"Zee, kalau Zee udah besar nanti. Zee nikahnya sama Kak Bian, ya?" ucap Albian pada bayi mungil yang ada di dalam pangkuan sang Ibu. Seolah mengerti maksud Bian. Zeeviana kecil pun tersenyum, sambil menggerakkan tangganya. Mencoba untuk menyentuh wajah tampan Albian yang menatap ke arahnya.
"Janji, ya?" Bian memberikan jari kelingkingnya, dan Zeeviana menggenggamnya, dengan genggaman yang begitu erat.
× × ×
"Aku tidak menyangka, kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya!"
- Zeeviana.
"Aku akan melakukan apapun yang membuatnya bahagia. Tidak akan memaksa jika dia tidak ingin menepati janjinya!"
- Albian Wijaya Saputra.
× × ×
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ucapan Terimakasih?
...💙Episode - 21 💙...
Sore harinya. Zeeviana yang tengah bersiap-siap untuk pulang dikagetkan oleh dering Hpnya yang ia letakkan di atas meja setrika.
Zeeviana mendekati meja lalu menatap layar Hpnya. Ada panggilan masuk dari nomer baru di sana.
"Siapa, ya?" Gadis itu sudah menggenggam Hpnya. Namun masih belum mengangkat panggilan dari nomer baru itu.
Panggilan kedua masuk. Kini Zeeviana langsung mengangkatnya. Karena Zeeviana berpikir itu adalah panggilan penting.
"Hallo?"
"Bisa bicara dengan Nona Zeeviana?" jawab sang pemanggil.
"Saya? Maaf, ada perlu apa, ya?" Zeeviana mengerutkan dahinya curiga.
"Perkenalan, saya Albian Wijaya Saputra. Saya ingin, agar Nona Zeeviana jangan pulang dulu sebelum saya pulang. Bisakah Nona Zee melakukan itu?"
"Tuan Bian? Maaf, saya tidak mengenali suara Anda, Tuan. Maafkan saya." Zeeviana mengigit bibir bawahnya. Bagaimana bisa dia tidak mengenali suara majikannya sendiri.
"Bagaimana? Apakah kamu bisa menunggu sampai aku pulang dulu?" tanya Bian memastikan.
"Tentu saja, Tuan. Saya akan menunggu sampai Anda pulang!"
"Baiklah. Aku tutup telponnya dulu!"
"Baik, Tuan."
Sambungan telpon pun terputus.
Zeeviana menarik kursi untuk duduk. Ia menatap layar Hpnya yang menampilkan log panggilan. Gadis itu tersenyum saat melihat angka-angka indah dari nomer Bian.
"Tidak salahkan jika aku menyimpan nomornya?" Tanya Zeeviana pada dirinya sendiri.
Gadis itu menyimpan nomer Bian dengan nama, 'Tuan Albian.' Tanpa mengunakan emot apapun.
15 menit kemudian....
Mobil Bian pun sudah terparkir di halaman depan. Bian keluar dari mobil dengan tangann yang membawa dua bingkisan. Semantara tangan Morgan membawa tiga bingkisan lainnya.
Bian langsung melangkahkan kakinya menuju ruang setrika untuk menghampiri Zeeviana yang sudah mau menunggu kepulangannya. Namun Bian tidak menemukan siapapun di dalam ruangan itu.
Bian pun berderap mendekati dapur, benar saja, Zeeviana sedang membantu Bi Erna menyiapkan dua gelas jus segar di sana. Sedangkan Morgan berdiri tidak jauh dari meja makan.
"Zee?" Panggil Bian, membuat Zeeviana menoleh. Sementara Bi Erna pura-pura jadi baru bernapas saja.
"Ikut denganku!" ucap Bian.
Zeeviana melirik Bi Erna yang masih menjadi batu bernapas. "Baik, Tuan."
Gadis itu mengikuti langkah Bian. "Ini, yang ini untukmu. Dan yang ini untuk Ibumu," ucap Bian sembari memberikan dua bingkisan di tangannya pada Zeeviana.
Gadis itu menatap bingung ke arah Bian.
"Semua orang dapat, untuk Bi Erna dan juga yang lainnya ada di atas meja makan," ucap Bian.
"Tapi, Tu...," Zeeviana menghentikan ucapannya saat telunjuk Bian menyentuh bibirnya. Mata Bian menatap wajah merah malu Zeeviana. Begitu pula dengan netra Zeeviana yang menatap wajah tampan Bian dengan binar aneh itu lagi di netralnya!
"Kita teman sekarang. Jadi, jangan panggil aku Tuan lagi. Ini sudah jam lima lebih." Bian menurunkan telunjuknya dari bibir mungil dan merah Zeeviana. Membuat Zeeviana tersadar dari lamunannya.
"Tapi, kenapa Kak Bian memberikan ini untuk Ibuku juga?" tanya Zeeviana.
"Tidak boleh ya? Aku kan hanya ingin berterimakasih saja!" Jawab Bian dengan nada yang dibuat-buat kecewa.
"Eh, bukan begitu, Kak! Memang Kak Bian mau berterimakasih untuk apa?" Dahi Zeeviana semakin berkerut tak paham dengan maksud Bian.
Bian memajukan wajahnya, lalu berbisik dengan lembut di depan telinga Zeeviana.
"Terimakasih karena sudah melahirkan putri secantik dan sebaik dirimu."
'Jantungku! Tolong! Tolong kondisikan dirimu. Tenang..., Tenang..., Jangan sampai berdebar!!!' Batin Zeeviana memberi instruksi pada jantungnya. Namun sang jantung mengabaikan intruksi itu, dia malah berdebar sesuai dengan suasana hati tubuh Zeeviana.
'Sial!'
Zeeviana menggeser tubuhnya, memberi jarak aman dengan tubuh Bian. "Kak Bian sedang bercanda kan?"
"Tentu saja, aku hanya bercanda!" Bian memalingkan wajahnya saat itu juga. Tidak sanggup mengatakan kalau dirinya sebenarnya sedang serius dan bukan sedang bercanda sekarang! Namun demi Zeeviana, apapun dilakukannya!
Terdengar Zeeviana menghembuskan napas lega.
"Berikan saja pada Ibu, anggap saja itu sebagai salam kenal dariku. Dan anggap saja, itu sebagai perayaan hari kedua pertemanan kita!" ucap Bian sambil menatap jemari Zeeviana. Ada ide lagi yang muncul di kepalanya. Tapi ide itu untuk besok saja!
"Baiklah, Kak. Terimakasih atas bingkisannya."
Mengalah dan patuh saja lebih baik menurut Zeeviana.
"Kembali kasih, Zee. Kamu bisa pulang sekarang."
"Sekali lagi, terimakasih, Kak. Saya pamit pulang!" Gadis itu masuk ke ruang setrika terlebih dahulu. Ia mengambil tasnya lalu kembali pamit pada Bian dan juga Morgan.
Bian dan Morgan hanya bisa terdiam menatap kepergian Zeeviana. Keduanya tidak bisa memaksa Zeeviana untuk diantar pulang. Karena itu pasti akan membuat rasa tidak nyaman timbul di hati Zeeviana nantinya. Bian ataupun Morgan tidak ingin itu sampai terjadi, dan menjadi awal dari kegagalan rencana mereka nanti!
...****...
"Cinta!" Panggil Teng pada Zeeviana yang baru saja keluar dari area perumahan Sakura Dua. Teng sudah menunggu Zeeviana di pinggir kanan jalan. Entah apa yang ingin dia lakukan sekarang.
Zeeviana yang merasa dipanggil pun menoleh ke arah sumber suara. Mata Zeeviana terbuka lebar saat melihat Teng di sana. Teng melambaikan tangannya pada Zeeviana.
Dengan langkah malas, Zeeviana pun menghampirinya lalu bertanya. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Tentu saja mengunggumu, Cinta. Memang apalagi yang akan kulakukan di sini!" ucap Teng tersenyum.
"Ayo pulang!" Lanjut pria itu sambil memberikan helm pada Zeeviana.
'Dia pasti sudah lama menunggu di sini! Jika aku tidak pulang bersamanya, dia pasti akan sangat kecewa,' Batin Zeeviana sambil menatap helm yang Teng pegang.
"Baiklah, aku pulang bersamamu!" Zeeviana meraih helm itu dan memakainya. Teng tersenyum bahagia, karena setidaknya, Zeeviana menghargai usahanya.
"Berpeganganlah, Cinta!" ucap Teng. Namun tidak dibalas apapun oleh Zeeviana.
'Maafkan aku, Teng. Aku benar-benar tidak memiliki rasa apapun di hatiku untukmu. Jantungku bahkan tidak berdebar saat berdekatan denganmu. Sekali lagi, maafkan aku.' Batin Zeeviana.
Tidak terasa, motor Teng pun berhenti tepat di depan pagar rumah Zeeviana. Teng menatap Zeeviana yang sedang melamun lewat kaca spion.
"Sudah sampai, Zee," ucap Teng membuat Zeeviana tersadar dari lamunannya.
"Terimakasih, ya." Gadis itu turun lalu membuka helm. Saat Zeeviana mengembalikan helm itu pada Teng. Tangan Teng malah menggenggam erat tangan Zeeviana, dengan netra yang menatap fokus wajah gadis itu.
"Zee, maukah kamu menemaniku keluar malam ini?" tanya Teng dengan tatapan penuh harap pada Zeeviana. Sungguh, tatapan itu berhasil menyentuh rasa peduli di hati Zeeviana. Gadis itu tidak ingin Teng sampai kecewa!
"Nanti kuusahakan!" Jawab Zeeviana kemudian menarik paksa tangannya dari genggaman Teng. Gadis itu melangkah meninggalkan Teng begitu saja.
"Aku akan menjemputmu nanti malam, Cinta!" Teriak Teng dan dengar jelas oleh Zeeviana. Mungkin bukan hanya Zeeviana saja, tetapi juga Ayunda di dalam sana.
...****...
jdi om Mateng inikah yg akan jdi pendamping omom.
tapi benar jangan tatap matanya takutnya kena hipnotis ...