NovelToon NovelToon
KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: maulidiyahdiyah

Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.

Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...

Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Flashback Sudut Pandang Lain

Pukul delapan tepat di mansion keluarga Pradipta yang cukup tenang, seorang waita paruh baya dengan paras elok itu tengah memiliki di taman outdoor milik mansion Pradipta dialah Kasih Bumantara, sosok bunda dari Kaisar.

“Mbak Ayu, apa Kaisar belum bangun?”. Tanya Kasih kepada asisten pribadinya bernama Ayu.

“Maaf nyonya, tuan muda Kaisar sudah berangkat menuju China, apakah nyonya belum mengetahui hal itu?”. Jawab Ayu lembut, namun ia menyatukan kedua alisnya. Dalam hati ia berkata “Harusnya seorang ibu harus lebih tahu tentang anaknya”.

‘TAK’

Kuas yang digenggam oleh Kasih saat ini patah menjadi dua, Mbak Ayu gelagapan melihat respon majikannya tersebut.

“China, oh sungguh gila, dia bahkan tidak membicarakan ini denganku”. Keluh Kasih, namun belum usai syok yang dialami Kasih, Mbak Ayu menambahkan informasi bahwa Kaisar berangkat dengan pesawat maskapai Spencer, Kasih semakin dibuat syok.

“Carikan buku berwarna kuning batman dikamarnya”. Titahnya. “Baik”. Ayu melenggang pergi, usai perginya Mbak Ayu sontak Kasih jatuh terduduk diikuti cairan bening yang lolos dari matanya.

“Kasih kamu bodoh sekali, Kaisar bahkan belum mengetahui apapun”. monolognya.

Kasih lupa jikalau anaknya memiliki karakter keras kepala, karena keras kepala tingkat kenekatannya sangat tinggi, apa yang akan ia katakan pada Aksa selaku ayah dari Kaisar, sebab Aksa sangat menyayangi anak semata wayangnya itu.

***

“Tuan, sekarang tuan muda Kaisar sudah take off”. Ucap Kadek, Aksa terdiam menatap datar segelas wine ditangannya. Lama ia tidak menjawab ucapan Kadek, akhirnya sepuluh menit berikutnya Aksa meletakkan gelas wine tadi.

“Apa yang membuatnya pergi?”. Suara dingin Aksa adalah hal yang paling Kadek benci, ia sangat tidak suka jikalau Aksa sedingin ini, pastinya ia akan diberi tugas-tugas yang berat terlebih lagi aneh..

“Diduga, buku kuning dari nyonya”. Lanjut Kadek seraya menunjukkan bukti foto buku itu di kamar Kaisar beberapa hari lalu.

“Dasar keras kepala”. Gumam Aksa.

‘TOK, TOK,TOK’

Suara ketukan pintu terdengar jelas di ruang kerja Aksa.

“Kalau tidak penting pergilah”. Sahut Kadek dari dalam ruang kerja.

“Ini sangat penting, terkait tuan muda Kaisar”. Timpalnya. Belum sempat Kadek berucap. “Masuk”. Timpal Aksa, tak lama kemudian tampak Si Pria Pengetuk Pintu tadi.

“To the point”. Singkat Aksa, pria itu membuka lembar kerjanya di tape-nya.

“Tuan Muda Kaisar Pradipta melakukan penerbangan pukul setengah tujuh pagi tadi, dan dipukul sembilan tadi pesawat maskapai Spencer yang ditumpangi tuan muda mengalami pendaratan paksa dilaut lepas, diduga ada seratus orang meninggal akibat ledakan pesawat dan lainnya belum ditemukan, untuk tuan muda tergolong dalam korban yang belum ditemukan, sekian terimakasih atas waktunya, saya pamit undur diri”. Jelasnya dalam satu kali napas, sebelum ia melenggang pergi, karena dalam mansion Pradipta hanya Kadek seorang anak buah yang berani bertatap muka dengan Aksa, bahkan berbincang dengannya.

“Aku yakin dia anak kuat”. Gumam Aksa yang terdengar jelas di kedua indra pendengaran Kadek. “Gila”. Batin Kadek.

“Beri tahu bundanya”. Titah Aksa, Kadek mengangguk paham. Aksa menatap kepergian Kadek sampai dirinya lenyap dibalik pintu.

‘AAAARGHH’

Aksa mengerang frustasi, yang semula tatapannya dingin kini berubah sayu.

“Anakku, bumi kamu harus kuat, papa sayang denganmu”. Monolog Aksa.

Tak disangka dibalik sosok dingin itu ternyata menyimpan sisi lembut. Karena kasta orang menjadi malu untuk menunjukkan rasa sayang yang ia miliki, karena kekuasaan orang gengsi untuk menunjukkan, karena pikirnya akan terlihat lemah, sungguh pemahaman yang sangat salah kaprah.

Kasih berlari menuju ruang kerja Aksa, diiringi air mata yang sudah mengalir bak hujan deras, berkali-kali ia merutuki dirinya sendiri.

‘BRAK’

Aksa hanya menatap sekilas sosok Kasih yang usai membanting pintunya, merasa geram kepada Aksa, Kasih pun mendekat.

“Aksa!!”. Bentaknya. “Hm”. Hanya sebuah deheman singkat, wajah bunda Kasih sudah memerah karena marah, rambutnya pun di urai.

“Apa ini responmu?, Apa ini?, mana rasa khawatirmu Aksa”. Celoteh Kasih dengan suara mengintimidasi.

“Apa gunanya?”. Tanya Aksa seraya menatap dingin wajah Sang Istri.

“Kamu bangsat, bilang saja kalau tidak sayang dengan Kaisar”. perkataan Kasih barusan mampu membuat Aksa marah, ia beranjak dari duduknya, kini kedua netra Aksa sudah tak ramah untuk dilihat.

“Kamu jangn menghakimi sendiri, katakan dibagian mana aku tidak sayang dengannya”. Suara Aksa menggema, dan juga nadanya kian meninggi, tangis Kasih pecah, dia tidak menyangka respon Aksa seperti ini.

Hening, sesudahnya mereka berdua saling terdiam dan berkutat pada pikiran masing-masing, mereka saling menyalahkan tanpa mencari siapa yang benar, mereka saling egois tanpa merelaksasikan pemikiran.

Tepat pukul dua belas siang, Kadek mendapat pesan dari satu nomor tak dikenal luar negeri tepatnya China sebab diawali 86.

‘+86... IN ROOM CHAT’

+86... : Saya zhang tingxi, ingin menyampaikan ini

+86... : #image

Kadek : xie xie

Kadek : kami akan kesana

Sontak Kadek melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Aksa, ia sangat panik dari pesan tadi.

“Tuan Aksa, saya mendapat laporan dan pesan”. Ucap Kadek tatkala sampai disana, Kadek meneguk susah salivanya saat melihat Aksa menusukkan pisau di mannequin yang memang untuk menghilangkan stressnya, yang membuat Kadek lebih takut adalah pisau Aksa melayang bebas tepat di telinga Kadek untungnya dia menghindar.

“Katakan!”.

“Tuan muda Kaisar ditemukan oleh grup Zhang, yang diduga pemiliknya seorang tokoh perekonomian China, dia Zhang Tingxi”. Jelas Kadek. “Yakin”. Singkat Aksa.

“Saya sangat yakin,karena bukti foto kartu nama tuan muda disana”. Kadek menjelaskan sembari mengikuti kemanapun Aksa melangkahkan kakinya.

“Kalau salah, tunggu saja petimu”. Satu kalimat yang mampu membuat Kadek lebih ketar-ketir, seorang kapten angkatan udara memang tidak ada apa-apanya dimata para penguasa sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!