"Kau yakin dengan misi ini?" tanya Bela pada Anna.
"Kalau aku jawab tidak yakin, apa kau akan menyerahkan misi ini pada orang lain Bela?" Anna bertanya balik pada Bela sambil menyilangkan kaki nya di ujung sofa.
Bela mengerlingkan mata nya, ini bukan pertama kali nya dia mendengar Anna berkata seperti ini. Anna dalam mode ini memang sangat lah menyebalkan, bicara asal, belagu dan sangat suka merendahkan orang lain.
Namun sebagai teman baik Anna sekaligus bos dari bisnis rahasia ini, Bela sama sekali tidak masalah. Anggap lah dia sudah sangat maklum menghadapi setiap karakter yang ada di dalam diri Anna Dartmen.
"Ck.. kau ini sedang mengejek ku?!" Ujar Bela pada Anna.
"Tidak! aku tidak sedang mengejek mu! Aku hanya bertanya saja." Ucapnya yang sambil tiduran di atas sofa di dalam markas mereka.
"Ann, kau memang adalah orang yang paling tepat untuk menjalankan misi ini tapi aku tetap saja merasa was-was! Sebab yang tahu kapan kau akan berubah Bisa saja kau berubah menjadi Annna, B
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Kini Lunna paham dengan situasi yang mereka hadapi. Dia pun kini menjadi waspada.
“Lalu bagaimana sekarang?” tanya Lunna pada Darren.
“Tunggu sebentar. Aku akan mengecek CCTV.” Ujar Darren.
Darren pun berjalan ke meja kerja nya lalu menghidupkan laptop nya untuk mengecek CCTV di seluruh mansion itu. “Sial!!” teriak nya dan cepat-cepat berlari ke laci lemari yang ada di sudut ruangan nya.
Diambilnya dua buah pistol dan buru-buru di letakan nya di pinggang nya bagian belakang.
Lunna yang melihat Darren panik seperti itu tentu saja ikutan panik. Lunna menahan tangan Darren, “Apa yang terjadi Darren? Dan kau mau kemana?” tanya Lunna pada Darren dengan wajah cemas.
“Paman dan nenek sedang di sandra penjahat di lantai atas. Dan kondisi paman saat ini cukup parah. Lengan nya tertembak.” Jawab Darren sambil mengecek peluru yang di bawa nya.
“Giovani sudah kembali?” tanya Lunna.
“Seperti nya begitu.” Jawab Darren lagi. “Lunn, kau disini saja. Kunci pintu ini dari dalam. Dan ya, ini kau pegang ini. Jika ada orang lain yang masuk selain aku, maka tembak saja. Kau paham apa yang baru saja aku katakan kan?” seru Darren menatap Lunna dengan tatap cemas. Sesungguh nya Darren tidak ingin meninggalkan Lunna sendirian di ruang kerja nya. Tapi kondisi nya Giovani sedang terluka di atas. Selain Giovani, di atas juga ada nenek nya. Darren tidak bisa membiarkan keluarga nya terluka. Jad mau tidak mau Darren terpaksa meninggalkan Lunna.
Kalau Darren memaksa membawa serta Lunna takut nya hanya akan membuat pergerakan nya menjadi lambat.
"Darren tunggu!” Lunna menahan tangan Darren.
“Ya?”
“Kenapa kau tidak menelpon polisi saja?” Tanya Lunna pada Darren.
“Aku sudah menelpon polisi saat akan masuk ke dalam mansion. Tapi aku rasa mereka tidak akan sampai dalam waktu lima menit ini. Sedang kondisi saat ini, Giovani dan nenek itu harus segera di selamatkan.” Ujar Darren.
“Jadi kau akan naik sendirian?”
“Tidak ada pilihan lain. Maka nya kau tunggu dan bersembunyi saja di sini sayang. Jangan kemana-mana.” Ucap Darren yang tanpa sengaja memanggil Lunna dengan sebutan sayang. Dan tidak lupa Darren juga mengecup pipi Lunna sebelum dia keluar.
Lunna hanya bisa mematung melihat Darren pergi keluar.
Dan setelah lima menit lama nya, akhir nya Lunna tersadar hanya saja yang sudah mengambil alih tubuh Lunna saat ini adalah Lucy.
“Aku memang tidak pandai memakai senjata. Tapi paling tidak akulah yang paling kencang lari nya dibandingkan dengan yang lain nya.” Ujar Lucy, lalu ikut-ikutan keluar dari ruang kerja Darren.
Karekater Lucy bisa keluar padahal ini bukan lah waktu nya untuk diri nya keluar karena Lunna memang meminta bantuan Lucy untuk menyelamatkan raga mereka bersama.
“Jadi mereka di atas?” Ujar Lucy sambil mengendap-endap ke luar kamar dan melangkah kaki nya menaikin anak tangga satu persatu.
“Lepaskan ibu ku!” teriak Giovani pada para penjahat itu, dan DooooooRR.
Para penjahat itu tanpa ragu-ragu menembak lengan Giovani yang telah mereka tembak tadi sekali lagi. Sehingga terdapat dua peluru yang bersarang di lengan Giovani yang kekar itu saat ini.
“Giovani??!!” teriak Diana Smith sambil memegang tangan putra nya.
“Ibu! Minggir! Berdiri di belakang ku bu!” Ucap Giovani sambil menahan rasa sakit yang tak hingga di lengan nya.