NovelToon NovelToon
My Baby Mafia

My Baby Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:31.9k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!

Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.

Hingga pria itu kembali.

Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.

Melainkan rencana.

Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MBM — BAB 22

ORANG YANG TIDAK DIINGINKAN

Lewat tengah malam. Lorenzo membuka mata perlahan. Aroma vanila bercampur wangi rambut Aria memenuhi ruang di antara mereka. Dia menunduk.

Wanita itu masih di sana. Menempel sejak semalam. Lengan kirinya melingkar di pinggang Lorenzo, kepala Aria bersandar nyaman di lengan atasnya. Nafasnya teratur, hangat menyapu dada telanjang Lorenzo. Sesekali hidungnya bergerak kecil, menghirup aroma tubuh pria itu dalam tidur, seperti mencari rasa aman yang tidak mau dia akui saat sadar.

Seharusnya Lorenzo bangun. Ada rapat lewat tengah malam dengan Fabio. Tapi tubuh hangat yang memeluknya ini membuat otaknya memilih diam. Terlalu lama dia tidur sendirian. Terlalu lama dia jadi dinding, jadi tameng, jadi senjata. Pagi ini, dia biarkan dirinya jadi manusia.

“Dasar wanita.” Gerutu Loren yang masih tidak bergerak. Hanya menarik napas panjang, membiarkan punggung Aria makin merapat ke dadanya.

Tangan kekarnya yang sedari tadi melingkar di pinggang ramping itu mengerat sedikit. Mengunci. Menjaga.

Lorenzo memejamkan mata lagi. Lima menit. Dia butuh lima menit lagi sebelum kembali jadi Don muda de Santis.

.

.

.

Selang beberapa jam berlalu. Tok! Tok!

Ketukan di pintu itu pelan, tapi cukup untuk menyobek sunyi.

Aria tersentak. Matanya membuka lebar. Kesadaran datang bersamaan dengan panas yang menjalar dari ujung kaki sampai wajah. Tubuhnya kaku saat sadar posisi mereka. Kepalanya di lengan Lorenzo. Pipi hampir menempel di dada telanjang pria itu. Dan lengan Lorenzo melingkar di pinggangnya, erat, posesif, tidak memberi ruang.

“Teresa..” gumam Aria sangat yakin.

Jantung Aria berpacu. Dia menoleh sedikit.

Lorenzo masih memejamkan mata, tapi Aria tahu pria seperti dia tidak pernah tidur lelap. Nafasnya terlalu teratur untuk orang yang benar-benar pulas.

Pelan-pelan, Aria mencoba menggeser tubuhnya. Menarik pinggangnya dari kurungan lengan itu. Sia-sia. Lengan Lorenzo seperti besi. Makin dia bergerak, makin erat kuncian itu. Wajah Aria memerah. Malu, panik, kesal jadi satu.

“Kenapa harus menempel padanya.” kesal Aria pada diri sendiri.

Dengan gerakan hati-hati, dia meraih mantel tipis yang tergantung di kursi dekat ranjang.

Tangannya gemetar saat mengenakan mantel itu menutupi dress semalam. Dia berdiri di sisi ranjang, membelakangi Lorenzo. Jemarinya bergerak cepat menguncir rambut panjangnya yang awut-awutan. Sekali, dua kali, rambut hitam itu terikat tinggi.

Dia harus pergi sebelum pria ini bangun dan rencana kaburnya gagal total.

Aria menarik napas, menguatkan diri, lalu berbalik. “Okay... Ini akan cepat.” katanya sangat yakin.

Dan tubuhnya membeku ketika berbalik badan serta melihat bahwa Lorenzo sudah bangun.

Pria itu bersandar di kepala ranjang, punggung telanjangnya menempel di bantal. Selimut hanya menutupi pinggang ke bawah. Mata perak itu terbuka, menatapnya lurus. Dingin. Tajam. Baru bangun tidur tapi auranya sudah memangsa.

Suara berat itu pecah, serak khas pagi hari. “Kau pergi sangat pagi sekali. ingin kabur?”

Tubuh Aria menegang. Suara itu. Nada itu. Selalu berhasil membuat lututnya lemas dan otaknya kosong bersamaan.

Dia genggam ujung mantelnya erat. “A-aku… mau ke dapur, rasanya sangat lapar di pagi hari.” Bohong. Lemah. Bahkan dia sendiri tidak percaya.

Alis Lorenzo terangkat sedikit. Sudut bibirnya tidak bergerak, tapi matanya menyipit. Dia menatap Aria dari ujung rambut yang terikat tinggi, ke mantel yang buru-buru dipakai, ke wajahnya yang merah padam.

“Kau mengenakan mantel hanya untuk ke dapur.” Kalimat itu jatuh pelan. Bukan tuduhan. Fakta.

Aria menelan ludah. Ketahuan. Tentu saja ketahuan. Pria ini iblis. Namun dia harus lebih angkuh. “Ya. Aku akan pergi ke toko ku. Dan aku harap kau setuju, jikapun tidak, aku akan tetap pergi.” kata tegas Aria.

Keheningan menggantung. Jam dinding berdetak nyaring.

Lorenzo akhirnya bergerak. Dia menyibak selimut, turun dari ranjang dengan hanya celana panjang hitam semalam. Tubuh tingginya berdiri, menutupi cahaya fajar di belakangnya. Dia melangkah mendekat. Satu. Dua.

Aria refleks mundur sampai betisnya membentur sisi ranjang. Tidak ada jalan.

Lorenzo berhenti tepat di depannya. Dekat. Terlalu dekat. Aroma yang memabukkan dan kulitnya menyergap Aria lagi. Aroma yang semalam dia hirup tanpa sadar.

Tangan Lorenzo terangkat. Aria pikir dia akan mencekik. Tapi jari-jari itu hanya menyentuh helaian rambut Aria yang lepas dari ikatan, menyelipkannya ke belakang telinga.

“Kau tidak akan pergi ke manapun. Apa aku harus memulainya?” tatapan Lorenzo benar-benar menghipnotis nya.

Aria mengangkat dagu. Menantang meski kakinya gemetar. “Kau tidak bisa mengurungku selamanya, Lorenzo.”

“Tidak selamanya.” Lorenzo menunduk, matanya sejajar dengan mata Aria. “Sampai aku yakin tidak ada yang bisa menyentuhmu. Dan sampai anak ini lahir, maka aku akan membiarkan mu pergi dari kehidupan ku setelah aku mendapatkan anak ini.”

Nama terakhir itu dia sebutkan dengan penekanan halus. Ada apa?

Sebelum Aria bisa bertanya, ketukan pintu terdengar lagi. Kali ini lebih ragu.

Tok! Tok! Tok!

Lorenzo tidak menoleh. Matanya masih mengunci Aria. “Katakan padanya, kau membatalkan rencana mu.”

Perintah. Bukan permintaan.

Aria mengepalkan tangan. Dia mau melawan. Dia mau teriak. Tapi mata perak itu, lengan kekar yang semalam melindunginya dari nyamuk, dan ingatan soal paket berdarah untuk Monica berputar di kepalanya.

Di luar sana tidak aman. Dan pria di depannya ini, sejahat apa pun, adalah satu-satunya tameng yang dia punya.

Perlahan, Aria menoleh ke arah pintu. Suaranya bergetar. “Fuck you.” umpat Aria yang kali ini benar-benar kesal hingga ia langsung ke pintu dan membukanya.

Hening dan terdengar samar suara Aria. Lalu suara langkah Teresa menjauh.

Lorenzo tersenyum. Tipis. Kemenangan. Dia mundur selangkah, memberi Aria ruang untuk bernapas lagi. “Good. Kurangi umpatanmu, aku tidak ingin sampai menutup mulutmu dengan sesuatu yang tidak kau inginkan.”

Aria benar-benar menatap marah hingga tak peduli.

Sementara Lorenzo berbalik, berjalan ke arah kamar mandi. “Mandilah. Lalu ganti pakaian mu, kita akan pergi ke toko mu.”

Pintu kamar mandi tertutup. Suara air menyala.

Aria menatap ke arah pintu kamar mandi dengan tatapan heran sekaligus bingung akan sikap Lorenzo.

Jantungnya masih berdebar. Marah karena kalah, lega karena selamat, dan bingung karena sebagian dirinya… tidak sepenuhnya benci dikurung oleh pria itu. Dn sekarang, pria itu sendiri yang akan mengajaknya ke toko.

“Katakan saja jika kau ingin ikut dasar pria menyebalkan.” kesal Aria yang kini terduduk di tepi ranjang.

Di luar, matahari sudah naik. Dan perang di rumah de Santis belum selesai. Terutama amarah Monica yang masih belum meredam soal paket kiriman semalam.

Hingga kini di ruangan Emilio. Monica, Vitorio, Matteo dan Emilio sendiri— mereka semua berkumpul kecuali Lorenzo dan Adriana yang tidak pulang sejak semalam, ya mereka sudah tahu Adriana tidak pernah betah di rumah.

“Ini keterlaluan Emilio. Jika orang itu mengirim lagi barang lain, itu sangat menjijikan.” kata Monica yang menyilangkan kedua tangannya di perutnya serta menatap marah.

“Tapi siapa yang melakukannya?” tanya Vittorio penasaran dan Matteo juga hanya menyimak mereka.

Emilio terdiam, lalu menatap balik ke keluarganya.

“Aku dan Lorenzo sudah menerima pesan dari Don Vito. Aku rasa... Dia akan segera keluar dari kurungannya.”

Dan saat itulah Monica langsung melotot menatap Emilio seolah memberi kode dan bahasa isyarat pada suaminya bahwa pria itu akan benar-benar keluar setelah sekian lama.

“Untuk sementara, kita perlu kewaspadaan. Atau tidak sama sekali.” kata Emilio.

Vitorio terdiam, Matteo menatap bingung. “Siapa Don Vito?”

“Seseorang yang tidak diinginkan keberadaannya.” kata Monica dengan kesal dan cemas.

1
Kinara Widya
semoga Loren tidak membunuh nenek dan ibu Teresa ...secara mereka yg menolong Aria...
vnablu
idihh yang ada cuma Adriana yang tidak busuk kalau luhh mahh busuk licik lagi 🤭
vnablu
haduhh Thor pusing kepala aku siapa sihh sebenarnya yang membuat Adriana itu kecelakaan 🤔
vnablu
lahh terus siapa yang bunuh Adriana apa itu rencananya Lorenzo atau ada orang lain yang ingin merebut De Santos...Aria gimana pun di luar itu berbahaya walaupun kamu udh dibohongi oleh Lorenzo tapi ingat kamu itu sedang hamil
😔😔
Kinara Widya
kenapa Aria pergi...sangat bahaya d luaran sana
🌸UmmiMasPutro🌸
masih nggak tega klo adriana metong thor
Four.: hmm mau bagaimana lagi udah nasibnya /Grimace/
total 1 replies
🌸UmmiMasPutro🌸
kapan bahagia nya Lorenzo dan aria
Four.: masih jauh sampai anaknya lahir dulu 🤭
total 1 replies
vnablu
Lorenzo semoga kamu sudah ada rencana yang matang untuk musuh-musuh mu itu biar kamu dan Aria selamat
Four.: ho,oh
total 1 replies
Tiara Bella
sabar ya Aria memang begitu adanya....
Four.: yaaa bagaimana lagi kann 😌
total 1 replies
Eci Rahmayati
kasiann sama " tersakiti oleh keadaan
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
Lorenzo sdh jujur...tp itu menyakitkan bagi Aria...persatukan mereka kak...
Four.: wokayyy semoga aja mau yakk
total 1 replies
Kinara Widya
jangan2 vitorio sendiri yg merencanakan supaya Adriana celaka
Four.: ihhh kalau benar begitu kan jahat /Grimace/
total 1 replies
Tiara Bella
kirain Monica yg mati malah Adriana....
Tiara Bella: hbsnya orngnya nyebelin,ngeselin
total 2 replies
vnablu
thorrr apakah Adriana selamat nantiii emmm sedih deh cuma dia yg waras di antara mereka semua 😔
Four.: orang baik matinya cepet 😌
total 1 replies
vnablu
Andriana kasian banget nasib kamu punya ayah yang tidak perduli sama kamu dan punya bibi yang gila minta ampun... menyesal lah kau nanti Vitorio karena anak mu itu kecelakaan yang disengaja oleh Monica 😥😥
Four.: kasihan... kasihan... kasihan /Grimace/
total 1 replies
vnablu
ayoo double up thorrr
Four.: mohon bersabar 😁
total 1 replies
vnablu
nahhh mulai ni nenek ini beraksi membuat kekacauan apa lagi rencana yang selanjutnya yang dia akan jalani....apa itu hasil tes DNA tentang siapa ayah biologis anak yg dikandung Aria
Four.: ho, oh
total 1 replies
Tiara Bella
ganggu aja Monica ini....
Four.: mungkin ini kemenangannya 😁
total 1 replies
Kinara Widya
semoga Aria dan Loren baik2 saja
Four.: semoga aja /Sweat/
total 1 replies
Tiara Bella
Monica Monica km percaya sm peramal trs ya....
Four.: soalnya dia gak percaya sama aku 😌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!