Cerita ini berawal dari seorang gadis cantik bernama Tari yang sedang melakukan KKN disebuah desa terpencil dipinggir laut. Ia bertemu dengan seorang pemuda yang sedang terjebak di desa itu karena mengalami amnesia.
Mereka pun akhirnya menjalin sebuah hubungan karena merasa saling menyukai, bahkan hubungan mereka sudah melampaui batas sampai Tari bisa hamil anak dari pemuda itu.
Tapi saat pemuda itu ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya, ia ditemukan oleh keluarganya yang ternyata adalah pemilik kerajaan bisnis di kota J.
Dan lebih mengejutkan lagi ternyata ia sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah, ia terpaksa meminta kakaknya yang sekaligus pewaris utama perusahaan keluarganya untuk menikahi Tari yang saat ini mengandung anaknya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya??? ikuti terus yah novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enni Chaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengantar Tari
Dug... dug... dug...
"Apa anda dengar itu tuan muda? Itu bunyi jantung calon bayi anda. Dia sangat sehat," ucap dokter Risma, dokter Kandungan Tari.
Zafran hanya diam saja tidak membalas ucapan dokter Risma, ia hanya tersenyum sangat tipis menanggapinya. Hatinya saat ini sedang bergemuruh. Ia tidak tahu apa harus bahagia atau malah sebaliknya karena anak yang dikandung Tari sekarang bukanlah dari benihnya.
Kalau suami-suami lain akan berdiri disamping istrinya melihat pergerakan calon bayinya pada layar USG, lain halnya dengan Zafran yang hanya duduk saja pada kursi yang disiapkan untuk pasien dan pengantarnya.
Tari dan bayinya sehat saja ia sudah sangat bersyukur karena itu berarti ia tidak akan terlalu direpotkan.
"Selebihnya tidak ada masalah, janinnya sudah berusia 8 minggu lebih." Dokter Risma meletakkan alat trasduser yang tadi dipakainya untuk pemindaian.
Ia lalu kembali kemejanya, diikuti oleh Tari yang sudah merapikan kembali pakaiannya.
"Beri obat terbaik untuk ibu dan calon bayinya, dok." Kata Zafran.
Dokter Risma sebenarnya agak heran dengan sikap Zafran tapi ia tidak mau terlalu banyak bertanya karena semua orang juga sudah tau bagaimana watak tuan muda satu ini.
"Tentu tuan muda. Tapi karena Nyonya Faresta tidak memiliki banyak keluhan, Saya hanya akan memberinya beberapa vitamin dan obat anti mual," balas dokter Risma.
"Perutku biasa terasa kram kalau malam dok," ucap Tari.
"Itu biasa terjadi pada awal kehamilan dan itu bukan masalah besar tapi kalau Nyonya merasa khawatir karena ini kehamilan pertama, maka saya juga akan meresepkan obat penguat kandungan."
"Makasih dok."
"Oya satu lagi, saya sarankan untuk kehamilan trimester awal ini, tuan muda dan Nyonya jangan dulu terlalu sering melakukan hubungan suami istri. Sebenarnya tidak masalah asal dilakukan dengan hati-hati tapi untuk lebih amannya tuan muda berpuasa dulu yah."
Kata-kata dokter Risma seketika membuat darah Zafran berdesir. Bagaimanapun ia adalah seorang pria normal yang punya hasrat apalagi tidur dalam kamar yang sama dengan wanita yang sudah halal baginya. Bukan tidak pernah ia bersitegang dengan hatinya tapi untungnya sampai hari ini ia masih bisa mengendalikan dirinya. Ia tidak mau menyentuh Tari sampai mereka bisa benar-benar saling menerima.
Sedangkan Tari hanya menunduk mendengar ucapan dokter itu. Ia sadar selama mereka sudah menikah belum pernah sekalipun melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Mereka benar-benar menikah hanya sebatas status diatas kertas.
"Iya dok."
Tidak ingin membuat dokter Risma lebih curiga lagi, Tari akhirnya menjawab dengan suara pelan.
"Terima kasih dok, kami pamit dulu."
Tari berdiri dari duduknya sambil menyalami dokter Risma, Zafran melakukan hal yang sama tapi ia tidak mengucapkan apa-apa. Ia kemudian berlalu keluar sambil memasukkan kedua tangan dikantong celananya, disusul oleh Tari yang berjalan disampingnya. Semua mata melihat kearah keduanya saat melewati jalan keluar menuju tempat ia memarkir mobilnya.
Jangankan saling bergandengan tangan, untuk sekedar berpegangan tangan pun tidak mereka lakukan. Tari menarik nafas berat tapi pelan disamping Zafran yang tetap melihat kedepan seolah tidak peduli dengan semua mata-mata yang menyorot kearahnya.
"Arya, atur ulang pertemuanku dengan investor dari korea siang ini. Aku sedang ada urusan penting sekarang."
Zafran menghubungi asistennya lewat telfon saat mereka sudah berada didalam mobil. Tari menoleh sekilas kearah Zafran mendengar Zafran membatalkan meeting hanya karena akan mengantarnya berbelanja mencari kebutuhan untuk kehamilannya.
"Kalau mas ada meeting, aku bisa pergi sendiri kog naik taxi online." Ucap Tari setelah Zafran menutup panggilan telfonnya pada Arya.
Zafran lagi-lagi diam saja, tidak menjawab ucapan Tari tapi ia juga tidak memberhentikan mobilnya.
"Ya Tuhan, terbuat dari apa laki-laki ini. Kenapa ia begitu dingin," batin Tari.
Tidak ada suara-suara lagi yang terdengar sampai akhirnya mobil Zafran memasuki sebuah pusat perbelanjaan terbesar di pusat kota J. Pusat perbelanjaan tersebut adalah milik keluarga Faresta tapi Tari tidak mengetahui tentang itu.
Sebelum Zafran kesana ia sudah menyuruh Arya untuk menghubungi manajer Mall tersebut supaya menutup sementara pusat perbelanjaan untuk umum karena pemiliknya akan datang berkunjung. Zafran paling tidak suka berada ditengah-tengah keramaian.
Melangkah masuk kedalam Mall, Tari merasa heran karena sangat sepi pengunjung. Hanya ada para pegawai ditiap stand yang berdiri menyapanya dengan ramah bersama Zafran saat melewati stand-stand mereka. Tapi ada juga beberapa pegawai wanita yang melihat kearah Tari dengan pandangan tidak suka, tentu saja itu tidak berlaku untuk Zafran karena semua wanita-wanita itu terlihat seperti para penjilat.
"Selamat datang tuan muda, senang sekali anda bisa berkunjung kemari." Sapa seorang pria paruh baya yang merupakan manager Mall tersebut.
Zafran hanya tersenyum tipis membalas sapaan sang manager.
"Belanjalah semua kebutuhanmu disini, aku akan menunggu dicafe sana," ucap Zafran pada Tari yang sejak tadi terheran-heran melihat suasana Mall dan perlakuan semua pegawai Mall padanya dan Zafran.
"Mari Nyonya, pegawai saya akan mengantar nyonya mencari semua yang nyonya butuhkan." Kata pria paruh baya tadi sambil menjentikkan kedua tangannya dan datanglah dua orang pegawai wanita tersenyum ramah kearah Tari.
"Mari Nyonya." Ucap keduanya bersamaan.
Tari masih bingung dengan semua perlakuan mereka. Ia menoleh kearah Zafran meminta persetujuan. Zafran mengangguk tanda mengiyakan pada Tari untuk mengikuti kedua pegawai itu. Tari pun akhirnya berjalan didepan kedua pegawai yang sudah seperti pemandu itu baginya.
Ia masuk ke beberapa stand pakaian dan sepatu untuk mencari pakaian yang bisa ia pakai selama hamil dan juga beberapa sepatu Flat. Setelah ia mendapatkan semua barang yang dicarinya, ia kembali berjalan menuju hypermarket Mall tersebut.
Sesampainya disana Tari menyusuri susunan rak-rak barang dan memasukkan semua belanjaan yang dibutuhkannya pada troli yang didorong oleh pegawai tadi. Ia berbelanja banyak buah dan cemilan untuk persiapan menyambut kedatangan kedua sahabatnya. Merasa semua belanjaannya sudah cukup dan tidak ada lagi yang dicarinya, ia pun keluar menuju tempat Zafran berada. Ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar semua belanjaannya dikasir karena semua itu ia dapatkan secara gratis.
"Sudah selesai?" Tanya Zafran setelah Tari berada didekatnnya.
"Iya mas," jawab Tari.
"Kalau begitu kita pulang sekarang, kita kekantor dulu. Pak Udin akan menjemputmu disana."
"Baik mas."
"Terima kasih atas bantuannya pak," ucap Tari pada manager tersebut sambil sedikit membungkukkan badan dan tersenyum kearah kedua pegawai tadi menemaninya.
"Jangan sungkan Nyonya muda, kami mendapat gaji dari suami anda." Manager itu ikut membungkukkan badannya kearah Tari.
Zafran seperti biasa tidak menanggapi pembicaraan yang terdengar didekatnya.
"Aku permisi dulu, maaf sudah mengganggu waktu kalian." Setelah berkata begitu Zafran kemudian melangkah pergi dikuti oleh Tari disampingnya dan dua orang satpam dibelakangnya yang membawa semua belanjaan Tari.
❤️ Hi kesayangan mommy happy reading semua. Maafkeun mommy yang halunya ketinggian yah. Kalau ada salah-salah kata tolong dimaklumi🙏🤗
💚 Aku tidak tahu bagaimana hatiku menafsirkan caramu memperlakukanku. Yang aku tahu meskipun itu terlihat dingin tapi hatiku terasa hangat menerimanya...# Tari💚