NovelToon NovelToon
Drachenfutter (Hadiah Dari Sang Suami)

Drachenfutter (Hadiah Dari Sang Suami)

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Cintamanis / Kriminal / Eksplorasi-detektif / Chicklit / Tamat
Popularitas:246.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Mei Shin Manalu

Sebuah kasus mengerikan menyerang seorang teman Gevio di sekolah. Demi menyelamatkan teman sang anak, Elden, Erie dan seluruh anggota organisasi harus menghadapi pertarungan penuh intrik dengan para pemimpin negara guna menangkap pelaku sebenarnya. Bisakah mereka melawan para penguasa dan menyelamatkan korban?

Novel ini merupakan kelanjutan dari novel ‘Danke, Häschen !!!’. Dengan mengangkat genre action romance, novel ini ingin menantangmu untuk berpikir, bersimpati dan tentu saja berimajinasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Crosscheck

“Nyonya, dokter sudah datang,” ucap Marline mengabari Erie kehadiran dokter di rumah mereka. Karena tubuh Gevio tiba-tiba menjadi panas, Erie meminta Marline untuk memanggil dokter ke sana.

“Syukurlah dokter sudah datang. Biarkan dokter itu masuk kemari,” tutur Erie lega. Ia melepaskan tangannya di kening Gevio untuk membiarkan sang dokter memeriksa anaknya itu.

Sang dokter masuk ke dalam bersama dengan Elden yang mengikuti di belakangnya. Sepanjang pemeriksaan, Erie terlihat begitu khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Gevio? Menghadapi kemungkinan putra satu-satunya itu dalam keadaan tidak baik membuat getaran ketakutan tiba-tiba muncul di dada Erie. Kedua bola matanya tak berhenti menatap dokter itu dengan lekat.

Elden menghampiri istrinya, meletakkan tangannya untuk merangkul pundak sang istri sambil berusaha menenangkannya. Sesaat setelah sang dokter menyelesaikan pemeriksaannya, Elden langsung bertanya padanya. “Bagaimana keadaan putraku?”

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Gevio hanya demam biasa. Aku akan membuat resep obat penurun panas dan beberapa vitamin. Aku sarankan agar dia beristirahat selama dua hari ini,” jelas dokter yang merupakan teman Elden itu dengan wajah datar tanpa ekspresi. Ia telah memeriksa suhu tubuh Gevio dan juga kondisi tubuhnya termasuk denyut nadi anak itu. Hasilnya, selain suhu yang mencapai 38,7 derajat Celsius, semuanya baik-baik saja.

Erie bernapas lega. “Terima kasih dokter,” ungkapnya tulus. Tidak ada masalah kesehatan pada anaknya. Itu adalah kabar yang melegakan baginya.

Setelah menuliskan beberapa resep ke atas kertas, sang dokter memberikan kertas itu kepada Elden. “Terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu,” ucap Elden sambil membaca sekilas kertas yang disodorkan oleh dokter itu.

“Kau harus meneraktirku makan jika ingin membalas jasaku,” canda sang dokter.

“Tentu saja. Pilihlah waktu sesukamu. Nanti kita pergi untuk bersenang-senang.”

“Kau sudah mengatakannya Elden. Suatu saat, aku akan menagih ucapanmu.”

Dokter itu membereskan peralatannya dan berdiri dari ranjang Gevio. “Aku pergi dulu karena rumah sakit membutuhkanku,” pamit laki-laki itu.

“Sekali lagi terima kasih, dokter,” balas Erie dengan sopan. Meski dokter itu merupakan teman suaminya, tetapi Erie tetap memperlakukan laki-laki yang sudah menangani Gevio sejak kecil itu dengan ramah dan sopan.

“Kau tahu jalan ke pintu keluarnya bukan? Apa perlu aku antar?” tawar Elden seraya melemparkan candaan kepada temannya itu.

“Tidak perlu Tuan Alvaro. Kau menepati janjimu saja itu sudah bagus untukku. Sudahlah, aku harus segera pergi," balas sang dokter.

Elden mengangguk. “Baiklah. Terima kasih.”

Elden mengamati sang dokter itu sampai ia pergi dari kamar anaknya. Selanjutnya Elden mendekati Erie dan berdiri di dekat ranjang Gevio sambil memperhatikan wajah pucat sang anak yang sedang tertidur itu.

Tarikan napas Erie terdengar dengan jelas. Perempuan itu mendesah. “Aku terlalu ceroboh, Elden. Aku terlalu sibuk hingga tidak memperhatikan Gevio dengan baik. Harusnya aku bisa menjaga anak kita.” Ia memelankan suaranya agar sang anak tidak terbangun.

Elden mengalihkan tatapannya dari Gevio ke arah Erie. “Sayang, ini bukan salahmu. Tidak ada yang perlu disalahkan dari kejadian ini. Bukankah kata dokter tadi Gevio hanya demam biasa? Jadi kau tidak perlu khawatir.” Ia mencoba menenangkan istrinya. Erie memang tidak secara terang mengungkapkan penyesalannya, tetapi Elden sangat memahaminya. Lagi pula dalam kasus ini, tidak ada satu pun yang bisa disalahkan.

Erie menoleh untuk memandang sang suami. Ia tersentak. “Kau tidak ke kantor, Elden? Ini sudah jam sepuluh pagi,” ucap perempuan itu yang merasa heran melihat suaminya yang masih berada di rumah.

“Tidak.” Elden menggeleng. “Aku sudah mengatakan pada Mario kalau Gevio sakit. Jadi dia akan mengirimkan pekerjaanku.” Ia berjalan mendekat ke tubuh Gevio dan menarik selimut agar menutupi tubuh anak itu. Kemudian ia menatap Erie. “Sebaiknya kita biarkan Gevio beristirahat, sayang. Aku juga punya sesuatu yang harus aku diskusikan denganmu.”

Erie mengangguk. Ia memperhatikan wajah Gevio sejenak sebelum mengikuti langkah Elden meninggalkan kamar putra semata wayang mereka itu.

“Bagaimana kalau kita berbicara di ruang kerjaku?” tanya Elden menawarkan sebuah tempat yang akan mereka gunakan untuk berdiskusi.

“Tidak masalah,” jawab Erie.

Elden membuka pintu ruang kerjanya dan membiarkan istrinya masuk terlebih dahulu, baru ia menutup pintu dari dalam.

Elden dan Erie duduk secara berbarengan di sofa yang sama. Itu dilakukan agar komunikasi mereka dapat terjalin dengan baik. Sebab, dengan duduk di tempat yang sama menandakan bahwa kedudukan mereka adalah sama, yaitu sama-sama orang tua Gevio. Tidak ada posisi yang lebih tinggi atau lebih rendah. Berbeda saat Elden berbicara dengan bawahannya. Biasanya Elden akan duduk berseberangan dengan mereka yang menyiratkan strata di antara ia dan anak buahnya.

“Apa aku perlu menutup butikku saja ya?” gumam Erie. Pendapat itu langsung diutarakan Erie di awal obrolan mereka. Sebenarnya, sejak beberapa hari yang lalu, Erie sudah memikirkan untuk menutup butiknya. Dan pikiran itu semakin kuat setelah kejadian hari ini. Andai saja Erie tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya, mungkin saja Gevio tidak akan menyimpan rahasianya seperti itu. Andai saja Erie tidak terpaku pada butiknya, perempuan itu pasti bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan anaknya.

Erie mengembuskan napasnya dengan berat. Pemikiran yang berkecamuk dalam dirinya membuat ia menyalahkan dirinya sendiri karena merasa lalai menjaga putranya dengan baik.

“Kenapa kau berbicara seperti itu, sayang?” tanya Elden menyela lamunan istrinya. “Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian hari ini,” kata Elden menebak hal yang menyebabkan Erie melamun.

“Tapi aku merasa seperti ibu yang tidak baik, Elden” sahut Erie.

Elden sangat mengerti kecemasan Erie. Tetapi menurutnya, pilihan untuk menghentikan pekerjaan sang istri hanya untuk menjaga Gevio adalah pilihan yang egois. Elden tahu dengan benar bagaimana kegigihan istrinya dalam pekerjaan itu. Tekad perempuan itu bahkan sanggup membuat Elden terkesan.

Elden kembali teringat saat-saat mereka berbincang santai di beranda penthousenya dulu. Sambil menatap taburan bintang di langit, Erie mengungkapkan mimpinya untuk pertama kali. Dan mimpi itu adalah menjadi desainer pakaian. Dari perbincangan itu, Elden dapat melihat pancaran api semangat dari kedua mata istrinya. Lantas, bagaimana mungkin sekarang pria itu memadamkannya?

Begitu melihat Elden tidak menanggapi perkataannya, Erie berusaha menjelaskannya. “Aku ingin berhenti bekerja bukan hanya karena Gevio, Elden. Aku sudah memikirkannya sejak lama dan aku rasa pekerjaan ini membuat aku lelah.”

Bohong! kata Elden di dalam hatinya. Jika memang Erie ingin berhenti sejak lama, maka perempuan itu tidak mungkin ikut mendaftarkan diri dalam perlombaan beberapa waktu yang lalu di mana Elden menjadi model utamanya. Kendati sudah berusaha keras mencari alasan, Elden tetap bisa melihat gelagat ketidakrelaan dari raut wajah istrinya.

Erie masih menatap wajah Elden dan ia terkejut. Kedua mata hazel Elden bertatapan dengannya, tapi pria itu tidak mengatakan apa-apa. Suaminya bergeming. Anehnya Erie menemukan raut wajah sedih di sana.

“Elden, kenapa kau diam?” tanya Erie. Ia bergerak mendekat, sebelah tangannya menyentuh pipi Elden. “Ada apa dengan wajah ini? Apa kau merasa sedih?”

“Sedikit,” timpal pria itu sambil menggangguk.

“Tapi kenapa?” tanya Erie lagi merasa penasaran.

“Karena kau mengatakan hal yang membuatku sedih.”

“Ha? Yang mana?”

“Semuanya, terutama tentang keinginanmu untuk berhenti menjadi desainer.”

Erie mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Kenapa itu membuatmu sedih?”

Sebuah napas berat keluar dari mulut Elden. Pria itu mengamit tangan Erie yang berada di wajahnya dan membawanya turun. Sambil menggenggam tangan itu, Elden berkata, “Kau membuatku seperti suami dan ayah yang gagal.”

Erie terbelalak mendengarkan penuturan suaminya. “A..aku… Aku sama sekali tidak bermaksud begitu, Elden.” Perempuan itu tergugup. Selama menikah dengan Elden, Erie belajar satu hal yang berharga mengenai laki-laki, yaitu tentang bagaimana pentingnya sebuah harga diri bagi seorang lelaki.

“Maka jangan ucapkan lagi!” tegas Elden. “Apa kau pikir aku tidak bisa mengurus anakku sampai kau harus berhenti bekerja seperti ini?" tambahnya dengan suara terdengar kesal.

Ini di luar dugaan Erie sama sekali. Melihat bagaimana tidak relanya Elden saat ia meminta izin untuk mengikuti beberapa kontes peragaan busana, Erie pikir suaminya akan dengan senang hati menyetujui usulannya untuk berhenti bekerja. Tetapi, tampaknya tidak.

Erie memperhatikan lagi wajah pria di depannya. Wajah itu berubah menjadi kaku. Sepertinya suaminya sedang marah. Astaga, demi apa pun, Erie sama sekali tidak ingin situasinya menjadi seperti ini. Ia tidak ingin bertengkar dengan sang suami di saat anak mereka sedang terbaring sakit.

XXXXX

Aigoo… Pasangan yang super romantis macam mereka aja bisa salah paham begitu ya… Ululuu… Konflik kecil-kecilan mulai muncul nih… Tenang, cuma kecil kok. Kan masih pemanasan jadi jangan yang besar-besarlah. Nanti aku diamuk pembaca soalnya… wkwkwk

Untuk semua pembaca yang baik hatinya, jangan lupa tinggalkan jejak ya… Aku tunggu… Danke ^^

By: Mei Shin Manalu (ig: meishinmanalu)

1
Idasesoega
untukmu author : sungguh cerita bagus berdasar data & fakta.
namun mnrtku. cerita terlalu panjang.
lbh baik berseri, sehingga mdh dibuat film bersepisode. dan mdh dipelajar pr anggota parlemen unt buat atau merevisi sebh uu.
di nkri, dg anggota parlemen yg terlalu banyak dg kw (kualitias) spt sekarang kok sbh mimpi bisa membuat uu apapun yg bagus dan berkualitas. kt gus dus, angg parlemen kita kan spt "taman kawak kawak😜maaaaaf
Krystal Zu
Cerita author ini selalu menarik
Udah lama aku gak baca novel, terus keinget Ceritanya Erie eh udah ada anaknya aja🦋🌼
Google
🤎🤎🤎
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
ayah lebih sayang anaknya daripada istrinya 😂
Devoy 🍁
🤎🤎🤎
Devoy 🍁
Gevio🤗🤗🤗
Devoy 🍁
Sweet nyaaa😍😍😍
Devoy 🍁
🤎🤎🤎
Elisabeth Ratna Susanti
tuntaskan like yang tertinggal 😍
Elisabeth Ratna Susanti
suka 😍
Elisabeth Ratna Susanti
mantap 😍
Elisabeth Ratna Susanti
keren 😍
D'ՇɧeeՐՏ🍻
🤎🤎🤎🤎
Devoy 🍁
💋💋💋
D'ՇɧeeՐՏ🍻
🤎🤎🤎
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
semangat
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
lope² mas elden
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
cukup elden
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
pelayan laknat
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
Mario aku menunggu mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!