Ini bukan sebuah Novel tentang Bos dingin menjadi bucin ataupun perjodohan antara si kaya dan si miskin,ini adalah sebuah Novel yang menceritakan kisah cinta antara sepasang manusia berbeda Negara, kisah cinta yang ringan dan dibumbui dengan komedi yang menghibur.
Indiana Khan seorang wanita cantik berhijab yang bekerja disebuah toko bunga tidak sengaja bertemu dengan Aiman Arsya Ady yang merupakan Pemilik Restoran ternama di Malaysia.
Indi dan Aiman tidak menyadari kalau pertemuan mereka yang tidak sengaja adalah merupakan awal dari kisah cinta mereka berdua.
Selain ingin mengembangkan usahanya, kedatangan Aiman ke Indonesia adalah untuk mencari adiknya yang hilang.
Akankah Aiman bisa menemukan adiknya dan menemukan cintanya di Indonesia?
Yuk, ikuti kelanjutan kisah mereka🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Cerita ( End )
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
Satu minggu kemudian...
Azzam sudah mulai membaik dan Azzam meminta untuk pulang. Semuanya mengabulkan permintaan Azzam untuk pulang.
Selama Azzam sakit, Aiman, Indi, Joe, dan Fais yang setia menunggu dan menemani Azzam, mereka sebisa mungkin ingin membuat Azzam bahagia dan merasa dikelilingi oleh orang-orang yang disayanginya.
Pagi ini Indi sedang menyuapi Azzam makan bubur, tidak tahu kenapa akhir-akhir ini Azzam begitu sangat manja kepada Indi. Tentu saja Aiman tidak keberatan dengan semua itu toh pada akhirnya minggu depan Aiman sudah bisa memiliki Indi seutuhnya.
"Wah, masakan Buna memang paling the best deh selalu enak," puji Azzam.
"Kalau enak berarti Abi harus menghabiskannya."
"Tentu saja, Bang Upin sorry ya calonmu aku pinjam dulu," seru Azzam dengan mulut penuh makanan.
"Iya," sahut Aiman singkat sembari membereskan barang-barang Azzam yang mau dibawa pulang.
"Abi, kok manggilnya Bang Upin sih?" keluh Indi.
"Tidak apa-apa Indi, senyamannya dia saja mau manggil aku dengan sebutan apa, aku ikhlas kok," sahut Aiman.
"Tuh yang punya nama aja ga marah, ini calon istrinya kenapa marah-marah," goda Azzam.
"Ya habis masa dipanggil Upin sih."
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka...
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Lho Kei, Bang Alex, Rara tumben kalian kalian kesini pagi-pagi," seru Indi.
"Iya Indi, kita juga kan pengen jemput si tukang sayur tampan," canda Alex.
"Heleh, kamu ngerayu aku Lex? tapi maaf aku masih normal," celetuk Azzam.
"Apaan sih, memangnya kamu pikir aku ga normal apa? aku juga masih normal kali, itu kan sebutan buat kamu dari Ibu-ibu fans kamu Zam," sahut Alex.
Sementara Rara tampak berdiri dibelakang Keisya dan Alex dengan menundukan kepalanya.
"Lho Ra, kamu kenapa? kok diam saja?" tanya Indi.
"Aku mau minta maaf kepada semuanya karena selama ini aku sudah banyak salah kepada kalian semua terutama sama kamu Indi," sahut Rara.
Indipun menghampiri Rara dan memeluknya membuat Rara merasa terkejut.
"Tidak usah minta maaf Ra, aku tidak pernah marah kok sama kamu."
"Terima kasih Indi kamu memang orang yang sangat baik, aku malu sudah sering berbuat jahat sama kamu."
"Sudah jangan dibahas lagi, dulu aku sudah memaafkan kamu kok," ucap Indi dengan tersenyum manis kearah Rara.
Semuanya tampak bahagia menyambut kepulangan Azzam mudah-mudahan saja Azzam bisa sehat kembali seperti sedia kala.
Semuanya pun meninggalkan rumah sakit, selama dalam perjalanan Azzam tidak berhenti mengoceh seperti kebiasaannya dulu Azzam yang ceria, humoris, petakilan, dan si tukang gombal.
"Aku tuh merasa terharu tahu, baru kali ini aku pulang dari rumah sakit dijemput oleh banyak orang biasanya yang jemput aku hanya si tempe basi ini," seru Azzam yang melirik kearah Fais.
Seketika Fais menonyor kepala Azzam...
"Enak aja tempe basi, walaupun aku basi tapi buktinya kamu nyariin aku terus hayooo," ledek Fais dengan menunjuk wajah Azzam.
"Ya habis aku mau nyari siapa lagi buat bantuin aku kalau bukan kamu."
"Aduh bisa diam ga sih, kamu wortel kadaluarsa bawel banget sih dari tadi mulut kamu ngoceh mulu," seru Joe dengan ketusnya.
"Hai Ipin, sensi amat jadi orang oh aku tahu kamu pasti cemburu kan tadi lihat Keisya sama Alex," ledek Azzam.
"Siapa yang cemburu wortel kadaluarsa, enak aja kalau ngomong," ketus Joe.
"Udah deh ga usah bohong, wajahmu itu tidak pandai berbohong terlihat sekali kalau kamu itu cemburu melihat Keisya dekat sama Alex, iya kan Is?" seru Azzam.
"Iya betul banget," sahut Fais.
"Masa sih bisa kelihatan kaya gitu? perasaan selama ini aku sudah berusaha berikap cool kalau dekat Keisya," celetuk Joe.
"Nah kan ketahuan kalau kamu memang suka sama Keisya, tadi aku cuma nebak aja," seru Azzam dengan santainya.
"Apa? berarti dari tadi kamu hanya melontarkan pertanyaan menjebak?" tanya Joe dengan menatap tajam Azzam yang duduk disebelahnya.
"Hehehe...iya," jawab Azzam cengengesan.
"Ah dasar wortel kadaluarsa, kamu sudah menjebakku ya," sentak Joe.
Joe dengan gemasnya memiting leher Azzam sembari tangan yang satunya lagi menjitak kepala Azzam berkali-kali.
"Woi Ipin lepasin gue, ketek lo bau lo belum mandi ya," teriak Azzam.
"Iya gue memang belum mandi, makan tuh ketek asem gue," seru Joe.
"Astagfirullahaladzim, kalian kenapa sih dari tadi ribut mulu, bisa diam ga sih?" sentak Indi yang duduk di depan disamping Aiman yang sedang mengemudikan mobilnya.
Seketika Joe da Azzam langsung menghentikan keributannya.
"Habisnya si wortel kadaluarsa yang mulai nih," rengek Joe.
"Apaan, lo sendiri yang tidak mengakui perasaan lo, gue cuma nanya doang kok," sahut Azzam.
Tidak lama kemudian merekapun sampai di rumah Aiman. Mama Rahma, Papa Azril, dan Ibu Ninik menyambut kedatangan Azzam dengan suka cita bahkan Mama Rahma tidak mau melepas pelukkannya.
"Ma, sudah dong meluknya kan Papa juga ingin meluk putera Papa," seru Papa Azril.
Mama Rahma melepaskan pelukkannya dan sekarang gantian Papa Azril yang memeluk Azzam, ada rasa haru yang menyelimuti semuanya.
"Selamat datang di rumah putera Papa yang tampan, mulai sekarang kamu tinggal disini ya bareng sama Abang kamu dan Joe, soalnya Mama dan Papa tidak bisa lama-lama disini, sehabis pernikahan Aiman dan Indi kami harus kembali ke Malaysia, ada pekerjaan yang harus Papa urus," jelas Papa Azril.
"Apa kamu mau ikut sama kami ke Malaysia Nak, Mama akan sangat bahagia kalau kamu mau ikut bersama kami pulang ke Malaysia," sambung Mama Rahma.
"Ah tidak Ma, Azzam lebih nyaman tinggal disini tidak apa-apa kan kalau Azzam lebih memilih tetap tinggal disini?" tanya Azzam.
"Tidak apa-apa Sayang terserah kamu saja selama itu membuat kamu bahagia kami tidak akan melarangnya, lagipula Aiman dan Joe sudah mengurus kepindahannya untuk menjadi WNI jadi kamu akan ditemani Abang kamu disini, bahkan Mama sama Papa juga akan sering berkunjung kesini," sahut Mama Rahma.
"Ayo semuanya kita makan dulu, Ibu sudah memasakan makanan kesukaan Azzam lho," seru Ibu Ninik.
"Benarkah Bu, wah Azzam jadi lapar kalau mendengar Ibu yang masak," sahut Azzam.
Seketika Fais menoyor kepala Azzam dengan gemasnya...
"Aduh, apaan sih Is?" keluh Azzam.
"Bukannya barusan kamu baru saja menghabiskan satu mangkuk bubur buatan Indi ya, sekarang mau makan lagi?" tanya Fais tidak menyangka.
"Halah itu hanya bubur tidak dapat mengenyangkan perutku, aku ingin makan nasi sekarang," sahut Azzam.
Joe yang berada disamping Azzam mengetuk-ngetukan jarinya di kening Azzam.
"Tok..tok..tok..hallo otak lo masih beres kan ga ada yang geser?" seru Joe.
"Apaan sih lo Ipin," Azzam menepis tangan Joe.
"Memangnya lo pikir bubur itu terbuat dari apa wortel kadaluarsa, lama-lama gue bisa stres dekat sama lo," keluh Joe.
Dan itu semua membuat semuanya geleng-geleng kepala dan tertawa melihat tingkah Azzam dan Joe. Mereka semua larut dalam kebahagiaan, tertawa bersama.
Setelah selesai makan, Mama Rahma dan Ibu Ninik membereskan bekas makan mereka sementara para anak muda memutuskan untuk berkumpul dihalaman belakang yang ditumbuhi tanaman dan rumput.
"Oh iya, ada kabar gembira buat kalian semua," seru Alex.
"Apa Bang?" tanya Indi.
"Sebenarnya aku sama Keisya sudah jadian," sahut Alex.
"Wah, selamat ya Bang Alex, Keisya," seru Indi seraya memeluk sahabatnya itu.
"Buruan halalin Lex, takutnya kamu ditikung sama orang lain," sahut Azzam dengan melirik kearah Joe sembari tersenyum jahil.
"Hah, siapa yang bakalan nikung Zam?" tanya Alex panik.
"Ada pokoknya, makannya cepetan halalin tuh si Keisya."
"Tenang aja Zam, sehabis Indi sama Mas Aiman nikah, aku akan melamar Keisya," seru Alex dengan yakinnya sehingga membuat Keisya malu sekaligus senang.
Azzam menahan tawanya dan melirik kearah Joe.
"Woi Ipin jangan sedih, tuh ada cewek cantik di anggurin," ucap Azzam sembari menunjuk kearah Rara.
"Memangnya Rara mau sama Abang?" tanya Joe.
Rara yang mendapat pertanyaan mendadak itu langsung salah tingkah dan wajahnya berubah menjadi merah karena menahan malu.
"Wajah kamu kenapa Ra? kok merah kaya gitu?" tanya Fais.
"Ya ampun Ra, wajah kamu sudah kaya tomat rebus aja," celetuk Azzam.
Lagi-lagi Fais menoyor kepala Azzam...
"Kepiting rebus Bambang, bukannya tomat rebus kalau tomat rebus wajah si Rara benyek dong," sahut Fais.
"Wah Ra, wajah kamu dikatakan benyek tuh sama si Fais," seru Azzam.
"Astaga, sudah-sudah ribut mulu sih ga ada habisnya dari tadi," sahut Indi.
Sedangkan Aiman hanya tersenyum melihat kelakuan semuanya.
***
Satu minggu pun berlalu, semuanya mereka lalui dengan kebahagiaan dan hari ini tepat dimana Aiman dan Indi akan melangsungkan ijab kabul dan dilanjut malamnya resefsi yang diadakan di restoran baru milik Aiman.
Indi yang menginginkan resefsinya di restoran saja tidak di hotel karena kalau di hotel menurut Indi terlalu mewah dan Indi tidak mau seperti itu, Indi hanya menginginkan pesta yang sederhana namun sangat berkesan.
Aiman dan keluarga sudah menunggu kedatangan Indi di sebuah Mesjid di kampung tersebut bahkan sebagian keluarga Aiman ada yang datang langsung dari Malaysia untuk menyaksikan pernikahan Aiman.
Azzam tampak sangat tampan dengan pakaian serba putih, tapi kali ini Azzam terlihat murung dan melamun seperti ada yang dipikirkan dan Aiman menangkap raut wajah sedih Adiknya itu.
"Zam, bisa kita bicara sebentar hanya berdua," seru Aiman membuat semua orang melihat kearah mereka berdua.
Azzam pun menganggukkan kepalanya dan beranjak mengikuti Aiman kearah luar Mesjid.
"Ada apa Bang?" tanya Azzam yang saat ini sudah berada diluar Mesjid.
Perlahan Aiman menggenggam tangan Azzam dan menatap Azzam dengan seksama.
"Menikahlah dengan Indi, Abang ikhlas dan ridho kalau kamu menikah dengan Indi, Abang ingin kamu bahagia," seru Aiman.
Azzam sangat terkejut dengan pernyataan Aiman dan dengan reflek Azzam menepis tangan Aiman.
"Maksud Abang apa? jangan macam-macam deh Bang, pernikahan Abang sudah didepan mata, jangan bilang Abang hanya ingin mempermainkan Indi," bentak Azzam dengan kilatan amarah yang dia rasakan.
"Abang tidak pernah mempermainkan Indi, Abang sangat mencintai Indi tapi Abang ingin membuat Adik Abang bahagia, dan Abang rela memberikan Indi untukmu karena Abang tahu kebahagiaan kamu adalah Indi," jelas Aiman.
"Abang jangan ngaco."
"Abang tidak ngaco, Abang sudah tahu semuanya dari Fais kalau kamu dari dulu menyukai Indi tapi kamu selama ini hanya mampu memendamnya, iya kan?" seru Aiman yang seketika membuat Azzam terdiam.
"Sudahlah Bang, aku punya alasan mengapa aku memendam perasaanku sama Indi, lagipula Indi ga mungkin punya perasaan yang sama terhadapku karena dia hanya menganggapku sebagai Kakaknya tidak lebih, ayo cepetan masuk sebentar lagi Indi datang," seru Azzam datar sembari masuk kedalam Mesjid meninggalkan Aiman.
Aiman pun menyusul Azzam masuk kedalam Mesjid dan duduk ditempatnya, sementara Azzam berusaha menyembunyikan perasaan tak karuannya dengan mengajak Joe bercanda.
Tidak lama kemudian rombongan Indi sampai di Mesjid, Indi tampak sangat cantik membuat Aiman dan Azzam menatapnya tanpa berkedip, tapi Azzam segera memalingkan wajahnya dan berpura-pura mengajak Fais berbincang.
Indi pun duduk disamping Aiman yang masih menatap Indi dengan tatapan penuh cinta hingga suara Penghulu menyadarkan Aiman. Sebelum melaksanakan ijab kabul, Penghulu memberikan nasehat-nasehatnya kepada calon pengantin itu.
Sedangkan Azzam tiba-tiba merasakan sesak nafas, Azzam berusaha menahannya karena Azzam tidak mau mengacaukan acara sakral Abang dan wanita yang dia cintai itu. Fais merasa aneh dengan gelagat Azzam, dia melihat wajah Azzam yang sudah mulai pucat.
"Zam, kamu kenapa? wajah kamu pucat banget," bisik Fais.
"Ti--tidak apa-apa, ka--kamu jangan khawatir," ucap Azzam dengan berusaha tersenyum.
Hingga tiba waktunya Penghulu menjabat tangan Aiman, belum juga Penghulu mengucapkan sepatah katapun tiba-tiba Azzam batuk-batuk dilihatnya ditangannya darah segar keluar dari mulutnya.
"Astagfirullah Azzam," teriak Fais yang membuat semua orang melihat kearah mereka berdua.
Aiman yang melihat Azzam seperti itu langsung berlari menghampiri Azzam, sementara Azzam merasakan sesak nafas yang sangat luar biasa. Tanpa menunggu lagi, Aiman langsung menggendong Azzam keatas punggungnya dan membawanya ke rumah sakit.
Seketika semuanya menjadi panik dan menyusul Azzam ke rumah sakit, Indi pun dengan masih menggunakan kebayanya ikut ke rumah sakit, Indi tidak henti-hentinya menangis dipelukan Keisya.
Setelah sekian lama menunggu akhirnya Dokterpun keluar, semua orang tampak menghampiri Dokter itu.
"Bagaimana dengan keadaan putera saya Dok?" tanya Papa Azril.
"Maaf Tuan, keadaan Mas Azzam sangat kritis, Mas Azzam mengalami komplikasi pada jantungnya, dan apa disini ada yang namanya Indi," seru Dokter.
"Saya Dokter," sahut Indi lirih.
"Bisa anda masuk kedalam, Mas Azzam ingin bertemu dengan anda," seru Dokter.
"Baiklah."
Indi pun masuk kedalam ruangan tempat Azzam dirawat, terlihat Azzam terbaring lemah dengan berbagai macam alat menempel di seluruh tubuhnya. Indi tidak bisa menahan air matanya lagi, Indi hanya bisa menangis dengan menutup mulutnya dengan tangan.
Perlahan Indi mendekat dan Azzam menoleh dengan senyuman yang sangat indah menurut Indi.
"Buna," seru Azzam lirih.
"Abi...."
Indi kembali menangis bahkan saat ini pundaknya sudah bergetar hebat, perlahan Azzam menggenggam tangan Indi membuat Indi tersentak dan menatap kearah Azzam.
"Sebelum Abi pergi, Abi ingin mengatakan sesuatu sama kamu, sebenarnya dari dulu Abi sangat mencintai kamu sejak pertama bertemu Abi langsung menyukaimu tapi Abi hanya bisa memendam perasaan ini, Abi tidak sanggup mengungkapkan perasaan Abi sama kamu," ucap Azzam.
Azzam menjeda ucapannya, nafasnya terlihat terengah-engah Indi sangat terkejut dengan ungkapan cinta Azzam yang menurut Indi sudah terlambat.
"Abi ingin sekali mengungkapkan perasaan Abi sama kamu, tapi penyakit Abi yang membuat Abi patah semangat. Abi sangat mencintaimu, Abi ingin sekali melihat kamu bahagia jadi Abi lebih memilih memendam perasaan Abi," seru Azzam dengan masih menatap Indi dan menggenggam tangan Indi.
Indi sama sekali tidak bisa berkata apa-apa lagi, hancur sudah hati Indi mendengar ungkapan cinta dari Azzam, air matanya semakin mengalir deras tak kuasa lagi menahan rasa sakit yang dirasakannya.
"Kenapa Abi tidak bilang dari dulu?" tanya Indi.
"Abi tidak bisa Indi, Abi tidak mau membuat kamu sedih, cepat atau lambat Abi akan pergi ninggalin kamu dan Abi tidak mau membuat kamu sendirian, tapi sekarang Abi yakin kalau Bang Aiman bisa jagain kamu Indi dan membuat kamu bahagia," ucap Azzam dan tak terasa cairan bening keluar dari sudut mata Azzam.
Indi menghapus air mata Azzam dengan tangannya yang gemetaran menahan sesak didadanya.
"Tolong panggilkan Penghulu kesini, Abi ingin menyaksikan kamu menikah dengan Bang Aiman," seru Indi.
Indipun memanggil Penghulu, saat ini semuanya sudah berada didalam ruangan perawatan Azzam termasuk Dokter yang menangani Azzam, Mama Rahma terus menangis dipelukan Papa Azril.
"Saya terima nikah dan kawinnya Indiana Khan binti Fathan Sudrajat dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai."
Aiman begitu lancar mengucapkan ijab kabul didepan Penghulu. Semuanya tampak mengucapkan syukur, setelah sah menjadi sepasang suami istri, Aiman dan Indi pun menghampiri Azzam yang sudah tersenyum.
"Akhirnya kalian sudah menjadi pasangan suami istri, Bang tolong jaga Indi, sayangi dia, dan bahagiakan dia, aku percaya sama Abang. Dan untuk kamu Indi, terima kasih sudah mau mendengarkan isi hati Abi, sekarang Abi sudah tenang," ucap Azzam dengan tersenyum kearah Indi.
Tiba-tiba Azzam kembali merasakan sesak nafas, Dokter dengan sigap segera memberikan pertolongan tapi takdir berkata lain Azzam menghembuskan nafasnya yang terakhir.
"Inalillahiwainailaihi raji'un, mohon maaf Mas Azzam sudah meninggal," seru Dokter.
Seketika semuanya histeris, tangisan semuanya pecah Aiman dan Indi langsung memeluk tubuh Azzam.
"Abi bangun jangan bercanda, ini tidak lucu Indi masih ingin mendengarkan gombalan-gombalan Abi, Indi bakalan masakin Abi terus, Abi bangun Abi jahat kenapa tinggalin Indi secepat ini," teriak Indi dengan histerisnya.
Aiman langsung memeluk wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Mama Rahma pingsan seketika, Fais berkali-kali memukul dinding, Joe tampak menjambak rambutnya sendiri, sementara yang lainnya hanya bisa diam menahan sakit yang mereka rasakan.
"Abi bangun Abi jangan seperti ini," teriak Indi dengan meronta-ronta dipelukan Aiman.
***
Disebuah tempat pemakaman umum, satu persatu pelayat sudah meninggalkan pemakaman hanya tinggal Indi, Aiman, Joe, Fais, Keisya, Alex dan Rara.
"Selamat jalan Abi, sekarang Abi sudah tidak merasakan sakit lagi terima kasih selama ini sudah mewarnai hidup Indi," ucap Indi dengan mengusap papan nama bertuliskan nama Azzam.
"Terima kasih Zam, sudah membantuku, mengangkat derajatku, kamu orang baik yang berhati mulia aku yakin Alloh sudah menempatkanmu di surga-NYA," ucap Fais.
"Azzam adikku, walaupun hati aku sakit dan belum bisa menerima semua ini, tapi aku sangat bersyukur aku bisa melihat wajah adikku sebelum kamu pergi dan aku juga bangga sama kamu karena kamu tumbuh menjadi orang yang mempunyai sifat mulia, maaf karena Abang baru bisa menemukanmu setelah berpuluh-puluh tahun lamanya," ucap Aiman dengan nada bergetar.
Indi mengusap punggung Aiman, semuanya tampak larut dalam kesedihan. Sampai kapanpun mereka tidak akan melupakan sosok Azzam yang ceria, ramah, petakilan, dan humoris dengan gombalan-gombalannya.
"SELAMAT JALAN AZZAM, HANYA DO'A YANG SELALU MENYERTAIMU"......
( END )
Jangan lupa
like
vote
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU💋💋💋
thor..aku penasaran ni,si azzam manggil indi 'buna',apa arti nya?...
tapi sayang ya yg menjadi tokoh Azzam dibuat meninggal saya jadi engk rela karena dia belum lama jumpa keluarga kandungnya