NovelToon NovelToon
Sang Dewi Mengembala Cinta Delapan Dewa

Sang Dewi Mengembala Cinta Delapan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:386
Nilai: 5
Nama Author: Usu dedek

Igrisia Devalona Bharata terlahir dari darah campuran dewa dan peri, hingga memiliki kekuatan dasyat dan di akui sebagai dewi alam. Namun kekuatan itu membuat para dewa merasa takut, hingga membuatnya jatuh ke dunia manusia dan kehilangan segalanya. Tekad dendam yang membara membuatnya bangkit mencari pecahan kristal jiwa, yang kini dimiliki oleh para pangeran di tiap kerajaan. Perjuangan panjang membuatnya berhasil mencapai tujuan. Namun perasaan yang terjalin dan kontak fisik yang terus terjadi membuatnya bimbang, haruskah dia membalas dendam atau tinggal di bumi dan hidup bahagia bersama pangeran yang dicintainya. Persaingan cinta pun tak terelakkan membuat igris harus mengambil keputusan di saat yang paling krusial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teriakan Harapan

"Katakan saja tuan putri! Apa syaratnya?" sahut raja Ornebic santai.

"Aku akan memintanya nanti setelah janji ku terpenuhi, dan kalian tidak akan bisa menolak," ucapnya dengan nada santai tapi menekan.

Raja Ornebic hanya mendengus pelan sedangkan dewan istana merasa gusar dan bimbang. Apa yang akan di pinta dewi itu dari tanah Ornebic yang tandus? Apa mendapatkan seorang pengguna kristal jiwa tidak cukup baginya? Atau jangan-jangan ada maksud tersembunyi dari perjanjian kontrak darah. Pertanyaan itu membuat bising istana dan menjadi perdebatan. Igris masih santai menyeruput teh bunga yang di sajikan di atas meja nya tanpa peduli kebisingan tersebut. Pangeran harimau yang berada di samping nya pun turut gelisah.

"Apa kau akan meratakan kerajaan ini jika kau tidak puas, tuan putri?" Tanya Zean cemas.

"tergantung bagaimana syaratku di penuhi atau tidak," jawabnya santai.

"hahahhahaha... baik! .. kami akan menuruti apapun syaratnya asalkan tuan putri bisa menunaikan janji seperti yang sudah terukir di kontrak darah pada saat penobatan," ucap raja Ornebic dengan wajah sumringah.

"Sepakat!"

Tak lama anggota kerajaan dan dewan istana mengantar Igris keluar ruangan itu dan membawanya melihat-lihat sekeliling kerajaan menuju danau pohon suci. Di sepanjang jalan mata Igris memandang sekeliling dengan perasaan haru dan sesak.

Tampak sebuah kota kerajaan yang sangat kacau. Pemandangan di sana seperti tanah yang telah lama di tinggalkan manusia. Rumah-rumah penduduk sangat kumuh tak tentu arah. Rumah yang terbuat dari kayu itu hampir ambruk. Atapnya tak lagi utuh, banyak di antaranya rumah yang sudah rata dengan tanah menyisakan puing-puing keputus asaan.

Pohon-pohon yang berjejer di sepanjang jalan mengering menyisakan ranting kurus tanpa selembar daun. Batangnya setengah hancur bagai tersambar petir. Tampak tanahnya retak terbelah beberapa bagian. Retakan tanah memanjang menyerupai saluran parit-parit kecil yang dangkal. Tidak ada setitis air pun yang membasahi tanah itu. Lahan pertanian rusak, tanahnya gersang dan tandus tanpa adanya tanaman dan sumber air di sana.

Bangkai hewan-hewan kecil tergeletak di kerumuni lalat. Anak-anak kecil tampak berebut makanan yang hanya sebuah roti kecil. Bau busuk tercium dimana-mana.

Udara yang berhembus pun terasa sangat panas dan berdebu. Daun-daun kering berterbangan menjadi pemandangan pelik yang menghiasi area jalanan. Igris beserta rombongan raja terus melangkah maju, hatinya berbisik.

"Seperti apa perang tiga alam yang lalu hingga membuat sebuah kota kerajaan hancur seperti ini? Bahkan tanah ini tak layak di tinggali, tapi rakyatnya masih bertahan dan tak mengungsi? Apa kerajaan lain tidak bisa membantu mereka? Kenapa para dewa diam saja melihat kesusahan manusia seperti ini?"

Penduduk kota yang melihat rombongan kerajaan turun ke jalan, ikut berkerumun mengelilingi rombongan itu. Tatapan mata mereka penuh harapan dengan wajah yang semraut dan tak teruurus. Pakaian yang di kenakan pun tak layak, sana sini penuh sobekan. Hanya sebatas menahan dingin dari cuaca pun tampak tak dapat di lakukan. Igris terenyuh, hatinya pilu melihat keadaan. Rasa geram juga dihatinya juga di luahkan. Geram karena dewa yang seharusnya menjaga alam manusia malah membiarkan keadaan penduduk Ornebic seperti tanah tak bertuan.

Bisa di bilang tanah Ornebic adalah tempat dewa tanah meninggalkan benihnya sebelum perang, namun tampaknya sang dewa tak perduli dengan titisan darahnya sendiri. Igris masih menatap kosong ke arah penduduk.

Salah seorang dari kerumunan itu berteriak "itu dewi ... itu dewi yang di rumorkan itu." Mereka kemudian menyoraki Igris dengan kata-kata harapan yang mendalam.

"dewi alam sudah turun ke tanah Ornebic dan akan mengembalikan keadaan."

"Benar ... tanah kita akan kembali subur,"

"Ya... pasti pohon suci akan mengeluarkan mata air lagi,"

"Kita akan hidup damai lagi,"

"Anakku tidak akan kelaparan lagi."

"Ya... hidup dewi alam! hormat pada dewi alam!"

Sorak sorai penduduk kota menggema di jalanan. Mereka mengikuti rombongan kerajaan dan terus menyorakkan harapan kepada sang dewi. Dengan tubuh lesu yang telah lama tak menyentuh makanan layak, mereka memaksakan diri ikut berjalan menuju pohon suci.

Kata-kata harapan yang tergiang terdengar manis dan memilukan di telinga, namun hati sang dewi sedikit sesak dan takut. Dia takut kalau kekuatan yang jauh dari kata sempurna miliknya saat ini, malah akan mengecewakan rakyat kerajaan itu. Selama racun naga Iblis belum terserap habis dari tubuhnya, dia hanya bisa mengeluarkan kekuatan sepuluh persen saja. Walaupun bagi manusia itu adalah kekuatan yang luar biasa, tapi sejatinya kekuatan dewa sepuluh persen itu adalah tingkat yang paling lemah.

Dewi alam itu hanya tertunduk dan senyum tipis. Matanya tak bisa menutupi keresahan hatinya saat ini. Perasaan campur aduk di hatinya kian mencuat. Igris merasa iba dengan rakyat Ornebic yang telah lama menderita. Ia mulai mengubah niatnya yang semula hanya ingin menyerap kekuatan kristal jiwa dan mereformasi kerajaan menjadi niat yang berbeda. Kini dia berharap kekuatannya bisa membawa kedamaian alam semesta dan kedewiannya benar-benar nyata untuk kebaikan seluruh alam. Meski begitu hasrat dendamnya takkan padam.

Tekad yang begitu kuat dan rasa haus akan dendam membuatnya kembali berpikir positif. Zean tiba-tiba saja mengenggam tangan Igris dengan hangat.

"Dewi, aku sungguh mengharapkan kedamaian di kerajaan ini. Setidaknya rakyat kami tidak akan menderita lagi," ucap Zean penuh harap membuat Igris semakin bimbang.

"Jika aku tidak bisa membuktikan janjiku, maka bukan hanya aku yang akan di anggap pembohong. Tapi raja Hermes akan jadi sasaran kerajaan lain dan di anggap penipu. Tapi bagaimana dengan kekuatanku yang belum stabil ini? Bagi seorang dewi sepertiku ini sangat mudah, tapi kenapa hatiku bimbang? jika aku mengeluarkan kekuatan kedewian yang sesungguhnya, maka keberadaan ku akan di ketahui oleh para dewa. Mereka pasti akan menyebabkan peperangan lagi. Tapi jika aku melakukannya dengan ragu-ragu, maka hasilnya tidak akan maksimal. Bagaimana jika setelah ini para dewa turun ke bumi dan berusaha membunuhku lagi? Tapi apa yang aku takutkan? Bukankah tujuanku memang memancing para dewa itu?"

Perdebatan terus memenuhi benak Igris hingga kepalanya sakit. Ana tau, majikannya itu menyembunyikan sesuatu darinya. Igris tampak ceria di luar tapi gelisah dalam hatinya. Ana ingin sekali mendekat, tapi dia tak berani bertanya. Selama ini kekuatan yang perlihatkan oleh Igris hanya secuil dari kekuatan dewinya. Karena dia tak ingin keberadaannya di ketahui para dewa, Igris menyamarkan aura spiritual miliknya, karena takut Zarmit dan Apolon akan datang membuat kekacauan sebelum kekuatannya kembali. Tapi saat penobatan putri mahkota, dia malah memancing keributan yang membuat dia terpaksa melewati batas-batas yang ada. Dia malah sengaja memamerkan kekuatan dewinya agar pemilik kristal jiwa mudah di ketahui. Tapi sekarang dia baru benar-benar menyadari nasihat Danji waktu itu akan memiliki pengaruh sebesar ini.

"Aah ... persetan dengan semua itu. Jika aku takut dengan para dewa ... bagaimana aku bisa balas dendam. Aku tidak perduli apapun yang terjadi, aku harus menarik dukungan sebanyak-banyaknya dan segera menyerap kekuatan kristal jiwa. " benaknya lagi saling menguatkan.

"Jika setelah ini segel alam dewa dan alam manusia terbuka, aku siap menanggung resikonya. " batin nya lagi.

Igris kini memantapkan hatinya. Membuang jauh rasa ragu dan resah yang membenak di kepalanya. Wajahnya kembali tersenyum dan memancarkan aura kehangatan hati seorang dewi yang sejatinya melindungi manusia.

Sesampainya di depan pohon suci, Igris tercengang. Pertempuran seperti apa yang mengakibatkan pohon suci peninggalan dewa tanah sampai seperti ini. Pohon raksasa yang menjulang tinggi itu tampak seperti pohon yang telah ribuan tahun mati.

Batang pohonnya berwarna hitam pekat seperti hangus terbakar oleh sambaran petir yang dasyat. Terdapat garis-garis merah bekas sambaran petir yang membekas di kulit pohon itu. Selembar daun pun tidak ada yang tumbuh di pohon suci itu. Aura kehidupannya seperti telah lama hilang. Bahkan akar pohonnya tak menyatu lagi dengan tanah. Sekeliling pohon itu semula adalah danau mata air, tapi kini setetes air pun tidak mampu keluar dari pohon tersebut. Tanahnya kering kerontang, gersang, dan penuh retakan.

Igris mendongak menatap ujung ranting yang hampir patah di atasnya. Burung pun tidak ada yang mampu bertengger di ranting pohon itu saking panasnya. Dewi alam itu mendekat ke batang pohon, lalu menempelkan kedua telapak tangannya.

"Demi dendam kedua orangtua ku, aku akan menaklukkan segalanya!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!