Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Umpan pertama
Pagi datang dengan cahaya yang masuk perlahan melalui jendela besar apartemen Lisa, namun tidak ada ketenangan di dalam dirinya, karena sejak membuka mata ia sudah kembali menyusun langkah demi langkah dengan ketelitian yang sama seperti malam sebelumnya, bahkan mungkin lebih tajam, karena hari ini bukan lagi sekadar perencanaan—hari ini adalah awal dari pergerakan nyata yang akan menguji seberapa kuat lawannya bertahan saat mulai ditekan dari berbagai arah.
Lisa berdiri di depan cermin dengan ekspresi tenang, mengenakan pakaian kerja yang rapi dan elegan, setiap detail terlihat sempurna tanpa cela, bukan hanya karena ia ingin terlihat baik, tetapi karena ia tahu citra adalah bagian dari senjata yang tidak boleh diremehkan, lalu ia mengambil ponselnya dan melihat beberapa notifikasi yang masuk sejak malam tadi, termasuk pesan dari nomor yang sudah ia kenali dengan sangat baik.
Arvin Pratama.
Lisa membaca pesan itu sekilas.
> Kita perlu bicara.
Sederhana.
Namun penuh tekanan.
Lisa tidak langsung membalas, ia justru meletakkan ponselnya kembali dan mengambil tasnya, seolah pesan itu tidak cukup penting untuk mengganggu rencana yang sudah ia susun, karena sekarang bukan lagi tentang mengikuti alur yang diinginkan Arvin, melainkan memaksanya mengikuti alur yang ia ciptakan sendiri.
Beberapa saat kemudian, Lisa sudah berada di dalam mobil menuju kantor, wajahnya tetap tenang, namun pikirannya bergerak cepat, dan tepat saat mobil berhenti di depan gedung perusahaan, ia akhirnya mengambil ponselnya kembali dan mengetik balasan singkat.
> Nanti.
Hanya satu kata.
Namun cukup untuk membuat siapa pun yang menerimanya merasa digantung.
Dan itulah yang ia inginkan.
Di tempat lain…
Clara Wijaya duduk di sebuah kafe dengan ekspresi serius, berbeda dari biasanya yang selalu terlihat santai dan ceria, di depannya duduk Riko Saputra yang sedang membuka tablet berisi beberapa data awal yang berhasil ia kumpulkan.
“Ini belum semuanya,” kata Riko sambil menggeser layar ke arah Clara, “tapi cukup untuk memberi gambaran.”
Clara memperhatikan dengan seksama.
“Apa yang kamu dapat?” tanyanya.
Riko menyilangkan tangannya.
“Devan bukan hanya CEO biasa,” katanya, “dia jarang muncul di publik, tapi semua keputusan besar tetap lewat dia, dan yang paling menarik…” ia berhenti sejenak.
Clara mengangkat alis.
“Apa?”
Riko tersenyum tipis.
“Dia tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun,” katanya.
Clara terdiam sejenak.
Informasi itu…
Justru membuatnya semakin tertarik.
“Artinya…” gumam Clara pelan.
“Artinya kalau dia mulai mendekati Lisa…” lanjut Riko, “itu bukan hal biasa.”
Clara menyandarkan tubuhnya.
Matanya menyempit sedikit.
“Kalau begitu…” katanya pelan, “kita harus membuatnya jadi biasa.”
Riko tersenyum kecil.
“Bagaimana caranya?”
Clara membalas dengan senyum yang tidak kalah tipis.
“Kita hancurkan dulu ketertarikannya.”
Di sisi lain kota…
Di dalam kantor, Lisa baru saja masuk ke ruangannya ketika seorang wanita langsung menyapanya dengan sopan.
Nina Kartika.
Sekretaris baru yang baru saja dipindahkan ke bawah koordinasi Lisa.
“Selamat pagi, Nona Lisa,” katanya.
Lisa mengangguk pelan.
“Pagi,” jawabnya.
Nina menyerahkan beberapa dokumen.
“Ada beberapa jadwal yang perlu Anda konfirmasi,” jelasnya.
Lisa menerima berkas itu sambil berjalan menuju meja, lalu berhenti sejenak sebelum berkata tanpa menoleh, “Nina.”
“Iya, Nona?”
Lisa memutar sedikit tubuhnya.
“Aku butuh bantuanmu untuk sesuatu yang lebih… spesifik,” katanya.
Nina terlihat sedikit terkejut, namun tetap profesional.
“Tentu, apa yang bisa saya bantu?”
Lisa tersenyum tipis.
“Aku ingin kamu mengatur pertemuan tidak resmi,” katanya pelan, “antara aku dan Clara.”
Nina mengangguk.
“Kapan?”
Lisa menatap ke depan.
“Secepatnya,” jawabnya.
Kalimat itu sederhana.
Namun jelas menunjukkan bahwa ia tidak ingin menunggu terlalu lama.
Karena ia tahu…
Semakin cepat ia menarik Clara masuk ke dalam permainan…
Semakin cepat pula semuanya mulai runtuh.
Sementara itu…
Di tempat lain…
Luna Priscilla berdiri di depan cermin ruang riasnya, mengenakan pakaian yang sempurna dengan riasan yang tidak kalah tajam, ponselnya bergetar di meja, dan saat ia melihat nama yang muncul, senyum tipis langsung terukir di bibirnya.
Pesan masuk.
Dari nomor yang tidak ia sangka.
Devan Alexander.
Luna membuka pesan itu perlahan.
> Kita perlu bicara.
Ia tertawa kecil.
“Menarik…” gumamnya.
Matanya berkilat.
Karena umpan pertama…
Akhirnya dilempar.
Dan ia tidak berniat untuk menolaknya.
Kembali ke kantor…
Lisa duduk di kursinya dengan tenang, menatap ke arah jendela dengan mata yang tajam namun penuh perhitungan, lalu ia berkata pelan pada dirinya sendiri…
“Satu per satu…”
Tangannya mengepal ringan di atas meja.
“Aku akan membuat kalian saling menghancurkan.”
Dan di luar sana…
Tanpa mereka sadari sepenuhnya…
Mereka sudah mulai berjalan ke arah yang sama.
Menuju satu akhir yang tidak akan bisa mereka hindari. 🔥