Arully Beena sosok seorang gadis yang dilahirkan tanpa ayah. Ibunya korban kebejatan seorang laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab. Dia lahir dengan perekonomian yang begitu sulit sehingga ia terjebak dalam kelompok anak-anak punk di kotanya.
Bagaimana Beena bisa melewati kehidupan yang begitu keras sampai ia bisa menemukan jati dirinya melalui pertemuannya dengan sosok bocah cilik yang membawanya berhijrah dengan tulus.
Bagaimana pula kisah percintaannya dengan seorang laki-laki yang begitu sempurna di matanya dengan menikah paksa karena terjebak oleh situasi.
"Anggap pernikahan kita semalam tak pernah ada. Aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku hanya gadis punk yang hanya singgah tanpa rencana. Terima kasih sudah menolongku." Arully Beena.
Ikuti kisahnya sampai selesai ya!
Tinggalkan jejakmu like, komen dan subcribe teman-teman!💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Cerita Beena
Beena melamun sambil duduk memeluk kedua kakinya. Tinggal di jeruji besi bukanlah keinginannya. Tidak ada yang bisa ia pertahankan lagi. Suaminya saja sampai sekarang belum kelihatan batang hidungnya. Mungkin benar suaminya tidak menginginkannya dalam pernikahan terbukti saat penangkapan dirinya, sang suami hanya diam tidak membantu bahkan tidak memohon pada polisi agar dirinya bisa diselamatkan.
Entah mengapa Beena begitu sakit begitu teringat sebuah foto yang terukir di meja kerja suaminya saat itu, dalam surat ia tuliskan keikhlasannya menyerahkan suaminya untuk wanita lain. Bodoh!
Sebenarnya tidak ada wanita di dunia ini yang rela diduakan bahkan tidak ingin ditinggalkan menjadi janda. Semua wanita ingin selalu dibahagiakan, ingin selalu dimengerti bukan diabaikan. Apalagi disaat sedang banyak masalah.
"Hey udah jangan melamun aja! Nanti kayak nasib ayam tetanggaku, mati gegara melamun karena sakit." Ujar salah satu teman satu sel yang diduga telah melakukan kesalahan penggelapan uang perusahaan.
Beena melirik sosok wanita sekitar 30 tahunan yang sedang duduk di pojokan sambil menekuk kaki kanannya. Beena tersenyum. Banyak hal yang sudah mereka perbincangkan.
"Mbak...Mbak udah nikah?" Tanya Beena, menatap sendu.
"Udah tapi diceraikan setelah suami tahu aku menggelapkan uang perusahaan, miriskan? Padahal aku melakukan itu atas perintahnya. Bodohnya aku mau aja nurut. Eeh sekarang dia malah meninggalkanku dengan perempuan lain."
"Anak?" Tanya Beena lagi.
"Punya satu berumur 7 tahun. sementara anakku dititipkan ke orang tuaku." Wanita itu bercerita tanpa ada yang ditutupi dengan rasa sedih.
"Cerita Mbak miris juga ya?" Beena menghela nafasnya dengan pelan.
"Ya gitu deh, tapi aku harus kuat menghadapi kenyataan. Bagiku yang terpenting anakku ada yang ngurus dan sehat-sehat saja di sana."
Wanita itu menatap Beena dengan intens. Ia begitu iba melihat teman yang baru dua hari menemaninya.
Dua hari terasa lama bagi Beena. Apalagi di sel serasa sepi tidak ada teman selain wanita itu. Tidak ada alunan musik yang bisa menghibur diri, tidak boleh pegang ponsel. Rasanya begitu hampa.
"Kamu sendiri sudah nikah?" Tanya wanita itu ingin tahu,
Beena melirik kemudian memalingkan wajahnya ke samping. Matanya menatap langit-langit menghindari genangan air yang sudah berebut untuk bisa keluar dari tempatnya. Ia menghela nafas dalam.
"Aku terpaksa menikah." Ucapnya parau.
"Terpaksa, kamu dijodohkan orang tua?" Tanyanya heran.
Beena menatap wanita satu-satunya yang pertama mendengar kisah cintanya.
"Ibuku sudah meninggal. Ayahku engga tahu ada di mana. Aku menikah karena kejadian yang tidak pernah diduga sebelumnya. Aku terjebak dan akhirnya kami tertangkap basah oleh warga sehingga kami harus menikah dan akhirnya nikah siri. Mbak tahu sebenarnya suamiku akan menikah dengan kekasihnya. Aku harus apa coba? Aku sudah merusak kebahagian mereka dengan berada di tengah-tengah mereka."
Wanita itu bergeming, ikut merasakan kesedihan yang Beena rasakan saat ini.
"Kamu yang sabar ya! Allah tidak akan memberi cobaan pada umatnya melebihi dari kemampuannya. Pasti akan ada jalan menuju kebahagiaanmu. Aku yakin kalau jodohmu, dia akan datang dan mempertahankan pernikahan kalian. Walaupun mungkin akan berat meninggalkan orang yang sangat dicintai."
Beena mengangguk. Sisa tangis yang berkepanjangan menyisakan wajahnya yang sembab.
"Jalan jodoh itu berbeda-beda. Seperti aku. Menikah karena saling mencintai. Tapi akhirnya kandas juga." Wanita itu tertawa sumbang.
"Semoga Mbak begitu keluar dari sini mendapatkan suami pengganti yang terbaik, ya!"
"Aamiin."
"Arully Beena!" Seorang penjaga membuka pintu sel untuk mengeluarkan Beena. Keduanya menatap penjaga.
"Iya Pak." Beena langsung berdiri menghadap penjaga.
"Ada tamu yang mau bertemu. Ingat hanya 30 menit saja." Penjaga mengingatkan Beena tentang durasi pertemuannya dengan tamu.
"Baik Pak!" Ujarnya singkat.
"Bee semoga ada kabar baik ya!" Ujar wanita itu.
Beena hanya tersenyum, seraya mengikuti penjaga tersebut menemui tamu yang entah siapa.
Langkah Beena terhenti manakala melihat punggung laki-laki yang tingginya kurang lebih 170 cm. Laki-laki itu membelakangi Beena.
Beena tersenyum. Ia sangat senang sahabatnya bisa diandalkan. Berry pasti datang dengan membawa kabar gembira. Harapannya begitu besar hanya padanya. Berry menjanjikan membawa bukti yang akurat tentang penculik yang sebenarnya.
Beena tidak menyangka cara kerja Berry begitu cepat. Beena menghampiri laki-laki itu.
"Berry..." Panggil Beena dengan senyum sumringah namun begitu laki-laki itu membalikkan badan, mulut Beena ternganga lalu bergeming.
ini mah mau masukin hotel prodeo lagi kan ktnya udah biasa......
hadooohh jadinyav kasian si beena alamat bakal di kekesek yeu mah sm ibunya elzan
Tapi dari sini kayaknya bakal susah dapat restu si Beena,Awal pertemuan dengan Mertua aja udah ada salah paham gitu..