Reina tak menyangka kalau pria bernama Gerald itu berani melamarnya, Pria abg itu berani melamar wanita itu di depan teman-teman sekolahnya.
Gerald memang tergila-gila pada Reina,Tetangga nya yang bekerja sebagai notaris di kantor pemasaran Grand wisata Bekasi.
Siapa yang gak tertarik pada Reina? Cantik, baik, pintar, dan lembut hal itulah yang membuat Gerald jatuh cinta pada Reina.
Awal nya Gerald dapat penolakan dari Reina tapi tak menyerah dan pantang mundur.
Pada akhir nya, Reina luluh juga oleh kekuatan cinta abg tampan itu dan mau menerima lamaran pria muda itu dengan hati bahagia.
Tapi kebahagiaan itu tidak di rasa oleh Risa gadis abg yang memiliki hati buat Gerald.
Diam-diam dia ingin menyingkirkan Reina dari kehidupan Gerald.
Bagaimana nasib Reina selanjutnya? Kebahagiaan apa yang di rasa Reina setelah menikah dengan abg? Apa yang membuat Reina kagum pada Gerald?
Penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmanika Kumalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Silwi.
"Ketika mereka beraksi menculik kak Rheina sebelum nya kita kempiskan ban mobil nya lalu kalian keluar memakai cadar biar tak ada yang tahu." ungkap Silwi tentang rencana nya.
Di tempat lain..
"kalian jangan salah orang, salah orang tidak ada uang buat kalian apalagi ongkos!" ancam Risa.
"Baik, mbak."
"Bagus, kalian harus melakukan nya dengan sebersih mungkin jangan sampai mengeluarkan suara berisik." sambung Risa, lagi.
"siap." sahut Aldo.
Risa tersenyum.hambar entah pada siapa?pada dirinya sendiri atau anak buahnya?jujur hatinya terbalut gelisah dan rasa takut.
Takut ancaman Dani yang mengerikan itu benar-benar ada yang menari indah di relung bayangnya.
Di cafe pelangi..
Rheina dan Gerald asyik beromantis.ria, saling menatap mesra Rheina masih duduk dipangkuan Gerald.
"kamu kenapa?hem?" tanya Gerald, santai sambil tertawa kecil saat Rheina menggoyangkan tubuhnya, gelisah.
"Malu." jawab Rheina, tersipu.
Gerald mengkerutkan keningnya." Malu sama siapa sih?" tanya Gerald disertai gurau.
Wajah Rheina merona.
"Malu kalau tiba-tiba ada orang kesini, kita dalam posisi seperti ini." ungkap Rheina sambil menutup wajah nya yang sudah merona.
"Oh...itu?" Gerald tergelak.
"Apanya.sih yang lucu?" protes Rheina, geram.
Gerald menghembuskan nafasnya, dalam
"Kenapa sih..kamu secemas itu?kan cafenya buka jam 8 pagi, ini baru jam setengah tujuh." gumam Gerald melirik arloji nya.
"Jadi masih lama?" tanya Rheina meyakin kan.
"Ya..kalau mau lama, gak apa-apa." goda Gerald sambil tersenyum penuh arti.
"Ih..apaan sih?" protes Rheina, geram sambil mencubit lengan kekar Gerald.
"Aduh." Gerald pura-pura mengaduh.
"Rasain." ungkap Rheina.dengan wajah puas.
Dibalik pohon di cafe. yang rindang...
"Siapa sih perempuan itu?genit banget peluk-peluk Gerald ku!" umpat Senita dengan wajah amarah membias.
"Apa perempuan itu yang membuat Gerald menjauh dariku?heh!awas ya, akan kuba..."
"Apa, Senita?"Ila tiba-tiba sudah berdiri tegak dibelakang Senita dan Senita terlonjak kaget.
"Eh..mbak Ila, gak ada apa-apa kok." sahut Senita berusaha santai untuk menutupi kegugupan nya.
"Mbak Ila, sekarang kerja?"
Ila mengangguk
"kamu ngintip mereka?" tanya Ila, balik sambil terkekeh.
Wajah Senita merona saat Ila mengetahui dia mengintp Gerald dan Rheina, bila dia pesulap ingin sekali menghilangkan dirinya ke planet Pluto sekalian.
"Mbak?" panggil Senita.
"Ya.."
"Apa Gerald hari ini gak kerja?" tanya Senita.
"kamu kemana aja, Sen kan sudah di bicarakan dalam rapat kemarin." Ungkap Ila sambil membulatkan kedua bola matanya, malas.
"Oh.iya..ya." maaf, lupa, he..ee." Senita menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa bodoh sendiri.
"Ya...sudah, kamu ganti seragam, sana!" titah.Ila.
"Baik, mbak."
Setelah Senita berlalu dari hadapan nya rasa penasaran mulai menghantui di lubuk.jiwanya.
"Hmm..pantas saja Senita marah, ternyata dia melihat Gerald.dan seorang wanita, hem...ada-ada aja." gumam nya.dalam.hati sambil tertawa kecil dan mengibaskan tangan nya.
Kediaman keluarga Handoyo..
"Pa, anterin mama kepasar dong." pinta bu Handoyo sambil memijat pundak sang.suami.
"Ayo..tapi.jangan suruh papa masuk ya, becek, tahu!" sahut pak Handoyo.
"Gak semua becek, pa beceknya juga di tempat tertentu." gumam bu Handoyo.
"Papa gak mau, pokoknya!" pak Handoyo masih bersikeras.
"Ya...sudah, kalau papa gak mau mama gak maksa kok papa cukup nunggu in mama di mobil atau sekedar jalan-jalan." bu Handoyo menyerah.
"Nah..itu, baru papa mau." sahut pak Handoyo sambil tersenyum, puas.
"Tapi, awas kalau melihat wanita lain! mama gak akan segan-segan mengikat papa di pohon cabe lalu menutup mata papa." ancam bu Handoyo penuh luapan emosi.
"Ya...gak mungkin lah, ma papa kan punya mama." sahut pak Handoyo.sambil mengerling, nakal.
"Apaan sih papa ini?" protes sang istri.
"Lagian, ma, mama tuh...sadis banget tahu.gak?kdrt itu namanya, ma." sambungnya.
"Bodoh!"
Di markas.
"Rencana yang bagus, mbak." ungkap.Difan dengan wajah berseri yang di angguk oleh yang lain.
"Baik,.persiapkan rencana kita dengan matang ya." titah Silwi, puas.
"Baik, mbak."
"Bagus, ayo..kita bubar!"
Mereka pun bubar.dengan wajah kepuasan tak terasa saling menabrak pun terjadi dan sudah terjadi.
"Ih...apaan.sih..nabrak-nabrak?" sungut Relond
"Siapa yang nabrak, Coba!" balas Reno tak kalah sengit.
Di.Cafe Pelangi..
"Wanita itu, siapa ya?" tanya Ila dalam hati yang masih tenggelam akan rasa.penasaran nya.
Bersambung...