Ini kisah berbagi cinta.
Amira menjatuhkan cintanya pada Gilwang seorang pria yang baru di pertemukannya saat hari pernikahannya. Tidak dengan Gilwang, tak menjatuhkan cintanya pada Amira, karena Gilwang sudah mempunyai kekasih yang berjanji akan menikahinya yaitu Anita.
Karena Gilwang orang yang pertama bisa membuatnya jatuh cinta, Amira akan tetap mempertahankan cintanya dan pernikahannya, meski Gilwang tak mencintainya. Bahkan Amira rela Gilwang menikah dengan kekasihnya asal tidak di ceraikan.
Apakah Amira akan tetap bertahan dengan pernikahannya setelah kehadiran Anita istri kedua yang ingin menjadi istri Gilwang satu-satunya?
Ikuti kisahnya hingga bab akhir. Jadikan cerita ini favorit.
kasih like dan votenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon munasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Penyesalan Gilwang
Beberapa menit sudah berlalu masakan sudah matang, Amira segera menyajikannya. Tanpa membersihkan badan dulu sebelum masak, Amira langsung mengambil sepiring nasi dan akan menyantapnya dengan lauk yang sudah disajikannya.
"Alhamdulillaah. Akhirnya aku bisa makan setelah tadi kelaparan," gumam Amira sembari menikmati makanannya.
Datang Gilwang ke ruang makan yang juga ingin makan karena sungguh kelaparan sedari tadi belum makan sesuap apa pun.
Gilwang melihat Amira sudah makan dengan lahabnya.
"Ehem...," Gilwang berdehem.
Amira menatap ke arah Gilwang.
"Maaf aku sudah makan duluan, karena aku sangat lapar," ucap Amira sedikit takut.
"Sama aku juga sangat lapar. Apa aku boleh bergabung makan bersamamu?" Tanya Gilwang.
"Tentu saja boleh, kamu kan suamiku."
Amira beranjak dari duduknya meninggalkan sepiring nasi yang belum habis.
Amira menata kursi untuk Gilwang dan mempersilahkan duduk. Cepat-cepat Amira mengambilkan piring dengan di isi nasi beserta lauknya.
"Ini silahkan makan!" Amira menyodorkan sepiring nasi dan lauknya dihadapan Gilwang.
"Terima kasih," ucap Gilwang sembari menatapnya penuh rasa kagum.
"Amira sungguh wanita yang baik dan selalu bersikap baik padaku, dia tidak punya dendam padaku meski aku sudah beberapa kali menyakiti hatinya," gumam Gilwang dalam hatinya.
Amira kembali duduk di kursinya kembali memakan nasinya dan mengajak Gilwang untuk segera makan katanya sangat lapar.
"Maafkan aku Gilwang, sebagai seorang istri aku sudah salah telah mendahuluimu makan," ucap Amira di sela makannya.
"Tidak apa-apa Amira. Kenapa kamu begitu merasa bersalah?"
"Benar Mas Gilwang nggak papa dan nggak marah?"
"Iya, aku nggak marah."
Gilwang menatap teduh Amira.
"Aku baru sadar Amira sungguh seorang istri yang baik untukku, tapi aku tidak menerimanya dengan baik, malah aku selalu menyakiti hatinya dan berharap dia pergi. Aku ini sungguh jahat," batin sesal Gilwang.
Gilwang baru menyadari Amira seorang istri yang baik, benar-benar tulus mencintainya meski dia tak mencintainya.
Di perlakukan buruk pun Amira masih bertahan dan tidak dendam, demi patuh pada perintah orang tuanya.
Gilwang merasa sangat jahat pada Amira bahkan untuk minta maaf pada Amira atas perbuatannya dia merasa malu mengakuinya.
Gilwang hanya menatap teduh Amira, Gilwang merasa bersalah pada Amira selama ini.
"Kamu mau minum," ucap Amira saat di tatap Gilwang suaminya. Gilwang masih terpaku.
"Aku akan mengambilkanmu minum."
Amira segera mengambilkan minum untuk Gilwang.
Gilwang teringat dengan rasa penasarannya, ingin menanyakan tentang ingatan masa kecilnya pada Amira.
"Ini minumanmu."
Amira memberikan segelas air putih pada Gilwang lalu kembali duduk berhadapan dengan Gilwang.
Gilwang dan Amira saling menatap usai meneguk air putih. Dari sorot keduanya mereka ingin mengatakan sesuatu.
"Gilwang," ucap Amira.
"Amira," ucap Gilwang.
Mereka bersamaan saling memanggil.
"Ada apa Amira, kamu ingin bicara?" Tanya Gilwang.
"Kamu saja dulu, sepertinya kamu juga ingin bicara padaku," ucap Amira.
"Baiklah, aku ingin bertanya padamu. Apa kamu dulu pernah menolong anak kecil yang sedang menangis karena ketakutan melihat darah?" Tanya Gilwang.
"Sepertinya aku pernah, tapi itu dulu waktu aku masih kecil, masih kelas satu SD."
"Apa kamu juga mengatakan kata yang sama seperti yang kamu ucapkan padaku?" Tanya Gilwang lagi.
"Iya, itu kata yang aku ucapkan dulu saat menolong anak kecil yang ketakutan melihat darah. Aku coba mengatakannya padamu tadi dan kamu percaya begitu saja. Itu sungguh ajaib bukan. Kamu jadi nggak takut lagi melihat darah," ucap Amira sembari tertawa geli yang tak menyangka ucapannya manjur untuk menyembuhkan rasa takut Gilwang.
Terjawab sudah rasa penasaran Gilwang. Ternyata benar gadis itu adalah Amira orang yang bisa membuat hatinya tenang.
"Aku sungguh bodoh. Ternyata Amira adalah orang yang selalu aku rindukan selama ini. Orang yang aku harapkan kedatangannya kala aku ketakutan. Orang yang sudah menjadi istriku dan hidup bersamaku. Namun aku sungguh kejam padanya," batin sesal Gilwang.
Amira masih asyik dengan ketawanya.
Melihat Gilwang dengat raut wajah sedihnya Amira menghentikan tawanya.
"Maaf Gilwang, aku tidak bermaksud menertawakanmu," ucap Amira sangat khawatir Gilwang akan marah.
Gilwang merasa malu dan bersalah pada Amira. Tanpa menjawab, dia memilih pergi meninggalkan Amira.
Amira yang di tinggal Gilwang begitu saja dalam hatinya penuh tanya.
Apakah Mas Gilwang sangat marah padaku dan kenapa meninggalkanku begitu saja
Gilwang masuk kedalam kamarnya dengan penuh rasa sesal mendalam.
Sebenarnya Amira adalah orang yang selalu di rindukan Gilwang kala ketakutan melihat darah bahkan ketakutan yang lain setelah mendapat pelukan Amira waktu kecil. Karena setelah itu mereka jarang bertemu karena para orang tua hanya bertemu saat dalam bisnis.
Amira merasa tidak tenang hatinya, yang tadi melihat Gilwang pergi meninggalkannya dengan raut kesedihan.
Di dalam kamarnya Amira nampak gusar bagaimana caranya minta maaf pada Gilwang.
Amira teringat dirinya yang hampir pergi dari rumah ini meninggalkan Gilwang karena sudah nggak tahan lagi didzalimi sebagai istri pertama yang memang tidak dicintai.
"Pasti Mas Gilwang sangat membenciku karena aku tak tau diri. Mungkin hatinya sangat jengkel hingga dia memilih diam dengan kesedihannya," gumam Amira.
Merasa tidak enak, Amira pun kembali dengan keputusannya yang akan meninggalkan Gilwang. Namun sebelum pergi Amira akan pamit dan minta maaf pada Gilwag atas kesalahannya yang terus saja bertahan namun tak diinginkan.
Amira kembali membawa kopernya keluar dari kamarnya. Langkah Amira berhenti tepat di depan pintu kamar Gilwang.
Amira mengetuk-ngetuk pintu kamar Gilwang dan memanggil namanya.
Tak ada jawaban dari Gilwang yang berada di dalam kamar yang tengah menangis menyesali perbuatannya. Gilwang merasa malu dan bersalah pada Amira.
"Gilwang buka pintunya, aku ingin bicara serius dengan kamu," ucap Amira lirih sembari memutar gagang pintu yang di kunci.
Ingin rasanya Gilwang membuka pintunya, tangannya sudah memegang gagang pintu namun Gilwang mengurungkannya. Gilwang sungguh malu berhadapan dengan Amira.
Tak dijawab dan tak kunjung dibuka pintunya, Amira akan tetap pamit dan minta maaf pada Gilwang kalau telah membuat sakit hatinya.
"Gilwang dengarkan aku."
"Aku hanya ingin minta maaf padamu kalau selama ini membuatmu kesal dan sakit hati. Aku mohon maafkanlah aku yang bodoh ini. Aku tau kamu tidak menginginkanku. Kini aku akan pergi menjauh darimu dan tak akan menempel padamu lagi. Aku tak akan menjadi parasit bagimu," ucap Amira sangat terharu tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipi.
Gilwang yang masih berdiri didepan pintu mendengar dengan jelas ucapan Amira.
"Apa maksud Amira? Apa dia akan pergi?" Gumam Gilwang.
"Aku benar-benar akan pergi Gilwang. Selamat tinggal. Semoga kamu bahagia seperti yang kamu inginkan," ucap Amira sembari menangis, air matanya keluar sangat deras sesenggukan.
Dalam hati Amira sangat berat meninggalkan Gilwang pria satu-satunya yang benar-benar membuatnya jatuh cinta padanya.
"Amira benar-benar akan pergi!"
"Tidak! Amira tidak boleh pergi," ucap Gilwang sembari tangannya membuka pintu.
Dan benar Gilwang melihat Amira berjalan membelakanginya dengan menyeret kopernya.