NovelToon NovelToon
My Sweet Love

My Sweet Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Romansa-Tata susila / Tamat
Popularitas:15.1M
Nilai: 5
Nama Author: fitTri

Membaca novel ini bisa menyebabkan baper akut, kesel, geregetan, emosi tingkat tinggi, juga sedih karena mengandung banyak bawang yang juga bikin nyesek. Yang lemah hati lebih baik menyingkir. Takutnya nggak akan kuat. Tapi semua akan edan pada waktunya, eh salah, maksudnya akan manis pada waktunya. Jadi, bijaklah dalam memilih bacaan.

Ini adalah season kedua dari novel 'SUGAR'. Kini cerita beralih pada keturunan mereka, Dygta Hanindiita.

Dygta berusaha keras meredam perasaannya kepada Arfan, asisten dari ayah, sambungnya, sekaligus sahabat ibunya.

Usia mereka yang terpaut cukup jauh membuat segalanya terasa semakin sulit. Terlebih lagi, status Arfan yang sudah beristri dan memiliki satu anak balita.

Namun tugas Arfan yang diberi tanggung jawab penuh oleh Satria untuk menjaga Dygta hingga gadis itu beranjak dewasa, membuat mereka berdua semakin dekat.
Keadaan istrinya yang koma pun menambah segalanya menjadi semakin rumit.

"Jangan gila Arfan! dia sudah seperti anakmu sendiri!"

follow author di
ig @tiyanapratama
fb FitTri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengantar Dygta

*

*

*

*

Arfan melangkahkan kakinya menuju kamar Mytha setelah sebelumnya memeriksa Amara yang masih terlelap di kamarnya pada subuh itu.

Dia berdiri sebentar di depan pintu, lalu mengulurkan tangannya untuk membuka benda tersebut.

Klek!

Pintu terbuka. Terlihat permpuan itu yang masih terlena dalam tidur panjangnga.

"Hai, sayang ... maaf semalam kami pulang larut. Kamu tahu sendiri, kemarin aku menemani Fia ke mall. Aku sudah bilang sebelumnya, bukan?" Arfan membenahi selimut yang menutupi tubuh istrinya. Lalu menyentuh wajah Mytha dengan punggung tangannya.

"Kamu tahu, semakin hari anak-anak itu semakin besar, dan semakin merepotkan saja. Apa mungkin karena mereka anak laki-laki?" Arfan terkekeh, lalu duduk ditepi ranjang.

"Tapi Ara tidak seperti itu. Dia selalu tenang seperti biasanya. Kamu tahu, anak kita sangat manis." sambung Arfan, menatap wajah pucat Mytha dalam keremangan.

"Sayang, cepatlah bangun. Apa kamu tidak ingin melihat anak kita tumbuh dewasa? bayangkan dia akan tumbuh remaja tanpa mamanya. Melewati masa puber tanpa kamu?Bagaimana jika dia bertanya sesuatu tentang urusan perempuan yang tidak aku mengerti? Bagaimana jika dia bertanya tentang hal pribadi? Apa yang harus aku lakukan?" Arfan mulai meracau.

"Apa kamu tega membiarkan aku membesarkan Ara sendirian selamanya? Aku takut, ... akan terjadi sesuatu kepadaku." ucapnya lagi.

*

*

Dygta menuruni tangga saat semuanya sudah siap di teras. Tas berisi pakaian, makanan, dan tenda. Juga hal lainnya yang mungkin akan dia butuhkan di hutan lindung tempatnya berkemah bersama teman-temannya selama tiga hari nanti.

"Ck! banyak amat?" gumamnya, saat dia melihat beberapa tas yang teronggok di lantai. "Ini sih bukan mau camping, tapi pindahan." gerutunya kemudian, mengingat perdebatan dengan ibunya sejak subuh yang menyiapkan segala hal untuk dia bawa.

"Sudah siap?" Arfan yang muncul entah darimana.

Dygta hampir saja terjatuh dari tangga karena terkejut. Kemunculan pria itu yang secara tiba-tiba membuatnya lengah.

"Kamu berlebihan!" Arfan berdiri dibawa tangga dengan kedua tangan yang dia masukkan kedalam saku celana.

Pria itu mengenakan jogger pants dan hoodie berwarna abu-abu, dan sepatu sport yang membuat penampilannya tampak berbeda dari biasanya.

Mmmm, ... tampan?

Dygta mengerjap dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Om bikin aku kaget, tahu?" keluh gadis itu.

Lalu ruangan itu tiba-tiba saja menjadi hening. Keduanya saling pandang dalam diam. Dygta selalu merasakan dadanya seolah akan meledak ketika Arfan menatapnya seperti itu. Paru-parunya bahkan seolah kekurangan banyak oksigen untuk di hirup.

"Mmm, ... aku kirain pak Sam yang antar kalau pagi-pagi begini?" suara Dygta memecah keheningan.

Arfan menghirup udara sebanyak mungkin untuk melegakan napasnya. Perasaannya kini ada yang berbeda setelah semalam mengobrak abrik isi dari beberapa aplikasi di ponsel gadis itu yang sudah terhubung dengan ponsel miliknya. Aekarang dia memandang Dygta dari sisi yang berbeda.

"Ya, ... papimu tidak mengijinkan orang lain yang mengantar, tahu?" jawab Arfan, mencoba bersikap biasa. "Bahkan tadinya dia ingin menyuruh seseorang untuk mendampingi kamu di perkemahan sana."

"Apa? nggak mungkin. Ngga boleh!" tolak Dygta, dia hampir saja berteriak.

Arfan terkekeh, "Tentu saja tidak."

"Beneran? asli om, rasanya akan sangat aneh." rengek Dygta.

"Asal kamu berjanji untuk tidak melakukan hal konyol dan ceroboh selama berada disana, maka semuanya akan sesuai dengan keinginan kamu." ucap Arfan.

"Iya, iya. Aku janji. Nggak akan macem-macem. " Dygta menganggukkan kepala.

"Baiklah, kalau begitu cepat kita berangkat. Mungkin teman-teman kamu sudah menunggu." pria itu berjalan mendahui Dygta menuju mobilnya. Setelah sebelumnya seorang asisten rumah tangga memasukkan beberapa tas milik Dygta kedalam sana.

***

Perjalanan ini terasa canggung. Mereka berdua tak mengucapkan sepatah kata pun. Dygta dengan kegugupannya, dan Arfan dengan kegelisahannya. Apalagi setelah mengetahui sebagia besar rahasia yang disimpan gadis itu di dalam ponselnya. Dia masih tak yakin, namum juga terus menerka-nerka. Apakah yang ada dalam pikirkannya ini benar atau salah. Namun mereka berdua tetap berusaha terlihat tenang dan biasa saja.

"Kamu...

"Om, ...

Mereka bicara bersamaan, dan malah membuat suasana ini tambah canggung saja.

Mereka berdeham untuk melegakan tenggorokan. Dygta memalingkan perhatiannya keluar mobil, mencoba menepis apa yang ada dalam pikirannya berapa minggu terakhir ini.

Sementara Arfan mencoba untuk fokus mengendalikan laju kendaraan beroda empat miliknya agar tetap berada di jalurnya. Seperti pikirannya yang mulai memikirkan hal-hal lain diluar pekerjaan.

Pria itu sesekali melirik lewat kaca spion ke arah belakang dimana Dygta selalu duduk sudah beberapa hari ini. Menatap gadis muda yang baru beranjak dewasa, yang sudah dia jaga selama hampir sembilan tahun belakangan.

Ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Desiran halus itu terasa menggelitik hatinya lagi setelah beberapa lama menghilang.

Jangan gila, Arfan!

Pria itu menarik napas pelan namun dalam. Sesuatu di dalam dadanya terasa berdenyut ngilu.

Tidak mungkin seperti itu, bukan? Dia bahkan sudah seperti anakmu sendiri, terlebih lagi, ... kamu tidak sendirian.

***

Mobil memasuki gerbang sekolah yang masih lengang. Tampak beberapa orang anak seumuran dengan Dygta sudah berada disana sejak pagi.

"Dygta!" panggilan dari arah bus yang terparkir merebut perhatian gadis itu yang baru saja turun dari dalam mobil.

Dygta menoleh, tampak Evan dan Vivian yang melambaikan tangannya dari dekat bus. Gadis itu membalas dengan lambaian tangan pula.

Arfan melirik, dan pandangannya tertuju pada satu orang. Anak muda itu yang semalam beberapa kali mengirim chat ke nomor Dygta.

Gadis itu bersiap pergi setelah mengeluarkan dua tas besar dan satu tas kecil miliknya.

"Semuanya sudah?" Arfan menahannya sebelum pergi.

"Udah." Dygta menoleh.

"Bahan makanan?"

"Udah."

"Tenda?"

"Udah."

"Baju?"

"Udah om, ..."

Arfan mengangguk-anggukkan kepalanya.

"P3k, dan yang lainnya?" Arfan meneruskan ketika gadis itu hampir meninggalkannya.

Dygta merengut, lalu memeriksa tas kecil yang menggantung di ransel tenda nya.

"Ada, balsem, verban, minyak angin, pembalut juga udah." jawab Dygta.

Arfan memicingkan matanya sedikit.

"Baiklah, baiklah." katanya, sedikit tertawa.

"Om lebih cerewet dari mama!" Dygta menggerutu.

Arfan hanya mengulum senyum.

"Mau aku bantu?" Evan dan Vivian datang menghampiri ketika melihat teman sekelas mereka itu kerepotan dengan barang bawaannya.

"Kamu mau camping atau pindahan sih?" Vivian mengejek.

"Diamlah, kalau nggak dibawa bisa terjadi perang dingin dirumah." sergah Dygta.

"Nggak apa-apa. Sini, aku bantu." ucap Evan yang hendak meraih tas di dekat kaki Dygta, namun urung dia lakukan karena beberapa detik sebelumnya ternyata Arfan telah mendahuluinya.

"Ayo, om antar sampai ke bis!" ucap Arfan secara tiba-tiba. Dia mendahului tiga remaja yang tertegun keheranan.

"Dia itu ayah kamu ya?" Vivian sambil tertawa.

"Ng...

"Kelakuannya kayak ayah yang bakal ditinggal anaknya pergi." sambung gadis bersurai hitam itu.

Dygta hanya menggendikkan bahu, seraya mengikuti langkah Arfan ke arah bis yang sudah siap berangkat.

Pria itu memeriksa kursi, bagasi atas, bawah kursi, dan beberapa hal yang berada di dalam bis tersebut. Bertindak seperti petugas keamanan yang memastikan segalanya aman bagi Dygta. Membuat gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal disela bisik-bisik dan ejekan dari beberapa tema satu bisnya.

"Aman." Arfan menepukkan kedua tangannya setelah yakin tak ada yang aneh pada tempat duduk. Lalu mempersilahkan gadis itu untuk segera menempatinya. Kemudian pria itu memasukkan tas bawaan Dygta ke bagasi atas, merapikannya sedemikiam rupa.

"Om lebay deh!" Dygta bersungut-sungut.

Arfan tak melirik.

"Pastikan hape kamu tetap aktif, dan segera merespon jika salah satu dari kami mengirim pesan atau menelfon." ucapnya sebelum turun.

"Aku camping, om. Bukannya pergi perang."

Arfan terkekeh. "Ini pertama kalinya kamu pergi tanpa pengawasan, tahu?" pria itu berujar.

"Iya, iya. Tahu." Dygta mendelik, meredam debaran jantungnya yang semakin menggila ketika mendengar tawa renyah pria itu yang terdengar menyenangkan di telinganya.

"Pastikan powerbank nya aman agar ponsel kamu juga tetap terisi baterai."

"Iya om, cerewet!" jawab Dygta, yang mulai merasa sebal.

"Baiklah, ingat untuk tidak melakukan sesuatu yag berbahaya. Atau pergi ke tempat asing sendirian."

"Astaga!"

"Baiklah, baiklah... " Arfan kembali terkekeh, lalu memutuskan untuk segera pergi dari hadapan gadis itu sebelum kekesalan benar-benar menguasainya.

***

"Siapa yang sudah sampai? pastikan semuanya aman." ucap Arfan dalam sebuah panggilan telefon dengan salah satu bawahannya begitu bis yang di tumpangi Dygta pergi meninggalkan area sekolah.

*

*

*

*

Bersambung ...

hehe, ada yang khawatir atau kepo ya? atau malah ingin ikut? entah lah... let see.

1
Borahe 🍉🧡
wahh sang Panglima kembali. 😍😘😘
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Borahe 🍉🧡
pasti di peeusahaan lg heboh dan semua pemehamh saham panik mau narik sahamnya kembali
Borahe 🍉🧡
😂😂😂Bayinya membencimu Lex seperti Papahnya😂
Borahe 🍉🧡
gas terus 🙊🙈🙈mentang" pengantin baru🤣😋
Borahe 🍉🧡
Bener banget
Borahe 🍉🧡
Kasian banget om Arfan/Sob/. Kek pelampiasan aja
Borahe 🍉🧡
Sebenaenya Mita masih dendam/marah sm Dygta namun dipendam krn dia anak Satria
Borahe 🍉🧡
Labil🙄
Borahe 🍉🧡
Si Om yg korban banyak. udah cere sm bininya jauh dari anaknya. dan skrg hanya dijadiin tempat Persinggahan sementara oleh Dygta labil
Borahe 🍉🧡
sebenarnya kasian banget posisi Arfan. seolah dijadikan pelampiasan aja sm Dygta yg labil
Borahe 🍉🧡
Om Arfan act of Srvice banget. Gimana Dygta gak baper coba🙄
Borahe 🍉🧡
di sini lah kelabilan Dygta dimulai🙈
Borahe 🍉🧡
Iya Dygta agak berlebihan menurut aku. bikin org smua susah. Dan Arfan jg harusnya lebih bisa nahan perasaannya krn udah dewasa🙄
Borahe 🍉🧡
aku agak kasian posisi Arfan di sini. kek berusaha utk dijauhkan dri smua yg berhubungan dgn Satria dan keluarga nya.
Borahe 🍉🧡
Peluk jauh utk Om Arfan. /Sob/
Borahe 🍉🧡
Definisi dicintai dari ujung kaki sampai ujung rambut😂. Sipapi
Borahe 🍉🧡
Hahah lucu🤣🤣🤣.Anntara penasaran dan dosa 😂😂😂
Borahe 🍉🧡
terkabul keinginan si papi nambah anak 3 😂
Midha Zhazha Caem
lg kgn sm om arfan dan digtha
Retno Desy (Ning)
gol jg ya bang😁Arfan 2x dpt perawan🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!