Kisah ini menceritakan dua pria tampan yang sedang mengejar cinta seorang dokter galak dan cantik.
Jingga Pramudita seorang dokter Obgyn (obstetrics and gynecology) berusia 29 tahun. Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, Jingga masih menyandang status single dan takut untuk menikah.
Di waktu yang sama, tiba-tiba ada dua pria tampan sedang mengejarnya. Namun, Jingga tak menghiraukannya karena dia masih belum percaya akan namanya cinta dan laki-laki.
Akankah ada dari salah satu mereka yang bisa menaklukkan hati seorang Jingga pramudita, atau justru ditolak semua?
Ikuti kisah mereka hanya di mengejar Cinta dokter galak.
Sebelum membaca novel ini, lebih baik baca dulu novel pendahulunya dengan judul berbagi cinta : aku tak mau dimadu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Setelah mendapatkan semua bukti kejahatan asisten Lim, Angkasa segera memberikannya kepada pengacaranya untuk mengurus secara hukum. Karena sudah beberapa hari tak menemui Jingga karena sibuk mengurus semua ini, membuat Angkasa sangat merindukannya, dan ingin bertemu.
Buket bunga sudah dia siapkan untuk di berikan kepada sang pujaan hati, karena di jalam utama sangat macet. Terpaksa Angkasa lewat di jalan tikus yang sepi, karena dia takut datang terlambat. Tapi, ketika berada di perjalanan tiba-tiba ada beberapa mobil berhenti di depannya.
" Ada apa sih di depan sana, nggak tahu orang lagi buru-buru kali ya," gerutu Angkasa dengan memencet klakson agar mereka mau berjalan. Namun, mobil di depannya tak bergerak sedikitpun, membuat Angkasa terpaksa turun dari mobil.
Ketika Angkasa turun, tiba-tiba segerombolan orang berpakaian hitam dan bertopeng keluar mengepungnya. Angkasa panik, karena dia hanya sendirian, sedangkan mereka bergerombolan. Ketika ingin masuk ke dalam mobil, sudah ada orang yang menyerangnya. Jadi, terpaksa dia bertarung untuk melawannya.
...☘️☘️☘️...
Kebetulan yang tak di sengaja, Jingga juga melewati jalan sepi itu demi menghindari kemacetan. Tapi, di pertengahan jalan, dia melihat ada dua mobil berhenti menghalangi jalan, lalu terdengar suara orang sedang berkelahi.
" Astaga, niatnya ingin cari jalan pintas yang sepi dan tidak macet, tapi justru bertemu dengan orang sedang bertengkar," gerutu Jingga.
Ketika menyadari salah satu dari orang yang tengah bertempur di depannya seperti orang yang ia kenal, membuat Jingga mengurungkan niatnya untuk pergi.
Jingga mencoba mengamati lagi untuk memastikan siapa dia, bola mata Jingga membulat sempurna ketika melihat siapa orang yang sedang di keroyok itu.
" Angkasa!" seru Jingga ketika melihat Angkasa jatuh tersungkur di tanah.
Tanpa berpikir panjang, Jingga segera turun dari mobil dan berlari masuk ke arena pertempuran.
Satu tendangan dari Jingga mampu membuat orang yang ingin menembak Angkasa jatuh tersungkur di tanah.
" Jingga!" seru Angkasa yang terkejut melihat wanita pujaannya ada di sini datang menolongnya. Bahkan, keterampilan bela diri Jingga jauh lebih hebat darinya. Dia mampu melawan beberapa orang bertopeng itu dalam waktu singkat.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Jingga kepada Angkasa.
Angkasa menggeleng, menandakan bahwa dia baik-baik saja. Indra pendengaran Jingga juga sangat tajam jika sedang berada di arena pertempuran seperti ini.
Baru saja, Jingga ingin membantu Angkasa untuk bangun, dia menyadari bahwa ada sebuah peluru yang mengarah ke arah mereka. Membuat kedua orang itu menggelinding bersama di jalan demi menghindari peluru.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Angkasa cemas saat menyadari ada tembakan ke arah merea.
" Aku baik-baik saja!" ucap Jingga yang berada di atas tubuh Angkasa. Melihat ada pistol yang tergeletak di tempat mereka sekarang. Jingga segera mengambil pistol itu dan menembak seseorang yang ingin menembak mereka.
Angkasa hanya bisa melongo melihat Jingga tak hanya jago bela diri, tapi juga jago memegang pistol.
Dor
Dor
Dor
Suara dentuman pistol menggema yakng memekakkan telinga, membuat Angkasa menutup telinganya. Rasa trauma.Angkasa kembali lagi saat mendengar suara pistol terus meluncurkan peluru. Tapi, melihat wanita yang dia cinta berusaha menolongnya tanpa rasa takut, membuat Angkasa melawan rasa trauma itu.
Tangan kanan Jingga masih siaga memegang pistol, sedangkan tangan kirinya membantu Angkasa untuk bangun.
Kini punggung Jingga dan Angkasa saling menempel, dan sama-sama dalam posisi waspada.
" Kenapa kamu bisa ada di sini, cantik? Ini berbahaya!" tukas Angkasa dengan wajah penuh khawatir. Dia ingin membantu Jingga, namun dia tak berani memgang pistol.
" Kebetulan lewat saja!" jawab Jingga singkat.
Ketika merasakan ada yang ingin menembak mereka dari tempat tersembunyi. Jingga lebih dulu menembakkan ke arah itu.
Dor
Dor
Dor
Angkasa tercengang, lagi-lagi dia di buat kagum oleh sosok Jingga yang begitu handal menembak. Dalam waktu singkat, dia berhasil membidik lawan sampai mereka tumbang semua.
Wanita ini, benar-benar di luar jangkauan. Batin Angkasa.
Merasakan bahwa mereka sudah aman. Jingga menarik tangan Angkasa untuk segera pergi dari tempat itu. Karena firasat Jingga mengatakan akan ada orang yang akan datang. Hati Angkasa langsung berbunga-bunga saat melihat Jingga menggandeng tangannya.
" Kita pergi dari sini!" ketika Jingga ingin membuka pintu mobilnya, Angkasa justru mengambil alih.
" Biar aku saja yang menyetir!"
" Kamu yakin?" tanya Jingga yang sedikit ragu.
" Percayalah, soal ini aku jauh lebih handal!" pungkas Angkasa dengan wajah serius.
Melihat wajah Angkasa yang terlihat serius, membuat Jingga mencoba untuk mempercayainya.
Mendengar ada suara mobil datang, mereka segera masuk ke dalam mobil. Angkasa maupun Jingga segera memasang sabuk pengaman mereka dengan cepat.
" Ready?" tanya Angkasa dengan menoleh ke arah Jingga untuk melihat apakah dia sudah memakai sabuk pengaman atau belum.
Jingga mengangguk, menandakan bahwa dia sudah siap.
Angkasa memundurkan mobilnya, lalu banting ke kira dan menancap pedal gas pergi dari tempat itu dengan kecepatan cukup tinggi. Untung saja mereka bisa pergi tepat waktu, sebelum mobil si tikus tua atau Lim datang.
Awalnya, Lim ingin merayakan kemarian Angkasa, tapi ketika mlihat yang jatuh terkapar di tanah adalah anak buahnya semua, membuat Lim semakin.marah.
" Sialan! Bisa-bisanya Angkasa lolos dan menghabisi anak buahku. Apakah dia sehebat itu!?" tukas Lim dengan tatapan tajam penuh kebencian.
Lim tidak habis pikir jika Angkasa bisa memiliki nyawa sembilan sehingga selalu saja lolos dari kematian yang dia buat. Padahal anak buahnya banyak dan membawa senjata, tapi kenapa bisa kalah dengan seorang Angkasa.
" A, kita mau kemana? Ini bukan arah ke rumahku!" tanya Jingga ketika Angkasa justru lewat tol yang bukan arah ke rumahnya. Memang, pintu tol itu adalah jalan tol terdekat dari rumah sakit , tapi arahnya bukan menuju ke arah rumahnya.
" Kita harus sembunyi sementara waktu dulu, karena si tikus Tua akan mengincar dan membunuh kita." Angkasa tahu bahwa orang-orang tadi pasti adalah orang suruhan Lim untuk membunuhnya.
Jika dia tahu Angkasa lolos dalam kondisi hidup, dan Jingga yang menolongnya, pasti nyawa Jingga juga akan terancam.
" Siapa tikus tua itu? "aku tidak takut! Bukankah kamu juga tahu kalau aku handal dalam bela diri dan menembak!"
Jingga tak mau pergi berdua lagi dengan Angkasa, apalagi harus tinggal bersama lagi. Dia ingin pulang saja ke rumah Elia.
" Setelah sampai tempat tujuan, aku akan menceritakan padamu. Sekarang diamlah, karena aku akan fokus menyetir agar kita cepat sampai ke tempat persembunyian.
Dengan wajah Kesal, Jingga diam dan memegang sabuk pengaman dengan kuat ketika merasakan Angkasa mengemudi dengan kecepatan sangat tinggi.
Karena Angkasa mengemudi dengan kecepatan turbo, tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di sebuah pantai.
" Kita mau kemana?" tanya Jingga ketika Angkasa terus menariknya jalan menuju pantai.
" Ke pulau pribadi. Di sana aman karena penjagaannya ketat, serta tak ada orang yang tahu tempat itu, bahkan si tikus Tua," pungkas Angkasa.
Jingga memberontak dan berusaha melepaskan tangannya dari tangan Angkasa.
" Aku tidak mau pergi ke tempat itu!"elak Jingga yang berjalan pergi.
Angkasa langsung memeluk Jingga dari belakang." Aku mohon jangan memberontak ataupun menolak. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa, aku tak bisa kehilangan kamu, apalagi jika aku adalah penyebabnya. Jadi, kumohon tinggallah Jingga," ucap Angkasa dengan suara serak seperti menangis. Jingga yang awalnya ingin memberontak, seketika luluh mendengar ucapan Angkasa penuh permohonan tulus.
Lagi-lagi Angkasa membuat hati Jingga tersentuh dengan ucapannya. Buliran bening jatuh menetes membasahi pundak Jingga karena wajah Angkasa berada di sana.
"Kenapa kamu menangis? Apakah aku sepenting itu?"
" Kamu bukan hanya penting, tapi sungguh berharga dalam hidupku. Jadi, tetaplah di sampingku Jingga agar aku tenang," pinta Angkasa dengan penuh ketulusan.
Jantung Jingga seketika berdetak semakin cepat, hawa panas mulai menjalar ke tubuhnya.
...****************...
Jangan lupa like, komen vote dan hadiahnya.
banyak contoh laki² yg baik meskipun dia banyak uang, sangat menghargai.wanita
peran wanitanya bisa memberikan contoh yg baik bagi pembaca dewasa, tidak gampang
kalau pembacanya punya sifat hampir spt peran wanitanya pasti senang
Lanjut dong Thor..nanggung amat siih/Angry//Drool/
di tunggu kelanjutan nya thor biar ga bingung kitaah.
mantap nih visualnya ...😍😍