Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.
Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.
Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.
Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Suasana di dalam ruangan rawat mendadak tidak nyaman. Suara gaduh yang pecah di koridor luar membuatku, Dokter Akhtar dan dua perawat yang sedang di dalam ruangan saling berpandangan. Rasa penasaran bercampur insting untuk berjaga-jaga mendorong kami berempat untuk keluar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Begitu pintu terbuka, pemandangan di koridor menyambut kami dengan aura yang mencekam. Biasanya, koridor ini adalah tempat yang sibuk namun teratur. Hari ini, segalanya berubah. Wajah-wajah dokter dan perawat yang berlalu-lalang tampak pucat, cemas, dan penuh kekhawatiran. Ada ketegangan nyata yang menggantung di udara, seolah setiap orang sedang berjalan di atas pecahan kaca.
Aku segera mencegat salah satu perawat yang tampak gemetar saat memegang tumpukan berkas.
Caca " Ada apa sebenarnya? Kenapa semua orang tampak begitu panik? " tanyaku dengan nada rendah.
Perawat itu menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Sedang ada audit dan seleksi besar-besaran. Mereka yang dinilai tidak kompeten akan langsung dikeluarkan hari ini juga. Tidak ada kompromi."
Kata-kata itu seolah menjadi konfirmasi atas semua kecurigaan yang selama ini memenuhi kepalaku. Aku tidak perlu bertanya siapa orang yang berada di balik kebijakan drastis dan kejam ini. Atmosfer dingin, ketegangan yang terencana, dan efisiensi yang mematikan—aku tahu persis siapa satu-satunya orang yang mampu melakukan perombakan sejauh dan seberani ini di rumah sakit ini.
Aku hanya bisa terdiam, memandang koridor yang kini terasa jauh lebih sempit dan penuh ancaman, menyadari bahwa badai besar baru saja dimulai di tempat kami berpijak
Suasana koridor yang tadinya tegang kini berubah menjadi arus manusia yang bergerak dengan amarah yang tertahan. Aku ikut terjebak dalam desakan langkah kaki para dokter, perawat, dan staf lain yang berjalan menuju aula. Gemuruh suara mereka bukan lagi sekadar desas-desus, melainkan suara protes yang menuntut keadilan. Mereka merasa dikhianati oleh sistem yang tiba-tiba memberlakukan "seleksi pembersihan" tanpa peringatan sedikit pun.
Saat kami tiba di aula, ruangan itu sudah dipenuhi sesak. Namun, di atas panggung, sosok itu berdiri tegak dengan aura dominasi yang dingin. Dia tidak tampak terganggu sedikit pun oleh kerumunan yang marah di bawahnya.
Tepat saat aku melangkah masuk ke barisan depan, matanya terkunci padaku. Seolah dia tahu aku ada di sana bukan hanya sebagai penonton, tapi sebagai pengamat yang mengerti maksud di balik semua ini.
Tanpa memedulikan sorak-sorai protes yang membahana di dalam aula, dia memberi isyarat tajam dengan tangannya sebuah instruksi yang mutlak. Dia tidak memberi ruang untuk debat, tidak ada meja negosiasi yang disiapkan, tidak ada penjelasan yang ditawarkan. Dia menatapku lurus, tajam, dan dingin. Dalam tatapannya yang menusuk, tersirat sebuah tantangan yang tak terucapkan.
Abhi "Kembalilah ke ruanganmu sekarang, atau kau akan jadi bagian dari mereka yang kusapu bersih hari ini. "
Aku tertegun. Dia tidak hanya mengusirku, dia sedang memancingku. Tatapannya seolah berkata, “Siap bermain?”
Di tengah riuhnya protes orang-orang di sekitarku, suara itu seolah menghilang, digantikan oleh detak jantungku yang berpacu. Dia tidak sekadar menjalankan seleksi; dia sedang menguji kesabaranku, mengujiku untuk melihat sejauh mana aku berani menantang otoritasnya.
Suara dinginnya terus bergema, memecah keheningan yang menyesakkan. Dia membacakan daftar itu dengan ritme yang stabil, seolah sedang membaca daftar inventaris barang yang sudah tidak berguna.
"Dokter A, Prawat B, Staf C..."
Namanya terus berlanjut. Begitu nama-nama mereka disebut, aku merasakan panas menjalar di dadaku. Ini bukan sekadar seleksi berdasarkan kompetensi ini terasa personal. Ini adalah pembersihan sistematis terhadap orang-orang yang memiliki loyalitas padaku, orang-orang yang paling aku percaya di rumah sakit ini.
Aku mengepalkan tangan di sisi tubuhku, berusaha menahan amarah agar tidak meledak. Dia tahu. Dia tahu persis siapa saja orang-orang di sekitarku, dan dengan sengaja dia mencabut "akar-akarku" agar aku berdiri sendiri dan rentan. Setiap kali nama orang kepercayaanku disebut, dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk melirik ke arahku—sebuah tatapan yang penuh kemenangan, menantangku untuk bereaksi.
Dia tidak memedulikan protes yang disuarakan oleh perwakilan lain. Dia memotong setiap interupsi dengan data yang ia miliki, membuat siapa pun yang mencoba membela diri terlihat tidak kompeten di hadapan semua orang.
Aku menyadari satu hal dia tidak hanya ingin merombak rumah sakit ini. Dia sedang menghancurkan fondasiku. Jika aku bereaksi sekarang, aku mungkin akan langsung masuk ke dalam daftar itu juga. Namun, jika aku diam, aku membiarkan orang-orang berharga ini dihancurkan tepat di depan mataku.
Dalam keheningan aula itu, aku sadar bahwa dia sedang menungguku untuk melangkah maju menunggu aku melakukan kesalahan pertama dalam permainan yang dia rancang.