Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putih yang Ternoda dan Getaran Tulang Dewa
Episode 22
Angin kencang bertiup kencang di balkon VIP, mengibarkan tirai sutra merah yang kini compang-camping dan berlumuran darah. Suara gemuruh guntur di langit Kota Azure seolah-olah menjadi musik latar bagi tragedi yang sedang berlangsung. Di tengah kekacauan itu, Gu Sheng melangkah perlahan menaiki anak tangga terakhir menuju balkon.
Langkah kakinya tidak lagi menghasilkan suara ledakan, melainkan suara tap... tap... tap... yang sangat teratur dan tenang. Namun, bagi Mu Ruoxue, setiap ketukan itu terdengar seperti suara palu yang sedang memaku peti matinya sendiri.
Gu Sheng berhenti tepat tiga langkah di depan Mu Ruoxue. Ia berdiri tegak, jubah hitamnya yang compang-camping tampak seperti sayap gagak raksasa yang menaungi balkon tersebut. Ia menyandarkan pedang Penebas Dosa di pundaknya, membiarkan tetesan darah dari ujung pedang jatuh ke lantai marmer putih, menodai kesucian tempat itu.
"Ruoxue," suara Gu Sheng sangat rendah, hampir seperti bisikan kekasih, namun mengandung kedinginan yang mampu membekukan aliran darah. "Lihatlah sekelilingmu. Apakah ini pesta kemenangan yang kau bayangkan sebulan yang lalu?"
Mu Ruoxue mundur satu langkah, punggungnya menabrak pagar balkon. Wajahnya yang biasanya mempesona seperti bunga teratai, kini pucat pasi dengan mata yang bergetar hebat. Ia menatap ke arah ayahnya, Mu Chen, yang masih terpaku di pilar batu oleh pedang perak Zhao Ruo. Darah terus mengucur dari bahu Mu Chen, membasahi jubah ungunya yang mewah.
"Gu... Gu Sheng... tolong..." suara Mu Ruoxue bergetar, air mata mulai mengalir di pipinya yang mulus. "Kita... kita tumbuh bersama... apakah kau benar-benar tega melakukan ini pada keluargaku? Aku... aku dipaksa oleh keadaan... Sekte Pedang Langit yang menekanku..."
Gu Sheng tertawa kecil. Itu bukan tawa kebahagiaan, melainkan tawa yang penuh dengan penghinaan yang amat sangat.
"Dipaksa?" Gu Sheng melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak hingga ia bisa mencium aroma parfum melati dari tubuh Mu Ruoxue yang bercampur dengan bau amis darah. "Saat kau merobek dadaku dengan tanganmu sendiri, apakah itu paksaan? Saat kau tersenyum di pelukan Lin Tian sambil memegang tulangku yang masih berlumuran darah, apakah itu juga paksaan?"
Gu Sheng mengulurkan tangan kirinya, jari-jarinya yang kasar membelai lembut pipi Mu Ruoxue. Sentuhannya sedingin es, membuat Mu Ruoxue bergidik ngeri hingga ke sumsum tulangnya.
"Kau sangat cantik, Ruoxue. Kecantikanmu adalah racun yang paling mematikan bagi diriku yang dulu," bisik Gu Sheng. "Tapi sekarang... di mataku, kau hanyalah seonggok daging yang terbungkus gaun putih yang mencolok. Kau tidak lagi memiliki jiwa, karena jiwamu sudah kau jual demi sepotong tulang."
“Ugh!”
Tiba-tiba, Mu Ruoxue memegang dadanya sendiri. Ia merasakan denyutan yang luar biasa sakit dari dalam tulang rusuknya. Tulang Dewa yang ada di dalam tubuhnya mulai bergetar secara aneh. Ia memancarkan cahaya keemasan yang tidak stabil, mencoba menembus kulit Mu Ruoxue.
“Hahaha! Lihatlah itu, bocah!” suara Kaisar Iblis tertawa kegirangan di dalam batin Gu Sheng. “Tulang itu mengenali pemilik aslinya! Ia meronta karena tidak sudi bersemayam di dalam tubuh yang kotor dan pengecut itu! Ia ingin kembali padamu!”
Gu Sheng merasakan resonansi yang sama. Dada kirinya, tempat luka lama yang sudah mengering, kini terasa panas. Energi hitam dari Dantian Penelan Langit-nya mulai memanggil-manggil energi emas dari Tulang Dewa tersebut.
"Kembalikan..." ucap Gu Sheng, suaranya kini mengandung otoritas kaisar yang tak terbantahkan.
"TIDAK! JANGAN!" Mu Ruoxue berteriak histeris. Ia mencoba mengumpulkan sisa-sisa Qi-nya untuk melawan. Sebagai praktisi Spirit Sea Tingkat Pertama, ia seharusnya memiliki kekuatan yang besar. Namun, di depan tekanan aura Gu Sheng yang kini berada di Tingkat Kedua, dan karena Tulang Dewa yang memberontak di dalam dirinya, ia bahkan tidak bisa mengangkat tangannya.
"RUOXUE! LAWAN DIA! GUNAKAN TEKNIK PENGHANCUR JIWA!" teriak Mu Chen dari pilar, suaranya serak karena kehilangan banyak darah. "JANGAN BIARKAN DIA MENGAMBILNYA!"
Gu Sheng menoleh sedikit ke arah Mu Chen. "Paman Mu, kau masih punya tenaga untuk berteriak? Sangat ulet."
Dengan satu jentikan jari tangan kirinya, Gu Sheng melepaskan seberkas cahaya hitam yang tajam ke arah kaki Mu Chen.
Srak!
"AAAGGGHHH!" Mu Chen menjerit saat urat kakinya diputus secara instan oleh energi tersebut. Ia kini benar-benar lumpuh, hanya bergantung pada pedang perak yang memaku bahunya.
"Jangan berisik, Paman. Giliranmu akan tiba setelah putrimu tercinta mengembalikan barang milikku," ucap Gu Sheng tenang.
Ia kembali menatap Mu Ruoxue. Tangannya kini mencengkeram leher wanita itu, mengangkatnya sedikit hingga ujung kaki Mu Ruoxue hanya menyentuh lantai.
"Ruoxue, kau tahu apa yang paling menyakitkan?" tanya Gu Sheng. "Bukan kematian itu sendiri. Tapi saat kau menyadari bahwa segala sesuatu yang kau bangun di atas pengkhianatan... hancur hanya dalam satu malam oleh orang yang kau anggap sampah."
Mu Ruoxue meronta, tangannya mencakar lengan Gu Sheng yang sekeras baja. Wajahnya yang cantik kini mulai membiru karena kekurangan oksigen. Di dalam dadanya, cahaya emas Tulang Dewa semakin terang, seolah-olah siap meledakkan dadanya dari dalam.
"Kau ingin menjadi dewi, bukan?" Gu Sheng menyeringai, memperlihatkan taring-taring tipis yang muncul akibat pengaruh Raga Iblis. "Kalau begitu, biar aku tunjukkan bagaimana cara seorang Iblis memperlakukan calon dewi."
Gu Sheng meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas dada Mu Ruoxue, di atas titik di mana Tulang Dewa berada.
"Teknik Penelan Langit: Ekstraksi Jiwa dan Tulang!"
Wush!
Gas hitam pekat meledak dari tangan Gu Sheng, menyelimuti tubuh Mu Ruoxue. Seketika, jeritan Mu Ruoxue yang paling memilukan pecah, memenuhi seluruh stadion yang sudah sunyi. Suara jeritannya begitu menusuk hati hingga beberapa orang di kejauhan menutup telinga mereka karena tidak tega mendengar penderitaan yang begitu hebat.
Ini bukan sekadar ekstraksi fisik. Gu Sheng menggunakan energi Penelan Langit untuk memisahkan Tulang Dewa dari jalur meridian Mu Ruoxue yang telah menyatu secara paksa. Rasanya seribu kali lebih sakit daripada merobek daging hidup-hidup.
Setiap inci pergerakan tulang itu di dalam tubuh Mu Ruoxue digambarkan dengan sangat detail dalam kesadaran Gu Sheng. Ia merasakan hambatan dari jaringan saraf, ia merasakan aliran darah yang memberontak, dan ia menghisap semua itu tanpa belas kasihan.
Krak... krak... krak...
Suara tulang yang bergeser dari posisinya terdengar sangat renyah di keheningan balkon tersebut.
"Hentikan... tolong... bunuh saja aku..." rintih Mu Ruoxue, air matanya sudah bercampur dengan darah yang keluar dari pori-pori wajahnya.
"Mati?" Gu Sheng menatap matanya dengan kejam. "Belum, Ruoxue. Kita baru saja mulai. Aku ingin kau tetap sadar sampai aku memegang tulang ini di depan matamu."
Proses ekstraksi ini sengaja diperlambat oleh Gu Sheng. Ia ingin membalas setiap detik penderitaannya di dasar jurang dengan satu jam penderitaan bagi Mu Ruoxue.
Di tribun, Su Mei menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak. Ia telah melihat banyak kekejaman di dunia hitam, tapi cara Gu Sheng menyiksa musuhnya adalah sesuatu yang berada di level yang berbeda. Ia menyadari bahwa cinta yang pernah dimiliki Gu Sheng kini telah bermutasi menjadi kebencian yang murni dan absolut.
"Gu Sheng... kau benar-benar telah menjadi Iblis," gumam Su Mei dengan suara bergetar.
Malam semakin larut, dan di bawah cahaya kilat yang menyambar, sosok Gu Sheng yang sedang membedah tunangannya di atas balkon VIP tampak seperti lukisan neraka yang paling mengerikan di Kota Azure.