Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.
Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.
Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Terakhir dan Peluru yang Diam
[POV: VERONICA]
"Ada kepuasan tersendiri saat melihat mangsamu berjalan masuk ke dalam sarang dengan kaki sendiri. Dia berpikir dia cerdas karena menyimpan bukti, dia berpikir dia aman karena diam dan tidak bergerak. Tapi dia tidak tahu bahwa diamnya itulah yang justru memberiku waktu yang cukup untuk mempersiapkan lubang kuburnya. Kesalahan terbesar Arkan bukan karena dia menemukan kebenaran, tapi karena dia menunda-nunda untuk menggunakannya. Dan penundaan itu... menjadi alasan kematiannya."
...****************...
Aku tahu. Aku tahu betul bahwa anak itu memegang sesuatu di tangannya.
Dari laporan pengawasan yang masuk padaku, aku tahu Arkan telah menyalin data, dia telah mengumpulkan bukti, dan dia telah menyusun skenario yang bisa menghancurkan kami semua. Dia tahu bisnis kami kotor. Dia tahu uang itu hasil dari apa. Dan dia tahu akulah otak di baliknya.
Tapi anehnya... dia diam.
Dia tidak langsung lari memberitahu Abraham. Dia tidak langsung membocorkan ke media. Dia justru menyimpan semua itu rapat-rapat, seolah sedang menunggu momen yang tepat.
Awalnya aku bingung, tapi kemudian aku tersenyum mengejek.
"Dasar anak bodoh dan naif," pikirku dalam hati. "Jadi kau berpikir ingin menyusun semuanya dengan rapi, kau ingin menunggu sampai tesismu sempurna, baru kemudian kau akan 'memberitahu kakakmu' atau memberitahu dunia?"
Ah, betapa polosnya pemikiranmu itu, Arkan. Kau mengira waktu masih ada di pihakmu. Kau mengira dengan menyimpannya dulu, kau sedang bermain aman. Padahal, keheninganmu itu justru memberiku ruang dan waktu yang sempurna untuk bergerak. Kau memberiku kesempatan emas untuk menyusun rencana pembunuhanmu dengan tenang dan detail.
Jika kau langsung berteriak saat menemukan bukti itu, mungkin aku akan kewalahan. Tapi karena kau memilih untuk menunggu... kau sudah menandai nasibmu sendiri.
Malam itu, di ruangan paling rahasia di rumah ini, aku duduk di kursi utama. Di hadapanku, berdiri Hengki dan Luna Valencia dengan wajah yang siap membunuh.
Waktu sudah habis. Tidak ada lagi main-main.
"Arkan sudah memegang bukti lengkap," kataku membuka pembicaraan dengan nada dingin mematikan. "Dia tahu segalanya. Tentang bisnis gelap kita, tentang pencucian uang, tentang keterlibatan kalian berdua. Dia diam sekarang karena dia sedang menunggu waktu yang dia anggap tepat. Mungkin dia ingin menyelesaikan skripsinya dulu, lalu dia akan menyerang kita."
Wajah Hengki langsung memerah padam karena marah. "Bocah kurang ajar! Berani sekali dia mengumpulkan bukti buat menjatuhkan kita! Apa dia pikir dia pahlawan?"
"Dan dia berniat memberitahu Rosella," tambahku sambil tersenyum sinis. "Dia ingin menyelamatkan semua orang dengan cara kepolosan itu. Tapi sayangnya... dia tidak akan pernah sempat melakukannya."
Luna yang berdiri dengan sikap angkuh dan dinginnya mengangguk singkat. Tangannya terlihat memainkan pulpen di atas meja, namun matanya memancarkan aura yang sangat berbahaya.
"Rencanaku sudah siap, Nyonya," kata Luna dengan suara tenang namun tajam.
"Apa rencanamu?" tanyaku.
"Hengki akan menjadi umpan," jawab Luna cepat, menatap anakku itu. "Kau panggil dia ke ruang kerja. Katakan saja ada masalah tetang pekerjaan."
Hengki tersenyum miring, penuh keyakinan. "Pasti. Aku akan bicara banyak hal, aku akan memprovokasi dia, membuat dia emosi, membuat dia fokus padaku. Aku akan mengambil seluruh perhatiannya."
"Dan saat dia lengah..." lanjut Luna, matanya berkilat ganas, "...aku yang akan menyelesaikannya. Aku punya alat khusus. Tidak ada suara. Tidak ada keributan. Selesai dalam sekejap."
Aku menatap mereka berdua. Pasangan iblis yang sempurna.
"Pastikan nyawanya lenyap." perintahku akhirnya. "Ambil semua perangkat yang dia bawa. Hancurkan datanya. Dan pastikan... tidak ada satu pun orang yang tahu apa yang terjadi di dalam ruangan itu malam ini."
"Siap, Bu/Nyonya!" jawab mereka serentak.
Mereka keluar dari ruanganku dengan misi maut di kepala. Aku tersandar lemas di kursiku, memejamkan mata.
"Maafkan aku, Arkan..." bisikku dalam hati tanpa setitik pun rasa bersalah, justru penuh dengan rasa puas. "Kau sendiri yang memilih jalan ini. Kau terlalu pintar untuk kebaikanmu sendiri. Dan di dunia ini, orang yang terlalu pintar dan tahu terlalu banyak ikut campur.. biasanya umurnya tidak akan panjang."
Tidurmu nyenyak malam ini, Nak... karena besok, kau mungkin tidak akan bangun lagi.
Beberapa saat sebelum eksekusi dimulai, aku melihatnya dari kejauhan.
Arkan berjalan mengunjungi Rosella. Wajahnya terlihat tenang, bahkan tersenyum tipis. Dia tidak tahu bahwa langkah kakinya itu adalah langkah terakhirnya di dunia ini.
Aku mengintip dari celah pintu, melihat bagaimana Arkan berbincang dengan kakaknya.
Kak," bisik Arkan. Wajahnya tampak serius dan muram. "Ada sesuatu yang harus Kakak tahu. Sesuatu yang sangat bahaya. Mas Hengki itu bukan cuma selingkuh, tapi dia..." Arkan menghentikan ucapannya.
"Ini sangat penting, Kak! Aku nggak bisa menyimpan rahasia ini sendirian. Ini soal..."
Dia berniat membocorkannya.
Saat itu pula ku perintahkan Hengki untuk melancarkan rencana.
Hengki memanggilnya.
Wajah kakak beradik itu terlihat pucat.
Awalnya Rosella merasa berat, tetapi Arkan menenangkannya seolah kematiannya bukan malam ini.
Dan karena Arkan adalah anak yang baik, anak yang patuh... dia menurutinya tanpa curiga sedikitpun.
Dia masuk ke dalam ruang kerja yang besar dan gelap itu. Hanya ada lampu meja yang menyala redup, menciptakan bayang-bayang yang menyeramkan.
"Ada apa?" tanya Arkan dingin sambil berjalan mendekat meja.
"Kita perlu bicara banyak hal dulu. Soal ketelitianmu yang berlebihan itu... soal data-data yang kau gali itu... dan soal kau yang suka ikut campur urusan yang bukan hakmu."
Arkan terhenti. Wajahnya berubah kaget. Matanya membelalak menyadari ada yang tidak beres. Dia mulai sadar dia telah masuk ke dalam perangkap.
"Maksud Mas Hengki apa?" Arkan mulai mundur, tangannya reflex meraba saku jaketnya di mana dia menyimpan flashdisk berisi bukti itu. "Kalian... kalian sudah tahu?"
"Tentu saja kami tahu, bocah bodoh!" bentak Hengki, wajahnya berubah menjadi garang dan penuh kebencian.
Dia mulai memprovokasi, berteriak, melontarkan kata-kata kasar, membuat Arkan ketakutan dan fokus sepenuhnya padanya. "Kau pikir kau pintar menyembunyikan sesuatu? Kau pikir kau bisa menjatuhkan kami dengan selembar data itu?"
Hengki terus maju, meneror dengan kata-kata, membuat Arkan terpojok ke sudut ruangan. Anak malang itu gemetar ketakutan, matanya berkaca-kaca, tidak percaya bahwa orang yang dia anggap keluarga bisa berwajah begitu menyeramkan.
Tapi dia tidak melihat bayangan lain yang bergerak pelan di belakangnya.
Luna Valencia.
Wanita itu muncul dari balik tirai jendela yang gelap. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, tanpa rasa belas kasihan sedikitpun. Di tangannya, tergenggam sebuah pistol kecil dengan alat peredam suara yang terpasang rapi.
Langkahnya senyap seperti hantu. Dia tidak membuat suara sedikitpun.
Arkan terlalu sibuk menatap Hengki yang sedang marah besar. Dia tidak sadar bahwa maut sudah berada tepat di belakang kepalanya.
"Kau merusak segalanya, Arkan..." bisik Luna pelan, tepat di telinga anak itu.
Arkan tersentak dan mencoba menoleh, tapi terlambat.
DOR!
Suara itu sangat pelan, lebih mirip suara desisan angin daripada tembakan.
Sebuah peluru meluncur cepat, menembus tepat ke pelipis kepala Arkan.
Tubuh mungil itu lemas seketika. Mata yang cerdas dan tajam itu terbuka lebar namun kosong. Tidak ada lagi cahaya kehidupan di sana. Flashdisk yang dia genggam erat di tangannya terlepas, jatuh ke lantai dengan suara benturan kecil.
Tubuh Arkan ambruk ke karpet mewah dengan lembut, seperti boneka yang tali pengikatnya diputuskan.
Darah mulai membasahi karpet mahal itu.
Hengki menatap mayat itu dengan napas memburu namun penuh kepuasan. "Selesai. Akhirnya selesai."
Luna dengan santai membersihkan sedikit debu di bajunya, lalu menunduk mengambil flashdisk kecil itu dan memasukkannya ke saku sendiri. Dia menatap mayat Arkan dengan tatapan dingin, seolah baru saja membuang sampah tidak berguna.
"Bersih, Nyonya," lapor Luna ke komunikator kecil yang dia pakai, tahu bahwa aku mungkin sedang mendengarkan atau memantau dari jauh. "Target netral. Tidak ada suara. Tidak ada saksi."
Di ruanganku, aku tersenyum lebar. Rasa lega yang luar biasa menyelimuti hatiku.
Masalah terbesar telah selesai.
Anak jenius yang berani menggali rahasia kami telah bungkam selamanya.
Bukti-bukti itu kini ada di tanganku kembali.
Dan Rosella... dia tidak tahu bahwa adik yang baru saja menemuinya untuk membocorkan rahasia, kini sudah menjadi mayat dingin di lantai ruang kerja.
Untuk menghilangkan kecurigaan, aku pergi berlibur ke luar negeri. Menikmati hasil dari rencana besarku.