Di malam pertunangan Daniel dan Moza, Tiara kehilangan kesuciannya. Kehormatan Tiara direnggut oleh Daniel calon kakak iparnya sendiri.
Sejak malam itu Daniel tidak mau melepaskan Tiara malah memaksa Tiara untuk menjadi istri simpanannya. Tidak ada cinta atau kehamilan, Daniel hanya menginginkan tubuh Tiara semata.
Apa yang terjadi kalau akhirnya Tiara hamil?
Tamat perseason.
1-55 Daniel dan Tiara
Diko dan Laura
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inikah Rasanya Cemburu?
Daniel menutup lagi kain halus yang baru ia singkap di jendela kamarnya ketika tubuh mungil yang tadi sempat ia peluk di atas ranjang semakin pergi dan menghilang dari pandangannya, sedari tadi ia diselimuti amarah, dan melihat sosok Tiara dipeluk laki-laki lain membuat amarahnya semakin berkobar, bahkan hatinya terasa nyeri ketika mata bening dan bibir mungil itu menyebut, mengiba, mengharap, memohon dan membela laki-laki lain.
Rasa apa yang ia miliki ini? Mungkinkah ia cemburu? Cemburu hanya dirasakan bagi mereka yang menyimpan rasa cinta untuk orang lain. Jelas salah jika ia sudah mulai mencintai wanita yang sering memakinya itu, apa lagi ia masih tidak percaya dengan kata cinta dan setia.
Tapi bagaimana bisa hatinya sesakit ini? Bahkan pikirannya terasa kosong saat Tiara nampak putus asa saat ia tidak mau melepaskan Diko. Cemburu atau kecewa karena tidak berhasil menghabisi Diko?
Cemburu? Sedangkan dulu saat Sasa lebih memilih laki-laki lain hatinya tidak sesakit ini, tetapi mengapa sekarang hatinya seperti disayat sembilu dan disiram air garam?
Daniel merebahkan dirinya di atas ranjang, menghadap lautan luas yang terbentang di sana, satu tangannya terselip di bawah bantal dan satu tangannya lagi meraba sisi kosong di sampingnya seolah ada orang lain di sana.
"Tiara...." Nama itu lolos dari bibirnya sebelum ia memejamkan mata.
***
Matahari sudah mulai menampakkan diri, beberapa orang penting termasuk Daniel sudah berada di lahan luas untuk peletakkan batu pertama tanda pembangunan Resort akan dimulai, di depan semua orang Daniel meletakkan batu tersebut, doa dan tepukan tangan menjadi pelengkap acara.
"Kak ...." Diko menyentuh pundak Daniel ketika semua orang sudah membubarkan diri.
"Jaga sikapmu!" Daniel mengibaskan jas hitamnya sekan ada najis yang ditinggalkan Diko. "Aku bukan kakakmu," imbuhnya tanpa berniat menunjukkan keramahan.
"Pulanglah, mama merindukanmu." Diko kembali menepuk lengan Daniel. "Sampai kapanpun keluarga menjadi tempat ternyaman untuk kembali."
Daniel berdecih dan maju satu langkah, ia menunjuk bahu Diko seraya berbisik. "Keluarga itu sudah hancur saat ibumu menginjakkan kaki di rumah itu, dan sampaikan pada Remon untuk tidak mengusikku!" Tatapannya tajam, jika hanya ada mereka berdua di lahan luas ini tentu saja ia sudah memiting leher Diko.
"Beri aku kesempatan memerbaiki apa yang sudah aku hancurkan, apapun aku lakukan asal kakak mau kembali ke rumah itu lagi," ucap Diko.
"Kau tidak bisa memaksaku dan jangan berani bahas apapun tentang kau dan aku, karena dari awal kita tidak memiliki ikatan persaudaraan!" Daniel pergi meninggalkan Diko.
Di sisi lain tepatnya di bibir pantai, Regina meliukkan tubuhnya yang hanya berbalut bikini pantai sedang melakukan sesi pemotretan, banyak orang khususnya kaum lelaki terpesona dan memuji kecantikan Regina.
"Daniel!" Regina melambaikan tangan saat Daniel melihatnya. "Tunggu sebentar satu kali pemotretan lagi," teriaknya.
Daniel tidak menghiraukan Regina ia memilih mengedarkan pandangan kesembarangan arah mencari Moza ataupun Tiara karena sejak pagi tadi ia tidak melihat mereka berdua.
"Daniel ... kita makan siang, yuk!" Regina sudah merangkul lengan Daniel, bahkan sengaja menempelkan dadanya di lengan kokoh tersebut.
"Lepaskan tanganmu, Regina!" sentak Daniel, ia merasa risih dengan kelakuan Regina yang menempel seperti ulat keket.
Regina tidak perduli, ia menghalangi jalan Daniel dan memegang kedua tangannya.
"Daniel, tapi urusan kita belum selesai." Regina berjinjit dan berbisik sengaja mendesahkan suaranya. "Kita selesaikan di sini, malam ini aku milikmu." Regina mengecup sekilas pipi Daniel.
Daniel menaikkan satu alisnya. "Memangnya kau mau apa?" Daniel menatap lurus ke depan, tepat di belakang Regina, matanya sudah menangkap Tiara dan Moza.
Regina meraba bibir Daniel. "Aku mau ...." Di detik itu juga Regina menyatukan bibir mereka, melihat signal dari Daniel yang hanya diam menbuat Reginasemakin berani dan terus menvium Daniel, ia semakin melambung saat Daniel menyambut dan membalas ciu mannya.
Di tempat yang sama Tiara dan Moza berjalan berdampingan menikmati udara segar di pantai Bali yang tidak pernah sepi pengunjung. Moza memakai baju dan rok sebatas paha, sedangkan Tiara memakai tang top dan celana jeans di atas lutut lengkap dengan topi pantai di atas kepala.
"Tiara, ki-kita ke tempat lain aja." Moza mendadak gugup dan menarik tangan Tiara.
"Kenapa? Katanya mau menyusuri pantai sebelum kembali ke kota, urusan kak Daniel sudah selesai, jadi kita nikmati liburan ini." Tiara melihat wajah pucat Moza. "Kakak sakit?"
"Nggak, udah kita pergi dari sini!" ajaknya sembari memutar badan.
"Nggak mau! Kakak kenapa, sih?" Tiara mengikuti arah pandangan Moza, hingga melihat dua mahkluk gila sedang berciu man tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Daniel?" Tiara mengepalkan tangan dan berjalan cepat mendekati Daniel diikuti Moza dari belakang.
"Tiara udah biarkan aja, nanti Daniel marah." Moza berusaha menghentikan Tiara agar tidak terjadi cekcok lagi diantara Tiara dan Daniel apalagi di tempat umum seperti ini.
"Nggak bisa! Dia harus dikasih pelajaran biar ngak bisa semena-mena, kak." Tiara meminjam ember kecil dari anak-anak yang bermain pasir dan mengisinya dengan air.
"Tiara jangan kakak mohon!"
Tiara tidak perduli wajahnya memberengut seperti benang kusut lalu menyiram Regina dari belakang. Panutan bibir Regina dan Daniel pun terlepas.
"Akhh apa-apaan, sih?" Regina menghentakkan kaki dalam keadaan rambut sudah basah.
Daniel hanya diam memerhatikan raut wajah Tiara, sebenarnya ia sengaja melakukannya ingin membuat Tiara cemburu seperti dirinya cemburu melihat Tiara dekat dengan Diko.
"Regina kau memang nggak tau malu, ya! Bisa gak sih nggak usah ganggu suami orang?" Tiara melemparkan ember kecil itu ke sembarang arah, dilihatnya Moza masih berdiri cukup jauh di belakangnya.
"Suami siapa? Daniel belum menikah jadi aku bebas mau ngelakuin apa aja sama dia!" seru Regina.
"Ta-tapi dia akan menjadi suami kakakku!" ucap Tiara tidak terima. "Dan kamu Daniel, bisa nggak sih lebih menghargai kakakku? Aku udah bilang kalau kau nggak bisa buat kakakku bahagia silahkan lepaskan dia, kalau kamu nggak mau tolong setia sama dia!" pekik Tiara. "Apa susahnya, sih?"
"Kenapa kau yang cemburu, sih?" tanya Regina.
"Aku cemburu?" Tiara tertawa terbahak. "Dari mana sejarahnya aku cemburu sama kalian? Justru aku merasa miris sama kelakuan kalian, Dan kau Dan---
Belum sempat Tiara bicara, Moza sudah menarik tangannya. "Tiara udah ayo kita kembali ke penginapan," ajak Moza.
"Tapi kak---
"Tiara!"
"Nggak! Kakak harus buka mata kakak lebar-lebar, Daniel nggak pernah cinta sama kakak, ini bukti nyata di depan mata, kak!"
"Iya kakak tau, nanti kita bahas lagi" Moza mengabaikan Daniel dan memaksa Tiara pergi sampai menjauhi Daniel dan Regina.
Regina tersenyum mengejek Moza dan kembali merangkul lengan Daniel.
"Lepaskan tanganmu, jangan lancang!" sentak Daniel, ia marah karena ternyata Tiara tidak cemburu melihatnya bersama Regina.
semangat teroos kaa,,karena bagi aq skalipun ada kemiripan dengan novel yg lain nya aq akan tetap stay..asalkan cerita nya seru, alur nya bagus dn minim typo plus g ada kata2 ato kalimat2 yg rancu...💪💪
I like it...
😍😍😍😍😍👍