Follow Ige author : Shalsyala
"Apa kamu lupa? aku menyetujui pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarga ku dari rasa malu kak..?"
Livia Gunawan Baskoro.
"Aku tidak pernah mengingat apapun itu, yang aku ingat kamu sekarang adalah istriku, dan kamu sangat mencintaiku sejak dulu, tapi sekarang kenapa aku tak lagi melihat cinta itu?"
Anggara Wisnu Hutama
Dua anak manusia itu terikat hubungan persahabatan sejak kecil dan di kehidupan sekarang keduanya terikat dalam sebuah pernikahan tanpa rencana yang dilakukan Angga dalam menyelamatkan Livia dari rasa malu.
Mampukah mereka mempertahankan mahligai rumah tangga yang berlandaskan cinta yang berlimpah dari Livia namun tidak untuk Angga yang hati dan cintanya masih dimiliki orang lain?
Yuuuk merapat langsung baca yaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shalsyalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Setelah saling mengungkapkan perasaan bersalah juga kecewa, Angga dan Livi kini berada di bawah satu selimut. Angga memeluk Livi yang tidur membelakanginya. Aroma wangi yang menguar dari rambut istrinya itu benar benar menjadi penenang jiwa raganya yang dilanda kebingungan juga kegelisahan sejak pagi tadi. Damai dan tenang yang Angga rasakan saat ini.
"Kamu sudah tidur?" Angga berbisik begitu pelan.
Livi yang masih terjaga sama sekali tak memberi jawaban. Ia memilih diam. Seharusnya ia masih marah dengan Angga, tapi kenapa saat ini ia merasa sangat nyaman berada dalam pelukan laki laki itu. Dan sama sekali tak menolak.
Sebesar inikah rasa cintanya pada Angga hingga membuatnya selemah ini? Hingga ia luluh hanya dengan kata kata dan nyaman hanya dengan sebuah pelukan.
"Kamu tahu, banyak relasi bisnis ku mengatakan jika aku sangat profesional dalam bekerja, konsentrasi ku dalam pekerjaan tidak pernah sekalipun terganggu meski aku sedang di hadapkan pada sebuah masalah di luar pekerjaan, tapi seharian ini, kepala ku benar benar pusing dan kacau. Semuanya hanya berisikan wajah kamu. Apakah aku berlebihan jika mengatakan aku merasakan rindu karena seharian ini tidak melihatmu? hmm?" Angga mencoba terus mengajak Livi berbicara.
Livi menggigit bibir bawahnya, menahan segala gejolak yang ada di dalam dadanya. Mendengar kata rindu yang terucap dari bibir Angga sesat hatinya melambung namun sesaat itu pula ia segera menepis kebahagiaannya. Ia tak ingin lagi berharap.
Meski ia tahu jika Angga bukan laki laki yang suka menggombal dan merayu dengan kata kata manis seperti banyak lelaki buaya di luaran sana, tapi ia masih tidak bisa sepenuhnya percaya.
"Di masa depan, jika suatu hal mengganggu pikiran kamu dengan sikap ku yang kadang terlalu bodoh ini, jangan pernah lari dari ku seperti tadi. Marahlah padaku, makilah aku hingga kamu puas. Ku mohon jangan pernah pergi dari ku Livi. Jangan pernah pergi dari ku." Ucap Angga sambil membelai lembut rambut Livi sambil menghirup dalam dalam aroma tubuh istrinya. Kemudian mengeratkan pelukannya kembali pada tubuh istrinya.
Angga mengangkat sedikit kepalanya saat tak merasakan tanda tanda sang istri merespon ucapannya. Dari samping ia melihat mata istrinya terpejam, barulah ia membenarkan posisinya kembali. "Tidurlah. Terima kasih sudah memaafkan ku." Satu kecupan ia berikan di kepala Livi.
Semua kata kata yang Angga ucapkan barusan, Livi masih mendengarnya dengan jelas karena ia memang belum tertidur. Mendengar itu semua membuat hatinya kembali bergemuruh. Haruskah ia percaya pada ucapan Angga?
...💮💮💮💮...
Hal yang selalu dilakukan Livi sejak menikah, dirinya selalu bangun lebih pagi dari sang suami. Jika biasanya ia segera menuju dapur dan berkutat disana menyiapkan kopi dan membantu Bi Sarah menyiapkan sarapan, tapi berbeda dengan pagi ini. Setelah kelaut dari kamar mandi, Livi yang masih menggunakan jubah mandinya kini tengah duduk di depan meja rias. Ia menatap pantulan wajahnya yang sungguh terlihat begitu menawan.
"Semua orang mengagumi juga memuji kecantikan yang aku miliki, tapi mungkin hanya suami ku yang sama sekali tak menyadari itu."
Ia bergumam dalam hati, matanya melirik ke arah kaca yang menampilkan tubuh suaminya yang masih tertidur. Dan saat laki laki itu sepertinya bergerak dari tidurnya, Livi segera mengalihkan pandangannya. Tangannya meraih sisir dan mulai menyisir rambut panjangnya.
Melihat Livi, Angga tersenyum lalu bergerak mendekat ke arah Livi. Ia memegang ke dua bahu istrinya lalu menenggelamkan kepalanya di pundak Livi. "Selamat pagi." Angga memejamkan mata sejenak menikmati suguhan aroma parfum, sabun juga mungkin shampo yang menguar dari tubuh istrinya.
Tak lama ia membuka mata lalu mengawasi wajah Livi dari pantulan kaca, kali ini Angga merasa jika sang istri tampak lebih cantik dengan sapuan make up yang lebih tegas menyapu garis wajah istrinya.
"Make Up? Sepagi ini?"
"Aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu mandi Kak." Ucap Livia yang berusaha melepas rengkuhan tangan Angga.
"Kenapa sepagi ini kamu dandan secantik ini? Memangnya mau kemana?" Angga bertanya sambil melepaskan rengkuhan tangannya.
Livi berdiri dari duduknya. "A-aku...aku akan bekerja membantu Papi di perusahaan mulai hari ini." Livi berucap dengan terbata, setelahnya ia menundukkan pandangan saat sorot mata suaminya menajam.
"Kenapa tidak memberi tahu ku sebelumnya?" Angga yang semula tersenyum kini wajahnya nampak mengeras. "Apa Mami menyakiti kamu lagi Liv?"
Dengan cepat Livi menggeleng. "Ini murni keputusan ku sendiri." Sangkalnya.
"Berikan aku alasan kenapa tiba tiba kamu memutuskan hal ini tanpa banyak pertimbangan? sedang baru kemarin kamu terlihat sangat bahagia mengurus rumah ini, menjadi ibu rumah tangga yang selalu kamu impikan."
"Aku...akuu...Maksud ku.."Livi berucap terbata, otaknya berputar memikirkan kata kata apa yang akan ia berikan sebagai alasan untuk suaminya.
"Kakak kan sering mengatakan kalau aku sangat labil dalam segala hal. Dan...dan ternyata menjadi ibu rumah tangga berdiam diri dirumah saja membuat ku bosan. Jadi.. jadi aku ingin menyibukkan diri di perusahaan Papi." Livi menjawab dengan cepat. Berusaha menghindari tatapan Angga yang tajam menyelidik, ia menuju lemari lalu memilih satu stel pakaian yang akan ia pakai.
Angga masih mematung ditempatnya mendengar ucapan sang istri yang ia yakini sebagai kebohongan. Ia terus memandangi pergerakan Livi dengan tatapan yang semakin membuat Livi salah tingkah.
"A-aku akan ganti baju dulu lalu aku harus berangkat, hari ini akan ada penyambutan kecil di kantor." Ucap Livi lalu menghilang di balik pintu ruang gantinya.
Angga masih termenung, tak menyangka jika Livi membuat keputusan tanpa pertimbangan darinya, meski bukan suatu keputusan besar dan bukan keputusan salah tapi ia merasa ada yang menggangu hatinya.
...💮💮💮💮...
Angga yang sudah rapi dengan setelan jas berwarna abu tua itu segera menuruni anak tangga saat tak melihat Livi di dalam kamarnya. Ia segera menduduki kursi di meja makan.
"Livi dimana Bi?" tanyanya pada Bi Sarah saat tak mendapati istrinya di meja makan.
"Non Livi sudah berangkat baru saja, tuan." Jawab Bi Sarah.
Angga sesat terdiam. "Apa ada mobil yang menjemputnya?"
Bi Sarah menggeleng. "Non Livi sepertinya memesan taxi tuan."
Seulas keterkejutan tergambar di wajah Angga. Matanya menatap kopi pekat yang berada di tangannya. Namun pikirannya tengah sibuk memikirkan sang istri yang seolah berusaha menghindarinya. Kenapa Livi tidak memilih menungguinya? Padahal ia tahu, membuat kopi dan menunggui dirinya mencoba racikan kopinya adalah saat yang paling Livi sukai. Apa mungkin kekecewaan Livi kali ini pada dirinya membuat wanita itu kembali memberi jarak antara dirinya?
Angga meletakkan cangkir kopi yang belum sempat ia coba, lalu beralih mengambil ponselnya saat terasa bergetar.
Aku berangkat lebih dulu.
Kopi mu sudah ku siapkan di meja makan.
Pesan singkat dari Livi itu membuat Angga kembali di kepung dengan rasa bersalah. Dan kali ini ia yakin jika Livi pastilah masih teramat kecewa dengan dirinya.
Jika saja kemarin bisa diulang, Jika saja aku tidak berbuat bodoh?"
...💮💮💮💮...
Mata cantik yang tertutup kaca mata hitam itu terus menatap layar ponsel. Melihat pesan yang dikirimnya beberapa waktu lalu, baru saja dibaca dengan tanda dua tanda centang yang berganti warna menjadi biru. Tak terlihat pemberitahuan jika lawan chatnya akan menuliskan pesan. Malah status yang semula Online kini sudah menghilang. Menandakan jika seseorang disana sudah menutup ponselnya.
Suara derap langkah yang terdengar dari balik pintu segera mengalihkan perhatiannya dan tertuju ke arah pintu. Terlihat dua laki laki yang jelas terlihat berbeda usia itu memasuki ruangan.
"Livi! Papi tidak menyangka kamu sudah datang sepagi ini." Gunawan terlihat terkejut.
"Seharusnya Papi memuji ku! Aku karyawan baru dan sudah datang sepagi ini, tidakkah Papi merasa sangat beruntung memiliki ku sebagai bagian dari Mega Intern Grup?" Ucap Livi sambil membuka kaca mata hitamnya.
Gunawan tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Laki laki itu tertawa sambil menghadapkan Livi kehadapannya. "Papi sangat beruntung memiliki mu sayang. Sangat beruntung. Papi punya harapan besar pada mu Livi." Ucapan Gunawan begitu sungguh sungguh.
Livi tersenyum menatap binar kebahagiaan sang Papi. Sungguh, jika saja tidak ada masalah dalam rumah tangganya, ia sama sekai tidak ingin berada disini. Belum apa apa dirinya sudah sangat merasa terbebani. Apalagi melihat kebahagiaan sang Papi, bukankan hal itu harus membuatnya benar benar bekerja keras dalam mengolah perusahaan besar ini. Bukan tidak mampu, kecerdasan yang diturunkan dari Mami dan Papi sebenarnya tak mudah untuk mengolah perusahan sebesar ini, namun kembali diawal, sebenarnya bukan ini yang ia inginkan.
"Baiklah! Papi sudah merekomendasikan jabatan yang akan kamu emban disini, kamu menjadi nomor satu setelah Papi di perusahaan ini Livi. Papi tidak meragukan kemampuan dan kepintaran kamu sayang. Tapi mengingat kamu baru kali ini terjun langsung di dunia bisnis, Papi telah menunjuk salah satu orang kepercayaan Papi untuk mendampingi kamu sayang." Gunawan menoleh ke samping, melirik laki laki bersetelan jas serba hitam yang tengah berdiri satu langkah di belakangnya.
"Vero." Gunawan memanggil laki laki yang kemarin gagal dikenalkan nya pada Livia.
Livi menatap laki laki yang disebutkan sang Papi. Laki laki itu mendekat ke arahnya. Livi menajamkan pandangannya, alisnya sedikit berkerut saat menatap wajah laki laki itu seperti sangat familiar. Tak lama, matanya melebar saat ingatannya mulai menemukan kepingan kenangan wajah laki laki itu.
"Veroo! Alvero!" Livi memekik tak percaya saat ingatannya berhasil mengenali laki laki itu.
Vero mengulas sedikit senyum lalu menganggukkan kepalanya memberi hormat dengan sopan. "Selamat Pagi Nona Livia. senang berjumpa dengan anda kembali." Sapanya.
"Kamu mengenal Vero Livi?" tanya Gunawan.
"Iya Pi! Vero pernah satu kampus dengan ku dulu. Tapi kita tidak satu jurusan." Jawab Livi.
"Baguslah kalau begitu, kalian tidak perlu beradaptasi lebih lama untuk saling bekerja sama. Vero! Dampingi Livi dan ajarkan apapun tentang perusahaan ini dengan baik padanya." Titah Gunawan.
"Baik Pak!"
...💮💮💮💮...
"Aku tidak menyangka jika kita bisa bertemu di sini." Ucap Livi.
"Saya juga berfikir seperti itu." Jawab Vero dengan sikap yang sopan. Mengingat Livi yang dulunya teman sekampus dan kini telah menjadi anak dari bos besarnya.
"Kamu banyak berubah Ver. Aku sampai pangling gak ngenalin kamu tadi." Timpal Livi disusul kekehan kecil dari bibirnya.
Vero mengulas senyum lalu menundukkan pandangannya. "Anda juga.."
"Jangan seformal itu pada ku!" Livi menyela ucapan Vero saat dirasa laki laki berkulit langsat itu terlalu kaku dalam obrolannya.
"Bagaimanapun kamu adalah bos ku sekarang Liv." Ucap Vero yang mulai bisa menyesuaikan tempatnya saat ini.
Kekehan kembali terdengar dari bibir Livi. "Gak nyangka banget ya? Kita dulu temen satu kampus sekarang malah jadi temen kerja. Kamu dulu sering godain aku karena wajah ku mirip bule, dan aku bener bener jengkel sama kamu Ver, waktu itu." Livi mengerucut bibirnya saat teringat betapa jengkelnya ia pada Vero di masa lalu yang begitu usil terhadap dirinya.
Vero tak melepas tawanya, ia hanya sesekali tersenyum. "Aku dulu juga masih ingat seseorang berlari mengejar ku, lalu memukul kepala ku dengan tas nya saat aku mendapati dirinya sedang menangisi foto seorang pria." Sindirnya.
Livi yang sejak tadi berjalan di satu langkah di depan Vero seketika menghentikan langkah. Wanita itu menatap penuh arti pada Vero sebelum kemudian matanya menerawang, mengingat kenangan dulu dirinya memang pernah dan selalu meratapi foto seorang pria kala dirinya sangat merindukan pria itu.
"Tentunya sekarang tidak lagi menangis bukan? Seingat ku wajah pria di foto itu mirip sekali dengan pria yang menjadi suami mu saat ini."
Ucapan Vero membuat pandangan Livi teralihkan. Wanita itu menatap ke arah Vero. Hatinya tiba tiba berdenyut saat mengingat betapa menyedihkan dirinya sejak dulu yang selalu meratapi cintanya pada Angga. Bahkan sampai saat ini.
Vero mencoba membaca ekspresi Livia yang tiba tiba berubah pias. "Kamu terlihat bersedih, Liv. Apa pernikahan mu tidak bahagia?"
...💮💮💮💮...
Livia hidup kesepian tanpa arahan org tuanya, tp dia tahu arahan hidupnya menjadi lebih baik
sedangkan Livia tidak banyak teman tp dia memantapkan hati pada satu hati dan dan dia benar2 pilih yg tulus padanya, meskipun dia harus merelahkan laki2 yg ia cintai bersama sahabatnya.
aku lebih suka sifat Livia
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
❤️❤️❤️❤️💜💜💜💜💙💙💙💙
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜