Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 Perasaan itu ada karena ini...
Sebelumnya... Saat Gus Zayn bimbang dengan semua yang terjadi dalam hidupnya. Ia tidak henti-hentinya berdzikir dan memohon petunjuk kepada Allah. Ia bahkan melaksanakan shalat istikharah.
Di tengah kemelut yang membelenggu dirinya. Dan siapa sangka, Allah memberikan petunjuk, wajah Keira selalu muncul di dalam pikirannya.
"Ya Allah, apakah ini petunjuk-Mu?" Ucap Gus Zayn, ia tersenyum tipis, lalu tanpa sadar sebuah buku jatuh dari atas rak-nya.
Gus Zayn berjalan dan mengambilnya, ia melihat buku itu...
"Menjadi suami yang terbaik untuk istri, insyaallah akan membawamu kepada jalan yang di ridhai oleh Allah.."
Deg!!
Hati Gus Zayn bergerak membaca buku itu, ia membuka setiap lembar halaman di buku itu. Dan entah kenapa hatinya tersentuh.
Tangannya kembali membuka lembaran buku itu.
"Jika kamu mendzolimi istrimu, maka Allah akan menutup pintu rahmat-Nya untukmu. Jadi, lindungilah istrimu, sayangilah dia. Dia sudah menjadi amanah dari Allah untuk -mu jaga."
"Tidak ada sebuah kesalahan bertemu seseorang dalam hidup seseorang, melainkan Allah memang sudah menetapkan takdir untuknya"
"Takdir Allah itu indah, maka jalani dengan ikhlas, insyaallah akan menemukan keberkahan."
"Ya Allah, apakah ini petunjuk-Mu? Aku harus memperlakukan Keira dengan layaknya sebagai istri. Terlebih ia sudah menjadi tanggung jawabku." Ucap Gus Zayn tersenyum.
Dan pada saat itu, ia berjanji tidak bersikap dingin dan datar lagi pada Keira, walaupun singkat, namun ia ingin membuka hatinya untuk gadis itu.
Gadis yang halal untuknya..
*
Lantunan shalawat mulai menggema memenuhi pendopo. Suara rebana berpadu dengan suara para santri yang melantunkan pujian untuk Rasulullah, menciptakan suasana hangat dan menenangkan.
Keira duduk dengan tangan saling bertaut di atas pangkuannya. Sejak tadi ia berusaha terlihat tenang, meski kenyataannya jantungnya masih belum stabil karena tingkah Gus Zayn.
Sedangkan pria itu duduk di sampingnya dengan punggung tegak dan wajah teduh seperti biasa.
Beberapa kali ada santri laki-laki yang datang menyalami Gus Zayn dengan hormat.
“Gus.”
“Gus Zayn.”
Pria itu hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyum tipis.
Namun anehnya...
Setiap ada yang melirik Keira terlalu lama, tatapan Gus Zayn langsung berubah lebih datar.
Seolah tanpa bicara pun ia sudah menunjukkan bahwa perempuan di sampingnya berada dalam lindungannya.
Keira diam-diam menyadari hal itu.
Dan entah kenapa, dadanya terasa hangat.
“Minumnya.” suara Gus Zayn pelan.
Keira menoleh. Di hadapannya sudah ada segelas teh hangat yang entah sejak kapan disiapkan pria itu.
“O-oh... makasih.”
Gus Zayn mengangguk kecil. “Dari tadi tenggorokanmu pasti kering.”
Keira sedikit membelalak. “Gus tahu?”
“Kamu gugup dari tadi.”
Keira langsung menunduk malu.
Tiba-tiba salah satu santri kecil berlari tergesa dari arah belakang sambil membawa nampan berisi beberapa gelas minuman tambahan.
Namun karena terlalu buru-buru, tubuh santri itu tersandung karpet.
“Ah!”
Bruk.
Nampan itu hampir saja jatuh mengenai Keira.
Refleks.
Gus Zayn langsung menarik tubuh Keira mendekat ke arahnya.
Satu tangannya menahan pundak gadis itu, sementara tangan satunya lagi sigap menangkap nampan sebelum seluruh gelas di atasnya jatuh berantakan.
Suasana mendadak hening beberapa detik.
Santri kecil itu langsung pucat. “M-maaf Gus... saya nggak sengaja...”
Gus Zayn meletakkan nampan itu pelan.
“Tidak apa-apa.” jawabnya tenang. “Lain kali jalannya pelan-pelan saja.”
“I-iya Gus...”
Santri itu buru-buru pergi dengan wajah panik.
Sedangkan Keira...
Masih membeku di tempat.
Karena sejak tadi tubuhnya masih berada sangat dekat dengan Gus Zayn.
Terlalu dekat.
Tangannya bahkan masih berada di dada pria itu akibat refleks tadi.
Keira langsung tersadar dan buru-buru menjauh. “M-maaf...”
Namun Gus Zayn justru menatapnya sebentar.
“Kamu kaget?”
Keira mengangguk pelan.
Pria itu menghela napas kecil lalu berkata dengan suara rendah,
“Untung tidak kena kamu.”
Ummi Halimah dan Azizah yang berada di sana juga kaget, namun keduanya tersenyum melihat itu.
Tapi cara Gus Zayn mengatakannya membuat hati Keira terasa lembut sekali.
Seolah bagi pria itu, hal terpenting tadi bukan nampan yang hampir jatuh...
Melainkan dirinya.
*
Malam semakin larut setelah acara shalawat selesai. Satu per satu santri mulai kembali ke kamar masing-masing, sementara suasana pondok perlahan berubah tenang.
Angin malam berhembus lembut melewati halaman ndalem yang mulai sepi.
Keira berjalan pelan mengikuti Gus Zayn. Gadis itu terlihat lelah, namun matanya masih menyimpan kegelisahan kecil sejak tadi.
Sesampainya di depan kamar, Gus Zayn menoleh padanya.
“Kamu sudah mengantuk?”
Keira menggeleng pelan. “Belum terlalu.”
Gus Zayn mengangguk kecil. “Kalau begitu, temani saya shalat tahajud, zaujati.”
Keira langsung membeku.
“Hah?”
“Shalat tahajud.” ulang pria itu lembut.
Keira mendadak gugup. Jemarinya saling meremas satu sama lain.
“T-tapi saya belum bisa Gus...”
Tatapan Gus Zayn langsung melembut.
Tidak ada nada kecewa sedikit pun di wajahnya. Tidak ada juga tatapan menghakimi seperti yang Keira takutkan.
Pria itu justru tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa,” ucapnya pelan. “Pelan-pelan ya.”
Entah kenapa, hanya dua kata sederhana itu saja sudah cukup membuat hati Keira terasa jauh lebih tenang.
Gus Zayn kemudian melangkah mendekat sedikit.
“Mari saya beri tahu niatnya, Zaujati.”
Deg.
Lagi-lagi panggilan itu membuat Keira kehilangan fokusnya.
Namun kali ini suara Gus Zayn terdengar begitu lembut. Sangat lembut. Seolah benar-benar sedang menuntun sesuatu yang berharga.
Keira mengangguk pelan.
Gus Zayn lalu duduk di atas sajadah, memberi isyarat agar Keira duduk di depannya.
“Dengarkan perlahan.” ujarnya tenang.
Keira duduk dengan gugup. Matanya memperhatikan Gus Zayn yang mulai membimbing niat shalat tahajud dengan suara rendah dan jelas.
Malam terasa sangat hening.
Hanya ada suara Gus Zayn yang memenuhi ruang kamar itu, menenangkan hati Keira sedikit demi sedikit.
Sesekali pria itu mengulang bacaan saat Keira masih salah melafalkan.
Namun tidak sekali pun ia memotong dengan nada kesal.
“Bagus.” ucapnya pelan saat Keira akhirnya berhasil mengucapkannya dengan benar.
Keira langsung menunduk malu kecil. “Masih jelek...”
“Tidak.” Gus Zayn menggeleng. “Allah suka hamba-Nya yang mau belajar.”
Kalimat itu membuat mata Keira perlahan melembut.
Sudah lama sekali...
Tidak ada yang membimbingnya setenang ini.
Setelah selesai berwudhu, mereka berdiri di atas sajadah.
Gus Zayn maju satu langkah di depan.
Sedangkan Keira berdiri di belakangnya dengan jantung berdegup pelan.
“Allahu Akbar.”
Suara Gus Zayn memenuhi ruangan kecil itu dengan tenang dan dalam.
Keira ikut mengangkat takbir perlahan. Dan ia mengikuti gerakan sang suami.
Malam terasa begitu sunyi.
Hanya ada suara lirih bacaan Al-Qur’an dari Gus Zayn yang mengalun lembut memenuhi ruangan. Suaranya tenang, dalam, dan menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya.
Keira berdiri di belakang pria itu dengan gugup.
Sesekali ia terlambat mengikuti gerakan shalat karena terlalu fokus mendengarkan suara Gus Zayn.
Namun pria itu selalu memperlambat gerakannya.
Seolah sengaja menunggu Keira agar tidak tertinggal.
Saat rukuk, Keira sempat panik karena bacaannya terbata-bata.
Dan ketika bangkit dari sujud, gadis itu hampir kehilangan keseimbangan akibat buru-buru mengikuti imamnya.
Refleks.
Sebuah tangan menahan lengannya pelan.
“Hati-hati.”
Suara Gus Zayn terdengar sangat dekat.
Keira langsung menahan napas.
Ternyata pria itu sedikit menoleh ke belakang untuk memastikan dirinya baik-baik saja.
“M-maaf...” gumam Keira malu.
“Kenapa minta maaf?”
“Saya malah merepotkan.”
Gus Zayn menggeleng pelan. “Kamu sedang belajar.”
Tatapan pria itu begitu lembut hingga membuat dada Keira terasa hangat.
“Tidak ada yang salah dari seseorang yang ingin belajar mendekat pada Allah.”
Kalimat itu membuat mata Keira perlahan memanas.
Entah kenapa...
Seumur hidupnya, baru kali ini ada seseorang yang membimbingnya tanpa membuatnya merasa bodoh.
Shalat kembali dilanjutkan.
Keira berusaha mengikuti setiap gerakan Gus Zayn dengan lebih tenang kali ini.
Dan saat pria itu bersujud, Keira diam-diam menatap punggungnya beberapa detik.
Tenang.
Teduh.
Entah mengapa, melihat Gus Zayn menjadi imam di depannya membuat hati Keira perlahan ikut tenang.
Seolah pria itu benar-benar tahu arah yang harus dituju.
Setelah salam terakhir diucapkan, suasana kembali hening.
Keira masih duduk bersimpuh di atas sajadah sambil menundukkan kepala.
Sedangkan Gus Zayn memejamkan mata sebentar, melantunkan doa dengan suara rendah.
Malam terasa hangat sekali.
Setelah selesai berdoa, pria itu menoleh ke belakang.
Dan mendapati Keira tengah memperhatikannya diam-diam.
“Kok lihat saya seperti itu?” tanyanya pelan.
Keira langsung salah tingkah dan buru-buru menunduk. “Nggak lihat apa-apa.”
“Berbohong lagi.”
Keira menggigit bibir bawahnya malu.
Gus Zayn tersenyum tipis, lalu tiba-tiba mengulurkan tangannya ke arah gadis itu.
“Mari sini, zaujati.”
Keira menatap tangan itu bingung. “Untuk apa?”
“Dzikir bersama.”
Jantung Keira kembali berdegup aneh.
Pelan-pelan, gadis itu mendekat lalu duduk di samping Gus Zayn.
Pria itu mulai membimbing bacaan dzikir dengan suara rendah dan sabar.
Sedangkan Keira mengikuti perlahan.
Kadang masih salah.
Kadang masih terbata.
Namun setiap kali ia keliru, Gus Zayn hanya membetulkan dengan lembut.
.