NovelToon NovelToon
Abang Penjual Sate, Imamku

Abang Penjual Sate, Imamku

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.7
Nama Author: aisy hilyah

Sedang direvisi.

Perjalanan hidup tak selamanya lurus mulus ke depan. Juga tidak melulu berbelok dan terjal. Adakalanya kita akan merasakan manisnya hidup saat berada di puncak. Namun tak urung juga kita merasakan pahitnya hidup saat terlempar ke dasar jurang terdalam.
Begitu pun kehidupan seorang pemuda bernama Andika Razka Pratama, yang sebenarnya adalah seorang Tuan Muda pewaris tahta Perusahaan terbesar Pratama Grup. Harus merasakan pahitnya dibuang dari kehidupan sesungguhnya.
Berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan juga membiayai pendidikannya sendiri. Menjadi saksi betapa kerasnya kehidupan Nenek yang merawatnya di pengasingan. Hingga takdir merubahnya saat dipertemukan dengan seorang kepercayaan keluarganya.
Bagaimana kehidupan selanjutnya?
Temukan intrik menarik dari kisah hidup dan asmaranya. Dibubuhi konflik yang menambah rasa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paman Max Pencarian

Episode ini ditulis dari sudut pandang Paman Max

____________________&___________________

Satu Minggu sudah Tuan dan Nyonya pergi meninggalkan dunia ini. Setelah satu Minggu itu berlalu, aku mendapatkan kabar bahwa Tuan Ferdi datang ke rumah utama dan meminta untuk tinggal di sana. Awalnya aku tidak masalah karena Tuan Ferdi adalah anak Nyonya Sepuh juga. Tentunya akan menghilangkan kesepian Nyonya dengan adanya Tuan Ferdi di rumah utama tersebut. 

Namun, aku melihat gelagat mencurigakan darinya juga istrinya. Mirna lebih mendominasi rumah dari pada Nyonya, ia juga berlaku tidak adil terhadap Tuan dan Nona Muda di rumah itu. Lebih mementingkan putrinya sendiri tanpa mempedulikan keadaan Tuan rumah sendiri.

Benar dugaan ku, selang beberapa hari saja sejak ia tinggal di rumah itu. Ia sering sekali mendesak Nyonya untuk memberikan posisi Dirut di kantor kepadanya menggantikan Tuan Dika. Kecurigaan ku bertambah, aku khawatir dengan keadaan Tuan dan Nona Muda di rumah itu. Setelah beberapa kali mempertimbangkan keputusanku untuk datang ke rumah itu, akhirnya aku membulatkan tekad ku untuk datang ke rumah utama. Saat sampai di sana aku tidak diizinkan masuk ke dalam. Hei... Ada apa ini? 

"Nyonya Sepuh dan Tuan Muda Razka sudah tidak di sini lagi. Mereka sudah pergi sejak dua Minggu lalu. Dan Tuan Ferdi tidak mengizinkan Anda memasuki wilayah rumah utama ini."

Seorang penjaga menjelaskan alasan kenapa aku tidak bisa masuk ke rumah utama. Itu adalah peraturan yang dibuat Ferdi untuk semua orang yang ada di sana. Aku bingung ke mana mereka pergi.

"Apa kau tau ke mana mereka pergi?"

Tanyaku pada penjaga tersebut. Penjaga itu hanya mengangkat bahu sambil memalingkan wajah dariku. Seolah tak tau dan tidak mau tau bahkan tidak mau peduli. Aku hanya mendesah kesal dan mengancam dalam hati jika terjadi sesuatu pada mereka aku tidak akan tinggal diam. Aku pergi dari rumah utama itu dan langsung mencari keberadaan mereka.

Aku mencari ke setiap sudut kota, ku kerahkan seluruh anak buahku untuk mencari mereka. Namun mereka tak juga dapat aku temukan. Mereka seolah hilang ditelan bumi, harus kemana lagi aku mencari mereka. Setiap sudut kota sudah aku datangi bahkan aku mengirim orang-orangku untuk mencari mereka ke luar kota. Aku sebar seluruh anak buahku ke berbagai kota hanya untuk mencari tahu keberadaan mereka.

Ku pikir hanya aku yang mencari mereka, ternyata Ferdi pun mengerahkan orang-orangnya untuk mencari mereka. Tapi untuk apa? Bukankah dia yang mengusirnya dari rumah itu? Setelah aku selidiki apa motifnya mencari Nyonya Sepuh dan Tuan Muda membuat amarahku membuncah. Mereka ingin melenyapkan keduanya dari dunia ini. 

Bertahun-tahun sudah aku mencari keberadaan mereka, tapi tak juga menemukan titik terangnya. Hampir aku putus asa. Tapi Nuri selalu meyakinkan aku bahwa aku akan dapat menemukan mereka lebih cepat dari Ferdi. Aku takut mereka yang lebih dulu menemukannya. Aku takut aku terlambat saat sudah menemukan mereka. Namun, dari mata-mata yang aku utus mengintai mereka, sampai saat ini pun mereka belum juga menemukan keberadaan ke duanya.

Ya Tuhan... Ketakutan terus saja menghantuiku. Aku merasa gagal dalam memegang janji. Aku berjanji akan melindungi mereka tapi aku tidak mampu mencegah mereka pergi. Ke mana lagi aku harus mencari keduanya. 

"Sabar sayang. Akupun sama khawatirnya denganmu, aku juga merasa takut jika mereka akan menemukannya lebih dulu. Kau hanya harus tenang, kau harus mencari cara lain untuk menemukan mereka."

Ucap Nuri lembut saat ini ia sedang membenamkan kepalanya di dadaku. Menyentuh dadaku dengan lembut memberi ketenangan di sana. Aku menghela nafas berat. Ini sudah hampir enam tahun aku mencari mereka tapi belum juga menemukan titik terangnya. Ya Tuhan... Kemana lagi aku harus mencari.

"Apa kau punya ide ke mana aku harus mencarinya?"

Tanyaku padanya ku usap-usap kepalanya yang terbenam di dadaku, ia mendongak menatapku lalu kembali menjatuhkan kepalanya di dadaku. Ia melingkarkan tangannya di perutku.

"Ini sudah hampir enam tahun bukan? Seharusnya Tuan Muda sudah bersekolah, coba saja kau pantau sekolah-sekolah yang ada. Minta pada mereka untuk menjaga jarak ketika memantaunya. Agar tidak menimbulkan kecurigaan."

Ucapnya tanpa merubah posisinya, tanganku bergerak diam memikirkan apa yang baru saja dikatakan istriku.

"Kau benar; Mulai besok aku akan meminta mereka memantau setiap sekolah yang ada. Terimakasih sayang."

Ucapku senang, aku memeluk Nuri erat dan mencium kepalanya berkali-kali.

Aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin kehilangannya. Nuri semakin mengeratkan pelukannya saat aku memeluknya.

Keesokan harinya aku segera mengumpulkan anak buah yang aku miliki dan meminta mereka memantau ke sekolah-sekolah dasar yang ada, baik di kota maupun di daerah-daerah dan perkampungan.

Setelah berhari-hari memantau, tak satupun di antara mereka yang memberi laporan tentang keberadaan keduanya. Aku semakin frustasi. Rasa putus asa menjalari seluruh hatiku, menggerogoti keyakinan dan keteguhan ku. Rasa lelah mulai menggelayut manja pada kakiku. Rasanya lelah sekali kaki ini melangkah untuk mencari mereka.

Namun aku sadar, mereka kini adalah keluargaku dan bahaya mengancam mereka di luaran sana. Lengah sedikit saja aku akan kehilangan mereka berdua. Ku bangkitkan kembali semangatku, aku tidak ingin mereka mendahuluiku dan mendapatkan apa yang mereka mau. Aku tidak akan membiarkannya.

Kini, tidak hanya sekolah yang aku pantau. Tempat-tempat keramaian pun tak luput dari jangkauanku. Seperti pasar, mini market dan lain-lain. Aku mengerahkan orang-orang ku untuk memantau di sana. Kita tidak pernah tau akan dipertemukan di mana bukan. Semaksimal mungkin aku ingin menemukan mereka segera.

Pantang menyerah, lagi dan lagi ku kirim mereka ke tempat-tempat yang sekiranya akan didatangi banyak orang.

Tapi, sepertinya aku melupakan sesuatu. Tapi apa? Ku pikirkan apa yang belum aku lakukan sampai saat ini. Dan aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang tak pernah terlintas selama ini dalam pikirku. Bodoh sekali, mengapa kau tak mengingatnya sama sekali. Baiklah, akan aku datangi tempat itu besok. Meskipun aku enggan menginjakkan kakiku di tanah terkutuk itu bagiku. 

Aku membenci tempat itu, sungguh... Ada alasan mengapa aku tidak ingin mendatangi tempat itu. Tempat itu begitu banyak menyimpan kepahitan dalam hidupku. Untuk itu aku tidak memikirkannya, tapi aku harus mendatanginya besok. Karena hanya tempat itu saja yang belum aku kunjungi. Semoga tempat itu sudah berubah menjadi lebih baik.

Ku singkirkan egoku sejenak, ku tenggelamkan semua kenangan pahit di sana di dasar palung hati yang paling dalam. Aku berpura-pura menghapus semua kenangan itu dari ingatanku. Mencoba untuk tidak mengingat lagi apa yang terjadi di tempat itu.

Aku harus mendatangi tempat terlarang itu. Yaahhh aku harus mendatanginya. Semoga saja ini akhir dari perjalanan ku mencari mereka. Semoga saja aku akan menemukan mereka di sana.

Entah mengapa hatiku yakin mereka memang di sana. Semoga mereka baik-baik saja di sana. Aku akan menjemput mereka.

1
Mazree Gati
ini aja bertele tele kapanjangan pakai seosen dua segala,,,end
Aisy Hilyah: harap dimaklumi ini pertama kali saya nulis. jadi masih belepotan masih banyak salah-salah. masih jauh dari selera hehehe
total 1 replies
Mazree Gati
skpi,flasback
Mazree Gati
uda lompat baca masi sama
Mazree Gati
flasback,,skip
Mazree Gati
emil terlalu tolol, uda tahu di benci malah ikut campur tolol
jesS Noisyanthie
knp pemeran utama y jadi ubi?
baca dari awal begitu bnyk kematian
jesS Noisyanthie
jgn ngadi² thor,
jesS Noisyanthie
jujur,randy emng harus kembali pd istri dan anak y,
tp aku masih gak terima dgn rendy pernah memberikan harapan palsu sama emil😭😭😭
jesS Noisyanthie
deri jadikan berondong y emil aja thor🤭
jesS Noisyanthie
kasihan emil ,,,
jesS Noisyanthie
berarti rendy masih suaminya,kan gak ada kata talak,trs mngpa begitu mudah jatuh cinta sama emil
jesS Noisyanthie
knp nama ibu aisy adalah yanti 😭😭
itu namaku🤭🤭
Aisy Hilyah: maa syaa Allah
total 1 replies
jesS Noisyanthie
knp nama ibu aisy adalah yanti 😭😭
itu namaku🤭🤭
jesS Noisyanthie
katanya sgt mirip mita mirna, tp tidak bagi Sony,buktinya Sony tidak menyadari kalau mereka berduq bersaudara
jesS Noisyanthie
mita ibarat menari di atas luka y mirna,dan sony tdk memikirkan hal itu,
jesS Noisyanthie
org yg terlalu kecewa dan terluka menciptakan peran antagonis,
walaupun cinta tdk bisa di paksakan,tp aku bisa merasakan apa yg di rasakan mirna
jesS Noisyanthie
tio kan asisten ortu y aisy
jesS Noisyanthie
aisy?
jesS Noisyanthie
Cuma rendy yg gak dpt pelukan emil🤭
jesS Noisyanthie
razka tanya pd ferdy apakah masih jauh rumah y,
bukan kah razka sering mengantarkan emil pulang🤔
jesS Noisyanthie: maksud ku rendy🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!