Di khianati, adalah satu kata yang paling menyakitkan. Bagaimana pria yang tak lagi punya rasa cinta itu bisa menjerat para wanita dalam pesonanya?
Ketulusannya terhadap Echa putri tirinya membuat Arfian menjadi pria paling di idamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Arfian cobalah buka hatimu kembali. lupakan Rena. Sena adalah wanita yang baik. dia akan menyayangi mu dan Echa dengan tulus."
"maksud mamah apa?" Tanya Arfian terheran-heran.
Rada menarik napas dalam. Dia tak ingin Arfian terus dirundung kesedihan, pria ini layak bahagia dan mendapatkan pendamping yang lebih baik dari putrinya. Sena wanita yang baik juga mempunyai sifat keibuan, ia yakin pasti akan membuat Arfian ataupun Echa bahagia. Melupakan kesedihannya dan merajut masa depan cerah bersama-sama.
"menikahlah dengan Sena. kau perlu seseorang di samping mu, untuk mengurus mu dan Echa." Jawab Rada.
Arfian mulai menangkap maksud dari pembicaraan Rada. Jadi ibu mertua nya ini ingin menjodohkan dirinya dengan Sena.
"aku tidak bisa mah." Ucap Arfian menolak dengan halus.
"tapi kenapa Arfian?"
Arfian tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya dari Rada yang menatapnya penuh harap.
"tidak bisa. hatiku sudah tak bisa percaya wanita manapun. saat ini aku hanya ingin membesarkan Echa dan melimpahkan semua kasih sayang ku padanya." Jawab Arfian sendu.
Ia melangkahkan kakinya keluar. Sungguh hatinya terluka begitu dalam hingga tak bisa lagi menerima wanita pun untuk saat ini. Pengkhianatan yang di lakukan Rena membekas dalam ingatan.
"tolong jaga Echa sebentar. aku harus ke kantor." Ucap Arfian berlalu meninggalkan Rada.
"hei, sayang..bangunlah. kau tak dengar apa yang Daddy mu katakan? dia begitu menyayangi mu." Rada memandang wajah pias Echa.
Arfian sungguh tak bisa berpikir jernih. Percakapannya dengan Rada membuat konsentrasi nya buyar. Dia jadi teringat akan Rega, cepat-cepat menghubunginya dan memintanya untuk segera datang ke kantor.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu Rega datang. Karena letak kampusnya yang tak terlalu jauh dari kantor Arfian.
"ada apa kak? apa terjadi sesuatu?" Tanya Rega, menelisik penampilan Arfian yang acak-acakan. "kakak belum ganti baju dari kemaren. apa tak malu dengan para karyawan?"
"duduklah, ada yang ingin aku bicarakan."
Rega duduk, mendadak gelisah melihat tatapan serius Arfian. Pasalnya Arfian tak pernah menunjukkan wajahnya yang begitu serius jika tak ada hal yang penting.
"apa kau tahu rencana mamah?"
Rega diam.
"kenapa diam saja? kau tak benar-benar mencintainya? apa kau akan menyetujui permintaan mamah padaku?" Berondong Arfian.
Rega sungguh tak bisa menahan diri, dia langsung membuka suaranya dan mengatakan semua isi hatinya.
"apa yang bisa aku lakukan. mamah begitu berharap kakak dan Sena menikah. lagipula kakak pria baik yang memiliki rasa tanggung jawab besar. aku tak perlu khawatir soal Sena jika dia menikahi kak Arfian. lagipula, Sena sendiri setuju. jadi apa masalah nya?"
Arfian menjadi diam mendengarkan kalimat panjang yang di lontarkan Rega. Jelas itu sebuah pengorbanan bagi Rega, dia mencintai Sena tapi merelakan dia demi dirinya. Arfian kakak iparnya dulu dan akan begitu sampai sekarang, tak mungkin dia tega menghancurkan perasaannya.
"apa kau takkan menyesal dengan keputusan mu?" Tanya Arfian sambil menatap Rega.
Arfian bangun dari duduknya, berjalan mendekati Rega. Dia mengusak rambut pria yang sudah di anggapnya sebagai adik sendiri itu.
"pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan. aku tahu kau mencintainya, yakinkan dia dan katakan dengan jujur pada mamah." Lanjut Arfian penuh perhatian.
Rega hanya diam saja. Menjawab pun rasanya begitu berat. Apa yang di katakan Arfian memang benar, dia sangat mencintai Sena itulah sebabnya kenapa dia merelakan wanita itu saat menyetujui permintaan Rada. Karena dia berpikir cinta itu tak harus memiliki, asalkan orang yang di cintai bahagia dengan pilihannya maka dia akan ikut bahagia.
...********************...
Rena berjalan di belakang mengikuti Liliana. Semenjak mereka tinggal bersama wanita itu memperlakukan Rena layaknya pembantu. Menyuruhnya melakukan apapun yang dia pinta. Rena tak bisa menolak karena tak ada pilihan lain, dari pada harus meninggalkan rumah ini.
"kau itu bodoh atau memang tak punya otak?" Tanya Liliana sambil menghentikan langkahnya.
Rena menatapnya dengan kesal.
"jangan melihat ku seperti itu. kita tahu Ben itu pria brengs*k yang tak bermoral. Dan kita dua wanita bodoh yang mencintai nya. Bagaimana jika kita balas dia? buat dia jatuh sejatuh-jatuhnya." Tawar Liliana membuat Rena mengeryit tak mengerti, mengapa wanita ini berencana seperti itu.
Belum juga menjawab, tangannya sudah di tarik lebih dulu oleh Liliana. Menyeretnya masuk kedalam kamar.
"hei.. apa-apaan ini? kenapa menarik ku..." Teriak Rena.
"diam, duduklah." Ucap Liliana. "aku tahu, kau dan Ben sudah memiliki seorang anak. aku tak sejahat yang kau kira, aku mendekatinya hanya untuk bersenang-senang saja. sekarang di mana putri mu? kenapa kau lebih memilih pria tak berhati ini? ibu macam apa kau ini?"
Rena menyeringit. Dia terkejut karena Liliana mengetahui semuanya sampai sejauh itu.
"jangan terkejut. aku bisa membayar detektif ataupun orang penting lainnya hanya untuk mengorek informasi seseorang." Jelas Liliana. "katakan padaku, kau mencintai Ben atau putri mu?"
Rena yang tadinya mulai bisa menahan rasa rindu terhadap Echa pun kembali merasakan sedih. Meskipun Ben menyakiti nya tapi dia tetap memilih bersama nya dan menekan rasa rindu nya terhadap keluarganya.
Tapi, Liliana kembali mengingatkan dirinya dengan kesedihan itu. Rena menatap Liliana, dia tak mengerti kenapa wanita ini memintanya bekerja sama untuk membalas apa yang telah Ben lakukan padanya.
"tapi..kenapa kau ingin menyakiti Ben?"
Liliana tertawa pelan. Duduk di samping Rena, jari lentiknya menyusuri wajah Rena dari pelipis hingga berhenti tepat di dagunya.
"jangan bodoh, wanita mana yang tak akan kesal di khianati oleh pasangan nya. kau pun memilih Ben bukan karena cinta yang mendalam, tapi karena kau butuh seseorang untuk menopang kehidupanmu. benar kan?"
Rena menepis tangan Liliana.
"jangan sok tahu. aku mencintai Ben. apa pun yang kau katakan padaku sekarang akan aku beritahukan kepada nya."
"cckk...dasar wanita munafik." Liliana mencekik leher Rena, ia sangat kesal karena Rena begitu bodoh juga menyebalkan menurutnya.
...***********************...
Rihanna lagi-lagi datang menjenguk Echa. Dia membawa buah juga bunga mawar. Nyonya Rada merasa jika Rihanna berbeda dengan Ben, meskipun mereka saudara kandung tapi kepribadian nya jauh berbeda.
"bunga ini bagus bukan?" Tanya Rihanna sambil meletakkannya di atas meja samping ranjang pesakitan Echa.
Rihanna terus berbicara seolah Echa mendengarnya. Dia melakukan itu tanpa sadar, entah kenapa hatinya merasa dia harus melakukan itu pada gadis kecil itu. Batinnya seolah memiliki ikatan yang kuat.
"haaaaaahhh... aku seperti orang tak waras, bicara sendiri." Gumamnya kemudian begitu tersadar.
Nyonya Rada yang mendengar itu terkekeh geli.
"kau ini lucu sekali."
"hehe.. bibi, kemana pak Arfian?"
"dia di kantor."
"uumm....kak Ben benar-benar keterlaluan. aku janji akan memarahi nya jika bertemu."
"hahaha.. iya-iya. kemarilah." Nyonya Rada menepuk tempat kosong di sampingnya.
Rihanna pun duduk. Mereka terus mengobrol bersama hingga lupa waktu.
...********************...