NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 22 Harus Kuat Dengan Kenyataan

Lorong rumah sakit yang biasanya sibuk kini mulai melengang, menyisakan deru mesin pendingin ruangan dan langkah kaki perawat yang sesekali melintas. Di dalam ruangan, Maya duduk berdampingan dengan Tante Sarah di sebuah sofa yang terasa dingin.

​Tante Sarah mengusap sudut matanya dengan tisu yang sudah lembap, sementara Maya merangkul bahu wanita itu dengan lembut, memberikan kekuatan yang seolah-olah ia adalah bagian dari inti keluarga tersebut.

​"Tante harus kuat," bisik Maya dengan suara yang menenangkan. "Mas Bara tadi bilang dia sedang ada urusan pekerjaan. Setelah selesai urusannya dia pasti segera ke sini."

​Tante Sarah menghela napas panjang, menatap suaminya yang masih terbaring, belum ada tanda kesadaran. "Tante cuma takut, Maya. Kondisi Om Baskoro sekarang belum sadar juga. Di saat seperti ini, Tante merasa sendirian. Untung ada kamu yang datang. Kalau berharap sama... perempuan itu, yang ada malah bikin darah tinggi Tante naik."

​Maya terdiam sejenak, ia tahu persis siapa yang dimaksud "perempuan itu". Ia menunduk, memainkan jemarinya dengan raut wajah yang dibuat sedemikian rupa agar tampak prihatin.

​"Tante jangan bicara begitu. Renata kan istri Mas Bara," ucap Maya pelan, namun nadanya seolah justru memancing Mama Sarah untuk bicara lebih jauh.

​"Istri?" Tante Sarah mendengus sinis. "Istri macam apa yang malah bikin suaminya stres dan mertuanya masuk rumah sakit? Kamu tahu sendiri kan, kalau bukan karena paksaan Om Baskoro, mana mungkin Bara mau menikah dengan dia. Harusnya kamu yang ada di posisi itu, Maya. Kamu yang paling tahu bagaimana cara menghadapi Bara dan keluarga Tante."

​Maya mengusap lengan Tante Sarah lebih erat, sebuah senyum kemenangan yang sangat tipis tersembunyi di balik helai rambutnya yang terjatuh. "Semua sudah terjadi, Tante. Maya cuma ingin yang terbaik untuk Mas Bara dan kesembuhan Om Baskoro. Maya akan tetap di sini menemani Tante sampai Mas Bara datang."

​Tante Sarah menepuk tangan Maya dengan penuh kasih, seolah-olah Maya adalah menantu idaman yang selama ini ia harapkan, jauh berbeda dengan perlakuan dingin yang selalu ia berikan kepada Renata. Di bawah remang lampu, keduanya terus berbagi cerita, merajut kembali kedekatan yang sempat terputus oleh pernikahan kontrak yang dipaksakan itu.

Tante Sarah menghela napas berat, jemarinya yang dihiasi cincin permata tampak gemetar saat menggenggam tangan Maya. "Awalnya Tante memang tidak merestui pernikahan mereka, Maya. Tapi mau gimana lagi? Semua ini keputusan mutlak papahnya Bara. Tante tidak punya kuasa lebih kalau suami tante sudah menyangkut urusan perusahaan dan warisan."

​Maya hanya menunduk, wajahnya tampak sendu di bawah pendar lampu rumah sakit. "Maya hanya bisa menerima semua yang sudah terjadi, Tante. Mungkin memang ini jalan hidup yang harus Maya lalui."

​"Tapi Tante yakin, orang kayak kamu itu kuat dalam menghadapi masalah," lanjut Mama Sarah sambil menatap Maya dengan penuh simpati. "Apalagi perasaan kamu yang ditinggal nikah begitu saja. Tante tahu betul, kalau Tante yang ada di posisi kamu, Maya... Mungkin Tante tidak akan setegar kamu."

​Maya tampak semakin tidak enak hati. Ia menggigit bibir bawahnya, seolah-olah kata-kata Tante Sarah barusan adalah belati yang menusuk luka lama yang belum sepenuhnya kering.

​"Udahlah Tante, jangan dibahas lagi," bisik Maya, suaranya sedikit bergetar. "Nanti Maya malah makin keinget sama masa lalu Maya pas masih berhubungan sama Mas Bara. Itu... itu masih terasa berat kalau diingat-ingat sekarang."

​Melihat perubahan raut wajah Maya, Tante Sarah langsung merasa bersalah. Ia segera merangkul bahu Maya lebih erat. "Tante nggak bermaksud buat kamu inget sama masa lalu, Maya. Maaf ya, Tante jadi bikin kamu ingat lagi. Tante cuma merasa sayang aja, kenapa semuanya harus jadi serumit ini."

​Maya hanya mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Tante Sarah. Di balik punggung wanita itu, tatapan mata Maya kosong menatap dinding putih rumah sakit, sementara pikirannya melayang pada pesan singkat yang tadi ia kirimkan kepada Bara—sebuah jaring yang mulai ia tebar kembali ke dalam kehidupan pria yang dulu pernah menjadi miliknya sepenuhnya.

Waktu terus berjalan hingga jarum jam melampaui angka sembilan malam. Lorong rumah sakit semakin sunyi, namun Bara tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Sarah berkali-kali melirik pintu, rasa khawatir mulai bercampur dengan rasa tidak enak hati melihat Maya yang masih setia mendampinginya.

​Tanpa sadar, Maya yang kelelahan akhirnya terlelap. Kepalanya terkulai di sandaran sofa empuk di dalam ruang VIP tersebut. Mama Sarah menatap wajah cantik itu dengan iba, lalu menyentuh bahunya perlahan untuk membangunkan gadis itu.

​"Maya... bangun, Nak," bisik Tante Sarah lembut.

​Maya tersentak kecil, kelopak matanya mengerjap berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan. "Oh, ya, Tante!" ucapnya sambil menutup mulut, refleks menguap karena kantuk yang masih menggelayut. "Ada apa, Tante? Mas Bara sudah datang?"

​"Belum, Sayang. Kamu sampai ketiduran begitu," jawab Tante Sarah sambil mengusap rambut Maya. "Mending kamu pulang sekarang. Kamu harus tidur di kasur yang empuk biar besok bisa aktivitas lagi, daripada harus tiduran di sofa begini."

​Maya segera menggeleng, mencoba mengusir sisa kantuknya. "Nggak apa-apa, Tante. Maya mau tunggu sampai Mas Bara ada di sini. Kalau aku pulang Tante pasti sendirian."

​Namun, Tante Sarah tetap bersikeras. Ia memegang kedua tangan Maya, menatapnya dengan raut wajah penuh kasih namun tegas. "Tante nggak mau kamu sakit, Maya. Tante tetap maksa kamu pulang buat istirahat. Kalau kamu nekat menunggu di sini, nanti kondisi kesehatan kamu malah jadi lemah. Tante nggak mau nambah pikiran lagi."

​Melihat kekhawatiran yang begitu besar di mata Tante Sarah, Maya akhirnya luluh. "Baiklah, Tante. Maya pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa atau kalau Mas Bara sudah sampai, tolong kabari Maya."

​"Iya, pasti Tante kabari. Hati-hati di jalan ya, Sayang," ucap Mama Sarah sambil mengantar Maya sampai keluar dari ruangan.

Maya melangkah keluar menuju lobi rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Ia melirik ponselnya sekali lagi, berharap ada pesan baru dari Bara, namun layar itu tetap sunyi. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju area parkir dan segera masuk ke dalam mobil pribadinya.

​Suara mesin mobil yang halus seolah menemani keheningan hatinya malam itu. Saat ia mulai menjalankan mobilnya perlahan untuk meninggalkan area rumah sakit, ia tidak menyadari bahwa sebuah mobil mewah yang sangat ia kenal baru saja berbelok masuk ke area parkir rumah sakit, tepat berpapasan hanya dalam jarak beberapa meter di tengah kegelapan malam.

Setelah mobil benar-benar terparkir di area rumah sakit, Renata segera turun dengan langkah terburu-buru. Ia menenteng sebuah tas berukuran sedang yang berisi pakaian ganti dan perlengkapan mandi; tampaknya ia sudah memantapkan hati untuk menginap dan menjaga mertuanya malam ini, untuk menggantikan Ibu mertuanya yang seharusnya tidak pantas menginap di rumah sakit.

​Renata mempercepat langkahnya menuju lobi utama untuk melapor dan mengurus perizinan masuk ke ruang rawat inap. Setelah mendapatkan tanda pengenal pengunjung, ia segera melangkah masuk ke dalam lift yang membawanya menuju lantai atas dengan jantung yang berdebar tidak karuan.

​Ting!

​Pintu lift terbuka. Renata berjalan menyusuri lorong sunyi menuju kamar Om Baskoro. Dengan perlahan, ia mendorong pintu ruangan tersebut.

​Mama Sarah, yang sedang duduk di sofa sambil terus melirik jam dinding, seketika menegakkan punggungnya. Matanya berbinar penuh harap, yakin bahwa anak laki-lakinya yang baru saja datang. Namun, begitu pintu terbuka sepenuhnya, binar itu redup seketika.

​Bukan Bara yang muncul di balik pintu, melainkan menantunya sambil membawa tas besarnya.

​Ekspresi wajah Mama Sarah langsung berubah masam. Ia menyandarkan kembali punggungnya ke sofa dengan kasar, melipat tangan di dada tanpa niat menyapa. Suasana hangat yang sempat tercipta bersama Maya tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk saat menantunya itu melangkah mendekat.

​"Kamu?" tanya Mama Sarah dengan nada suara yang ketus, seolah kehadiran Renata adalah sebuah gangguan yang tidak diinginkan.

"Ngapain kamu kesini? Terus itu buat apa bawa tas segala?"

"Aku mau nginep di sini malam ini, Mah," jawab Renata sesabar mungkin, meski tatapan tajam mertuanya itu terasa menyakitkan. "Soalnya kata Mas Bara, Mama disuruh pulang saja. Biar aku yang jagain Papah malam ini."

​Mama Sarah mendengus sinis, ia bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Renata dengan langkah yang angkuh. "Oh, jadi kamu yang mau jagain Papah? Emangnya bisa apa kamu jagain suami saya? Memangnya kamu tahu apa soal kebutuhan Om Baskoro kalau tiba-tiba kondisinya drop?"

​Renata mengelus dadanya, mencoba meredam emosi yang mulai tersulut. "Astagfirullah... aku ngelakuin ini biar Mama juga nggak sakit, Mah. Kalau Mama maksa buat nginep terus di rumah sakit, nanti kondisi Mama nggak baik. Mas Bara pasti makin kepikiran kalau Mama sampai sakit juga."

​Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Renata mulai membuka tasnya untuk mengeluarkan pakaian ganti dan perlengkapan menginap, mencoba tetap fokus pada niat baiknya. "Kalau Mama tetap maksa nggak mau pulang, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Tapi aku di sini atas permintaan Mas Bara."

​Mendengar nama anaknya terus disebut, pertahanan Mama Sarah mulai goyah. Ia sebenarnya merasa sangat lelah, punggungnya terasa kaku dan matanya mulai perih karena kurang tidur. Bayangan tempat tidur yang nyaman di rumah mulai menggoda pikirannya.

​"Ya sudah kalau itu mau anak saya, saya pulang juga." Cetus Mama Sarah akhirnya sambil menyambar tas tangannya dengan kasar. "Tapi ingat, kalau sampai ada apa-apa sama suami saya gara-gara kamu lalai, saya nggak akan tinggal diam! Awas saja kalau kamu malah nggak bener jagain suami saya."

​"Iya, Mah. Hati-hati di jalan," sahut Renata pelan.

​Dengan langkah yang masih menunjukkan keangkuhan, Mama Sarah akhirnya keluar dari ruangan itu, meninggalkan Renata sendirian di tengah kesunyian kamar rumah sakit yang hanya ditemani bunyi detak jantung dari monitor medis milik mertuanya. Renata menghela napas panjang, ia duduk di samping tempat tidur Om Baskoro, menatap wajah pria yang selama ini menjadi alasan satu-satunya ia masih bertahan di lingkaran keluarga ini.

Renata menatap lekat wajah Om Baskoro yang tampak pucat di bawah sinar lampu ruangan yang temaram. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan, mencoba mengeluarkan sesak yang sedari tadi menghimpit dadanya.

​“Apa ini harga yang harus aku bayar untuk sebuah status, Pah?” batinnya getir. “Aku datang ke sini dengan hati yang tulus, mengabaikan rasa lelah setelah memasak dan mengantar makanan untuk Mas Bara, tapi yang kuterima di sini hanya tatapan tajam dan kata-kata menyakitkan dari Mama mertuaku.”

​Ia teringat betapa dinginnya sambutan Mama Sarah tadi, seolah-olah kehadirannya adalah sebuah beban, bukan bantuan.

​“Aku tahu aku bukan menantu idaman yang Mama harapkan. Tapi apakah aku serendah itu di mata keluarga ini sampai-sampai niat baikku selalu dianggap salah?”

​Pikiran Renata melayang kembali ke ruang kerja suaminya beberapa jam yang lalu. Bayangan kemanjaan Bara saat disuapinya sempat memberikan secercah harapan, namun suara hatinya yang paling dalam tetap merasa ada yang mejanggal.

​“Mas Bara... terkadang kamu begitu manis, tapi terkadang kamu terasa begitu jauh. Apa kamu benar-benar menghargai masakan buatanku, atau itu hanya caramu untuk memanasi Reno? Apa aku ini hanya dinding untuk menutupi sesuatu yang tidak ingin kamu akui?”

​Renata menyentuh pinggiran tempat tidur mertuanya, matanya mulai terasa panas.

​“Hanya karena Papah Baskoro yang memintaku ada di sini, aku bertahan. Aku tidak tahu sampai kapan sanggup berdiri di antara kasih sayang yang dipaksakan untuk kebencian yang terang-terangan. Aku hanya ingin menjadi istri yang berbakti, tapi kenapa rasanya seperti sedang berjalan di atas duri?”

​Ia mengusap air mata yang hampir jatuh di sudut matanya. Di tengah bunyi detak monitor jantung yang monoton, Renata berbisik dalam hati, mencoba menguatkan dirinya sendiri untuk melewati malam yang panjang ini sendirian.

​“Sabar, Renata. Sabar. Setidaknya malam ini, biarkan aku menjaga pria yang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, meski istrinya tidak pernah menganggapku sebagai bagian dari mereka.”

Renata tersentak dari lamunannya saat ponsel di atas meja nakas bergetar nyaring. Nama Bara berkedip di layar. Dengan cepat, ia menghapus sisa air mata di pipinya dan berdeham pelan agar suaranya tidak terdengar serak.

​"Halo, Mas?"

​"Kamu sudah di rumah sakit?" tanya Bara dari seberang sana. Suaranya terdengar berat dan lelah, terdengar bunyi gemerisik kain, menandakan pria itu baru saja selesai mengganti pakaiannya.

​"Sudah, Mas, dari tadi. Mama juga sudah otw pulang, baru aja berangkat," jawab Renata, mencoba tetap terdengar tenang.

​"Ya sudah kalau kamu sudah di rumah sakit. Oh ya, besok pagi paling sekitar jam delapan atau sembilan aku baru bisa ke sana. Masih ada beberapa berkas yang harus aku bereskan sebelum berangkat," lanjut Bara tanpa basa-basi panjang.

​"Oh, ya Mas. Iya, nggak apa-apa," sahut Renata singkat. Hatinya sedikit mencelos, berharap Bara akan menanyakan kabarnya atau setidaknya mengucapkan terima kasih karena telah menggantikan tugas menjaga Papah. "Yaudah, aku mau cuci muka dulu ya, Mas."

​"Oke, bye."

​Pip.

​Panggilan terputus begitu saja. Renata menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Komunikasi mereka selalu terasa begitu nyata, namun kering akan kehangatan. Ia menarik napas panjang, lalu bangkit berdiri menuju kamar mandi di pojok, mencoba membasuh rasa lelah dan sedih yang kembali menyergap.

Renata berdiri mematung di depan cermin wastafel kamar mandi rumah sakit yang dingin. Di bawah pendar lampu yang putih tajam, bayangan di cermin itu tampak begitu rapuh. Ia menyentuh pinggiran matanya yang membengkak dan kemerahan—sembab yang tidak bisa lagi disembunyikan hanya dengan membasuh muka.

​“Bodoh kamu, Renata,” bisiknya perih dalam hati.

“Kenapa kamu lemah sekali? Kenapa harus menangis hanya karena diperlakukan seperti orang asing oleh mertua sendiri?”

​Ia mengusap pipinya yang terasa perih. Bayangan wajah masam Mama Sarah saat melihatnya tadi kembali melintas, seperti rekaman rusak yang terus berputar di kepala.

​“Apa aku memang se-tidak berguna itu di mata Mamah mertuaku? Aku sudah berusaha menjadi menantu terbaik, dan sampai ngebelain buat menginap untuk Papah mertuaku, tapi tetap saja, di mata Mamah Sarah aku seolah-olah hanya pengganggu yang tidak bisa apa-apa.”

​Renata mencengkeram pinggiran wastafel, mencoba menahan isak yang kembali naik ke tenggorokan. Rasa rendah diri itu perlahan merayap, menghimpit dadanya lebih sesak daripada rasa lelah fisik yang ia rasakan.

​“Mungkin benar kata Mamah, aku memang tidak tahu apa-apa soal menjaga Papah. Aku bukan siapa-siapa di keluarga ini. Mau sekeras apa pun aku mencoba mengambil hati mereka, aku tetaplah orang luar yang tidak dianggap. Apa kehadiranku di sini memang benar-benar tidak ada artinya?”

​Ia menarik napas dalam-dalam, membusungkan dada, dan memercikkan air dingin ke wajahnya berkali-kali. Ia harus berhenti merasa tidak berdaya. Setidaknya, malam ini ia harus membuktikan bahwa ia bisa menjaga Papah mertua dengan baik, meski tanpa pengakuan dari siapa pun. Renata menatap cermin itu sekali lagi dengan tatapan yang dipaksakan untuk tegar, mencoba mengubur rasa tidak bergunanya dalam-dalam.

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!