Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
POV: Nara
Matahari masih malu menampakkan dirinya pagi ini. Padahal biasanya di jam seperti ini aku sudah berbaring di atas rerumputan, menikmati hangat cahayanya yang jatuh ke tubuhku. Asap mengepul samar di depan wajahku. Rokok yang tinggal setengah itu kuhisap perlahan, menikmati sensasi nikotin yang menenangkan kepala untuk sementara. Rasanya terlalu malas untuk bergerak, bahkan sekadar mandi pagi pun terasa seperti pekerjaan berat.
Devandra sudah pergi sejak subuh tadi, meninggalkanku sendirian di rumah besar yang terasa semakin sepi. Akhir-akhir ini ia terlihat jauh lebih sibuk setelah berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan asing. Pria itu benar-benar terlalu bersemangat mengejar rupiah. Padahal, bukankah uangnya sudah cukup untuk menghidupi tujuh turunan? Apa semua ini masih belum cukup baginya?
Seharusnya, dia lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku di sini. Untuk apa aku ada di kehidupannya kalau bahkan meluangkan waktu sebentar untuk rebahan bersamaku di taman saja terasa sulit? Kadang aku bingung, Devandra sebenarnya sedang membangun masa depan kami atau justru perlahan meninggalkanku di belakang.
Tapi di balik semua itu, setidaknya ada satu kabar baik. Aku tidak lagi dikurung di rumah ini. Sejak Bagas dipekerjakan kembali, aku diperbolehkan pergi ke mana pun. Tentu saja, dengan syarat yang sangat Devandra sekali, harus bersama Bagas—supir pribadi sekaligus bodyguard. Meski kalau menurutku, jabatan yang lebih cocok untuknya adalah mata-mata. Kadang aku curiga pria itu lebih rajin melaporkan keberadaanku dibanding memeriksa kondisi mesin mobil.
“Bagas, tiga puluh menit lagi kita keluar,” kataku di ujung telepon sebelum mematikan panggilan.
Setelah rokokku habis, aku akhirnya memaksa diri bangkit dari taman dan berjalan menuju dapur untuk mencari sarapan.
“Sarapan pagi ini apa, Bi?” tanyaku pada perempuan paruh baya yang sedang sibuk mencuci piring di depan wastafel.
“Tadi Bapak request kentang goreng, salmon, jagung keju, sama tumis brokoli jamur,” jawab Bik Sumi tanpa menghentikan kegiatannya.
Aku langsung melirik meja makan. Lagi-lagi tidak ada nasi.
“Kenapa nggak pernah ada nasi buat sarapan, Bi?” tanyaku heran.
Bik Sumi terkekeh kecil. “Kata Bapak, sarapan terlalu berat nggak sehat.” Fokusnya masih pada tumpukan piring di depan.
Dan lagi... kata Bapak.
Semua hal di rumah ini rasanya selalu kembali pada aturan Devandra. Apa yang dimakan, jam tidur, ke mana aku pergi, bahkan hal sesederhana nasi saat sarapan pun seolah harus mengikuti standarnya.
Kadang aku bingung. Aku ini istrinya atau anak kecil yang sedang diasuh? Lucu juga kalau dipikir-pikir. Tidak ada kurungan, tapi tetap terasa seperti hidup di dalam aturan seseorang.
Setelah selesai sarapan, aku langsung bergegas mandi. Hari ini aku memilih rok mini plisket berwarna cream dipadukan dengan kemeja putih berlengan pendek. Simpel, tapi cukup nyaman untuk dipakai keluar. Rambut panjangku aku kepang longgar, lalu kutambahkan beberapa jepit kecil berbentuk bunga di sela-sela kepangannya. Sedikit berlebihan mungkin, tapi aku memang sedang ingin terlihat lebih rapi hari ini.
Setelah selesai, aku membuka lemari khusus koleksi sepatu. Mataku menyapu deretan sepatu yang tersusun rapi di sana, sebagian besar bahkan jarang kusentuh. Hingga akhirnya pandanganku berhenti pada sepasang sneaker putih yang menutup sampai mata kaki.
“Ini aja, deh...” gumamku pelan sambil mengambilnya keluar.
“Kita ke mana, Non?” tanya Bagas sambil fokus menyetir.
“Pakai nanya,” jawabku setengah kesal.
Bagas langsung terkekeh kecil, seolah baru tersadar. “Oh iya, saya lupa. Maaf, Non," katanya sambil mengangguk kecil.
Aku hanya mendecak pelan sambil menyandarkan tubuh ke kursi mobil.
“Bapak ada pesan sesuatu?” tanyaku beberapa saat kemudian.
“Saya cuma disuruh ngabarin setiap kali Non pergi ke mana,” jawabnya santai.
Tentu saja, lagi-lagi laporan. Aku menghela napas panjang sambil memalingkan wajah ke arah jendela mobil. Kadang aku bingung, Devandra menikah denganku atau sedang menjalankan program pengawasan nasional.
Mobil melaju pelan membelah jalanan yang tampak lebih lengang dari biasanya. Mungkin karena akhir pekan. Orang-orang sepertinya lebih memilih diam di rumah, menonton televisi, atau bermalas-malasan bersama keluarga. Setelah hampir satu jam perjalanan, mobil akhirnya berhenti di tepi jalan. Aku menoleh ke luar jendela, memperhatikan sekitar dengan penasaran.
Banyak orang duduk santai di sepanjang tepian jalan yang langsung menghadap laut. Sebagian menikmati kopi, sebagian lagi hanya diam menatap ombak sambil ditemani angin yang membuat rambut berantakan. Samar-samar aroma asin laut bercampur wangi jajanan kaki lima ikut terbawa angin.
“Tumben rame...” gumamku pelan sambil membuka pintu mobil.
“Bagas, tolong bawa layangannya,” perintahku sambil membuka pintu mobil.
“Siap, Non.”
Aku langsung turun dan berjalan menuju tangga kecil yang mengarah ke bibir pantai. Angin laut menyambut lebih dulu, menerbangkan beberapa helai rambut yang lepas dari kepanganku. Langkahku terasa jauh lebih ringan dibanding biasanya. Entah kenapa, berada jauh dari rumah selalu membuat napasku terasa lebih lega. Tapi baru beberapa langkah menuruni tangga, aku mulai sadar beberapa orang memperhatikanku cukup lama.
Ada yang menoleh dua kali. Ada juga yang terang-terangan melirik tanpa malu-malu. Aku mengernyit bingung. Memangnya ada yang aneh?
Kemungkinan pertama, mungkin karena aku terlalu cantik. Setidaknya itu menurut Devandra, yang kadang memujiku seperti orang kehilangan akal sehat. Kemungkinan kedua... tato di tubuhku. Penampilanku sering terasa aneh, perpaduan antara rok manis, jepit bunga, dan tato yang membuat orang mungkin bingung harus menganggapku anggun atau preman kelas teri.
Dan kemungkinan paling tidak masuk akal...
Jangan-jangan mereka mengenali wajahku lalu mengira aku hantu gentayangan versi Viona. Aku mendengus pelan pada pikiran sendiri.
“Kalau iya, minimal hantunya tetap fashionable,” gumamku lirih sambil terus berjalan menuju pantai.
Wajahku langsung berubah cerah saat melihat beberapa anak laki-laki berlarian di bibir pantai. Dari kejauhan saja aku sudah mengenali mereka. Rambut acak-acakan, celana pendek penuh pasir, dan energi yang rasanya tidak pernah habis. Aku mempercepat langkah menghampiri mereka. Salah satu dari mereka lebih dulu menyadari kedatanganku lalu berteriak pada teman-temannya.
“Kakak datang!”
Seketika mereka semua berlari ke arahku.
“Kirain kakak nggak jadi datang,” ucap salah satu bocah sambil terengah-engah.
Aku tertawa kecil mendengarnya. “Kenapa kalian nggak nungguin aku?” tanyaku pura-pura kesal.
“Habis kakak kelamaan,” sahut bocah lain cepat. “Kita udah ngos-ngosan nerbangin layangan dari tadi, tapi nggak ada yang berhasil.”
Aku langsung menyeringai kecil. “Itu karena kalian payah.”
Beberapa minggu lalu aku datang ke pantai ini hanya untuk bernostalgia. Saat itu aku bertemu dengan anak-anak ini. Mereka sedang bermain air di bibir pantai, lalu salah satu dari mereka tiba-tiba bertanya dengan wajah polos apakah aku sedang putus cinta sampai melamun sendirian di sini.
Jujur saja, aku hampir tersedak mendengarnya. Dari obrolan aneh itu, entah bagaimana kami jadi akrab. Dan sekarang kami bahkan punya janji absurd untuk bermain layangan bersama di akhir pekan.
Lucu juga, di usia segini, teman bermainku malah bocah SD. Tapi anehnya, bersama mereka kepalaku terasa jauh lebih ringan.
Aku mengambil layanganku dari tangan Bagas, lalu berjalan sedikit menjauh mencari arah angin yang pas.
“Awas ya, lihat kakak pro,” ucapku penuh percaya diri.
Anak-anak itu langsung bersorak kecil, entah mendukung atau siap menertawakanku. Aku mulai berlari kecil di sepanjang bibir pantai, menarik benang layangan agar terangkat mengikuti arah angin.
Namun gagal. Layangan itu malah jatuh menyedihkan ke pasir.
“Coba lagi!” teriak salah satu anak sambil tertawa.
“Tadi anginnya salah,” kilahku cepat.
Aku mencoba lagi. Berlari ke sana kemari seperti orang sedang dikejar utang.
Tetap gagal. Lagi, dan lagi.
Sampai akhirnya napasku mulai ngos-ngosan dan harga diriku ikut terbang entah ke mana. Yang lebih menyebalkan, satu per satu layangan anak-anak itu justru mulai berhasil terbang tinggi.
“Kakak payah!” ledek salah satu bocah sambil menunjuk layanganku yang lagi-lagi tergeletak tidak berdaya di pasir.
“Iya, kakak cantik doang ternyata!” timpal yang lain, membuat mereka tertawa ramai.
“Hei!” protesku pura-pura kesal. “Jangan body shaming kemampuan orang!”
Mereka malah makin tertawa.
Menyerah, aku akhirnya berjalan ke tepi pantai lalu duduk di atas batang pohon besar yang tersapu ombak dan terdampar di sana. Angin laut meniup pelan wajahku, sementara suara ombak bercampur tawa anak-anak terdengar di kejauhan.
Aku menghela napas panjang, ternyata menerbangkan layangan lebih susah daripada mempertahankan hubungan, eh, bentar—kayaknya sama-sama susah.
Aku melirik jam di pergelangan tanganku.
Sudah hampir sore. Kenapa waktu di tempat ini berjalan terlalu cepat? Rasanya baru sebentar duduk di sini, tapi matahari sudah mulai turun perlahan.
Tatapanku menyapu sekitar untuk kesekian kali. Tidak ada, apa dia tidak datang? Padahal kami sudah membuat janji untuk bertemu di sini. Wajah yang tadi terasa begitu ceria mungkin sekarang terlihat menyedihkan. Bahkan anak-anak itu sudah mulai pulang satu per satu, meninggalkanku bersama suara ombak dan angin pantai yang tiba-tiba terasa lebih dingin.
Aku menunduk, memperhatikan layangan yang tadi kubeli di pinggir jalan. Warnanya pink dengan bentuk kupu-kupu, dihiasi corak abstrak yang menurutku terlihat cantik. Sayangnya, nasibnya sama seperti hidup percintaanku, gagal terbang.
Aku mengembuskan napas pelan sambil memainkan ujung layangan itu. Mungkin lain kali aku harus request bentuk yang lebih unik.
Bentuk kelamin pria misalnya.