Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Pagi harinya setelah anak-anaknya berangkat sekolah, Senja langsung menghujani suaminya dengan banyak pertanyaan. "Kau bilang ada dinas ke luar kota, kenapa kau justru mabuk dan pulang di antar oleh seorang pela*ur?" teriak Senja sembari mengguncang-guncangkan tubuh Gading.
Gading yang semalam mabuk berat belum sepenuhnya sadar, kepalanya masih terasa sakit untuk menjawab semua pertanyaan istrinya, ia hanya mengerang. Dan hal itu justru membuat Senja semakin mengamuk. "JAWAN PERTANYAANKU MAS GADING!!" teriakan Senja menggema di seluruh penjuru kediamannya.
"Mah, sepertinya kak Senja sedang ngamuk," ucap Bintang yang tengah bersiap untuk pergi ke kampus. "Masalah yang semalam mungkin," Mentari pun bersiap untuk arisan sosialitanya, ia enggan menjual perhiasan dan tas-tas branded sebab hingga saat ini ia masih aktiv dalam pertemuan genk sosialitanya, jika ia menjual tas brandednya maka koleksinya akan berkurang dan ia tak mau terlihat hanya mengenakan tas yang itu-itu saja. Semua tas-tasnya sudah memiliki jadwal untuk ia bawa ke pertemuan itu.
"Kita lihat yuk mah!"
"Kau ini mau tahu urusan orang saja, semua rumah tangga itu pasti punya masalahnya masing-masing. Tapi idemu boleh juga, kita mengintip saja dari sini," Mentari beranjak dari tempat duduknya, ia membuka pintu kamarnya secara perlahan dan sedikit, kemudian mereka pun mengintip.
Gading masih terdiam merasakan pening di kepalanya akibat alkohol yang di minumnya semalam, di tambah suara teriakan istrinya yang begitu menggelegar. Tak lama kemudian datang beberapa orang dari kepolisian ke kediaman mereka untuk menagkap Gading.
Senja sangat terkejut, begitu pula Mentari dan Bintang, mereka langsung keluar dari kamar. "Ada apa ini pak? Mengapa suami saya di tahan?" tanyanya bingung dan panik.
Salah seorang dari pria berseragam itu mengulurkan surat perintah penangkapan Gading. Nyawa Senja serasa melayang ketika membaca isi surat tersebut karena ternyata suaminya terlibat penggelapan dana perusahaan senilai 2 miliar. "Tidak mungkin, " Senja menggelengkan kepalanya. "Ini pasti salah," ia beralih ke suaminya. "Katakan padaku, ini tidak benar, Mas..." ia menarik kerah kemeja Gading lalu mengguncang-guncangkannya, ia kak peduli meski polisi sudah memborgol tangan suaminya dan siap membawanya.
"Kau tak pernah memberiku uang sebanyak ini, kau tak mungkin terlibat kasus ini!! Ini semua pasti fitnah kan? Ayo katakan!!" teriak Senja, air mata mulai mengalir deras di wajahnya.
Gading membuang wajahnya, tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Gading, ia pasrah polisi membawanya pergi dari kediamannya. "Tidak... Jangan bawa suamiku!!" Air mata dan teriakannya tak dapat menahan polisi untuk tidak membawa suaminya, ketiga polisi itu tetap membawa Gading masuk ke mobil dan membawanya ke kantor polisi.
Senja tersungkur menatap suaminya digiring dengan menggunakan mobil polisi, kenudian pergi menjauh. Bintang dan Mentari perlahan mendekat ke arah Senja, mereka berjongkok sembari mengelus bahu Senja. "Mas Gading kenapa Kak?" tanya Bintang hati-hati.
Sembari menangis tersedu-sedu Senja mengatakan jika suaminya terlibat masalah pencucian uang perusahaan. "Mas Gading tak mungkin seperti itu, selama ini ia hanya memberiku uang belanja sesuai dengan gajinya, aku pun tak pernah menuntut lebih darinya, huhuh..." ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Sebaiknya kamu cari tahu dulu apa yang terjadi," ucap Mentari, ia membimbing putri sulungnya bangkit dan duduk di sofa ruang tamu. "Kamu kenal kan dengan teman kerja suamimu? Sebaiknya kau menghubungi mereka untuk mencari tahu."
Senja mengangguk, ia merogoh handphonenya dan menghubungi salah satu teman kantor suaminya. Dari keterangan teman kantor suaminya, Senja mendapati fakta bahwa berita tersebut benar adanya, bahkan Gading sendiri memiliki tumpukan hutang kepada teman-teman kantornya. Hal ini disebabkan karena Gading kecanduan judi online dan memiliki wanita simpanan.
Sebelum rekan kerja Gading menceritakan lebih jauh mengenai tabiat buruk Gading di kantor, handphone yang berada di tangan Senja terjatuh sebab Senja yang tak kuat mendengar cerita itu, ia jatuh pingsan dan tak sadarkan diri. "Kak Senja... Bangun!!" Bintang yang panik menepuk-nepuk pipi kakaknya.
Mentari pun ikut panik, ia mengambil handphone Senja yang terjatuh di lantai kemudian menaruhnya di meja. "Kau ambil minyak angin di kamar sana!" perintah Mentari kepada Bintang.
Tanpa membuang waktu, Bintang menuruti permintaan ibunya. Ia kembali dengan membawa minyak angin yang di minta ibunya. "Biar Mama yang urus kakakmu, kau bikinkan saja teh hangat untuknya!" perintahnya kembali.
Dengan telaten dan penuh kasih sayang Mentari menggosok-gosokan minyak angin di hidung putrinya, ia juga memijat lembut kening putrinya. Mentari sendiri sangat syok dengan berita tersebut, bagaimana tidak. Menantu yang selama ini menjadi kebanggannya karena tak pernah membuat ulah ternyata memiliki segudang masalah di belakangnya.
Beberapa menit kemudian Senja tersadar dari pingsannya, ia kembali menangis ketika teringat apa yang di lakukan suaminya di belakangnya. "Mama... Hiks..." Senja menangis di pelukan ibundanya.
Belum kering air mata senja menangisi Gading. Dua orang pria bertubuh besar datang menghampiri kediaman Seja, kedua orang tersebut adalah utusan dari perusahaan tempat Gading bekerja. Mereka meminta Senja untuk segera mengkosongkan rumah tersebut sebab Gading telah di pecat dengan tidak hormat dan tidak lagi berhak menempati rumah perusahaan. Mereka memberikan waktu 2X24 jam untuk mengkosongkan rumah tersebut.
Tubuh Senja gemetar begitu hebatnya, dadanya penuh sesak memikirkan nasib dirinya dan ketiga buah hatinya. "Lalu di mana kami akan tinggal? Huhu..." untuk kesekian kalinya tangis Senja pecah, kini hidupnya benar-benar hancur dalam sekejap mata.
Mentari menghembuskan napas beratnya. "Sekarang nasib kita sama," ucapnya nanar, memandang lurus ke depan. "Kita harus cari cara untuk segera mendapatkan tempat tinggal dan bertahan hidup."
"Aku akan mencari kerja sampingan," ucap Bintang.
"A-aku... Hiks..." Senja sendiri belum tahu harus berbuat apa, ia masih belum bisa menerima sepenuhnya bahwa kejadian ini betul-betul nyata terjadi padanya. Mentari mengelus punggung Senja dengan lembut. "Kau tenangkan saja dirimu dulu, mama tahu ini berat untukmu."
"Mama.. Huhu.." Senja kembali menagis dan memeluk mamanya. "Maafkan atas semua sikapku kemarin pada Mama hiks..." ia sadar tenyata Tuhan bisa dengan mudahnya membalik nasib seseorang. "Maafkan aku mah..."
"Iya, tenangkan dirimu dulu agar kau kuat menjelaskan semua ini kepada anak-anakmu," Mentari mengelus kepala Senja sembari berpikir apakah ini yang dulu Nadi rasakan, terusir dari rumahnya sendiri dan suaminya berselingkuh. 'Tapi wanita itu jahat dan licik sekali, membalas tanpa ampun membuat hidup kami jadi menderita,' batin Mentari.