Ada batasan, ada aturan, namun juga ada cinta yang menggoda Dalilah sewaktu SMA. Bisakah ia menjalaninya mengingat dia bukan remaja biasa yang sanggup bertindak semaunya.
“Berikan aku sedikit kebebasan, Ayahanda!”
“Tidak, putriku. Aturan sudah mendarah daging dalam aliran darahmu sebelum kamu lahir.”
Mujurkah Dalilah menjalani kisah cinta pertamanya dengan Revi, ketua OSIS yang mengajaknya menikmati gejolak masa remaja? Beranikah dia menentang aturan yang mengakar di darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
Revi.
Baiklah princess, karena kamu sudah membuat hidupku tidak tenang lagi dan membuatku terlihat grusa-grusu dalam menyelesaikan kegiatanku. Aku akan membuatmu membayar setiap detik kewarasanku yang perlahan hilang karena hadirmu.
Sepulang sekolah, princess terlihat duduk sendiri di bangku taman. Sekali lagi pikiranku tersita oleh laki-laki yang menjadi pacarnya. Tapi pacarnya sudah pulang sejak tadi saat dijemput oleh seorang perempuan yang membawa mobil APV.
Aku menggeber-geber motorku saat berada tepat dibelakangnya. Aku ingin dia tahu keberadaanku, segera saja ia menoleh dan mendengus kesal. Princess
mencabut kunci motorku lalu menyembunyikannya di saku almamaternya.
Aku mengernyitkan dahi, maksudnya apa coba saat ia berkata. "Ambil sendiri kalau bisa!" sambil menutupi bagian depan tubuhnya dengan ransel.
Ya Tuhan, apa aku harus merogohnya sendiri. Di bagian itu!
Sebagai remaja labil, jelas aku tertantang. Apalagi pendidikan **** sudah aku dapatkan dari mommy. Aku sangat tahu apa yang dilakukan pria dewasa di bagian itu.
Tanpa pikir panjang, aku menyeringai jail dan mendekatinya. Princess terbelalak, ia melempar kunci motorku ke atas rumput dan ngomel-ngomel. Sungguh merusak imajinasiku tentang putri Raja.
Lucu sekali! Apa aku terlihat menyebalkan? Sebagian dari perempuan yang mendekatiku, jawabnya tidak. Tapi untuk princess, mungkin aku sangat-sangat menyebalkan karena kelakuanku yang jauh dari kata kalem. Tapi inilah aku, Revi Bramasta dengan segala pesona yang meluluhkan hati para gadis-gadis sebaya.
Aku menggeber motorku untuk meninggalkannya karena aku punya rencana lain, aku ingin ke rumahnya sebagai bentuk pembuktian jika aku memang tahu rumahnya. Tapi saat aku berhenti di tengah gerbang, terlihat dari kaca spion, duduk seorang laki-laki yang sekelas dengan princess. Laki-laki yang sama seperti tadi pagi.
Sekarang aku heran, pacar princess sebenarnya siapa? Yang itu, atau yang dijemput APV tadi. Membingungkan.
Setibanya di rumah. Mommy adalah seorang penyanyi yang sibuk dengan studio musiknya, sedangkan daddy adalah seorang dokter.
Dari semua keterampilan yang diwariskan orangtuaku, aku jatuh cinta pada seni suara. Aku mengikuti jejak mommy menjadi seorang penyanyi. Dan, mommy adalah guru vokalku.
Aku masuk ke studio musik, mommy mendongkak dan menghentikan kegiatannya.
"Makan siang dulu boy!" ujar mommy.
"Revi mau pergi, mom! Jadi latihannya nanti malam saja ya?" ujarku menawar.
Mommy mengernyitkan dahi. "Mau kemana?" tanyanya.
"Mau ke rumah princess." jawabku.
Mommy menyengir kuda, seolah heran dengan jawabanku. "Ke rumah princess itu artinya kamu mau ke keraton?" tanya Mommy lagi memastikan. Aku mengangguk mantap sembari melepas sepatuku.
"Kamu baik-baik saja kan, Rev? Mommy agak khawatir sama kelakuanmu sejak tadi pagi!" Mommy terlihat cemas. "Apa perlu Daddy memeriksamu?"
"Aku sangat baik, mom! Terlalu baik malah. Jadi Revi pergi dulu. Mau ngapel nih, mommy mau kasih uang jajan tambahan?"
"Mommy transfer! Ingat ya, harus sopan. Rumahnya bukan tempat sembarangan." ujar mommy dengan nada mengingatkan. Aku mengangguk dan cepat-cepat pergi ke kamarku.
Aku memilih baju terbaikku, tapi yang ada hanya flannel, kaos dan jeans. Udah itu-itu saja pakaian milikku. Aku menarik jas hitam lalu mengernyit, tidak mungkin aku memakai jas siang-siang. Orang aku belum berniat melamarnya. Jadilah, aku hanya memakai baju yang biasanya aku pakai untuk berpergian.
Aku terbelalak, setelah notifikasi m-banking masuk ke dalam ponselku. Yang benar saja mommy memberiku uang sebanyak ini. Kalau gini aku bisa beli cincin untuk melamar princess sekalian.
Tapi Daddy bilang kalau mommy suka memberikan uang lebih, uangnya harus ditabung untuk masa depan biar tenang. Jadi aku malah gak membawa apa-apa saat bertandang ke rumah princess yang berada dibagian belakang istana. Bagian privasi yang tidak boleh wisatawan kunjungi.
Aku turun dari motor. Mencari-cari dimana bel rumah. Tidak ada!
Aku lihat rumah princess masih menjorok ke dalam. Lalu bagaimana aku harus memanggilnya? Tidak mungkin berteriak. Bisa-bisa aku diusir sebelum bertemu dengan princess.
Aku berjalan dengan gusar di depan pintu gerbang. Baru kali ini aku merasa kesulitan untuk menemui seseorang.
Hingga seseorang yang memakai ageman kejawen menyapaku ramah.
Aku mengutarakan niatku, tapi sayang, gerbang tinggi yang menjadi pelindung rumah princess tidak juga dibuka.
"Saya akan panggilkan ndoro putri Dalilah terlebih dahulu, mohon ditunggu sebentar." ujar seorang pria paruh baya.
Aku menunggu. Gelisah. Kenapa ngapel kali ini lebih rumit dari biasanya. Lebih deg-degan! Apa karena yang aku datangi bukan keluarga biasa.
Ku pilih mengambil vapor dan menyesapnya. Lumayan, sedikit mengurangi rasa gugupku.
"Kamu lagi!" Aku membelalakkan mata. Itu suara princess.
Aku menoleh, belum juga aku menyapanya dengan baik. Princess sudah ngomel-ngomel tidak senang. Menyuruhku untuk mendatangi keraton yang diperuntukkan bagi wisatawan.
Aku hanya tersenyum manis, sambil sesekali menimpali perkataannya dengan santai. Melihatnya yang kesal malah terlihat semakin lucu. Dan, kedatangan seorang pria yang menjadi Raja di kerajaan ini tidak disadari olehnya.
Beliau bertanya-tanya panjang, lebar, layaknya seorang ayah kepada anak.
Aku gelagapan, karena aku terlihat seperti bad boy yang merokok dengan santainya dihadapan princess.
Aku membungkuk hormat hendak menyalami Kanjeng Sultan. Berusaha menyamankan diri sebelum benar-benar berinteraksi langsung dengan seorang Raja.
Kanjeng Sultan terlihat ramah dan bersahabat. Terlihat tampan dan gagah, serta mesra dengan putri satu-satunya saat aku menangkap apa saja yang mereka lakukan.
Oh... Betapa beruntungnya yang menjadi pacar princess. Dan, aku akan menjadi salah satunya. Itu pasti!
Princess mengajakku ke pendopo, menyuruhku ini-itu, mengingatkanku ini-itu. Aku hanya bisa mengangguk dan kagum sekaligus terpana melihat langsung rumahnya yang menjadi warisan budaya.
Tentu yang menjadi warisan budaya harus dilindungi, beserta isinya. Termasuk princess!
Aku termangu, memikirkan segala hal yang riuh di kepalaku. Tidak mudah menjadi teman princess. Apalagi menjadi pacarnya, aku pasti hanya seperti buih yang menempel, diusap pelan lalu menghilang.
Lama menunggu. Dua orang wanita cantik dengan tinggi badan yang sama. Berjalan beriringan, tersenyum dan melangkah dengan anggun. Aku semakin deg-degan. Wanita cantik yang lebih dewasa itu pasti Ibunda princess.
Beliau duduk bersimpuh di dekat putrinya yang menunduk malu.
"Siang mas Revi."
"Selamat siang, Gusti Kanjeng Ratu." Aku mengangguk, tersenyum kikuk.
"Panggil saja 'Ibunda' seperti Mbak Lilah. Ayo, diminum teh manisnya. Buatan Mbak Lilah sendiri mas Revi."
Aku mengangguk pelan. Ku lirik princess sekilas, ku tangkap sejuta keberatan dari sorot matanya. Tapi secangkir teh yang terlihat coklat muda dan mengepulkan asapnya itu jelas pembuktian bahwa princess menganggapku teman, atau sekedar tamu kesasar. Tapi princess membuatnya sendiri. Tidak dibantu pelayan?
Kenapa princess membuat duniaku teralihkan dengan segala tingkah lakunya. Princess, baru sehari saja, semua tentangmu menyedot segala atensiku.
...Happy Reading 🥰...