.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PaRaS_Sllh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23~
Keesokan paginya, Candra merasakan tangan Melani dan itu berhasil mengusik tidurnya. Dia pun membuka matanya dan dia melihat melani yang mulai membuka matanya, dengan segera dia berdiri dan langsung menekan bel yang berada di atas kepala ranjang Melani.
Beberapa saat kemudian, Dokter Bianca dan 3 suster di belakangnya memasuki ruang rawat Melani.Orang tua Melani dan orang tua Candra pun terbangun ketika dokter dan para suster memasuki ruangan Melani. Dokter Bianca pun memeriksa keadaan Melani menggunakan stetoskop.
"Bagaimana dok, keadaan istri saya?" tanya Candra kepada dokter Bianca ketika dokter itu sudah selesai memeriksa Melani.
"Dia sudah sadar, pak. Saya hanya mau menyarankan kepada bapak, tolong penuhi apapun yang dia minta dari bapak, asalkan suasana hatinya bagus, dan dia bisa bahagia. Dan saya harap kepada kalian semua, tolong gunakanlah waktu yang sangat singkat ini dengan sangat baik, selagi dia masih bertahan dan belum kembali kepada sang pencipta. Itu saja yang ingin saya sampaikan kepada bapak dan seluruh keluarga tentang bu Melani."jelas dokter Bianca.
"Dan saya harus menyampaikan ini kepada kalian semua. Dengan penuh penyesalan saya minta maaf kepada kalian karena saya tidak bisa menyelamatkan nyawa bu Melani. Dan menurut prediksi saya, saya sudah memprediksi dari hasil tes laboratoriun yang sudah di lakukan kepada bu Melani, bahwa bu Melani hanya akan bertahan selama beberapa hari kedepan. Saya juga sudah memprediksi ini melihat keadaan bu Melani yang semakin hari, semakin lemah, dan kondisi imunitas tubuh bu Melani benar-benar turun drastis. Kalau begitu saya permisi." imbuh dokter itu lagi dengan wajah sedih dan penuh penyesalan. Setelah menyampaikan itu, dokter dan ketiga suster itupun pergi dari ruang rawat Melani, meninggalkan keluarga yang menatap sendu kepada Melani yang berada di atas brankar.
...****************...
"Ca..Candra.."panggil Melani dengan terbata.
"Iya, ada apa"tanya Candra.
"Aku mau minum"pinta Melani kepada Candra.
Candra pun mengambil air minum yang berada diatas nakas yang berada di sampingnya, lalu memberikannya kepada Melani. Setelah selesai dia pun kembali meletakkannya di atas nakas.
"Mama, Papa, Pak, Bu, apa kalian bisa keluar sebentar dari ruanganku meninggalkan kami berdua? Aku ingin berbicara empat mata dengan Candra."Pinta Melani kepada mertuanya dan orangtuanya.
"Baiklah"jawab mereka bersamaan lalu keluar dari ruangan Melani meninggalkan mereka berdua di dalam.
Melani berusaha untuk duduk, Candra yang melihat itu, dia pun membantu Melani untuk duduk.
"Candra aku ingin tanya sesuatu padamu"kata Melani kepada Candra dengan wajah seiusnya dan matanya yang sayu.
"Apa?"tanya Candra sambil mengernyitkan dahinya bingung.
"Apa kau mencintai Desi?"tanya Melani kepada Candra. Dan pertanyaan singkat yang di lontarkan Melani keladanya itu berhasil membuatnya terkejut.
"Kenapa kau menanyakan itu?"bukannya menjawab, Candra malah balik bertanya kepada Melani.
"Kenapa aku menanyakan itu? Aku juga tidak tahu mangapa aku menanyakan itu padamu. Karena tiba-tiba saja pertanyaan itu terlintas di otakku. Tapi pertanyaan itu terlintas karena suatu kejadian telah terjadi kepadamu selama 3 tahun ini. Sejak 3 tahun yang lalu, aku merasa kau sudah berubah 180°, apapun yang kau lakukan itu semuanya palsu dan paksaan, tidak datang dari hatimu sendiri. Kau tidak sehangat sebelum Desi pergi dari kehidupanmu. Aku merasakan perubahan yang terjadi pada dirimu, tapi kau tak pernah menyadarinya. Kau hanya berusaha membuatku senang dan bahagia dengan cara berpura-pura seperti itu, tapi perlakuanmu itu malah membuat hatiku teriris. Jujur aku sangat merindukan dirimu yang dulu pada saat itu. Tapi, entah mengapa untuk menggapai dan menggenggammu kembali itu rasanya sangat sulit, walupun kita dekat secara fisik dan kita juga dekat di mata, tapi rasanya jauh di hati, sangat jauh. Dan aku juga menyadari dan menyimpulkan dari hasil pengalamanku, bahwa kau sudah tidak mencintaiku lagi, tapi kau mencintai Desi."Kata Melani dengan berderai air mata.
"Dari mana kau tahu bahwa aku mencintai Desi? Bahkan aku sendiri pun tidak tahu akan perasaanku terhadapnya."sahut Candra.
"Kau tidak bisa menyadari dan menilainya, tapi setiap orang yang melihatmu, orang itu dengan mudah menilaimu. Begitu juga denganku, aku juga dapat merasakannya. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apakah kau menginginkan anakmu?"Melani.
"Tentu saja aku menginginkannya. Aku ingin dia bahagia walau tak ada aku disampingnya. Bahkan aku sangat menyesal karena sudah menyia-nyiakannya. Anak itu tidak berdosa tapi akulah yang bersalah di sini. Akulah yang membuat dia tidak bisa aku miliki. Aku sendiri yang membuat dia jauh dariku. Aku penyebab semua ini, akulah penyebabnya."jawab Candra dengan air mata yang tak dapat dia bendung dan air matanya pun menetes di pipinya.
"Aku ingin kau kembali rujuk dengan Desi. Dengan begitu kau bisa memiliki anakmu dan kau bisa membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia. Aku ingin melihatmu bahagia dan aku tahu kebahagiaanmu ada bersama dengan Desi dan anakmu."kata Melani.
Aku juga ingin apa yang kau katakan itu menjadi kenyataan. Aku juga ingin membangun keluarga kecil yang bahagia bersama mereka berdua. Apa aku bisa egois setelah apa yang aku lakukan selama ini pada mereka? Aku tidak bisa egois, aku tidak mau egois hanya demi kebahagiaanku. Aku tidak mau dia menderita lagi hanya karena keegoisanku. Percuma saja walau aku bahagia tapi dia menderita, itu jauh lebih menyakitkan untukku. Sungguh aku tidak sanggup jika itu terjadi, aku tidak akan sanggup. Jika apa yang kau katakan itu benar bahwa aku mencintai Desi, maka aku akan membiarkan dia bahagia bersama orang lain, walau aku harus menahan rasa sakitnya.batin Candra sambil tersenyum getir.
"Aku tidak bisa Mel, aku tidak bisa. Aku tidak mau lagi dia merelakan kebahagiannya hanya demi keegoisanku. Aku ingin dia bahagia bersama orang lain. Jika aku memang mencintainya, aku hanya ingin dia bahagia. Mungkin aku bahagia jika kami kembali bersama, tapi aku takkan membiarkannya menjadi istriku karena itu hanya akan membuatnya menderita. Aku tidak peduli walau anakku mengenaliku atau tidak, aku tidak peduli karena itu pantas untuk kudapatkan. Dan kau Melani, bukankah selama ini kau mengatakan bahwa kau ingin melihat Desi bahagia? Lalu, mengapa kau menyuruhku untuk kembali bersamanya? kenapa? Apa kau pikir, kalau aku kembali bersamanya, dia sudah tentu bisa bahagia denganku? Tidak. Tolong jangan pernah membuatku menjadi pria egois lagi, aku hanya ingin dia mencari kebahagiaannya di luar sana. Karena ada banyak pria yang menanti wanita berhati malaikat sepertinya di luaran sana. Aku mengatakan itu, karena aku tak pernah bisa membuatnya bahagia, aku hanya bisa membuatnya menderita. Aku tidak rela dia kembali bersamaku."jawab Candra pada Melani dengan suara yang berat dan air mata berada di pipinya, dia mengatakan sambil membayangkan semua kenangannya bersama Desi. Rumah tangga yang dijalaninya bersama Desi sangatlah datar, tidak ada kenangan indah yang bisa diingat, yang ada hanyalah kenangan pahit.
"Aku hanya ingin kau bahagia, Can setelah aku tidak ada lagi di dunia ini. Apakah kau tak mau memnuhi permintaanku ini, walau ini adalah permintaanku untuk yang terakhir kalinya? Aku juga ingin minta maaf kepada Desi tentang semua perlakuanku kepadanya selama ini, dan ini adalah sebagai bentuk permintaan maafku kepadanya."kata Melani lagi.
"Ini bukan permintaan Melani, melainkan ini adalah perintah yang mutlak dan harus di penuhi. Tapi aku sudah mengatakan bahwa aku tidak mau kembali rujuk bersamanya. Kenapa lagi kau harus menyuruhku? bukankah selama ini kau ingin aku untuk tidak menjadi pria egois? Disaat aku ingin menjadi pria yang tidak egois, kenapa kau harus memaksaku untuk egois? Dan masalah permintaan maafmu itu, aku akan langsung datang ke Bogor menemuinya untuk meminta maaf. Aku ingin dia bahagia bersama orang lain, bukan bersamaku. Aku tidak pantas untuknya, dia terlalu baik untuk menjadi istriku"bentak Candra dan itu membuat tangis Melani semakin kencang. Ini adalah untuk yang pertama kalinya ia di bentak oleh Candra.
Tiba-tiba pintu dibuka oleh mama dan masuklah orang tua Candra dan orang tua Melani.
"Atas dasar apa kau membentak anakku? Atas dasar apa? Lalu siapa Desi? kenapa kalian membahas Desi dan anakmu? Apa kau selingkuh di bekakang Melani? Dasar brengsek, bajingan kau."bentak mama pada Candra.
"Aku minta maaf pada mama dan papa karena aku sudah membentak anak kalian, tapi aku melakukan itu karena dia sudah lewat batas. Aku tidak pernah selingkuh di belakang Melani. Desi adalah istri pertamaku, tapi kami bercerai di saat dia sedang mengandung anakku. Aku telah menghianatinya dengan menikahi Melani. Tapi, asal kalian tahu, aku tak pernah memaksa Melani menikah denganku. Dia langsung mengiyakan permintaanku yang ingin menikahinya. Aku memang bersalah dan juga berdosa, karena aku telah menghianati dan menjatuhkan agamaku sendiri hanya demi rasa cintaku. Aku tahu di agama Kristen, melakukan pernikahan poligami itu di larang keras oleh agama, tapi apa yang bisa aku lakukan? semuanya sudah terlanjur terjadi, jikapun aku memperbaiki hubunganku dengan istriku dan meninggalkan Melani, tapi yang seblumnya terjadi itu tidak dapat di perbaiki lagi. Jadi percuma saja, karena itu tidak akan merubah keadaan. Jika kalian mengatakan aku brengsek dan bajingan, aku terima perkataan kalian karena aku juga menyadari perkataan kalian itu benar adanya. Aku......."jawab Candra dengan lantang dan kepala yang menunduk. Perkataannya dia jeda karena dadanya sangat sesak.
"Aku tidak menganggap anak itu dan aku tidak menerima anak itu pada 3 tahun yang lalu. Pada saat aku dan dia bercerai dan dia pergi dari kehidupanku, aku baru menyesal, aku baru menginginkannya, dan aku baru menerima dan mengakuinya sebagai anakku. Aku menyesal, aku sangat-sangat menyesal. Dan dari saat itulah aku selalu merasa bersalah, aku selalu menyalahkan diriku sendiri, dan aku merutuki segala kebodohanku. "Setelah mengatakan itu kepada semua orang yang berada di dalam ruangan Melani, dia pun langsung keluar karena dadanya sangat sesak.
Semua orang yang mendengar perkataan Candra terbengong termasuk kedua orang tua Melani. Mereka tidak menyangka bahwa Candra seperti itu, tapi mereka juga sangat kecewa dan sangat menyayangkan karena putri mereka rela menjadi yang kedua demi cintanya. Dan Melani, dia hanya bisa menangis terisak-isak.
"Melani.."lirih mama
"Papa kecewa padamu, papa sangat kecewa padamu, kau sudah menghancurkan rumah tangga orang lain. bukan ini yang papa harapkan darimu."ucap papa sambil meneteskan air matanya. hatinya sangatlah hancur mengetahui semua ini. Begitupun dengan mama dia menangis hingga terjatuh dan duduk lemas diatas lantai.