Spin Off dari novel Pernikahan Paksa Sang Pewaris. Visual berada di part 14.
Angel dihantui oleh rasa penasaran saat menerima surat dan paket dari seseorang yang misterius. Namun dia tak bisa menemukan petunjuk apapun tentang orang tersebut. Dan akhirnya mau tidak mau Angel mengabaikannya saja.
Hingga suatu malam dia ditolong oleh seorang pria yang dia yakini adalah sosok misterius itu. Benarkah itu adalah pria yang selama ini Angel sebut sebagai peneror dirinya?
Temukan semua jawaban atas pertanyaan dalam benak kalian di sini.
Diusahakan update setiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desi Manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 21 - Dunia Kerja
Setiap hal yang kau kerjakan memiliki konsekuensi, karena itulah kau harus berhati-hati saat memutuskan.
🌷Happy Reading🌷
Angel dan Nancy tiba di restoran yang telah disepakati sebagai tempat untuk bertemu lima menit lebih awal. Nancy memang sudah memesan sebuah meja melalui telpon untuk mengantisipasi kalau restoran sedang ramai. Jadi saat mereka datang, mereka langsung saja mencari nomor meja yang telah disebutkan oleh pegawai restoran sebelumnya.
"Kau..." tunjuk Angel pada seorang pria yang duduk tenang dengan kedua kakinya dilipat menyilang.
"Ya, ini aku Nona Angel. Kenapa kau tampak terkejut begitu? Bukankah memang kau yang mengajak untuk bertemu?" Kevin tersenyum kecil. Raut keterkejutan di wajah Angel membuatnya sedikit terhibur.
Angel mengerjapkan matanya sebanyak dua kali. Memasang wajah datarnya kembali.. "Tidak. Hanya saja kupikir kami yang akan tiba duluan karena datang sedikit lebih cepat dari waktu yang ditentukan." Angel menarik salah satu kursi lalu mendaratkan tubuhnya di sana.
"Aku datang setengah jam lebih awal karena sudah tidak sabar untuk melihat wajah cantikmu lagi, Nona." Kevin lagi-lagi melemparkan godaan pada Angel yang sayangnya tidak membuat Angel merasa tersentuh sedikit pun.
"Duduklah. Untuk apa kau berdiri terus di situ?" tanya Angel sambil melirik Nancy.
Nancy mengangguk. Wanita itu menarik kursi yang tepat berada di sebelah kursi Angel lalu duduk di sana.
"Ahh. Kau membawa teman ternyata. Silahkan duduk Nona. Buatlah dirimu merasa nyaman." Kevin sok ramah pada Nancy. Dia menjulurkan tangan untuk berkenalan.
"Tidakkah matamu melihat kalau dia memang sudah duduk, Tuan?" tanya Angel sinis.
Nancy meyambut uluran tangan Kevin. "Nancy." Dia sebutkan namanya singkat. Bahkan hanya dari pertemuan pertama saja, Nancy dapat melihat bahwa pria ini adalah sosok cassanova yang suka bermain dengan para wanita. Jadi walaupun wajahnya terbilang tampan dan tubuhnya terbilang gagah, Nancy langsung membatasi diri agar tak terselip rasa kagum dalam hatinya.
"Kevin Smith." Jalinan tangan Kevin dan Nancy usai setelah Kevin menarik kembali tangannya.
"Kau bisa memanggilnya Kevin, Vin, Kev atau baby. Yang mana yang kau suka saja. Bukan begitu Tuan Kevin?" sindir Angel menggunakan kalimat Kevin saat perkenalan mereka dulu.
Kevin tergelak. "Oh no no. Itu hanya berlaku untuk dirimu saja Nona Angel," pungkas Kevin. Dia seolah ingin mematahkan pendapat Angel tentang yang satu itu. Padahal apa pun yang dia katakan, pasti Angel tidak percaya padanya.
"Terserah kau saja."
Makan siang mereka pun berlangsung cukup lama karena Kevin terus saja mencoba untuk mengajak Angel berbicara. Seperti tidak ada habisnya topik dalam benak Kevin. Angel merasa sangat terganggu saat tidak bisa menyantap makan siangnya dengan tenang.
"Bisa tidak sih kalau sedang makan jangan banyak bicara dulu? Nanti aku cuekin dibilang sombong!" protes Angel saking kesalnya. Mulutnya menggembung karena masih ada makanan yang belum dikunyah dengan sempurna dalam mulutnya. Matanya melotot kesal.
"Oopss Maaf. Baiklah, aku akan diam mulai sekarang." Kevin menunjukkan jari telunjuk dan tengah yang membentuk huruf V untuk menyatakan permintaan maafnya pada Angel.
Angel hanya melengos lalu melanjutkan kunyahan di mulutnya. Sementara itu Nancy hanya menatap Angel dan Kevin secara bergantian. Sedikit merasa lucu melihat mereka berdua. Tampak seperti sepasang lawan jenis yang dijodohkan. Yang satu sangat suka dengan perjodohan sementara yang satunya lagi menolak begitu keras.
Setelah lebih dari tiga puluh menit, barulah akhirnya santapan makan siang mereka usai. "Bisa kita bicara langsung saja? Aku masih punya banyak kerjaan di kantor." Angel menembak ke inti pembicaraan dengan ketus, berharap Kevin tidak akan basa-basi lagi padanya.
Kevin melirik sekilas pada Nancy. "Apa tidak apa-apa kalau kita membicarakan tentang kerja sama saat temanmu ada di sini?" tanya Kevin pelan.
"Maaf Nona, bukan mau mengusir dirimu, tapi pembicaraan tentang kerja sama bisnis lumayan sensitif dan juga seharusnya dilakukan secara rahasia agar tidak bocor ke pihak-pihak yang tidak seharusnya." Kevin berusaha untuk mengusir Nancy secara halus.
"Dia ini bukan sembarang teman. Dia juga adalah asisten merangkap sekretarisku. Atau singkatnya bisa dibilang kalau dia adalah orang kepercayaanku di perusahaan," jawab Angel enteng.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Ya karena aku baru merasa perlu mengatakan sekarang saat kau sudah mengusir Nancy secara halus."
"Ahh tidak apa-apa kalau tuan Kevin merasa tidak nyaman berbicara tentang bisnis dengan adanya aku di sini. Aku bisa pindah ke sofa yang berada di depan restoran."
"Tidak!" jawab Angel tegas.
Kau kan kuajak ke sini agar aku tidak perlu hanya berduaan saja dengan si playboy cap katak ini, masa sekarang mau pergi sih?
Nancy yang mendapati dirinya ditatap dengan tajam oleh Angel langsung menciut. "Baiklah, aku akan tetap di sini."
Kevin mulai menjelaskan tentang rencana kerja sama yang ingin dia tawarkan pada Angel. Bak gayung bersambut, Angel pun tampak mulai tertarik saat Kevin menawarkan untuk mengembangkan software yang kebetulan sama dengan apa yang dia rancangkan dalam otaknya selama ini.
🍀🍀🍀
Jeremy memperhatikan passport yang dia kerjakan dengan begitu teliti. Matanya membandingkan passport palsu yang masih dia kerjakan di komputer dengan passport asli milik Ben.
"Bos, kau yakin bisa mengerjakan ini sendiri? Kita bisa membayar calo untuk membuat passport palsu seperti yang klien inginkan. Kalau sampai ketahuan bahwa passport ini palsu oleh pihak bandara, maka kita tidak akan mendapatkan uang yang sudah dijanjikan."
Calo sendiri adalah agen perantara yang bisa dibayar saat kita hendak mengurus suatu administrasi dengan lebih cepat dan instan. Tentu saja mengurus sesuatu lewat calo akan lebih mahal dibandingkan jika mengurus secara langsung di kantor yang terkait.
Jeremy hanya melirik malas pada Ben. "Kalau kau sudah tidak bisa membantu, kau bisa diam saja tidak?"
Ben mencebikkan bibirnya. "Oh aku tidak membantu? Bos lupa kalau Bos meminta aku untuk membuat stempel? Kalau Bos merasa bisa mengerjakan semua sendiri, ya sudah biar aku hapus saja." Ben merajuk. Kali ini dia serius ingin menunjukkan pada sang atasan kalau dia juga bisa membantu untuk misi. Dia bukan makhluk tak berguna walau memang lebih sering merepotkan dan membuat pusing.
Sontak Jeremy langsung meraih lengan Ben. "Jangan! Berani kau menghapus, maka aku akan mematahkan tanganmu itu!" ujar Jeremy secius penuh ancaman.
Ben tidak merasa takut kali ini. Dia justru merasa bahwa bosnya tengah terdesak. "Bos mengancamku? Biar Bos tahu saja, kehilangan 25.000 dollar dari misi yang belum selesai dikerjakan bukanlah suatu kerugian besar untukku," ujar Ben seraya menyilangkan kedua tangan di dada. Dia seperti menunjukkan otoritas yang dia miliki di sini.
Jeremy mendengus. "Kalau kau sedang mencoba untuk mengancam aku balik, lebih baik kau hentikan sekarang. Atau aku tak hanya membuatmu kehilangan 25.000 dollar saja tapi kehilangan pekerjaan ini seumur hidupmu." Jeremy berkata dengan tenang. Setenang air mengalir namun malah terdengar menghanyutkan di telinga Ben.
Ben bergidik. Wajahnya berubah panik. "Bos, jangan!" pinta Ben dengan setengah memelas.
"Jadi kau masih mau bernegosiasi dengan ancaman atau bagaimana? Aku serahkan keputusan di tanganmu," ujar Jeremy enteng. Dia menikmati ekspresi yang disuguhkan oleh Ben. Dalam hati terkikik geli tentu saja.
"Ini stempelnya sudah selesai Bos. Aku jamin sangat mirip dengan aslinya. Apa Bos sudah selesai membuat nama palsu dan data palsu lainnya? Kalau sudah, aku tinggal edit bagian ini saja."
"Nah. Bagus. Keputusan yang benar Ben. Di dunia ini, belum tentu ada bosa lainnya yang bisa menghadapimu sesabar aku. Kalau begitu selesaikan stempelnya biar cepat selesai."
Ben mengangguk pasrah. "Siap Bos."
--- TBC ---
udah tah kek?
salken from me..