NovelToon NovelToon
Melza

Melza

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Horor / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: vifinefianti_033

Yang mau ngobrol shantuy dengan saya, bisa langsung follow instagram saya ya (@kangrebahan_03). Kebetulan saya baru aktif lagi di instagram, insya allah nanti saya infokan jadwal up di sana.

*******

"mari bermain"

Bagi siapa pun yang mendengar kalimat itu dari mulut seorang gadis cantik yang bernama Elza, lebih baik memilih untuk segera mengakhiri hidupnya dari pada mati di tangan gadis berhati iblis namun berwajah malaikat itu. Kecantikannya bisa menjadi daya pikat untuk memancing targetnya agar memasuki perangkap dalam jebakan maut yang sudah ia buat.

Ya itulah Elza, gadis mungil yang memiliki wajah super cantik membuat siapa pun akan tertipu dengan mudah. Di balik itu semua, ada iblis di dalam diri Elza yang siap bangkit kapan pun ketika ia lepas kendali.

***

Melvin Andrea Micheal.

Nama itu sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, Melvin itu bisa di bilang suami idaman bagi kaum hawa. Dia tampan, kaya, seorang pengusaha sukses juga. Paket konplit bukan? Maka tidak heran jika Melvin menjadi rebutan cewek cewek.

****

Misi nya di New York membawa petaka bagi seorang Elza. Ciuman pertama nya di ambil paksa oleh bajingan tampan, bernama Melvin. Elza tidak terima dengan kelakuan Melvin yang secara tidak langsung sudah menodai bibirnya yang suci, maka dari itu Elza langsung memberikan pelajaran kepada Melvin berupa tendangan super kencangnya di area sensitif Melvin.

Harusnya Melvin marah dengan perlakuan gadis itu kepadanya, tapi melihat wajah kesal gadis itu membuat seringai muncul di wajahnya yang tampan.

"mine"ucapnya.


+++++

Hanya penulis pemula yang ingin menuangkan kehaluan nya😴. Berhubung ini karya pertama saya, mohon bantuannya untuk para senior yang sudah banyak pengalaman nya. 😘😘😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vifinefianti_033, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Melza

"Bisa jelaskan kenapa kematian Elsa, harus pake identitas gue?"

Jasper langsung melirik kearah Raka yang sedang duduk di sebrangnya.

"Ini ide Raka"

Elza langsung mengalihkan tatapannya kearah Raka yang juga sedang menatap dirinya dengan serius.

"Itu karena orang orang itu ingin lo yang mati, bukan Elsa"

"Bisa di bilang jika mereka membunuh orang yang salah"

"Kenapa lo bisa tahu? " tanya Elza

Raka menghela napas berat "dari cara kematian nyonya Hanna dan Elsa sudah terlihat sangat berbeda. Nyonya mendapatkan beberapa luka fisik yang menjadi penyebab dia meninggal secara perlahan, tapi penyebab kematian utama nyonya Hanna karena luka tembak"

Raka menarik napasnya dalam.

"Sementara kematian Elsa, tidak ada luka fisik ditubuhnya. Hanya ada beberapa luka, di kaki dan tangannya karena berusaha melepaskan diri dari ikatan"

"Orang orang itu memenggal kepala Elsa pada saat dia masih hidup, bahkan mereka tidak melukai fisik Elsa terlebih dahulu"

"Hal ini seperti menujukan kepada tuan Jasper kalau 'pengacau sudah di singkirkan ' "

"Ini semacam tanda peringatan"

Raka berdehem ketika tenggorokan terasa kering, ia menatap Elza kembali.

"Sejak awal yang mereka incar itu eloh, tapi informasi yang mereka dapatkan tentang kalian berdua sangat minim. Sehingga mereka langsung mempercayai jika Elsa adalah orang yang mereka incar"

"Gue yakin kalian berdua sempat berdebat bukan? "

"Elsa tahu kalau dia akan mati, tapi dia tetap berusaha meyakinkan orang orang itu bahwa dirinya adalah Elza"

"Dia berusaha melindungi lo Elza"

"Ya, lo benar. Tapi usaha dia untuk melindungi gue, adalah hal terbodoh"

"Dan gue benci itu! "

Remi dan Lucas langsung menelan ludahnya kasar ketika merasakan Elza semakin menyeramkan.

Elza segera beranjak dari posisi duduknya, ia berdiri lalu menatap satu persatu orang orang yang sudah sangat lama tidak ia lihat.

"Buat gue hidup lagi, Raka"

"tiwdak! " tolak Jasper cepat "Papah nggak mau kamu dalam bahaya Elza, orang orang itu masih ada di luar sana "

Elza tersenyum tipis.

"Sejak awal hidup Elza sudah dalam bahaya Pah, jadi Elza akan menikmati kehidupan berbahaya itu"

"Tapi... "

"Papah cukup percaya aku"

Setelah mengucapkan itu Elza langsung melangkah pergi meninggalkan Papahnya, Remi, Lucas dan Raka yang sedang menatap punggungnya dengan tatapan khawatir.

Walau keluarga nya sudah kembali, tapi Elza masih merasa kosong. Harusnya ia bahagia karena bertemu kembali, tapi ada perasaan aneh yang mengganjal hatinya ketika bertemu lagi dengan mereka. Elza juga tidak tahu perasaam apa yang mengganjal ini, yang jelas Elza masih merasa kosong.

Tidak ada salahnya ia mengambil risiko yang cukup ekstrem, ia sudah melalui banyak hal berbahaya yang selalu mengancam nyawanya. Jika sampai informasi tentang Elza yang asli yang masih hidup, dan terdengar di telinga mereka maka hidup Elza semakin terancam.

Untuk menangkap ikan besar sebaiknya harus menyiapkan umpan yang besar juga, itulah cara jitu yang akan di lakukan oleh Elza untuk memancing orang orang yang berada dalam masa lalunya.

Hari sudah malam, Elza tidak tahu kemana kakinya harus melangkah pergi. Ia tidak punya tujuan atau pun rumah sebagai tempat dimana ia akan pulang.

Setelah Papah nya menceritakan semuanya, ingatan Elza semakin jelas.

Pikiran Elza berubah jadi amat kacau, rasanya ia ingin berteriak dengan kencang. Ia ingin melampiaskan semua perasaan sedihnya ini. Tapi lagi lagi Elza harus menahan perasaan nya, demi terlihat baik baik saja di hadapan orang orang yang mengenal nya.

Drtttttt...

Getaran di ponsel nya membuat langkah Elza langsung terhenti, ia langsung merogok saku celana jeans hitamnya.

Melvin

Itulah nama yang tertera di layar ponsel nya.

Langsung saja Elza menekan tombol hijau, sambil melanjutkan langkahnya kembali.

"Ada apa? "

"Lo dimana? "

"Jalan"

"Jalan? Malem malem begini lo jalan, sama siapa? "

"Sendirian"

"Gila! Lo jalan malem malem kaya begini sendirian, gue susul sekarang. Kirim alamatnya sekarang! "

Setelah itu sambungan telepon terputus, Elza langsung mengirim lokasi nya kepada Melvin. Kemudian ia memasukan kembali ponsel ke dalam kantung celananya.

Kakinya langsung berhenti tepat di halte bus yang fungsinya untuk menunggu angkutan umum, Elza berdiri disana seperti orang bodoh. Padahal ia tahu jika angkutan umum yang ia tunggu tidak akan datang, lagi pula Elza juga tidak tahu kemana tujuannya jika ia sampai naik angkutan umum.

Hembusan udara malam yang dingin menerpa tubuh Elza disana, rambut yang kini tidak terikat bergoyang goyang mengikuti arah angin. Bahkan beberapa helai rambut menutup sebagaian wajah cantik nya.

Cukup lama Elza berdiam diri disana tanpa pergerakan sedikit pun, hingga akhirnya sebuah mobil berwarna abu abu berhenti tepat di hadapannya. Elza masih diam, tidak beranjak dari tempatnya bahkan ia hanya melirik sekilas mobil yang berhenti di depannya.

Lalu muncullah Melvin didalam mobil itu, Melvin langsung menghampiri dirinya yang sedang berdiri di halte angkutan umum.

"Lo nyari mobil angkutan umum di jam segini? " Melvin menatap wajah Elza tidak percaya "Lo emang udah gila ya! "

Melvin langsung melepaskan mantel yang ia pakai ke tubuh Elza yang sejak tadi diam mematung.

"Dimana alamat rumah lo, biar gue anter lo kesana"

"Gue nggak punya rumah"

"Hah? "  Melvin tampak bingung dengan perkataan Elza "Nggak usah becanda! Udah cepetan masuk ke mobil"

"Gue nggak becanda"

Dari raut wajah Elza yang tampak serius itu membuat Melvin sedikit percaya dengan perkataan Elza, bagaimana bisa Elza tidak punya rumah? Apa rumahnya baru saja di jual atau ia telat bayar sewa sehingga dia di usir oleh pemiliknya.

"Terus lo mau bikin tenda di sini? " Tanya Melvin sinis.

"Ya"

"Cih, otak lo emang agak bermasalah ya" decak Melvin kesal "Tenda? Lo mau bikin pake apa? Mau bikin pake baju yang lo pake"

"Vin! "

"Ya? "

Elza menatap wajah Melvin serius.

"Kalau Elsa meninggal karena gue, lo bakal benci gue nggak? "

Kerutan langsung muncul di kening Melvin saat mendapatkan pertanyaan itu dari Elza.

"Tergantung" Jawab Melvin

Elza tersenyum tipis.

Melvin merasa jika Elza sedang dalam suasana hati yang sedih, sepertinya wajah datar Elza cukup berbahaya. Wajah itu bisa menipu mata seseorang, tapi berbeda dengan Melvin tentunya. Melvin bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Elza saat ini, ia pun berusaha keras agar dirinya berpura pura tidak tahu.

"Lo boleh pulang ke runah gue"

"Lagian gue di rumah sendirian, jadi nggak masalah kalau gue biarin lo tinggal disana"

"Anterin gue ke hotel"

Setelah mengucapkan itu Elza langsung membuka pintu mobil Melvin, ia langsung masuk dan duduk di jok depan. Pandangan Elza lurus kedepan, ia mengeratkan mantel milik Melvin yang membungkus tubuhnya.

Elza masih diam mematung saat Telingany mendengar suara pintu terbuka di sebelah nya.

Tanpa banyak berbicara Melvin langsung menjalankan mobilnya menuju gedung hotel yang berada di dekat daerah ini, Melvin merasa canggung sekaligus tidak enak saat Elza ingin di antarkan ke hotel. Pikiran kotornya langsung memenuhi otaknya, tapi Melvin berusaha keras menyingkirkan godaan setan itu karena Melvin tidak ingin jadi pria berengsek.

Melvin akan menunggu saat dimana Elza akan jadi istrinya, ya walau pun Melvin tidak tahu apakah mereka berjodoh atau tidak. Tapi Melvin sangat berharap jika Elza adalah takdir sekaligus jodohnya yang akan menemaninya seumur hidup.

Jalanan tampak begitu sepo dan sunyi, maka dari itu Melvin memilih mempercepat laju kendaraannya menuju hotel yang Elza sebutkan alamatnya tadi.

Tidak butuh waktu lama mobilnya berhenti di depan sebuah bangunan hotel dengan ukuran kecil, bahkan rumahnya jauh lebih besar dari hotel ini.

"Lo yakin mau tidur di sini? "Tanya Melvin.

Entah mengapa Melvin merasa tidak yakin jika Elza akan tidur di sini untuk sementara.

"Nginep ajah di rumah gue ya" Melvin berusaha membujuk Elza "Tempat ini mengerikan Za, gue nggak mau lo kenapa napa kalau nginep di sini"

"Terimakasih tumpangan nya"

Elza langsung membuka pintu mobil Melvin lalu melepaskan mantel yang melekat di tubuhnya, Elza meletakan mantel Melvin di jok mobil yang ia duduki tadi.

"Lo harus pulang! "

Setelah mengucapkan itu Elza langsung melangkah masuk kedalam bangunan hotel yang tampak kumuh sekaligus kecil, Elza tidak punya pilihan lain selain menginap di sini sampai besok pagi.

"Selama malam, mbak.. Mas"

Kerutan langsung muncul di kening Elza saat mendengar kata Mas, ia langsung menoleh ke belakang dan menemukan Melvin berdiri tidak jauh darinya.

"Lo ngapain masih di sini? " Tanya Elza.

"Sekalian check in buat gue" Melvin mengabaikan pertanyaan Elza.

Elza menaikan bahunya acuh.

"Saya pesan dua kamar ya"

"Maaf mbak, tapi kamar yang kosong cuma satu"

Elza menghela napas berat, ia melirik kearah Melvin yang terlihat acuh.

"Kamarnya cuma ada satu doang, jadi lo pulang ajah"

"Kita pernah tidur di ranjang yang sama sebelumnya, jadi nggak masalah dong kalau malam ini kita harus berbagi ranjang lagi"

Elza benar benar malu dengan ucapan Melvin yang terbilang blakblakan itu, ia langsung mengalihkan tatapannya kearah pekerja di depannya. Kemudian ia memesan kamar kosong itu, lalu membayar biaya per malam nya. Elza menerima kuncinya, lalu melangkah pergi begitu saja. Untuk biaya hotelnya lumayan murah, jadi Elza tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk biaya sewa semalam.

"Kita kaya pasangan yang mau berbuat mesum ya" kekeh Melvin jahil.

"Sinting!! "

Sebenarnya Melvin tidak nyaman dengan bangunan hotel yang penerangan begitu minim, ia yakin jika ada banyak pasangan tidak sah menghabiskan malam malam nya di sini. Melvin begidik ngeri, bagaimana bisa Elza tidur di tempat tidur yang Melvin yakini bekas orang orang bercinta. Sialan, harusnya Melvin menyeret Elza paksa untuk menginap kerumahnya.

Melvin langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Elza dengan posesif saat mereka hendak berpapasan dengan gerombolan pria yang berjalan berlawanan arah dengan mereka, Melvin melemparkan tatapan tajam saat melihat lirikan nakal dari para pria itu. Rasanya Melvin ingin mencolok mata mereka karena sudah menatap mesum kepada Elza.

"Jangan berontak! "Bisik Melvin di telinga Elza saat ia merasakan pergerakan Elza yang hendak menyingkirkan tangannya disana "Gue lagi berusaha melindungi lo dari tatapan kotor cowok yang tadi berpapasan sama kita"

Elza menghela napas kasar, ia hanya bisa pasrah dan membiarkan Melvin melingkarkan tangannya di pinggang nya.

Akhirnya setelah melewati lorong remang remang, mereka sampai di pintu kamar yang paling pojok. Elza langsung membuka pintu tersebut dengan kunci yang ia bawah, Elza menekan knop pintu ke bawah hingga akhirnya pintu terbuka.

Elza masuk lebih dulu ke dalam kamar, sementara Melvin tampak mengedarkan pandangan untuk melihat situasi di luar. Takutnya ada penguntit gila yang membuntuti mereka dengan maksud buruk. Melihat situasi yang aman, Melvin langsung masuk kedalam kamar hotel itu lalu menutupnya dari dalam. Tidak hanya menutup, Melvin juga mengunci pintu itu.

"Ada sofa, lo bisa tidur di sana" Elza menujuk sofa dengan ukuran kecil.

"Nggak muat Elza, lo nggak liat ukuran tubuh gue" kesalnya.

Elza mendelik kesal kearah Melvin.

"Gue nggak peduli! "

Elza langdung menjatuhkan tubuhnya di sofa, ia menghela napas kasar sebelum akhirnya ia melepaskan kedua sepatu yang terpasang di kakinya. Setelah terlepas, Elza langsung melemparkan sepasang sepatu itu asal. Ia beranjak dari sofa, lalu berdiri di dekat ranjang yang rapih.

Elza melirik kearah Melvin yang masih setia berdiri di tempatnya, pria itu seperti enggan untuk sekedar duduk di sofa atau ranjang yang tersedia.

"Lo bisa pergi " Usir Elza.

Elza tahu kalau hotel yang ia maksud di luar bayangan Melvin, jadi wajar saja jika Melvin merasa risih dan jijik dengan kamar hotel ini.

Hotel ini memang cukup bebas, ada banyak pasangan yang tidak sah menghabiskan malam malam disini. Kalau saja ada yang lain, mungkin Elza tidak akan menginap di sini.

Elza langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang, tubuhnya sudah lelah dan ia ingin segera istirahat.

Lebih baik Melvin tidur di kasur butut yang kemarin menjadi tempat tidur Elza dan dirinya, jujur saja Melvin merasa jijik untuk sekadar menyentuh benda benda di kamar hotel ini. Entah berapa banyak pasangan yang melakukan **** didalam ini, Melvin begidik ngeri membayangkan setiap malam ada pasangan yang menghabiskan malam nya di sini.

"Lo nggak takut ada penyakit yang menular di sini? "Tanya Melvin menatap Elza dengan pandangan tidak percaya jika Elza memilih hotel ini di bandingkan menginap di rumahnya.

"guwe bisa berbagi ranjang di rumah gue, kalau lo mau"

Elza tersenyum tipis.

"Lo mau ngapain? "Tanya Melvin melotot saat melihat Elza mulai membuka satu persatu kancing baju yang dia kenakan.

"Gue nggak bisa tidur kalau pake baju yang bahannya panas" Jawab Elza santai.

"Lo nggak takut sama gue? "

"Takut? " Elza tersenyum mengejek

Melvin mengalihkan tatapannya kearah lain ketika Elza membuka baju bagian atasnya sehingga memperlihatkan kaos oblong kebesaran yang masih di kenakan oleh Elza, tapi tetap saja Melvin harus menghindar untuk tidak menatap bagian tubuh atas Elza yang sedikit terekspos.

Bayangan tetang perut Elza yang rata sekaligus putih tiba tiba terbayang bayang di dalam pikirannya, sialan Melvin harus menyingkirkan bayangan itu jauh jauh.

"Pake baju lo Elza! Kita bisa menaikan suhu ac nya supaya dingin" Melvin memberikan peringatan kepada Elza dengan menatap mata Elza yang tajam "Gue nggak mau terjadi sesuatu, hal yang tidak ingin kita lakukan! "

"Kenapa? Lo nggak tertarik sama tubuh gue? "

"Sialan" Umpat Melvin melayang tinjuan di udara "lo berusaha menggoda gue hah? "Kesal Melvin.

"Bukankah lo udah terbiasa tidur sama cewek cewek di luaran sana?" Elza tersenyum sinis "Kenapa lo nggak mencoba untuk tidur sekali sama gue"

Entah mengapa Melvin menjadi murka ketika mendengar ucapan Elza, tangan Melvin terkepal dengan kuat. Ia berusaha menekan gairah nya yang sudah meledak ledak. Melvin adalah pria normal, mustahil jika ia tidak tertarik dengan tubuh Elza yang putih dan mulus. Hanya saja Melvin punya prinsip, sehingga itu membuat Melvin bisa mengontrol dirinya supaya tidak menerkam Elza.

"Lo bisa pergi"

Elza langsung merebahkan tubuhnya disana, ia memposisikan tubuhnya membelakangi Melvin yang masih berdiri di belakang nya.

Melvin menghela napas kasar, ia berusaha menghilangkan rasa enggan nya untuk mendudukkan bokongnya diatas ranjang. Melvin tidak punya pilihan lain selain membunuh rasa jijiknya itu, ini demi Elza. Demi melindungi kandidat wanita yang akan jadi calon istrinya kelak.

Melvin duduk di pinggir ranjang, lalu matanya menatap lekat wajah Elza yang sedang pura pura tertidur. Melvin yakin jika Elza belum tidur.

"Bohong kalau gue nggak tertarik sama tubuh lo" Melvin tersenyum tipis, tangannya terulur untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik Elza  "Hanya saja gue nggak mau merusak lo Elza"

"Gue nggak tahu apa yang membuat lo jadi nggak waras kaya tadi, gue yakin itu bukan keinginan lo"

Melvin menjauhkan tangannya dari wajah cantik Elza, ia mengalihkan tatapannya kearah lain.

"Gue nggak akan pergi dari sini" Melvin tersenyum tipis "Gue nggak mau ada orang lain yang memanfaatkan situasi lo saat ini"

"Kalau memang sampai ada, gue akan bunuh cowok yang udah merusak lo"

Melvin kembali menatap wajah Elza.

"Gue nggak mau memanfaatkan situasi kacau ini Za"

"Gue emang cowok berengsek"

"Gue sering tidur dengan cewek yang berbeda tiap kali gue butuh menyalurkan gairah gue"

"Tapi lo harus tahu, cewek yang gue tiduri adalah cewek bekas banyak pria"

"Dari mulai model, aktris, pengaca, sampai wanita Club khusus golongan VIP"

"Mereka cuma mau uang gue, popularitas, dan butuh koneksi "

Melvin tidak menyangka bahwa dirinya akan membuka keberengsekan dirinya kepada Elza, tapi ia ingin mengubah cara pandang Elza tentang dirinya. Ia memang terlihat berengsek di luar, sialnya Melvin tidak menyangkal pandangan orang orang terhadap nya. Maka dari itu banyak orang yang menganggap dirinya berengsek, termasuk Elza.

"Lo bisa tanya Alex kalau lo nggak percaya penjelasan gue" Melvin tertawa hambar "Terkadang gue nggak terlalu mempedulikan pendapat publik tentang gue"

"Karena cuma orang orang yang deket sama gue, yang tahu gue luar dalem"

Melvin menghela napas berat, ia melirik kearah sofa yang berada tidak jauh dari ranjang yang ia duduki.

"Selamat malam Elza" Bisik Melvin pelan, sebelum Elza beranjak dari sana Melvin mengecup pelan kening Elza lalu ia membisikan kata kata yang tidak pernah ia ungkapkan setelah beberapa tahu lamanya "Sweet dreams my love"

Melvin hendak beranjak dari sana, tapi cekalan di tangannya membuat Melvin tidak jadi beranjak dari posisi duduknya. Melvin menoleh, disana ia melihat Elza sudah duduk anteng menghadap kearahnya.

"Ya? " Melvin menaikan sebelah halisnya bingung.

Tubuh Melvin langsung kaku saat tiba tiba Elza mendaratkan bibirnya tepat di permukaan bibirnya, bibir lembut itu mulai ******* bibirnya dengan gerakan yang amatiran.

Buru buru Melvin menarik tubuhnya sehingga ciuman itu langsung terlepas begitu saja, ia menatap wajah Elza dengan tatapan kagetnya.

"Lo gila!! " Bentak Melvin menatap Elza tajam.

"Kiss me "

Anggap saja Elza sedang gila, ia kacau dan ia butuh sesuatu yang bisa membuatnya melupakan sejenak kekacauan yang ada di otaknya.

"Gue nggak bisa! " Tolak Melvin tegas.

Elza tersenyum tipis.

"Kalau gitu gue bisa memanfaatkan pegawai cowok di hotel ini untuk mencium gue"

Melvin melotot saat mendengar ucapan itu.

"Lo udah nggak waras! "

"Gue butuh sesuatu untuk meluruskan otak gue yang amburadul "

Melvin buru burun menahan tubuh Elza agar kembali duduk diatas ranjang, perempuan ini memang gila ya.

"Fine!! , gue akan cium lo"

Pada detik itu Melvin langsung meraup bibir manis Elza dengan bibirnya. Melvin mencecep dan menjilat bibir Elza dengan rakus.

"Engghh" Erang Elza.

Elza merasakan jika bibirnya di gigit oleh Melvin sehingga ia membuka sedikit mulutnya.

Tidak mau menyia nyiakan kesempatan itu, Melvin langsung memasukan lidahnya kedalam mulut Elza. Lidah nya bergerak lincah didalam rongga mulut Elza, Melvin menekan tengkuk Elza untuk memperdalam ciuman mereka.

Ciuman itu perlahan berubah menjadi ciuman penuh gairah, Melvin begitu bersemangat merasakan bibir Elza yang begitu lembut dan manis. Ia jadi sedikit kesal ketika ia teringat Elza yang hendak mencari pria lain untuk sekadar mencium nya, maka dari itu Melvin akan menujukan keahlian nya dalam berciuman agar Elza tahu kalau Melvin adalah pria yang memiliki kemampuan berciuman yang baik.

Elza memukul mukul dada Melvin saat dirinya kehabisan napas, untungnya Melvin langsung melepaskan ciumannya sehingga Elza bisa menghirup oksigen nya dengan rakus.

Tidak jauh berbeda dari Elza, napas Melvin pun memburu. Ia menatap lekat wajah Elza yang sudah seperti kepiting rebus, lalu tatapannya jatuh kearah bibir Elza yang bengkak dan memerah. Bibir itu terlihat begitu menggoda, hingga rasanya Melvin ingin kembali menciumnya.

"Gimana? otak lo udah nggak amburadul lagi? "

Elza memaling wajahnya ketika otak nya kembali bekerja dengan normal, ia kembali merebahkan tubuhnya lalu menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Sial, Elza benar benar merasa sangat malu dengan apa yang sudah terjadi kepadanya.

Tawa jahil Melvin langsung pecah ketika melihat tingkah menggemaskan Elza, rasanya Melvin ingin menerkam mangsanya sekarang juga. Bukan untuk di mangsa tentunya, ya kalian pasti tahu lah.

"Berati otak lo udah bener bener waras lagi ya" Melvin mangut mangut seperti orang gila "Sekarang otak gue yang amburadul nih"

Melvin tersenyum nakal, ia langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Elza hingga seseorang yang bersembunyi di balik selimut terperanjat kaget.

"Lo apa apaan si, gue mau tidur" Kesal Elza menatap Melvin tajam.

Elza berusaha menarik selimutnya lagi, tapi tidak bisa.

"Melvin!" Geram Elza

Melvin tersenyum mengejek.

"Jadi lo mau biarin gue gitu ajah setelah lo mendapatkan apa yang lo mau" Melvin menggelengkan kepalanya dengan dramatis, ia tidak percaya dengan apa yang di perbuat oleh Elza terhadapnya. Ia baru saja di campakan oleh gadis ini " Kejam banget ya lo, sama pacar sendiri"

"Pacar? " Elza menaikan sebelah halisnya "Sejak kapan kita pacaran? "

"Mulut lo emang tajem banget ya Za" Melvin menatap wajah Elza dengan mimik wajah terlukanya "Kita udah pernah berbagi ranjang, ciuman lebih dari satu kali, terus hampir mati bersama. Lo masih anggap gue sebagai orang asing? "

Elza tertawa melihat raut wajah Melvin yang berpura pura kesakitan itu.

"Inikah CEO dingin dan kejam itu? " Tanya Elza mengejek "Kok gue merasa kalau lo lebih kaya anak anak"

Melvin berdecak sebal.

"yaq nggak apa apa dong sikap gue ke kanakan, siapa tahu lo mau manjain gue" Melvin menaik turunkan kedua halisnya jahil "Gimana? Lo mau kan jadi pacar gue. Eh bukan bukan, calon istri ajah gimana? "

Elza semakin tertawa kencang.

"Za, gue serius lo" Kesal Melvin menatap Elza yang masih tertawa, padahal ucapan Melvin tidak mengandung unsur humor sedikit pun " Elza!! "kesal Melvin.

Elza berdehem beberapa kali untuk menghentikan suara tawanya itu.

"Jadi lo lagi melamar gue? "

"Ya seperti itu" Melvin menggaruk tengkuknya seperti orang gila "Gini maksud gue, lo bilang ajah mau. Gue janji, setelah itu gue akan melamar lo secara resmi "

"Gue merasa kalau ini semacam negosiasi ya" Elza menahan tawanya agar tidak pecah lagi, sumpah demi apa pun Melvin itu konyol. Apa Melvin tidak punya pengalaman untuk mengungkapkan rasa cinta atau melamar seseorang yang di cintai? .

"Yaudah terserah lo deh" kesal Melvin "Gue janji gue akan melamar lo secara resmi" Ucapnya dengan nada sungguh sungguh.

Elza tersenyum geli melihat Melvin, ia langsung bangun dari posisi berbaring nya menjadi duduk di hadapan Melvin. Ia langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Melvin dengan manja.

"Status hubungan itu nggak penting, Melvin. Kita hanya perlu menjaga komitmen hubungan kita, agar kita bisa mencapai hubungan yang lebih serius dari pada sekadar pacaran doang" Elza langsung melayangkan kecupan singkat di bibir Melvin "Lo udah gue anggap sebagai rumah, Melvin. Kemana pun dan sejauh apa pun gue akan pergi, gue akan kembali ke rumah"

Sudut bibir Melvin tertarik hingga membentuk sebuah senyuman yang begitu lebar, ia langsung mendorong tubuh Elza hingga terjengkang. Melvin langsung memenjarakan tubuh Elza dibawah kungkungan nya.

"Gue nggak nyangka lo bisa merangkai kata yang manis" Melvin melayangkan kecupan singkat di kening Elza "Gue bahagia kalau lo anggap gue rumah, Za. Gue akan jadi rumah yang nyaman buat lo"

Detik itu juga Melvin kembali meraup bibir Elza.

1
adelia azni
Kecewa
adelia azni
Buruk
adelia azni
Dri banyak nya novel yg sya baca,, ini cerita yg paling bgus sih menurut sya,,, best lah pokok nya
Rkeane
novel ter teh best lah,btw ada yang mau kasih rekomen lagi novel aksi aksi gitu kaya misi buat ajen ajen
Hasnah Siti
uffft bagus vin...aku lega mereka berdua ada yg menolong...😓
Hasnah Siti
🤣🤣🤣🤣🤣
Hasnah Siti
di lanjut lagi ...aku suka
Hasnah Siti
nexts
Hasnah Siti
awalan yg bagusss...🤩
pacarjuhoon🐢
ngaku hamil gk tuhh🤣🤣
pacarjuhoon🐢
kirain nonton apaan🤣hadehhh😭😭
Elly Adisusetyo
karya yg bagus thorr
imam zulkifli
aku golongan darah O dokk hehehe
🌻Ruby Kejora
Salam kenal dan sukses kk❤️❤️❤️
imam zulkifli
o o oh author teh tiasa sunda
Jaka Gd
kalo bisa kata" nya jangan ada hwanya thor
Bundane Aurel
opik penghianat
Bundane Aurel
keren, keren😁
Bundane Aurel
keren, keren walau tlat baca nx😁
Ninik Suprapti
ceritanya seru banget 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!