudut ruang tamu, matanya bengkak, dan menolak makan. Aku yang waktu itu cuma berinisiatif mengambilkan semangkuk sup hangat dan berkata, “Nangis nggak apa-apa, tapi kamu tetap harus makan.”

Semua hal kecil itu ternyata membekas di hati Leo.

Leo mendekat satu langkah. Suaranya lebih rendah. “Aku mau Mbak lihat aku. Aku nggak mau jadi anak kecil di mata Mbak. Aku mau Mbak anggap aku sebagai pria dewasa yang peduli dan sayang sama Mbak.”

Jantungku berdebar kencang. Ada rasa nyaman, tapi juga takut. Aku menggeleng cepat. “Leo … lo nggak ngerti. Gue ini punya banyak beban. Kalau lo milih gue, hidup lo bakal lebih berat. Gue cuma akan nambah masalah buat lo."

Bukannya mundur dan mengaku kalah, Leo justru tersenyum lebih lebar. “Justru karena Mbak punya banyak beban, aku pengin ada di samping Mbak Prita terus. Aku pengin Mbak Prita bagi beban itu sama aku. Biarin aku bantuin Mbak Prita. Jangan hadapin semuanya sendirian, ya, Mbak!” kata Leo, mantap.

Aku memandangi matanya dan rasanya aku bisa hanyut. Tapi, di kepalaku, bayangan Raditya muncul. Aku takut semua ini cuma jadi lelucon lagi.

Aku menarik napas panjang, memalingkan wajah. Kalau aku percaya lagi … apa aku siap kalau disakiti lagi?

1
Shofia Hadi
tinggalin aja udah dari pada makan hati
Nurjannah Rajja
Iya ada orang yg suka banget bohong, ngutang juga alasannya bohong...tapi kok hidupnya tenang aja ya. Herann...
mimief
elah..otot
kalau lelah istirahat tinggalin
kalau mau bertahan,hajar orangnya. omongin ke leo apa yg mau dan ga mau
buat aku ga masuk diotak ku
yg mau nya sat set 🤣
mimief
mestinya Leo belajar jgn bawa kerjaan kerumah
rumah.. rumah
kerjaan yg ditempat kerja
dan..buat si mba ini. hati hati kadang temen curhat buka celah buat selingkuh
dan yg kau perbuat itu lebih parah dari dira
tutiana
gimana klo mba prita belajar sedikit2 ttg gaming,,, biar ga insecure terus2an
mimief
kau tau..apa yg lebih menyakitkan dari pada omongan,luka fisik yg ditimbulkan dr orang lain.
bukan.. bukan itu semua
yg paling menyakitkan adalah...kita tidak m
bisa memenuhi ekspektasi kita sendiri
itu sebabnya, berdamai lah sama diri sendiri
jangan tekan diri sendiri terlalu keras
ayooo...mulai sayangi diri sendiri
mimief
yah begitulah romantis nya berumah tangga
tapi prit...
kau juga harus belajar bisa mempertahankan diri
orang bertindak sesuai kita bertindak
hargai diri kita terlebih dahulu,MK orang akan segan kepada kita
ga perlu lah kita merasa rendah diri
kalau kita memandang diri kita rendah
maka orang lain akan mudah merendahkan kita
kapanpun, dimana pun
mimief
hiss mami omongan nya nyentil ginjal aku🤣🤣
mimief
wkwkwkwk
kok mami tau si
ihhh aku fans nya mami deh
mimief
ayolah prit
ga perlu kyk gitu banget
setiap orang punya passion masing-masing
kl mang Leo naksir Dira,udah lama mereka jadian
kan gak...
capr capein aj mikir yg gak gak
sryharty
Leo ini bener2 aneh,dulu aja ngejar2 Prita dan dia dulu yg mati2an bantu keluarga Prita
kenapa sekarang jadi berubah yah
apa gara2 ada cinta lama yg bakalan bersemi kembali bersama Dira
dan saat itu kamu bakalan menyesal leo
Franciarie: Anu, sejak sebelum nikah Dira juga udah ada. Itu Dira hadir di pernikahan Prita dan Leo, kok. Kira-kira kenapa Leo jadi berubah, yok? 🤭🤭🤭
total 1 replies
Siti Rofiatin
ceritanya bagus
Franciarie: Terima kasih, Kak ❤
total 1 replies
tutiana
susah kali jd mba prita ini,,,
kalo krisis kepercayaan diri melanda,,, auto nething terus bawaannya
tutiana: kan jd sakit sendiri ya Thor
total 2 replies
tutiana
astaga Thor jd nangis terus ini😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭
tutiana
cerita mba prita ini membuat aq menangis di banyak bab 😭
tutiana
keep strong buat semua anak pertama,,,
wiwik
Jangan pesimis dong mbk Prit..Dira sm Leo cuma cocok d dunia bisnis klo prcintaan mbk Prita juara'y..smangatt yaaaa
wiwik
Ayo up Kak..makin pnasaran 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!