NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertempuran Logika di Aula Utama

Di tengah hiruk-pikuk asrama SMA Nusantara Excellence, sebuah getaran di saku celana abu-abunya mengejutkan Rian. Ia baru saja selesai merapikan dasi untuk menghadiri acara besar sekolah hari itu. Saat layar ponsel menyala, sebuah pesan singkat dari Isaac muncul di baris notifikasi.

"Rian, Kak Luna hamil. Kau akan segera menjadi seorang kakak. Fokuslah pada studimu, kami menunggumu di bukit dengan kabar bahagia."

Rian terpaku di depan cermin. Senyum lebar yang jarang sekali terlihat kini merekah di wajahnya yang biasanya kaku. Ada rasa haru yang membuncah di dadanya. Ia tahu betul bagaimana perjuangan Isaac dan Luna, bagaimana mereka mencurahkan seluruh kasih sayang kepada anak-anak panti tanpa pernah mengeluh meski belum memiliki anak biologis.

"Akhirnya..." bisik Rian pelan. "Selamat, Pak Isaac. Selamat, Kak Luna."

"Oi, Rian! Kenapa senyum-senyum sendiri? Kesambet setan asrama?" suara cempreng Kevin membuyarkan lamunan Rian.

Rian segera menyimpan ponselnya dan kembali ke raut wajahnya yang tenang, meski binar matanya tidak bisa berbohong. "Bukan apa-apa. Hanya kabar baik dari rumah."

"Kabar baik dari rumah biasanya berarti kiriman uang atau makanan, tapi wajahmu tadi seperti baru menang olimpiade internasional," goda Kevin sembari merangkul bahu Rian. "Ayo cepat! Aula utama sudah penuh. Jangan sampai perwakilan kelas kita terlambat di acara Grand Brainiac Challenge!"

Suasana di aula tertutup SMA Nusantara Excellence sangat megah. Lampu sorot berwarna biru dan putih menyapu panggung utama di mana sepuluh meja kompetisi telah tertata rapi. Acara tahunan cerdas cermat ini bukan sekadar lomba biasa; ini adalah panggung harga diri bagi setiap kelas. Seisi kelas 10-A sudah sepakat menunjuk Rian sebagai ujung tombak mereka. Namun, teka-tekinya adalah siapa yang akan mendampingi sang "Mesin Belajar" itu?

Setelah perdebatan panjang di kelas kemarin, pilihan jatuh kepada Daffa. Meskipun Daffa pendiam, kemampuannya dalam kalkulus dan logika matematis adalah pasangan sempurna bagi pengetahuan umum dan fisika yang dikuasai Rian.

"Daffa, kau siap?" tanya Rian saat mereka berdiri di belakang panggung, menunggu nama kelas mereka dipanggil.

Daffa membetulkan letak kacamatanya, tangannya sedikit gemetar. "Jujur, aku gugup, Rian. Lihat lawan kita dari kelas 11-B. Itu kak Arsen, juara bertahan tahun lalu."

Rian menatap ke arah panggung, di mana seorang siswa senior dengan angkuh sedang melambaikan tangan ke arah penonton. "Arsen memang cepat, tapi dia sering ceroboh pada soal-soal jebakan. Kita hanya perlu tetap tenang. Ingat, fokus pada akurasi, baru kecepatan."

"Selanjutnya, perwakilan dari Kelas 10-A! Rian dan Daffa!" seru pembawa acara melalui pengeras suara yang menggelegar.

Sorak-sorai riuh dari pendukung kelas 10-A pecah. Kevin dan Bastian berada di barisan depan, memegang spanduk besar bertuliskan 'Rian-Daffa: Penghancur Logika!'. Rian melangkah dengan tegap menuju meja nomor 4, diikuti Daffa yang mencoba mengatur napasnya.

Di kursi juri, tiga guru senior dengan wajah tanpa ekspresi sudah siap dengan tumpukan amplop soal. Babak pertama adalah babak wajib.

"Soal pertama untuk meja 4," ujar Ibu Martha, guru sejarah senior. "Sebutkan nama perjanjian yang mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun di Eropa pada tahun 1648 dan apa dampak utamanya terhadap kedaulatan negara?"

Daffa melirik Rian. Rian hanya butuh waktu dua detik untuk menekan tombol hijau. "Perjanjian Westphalia. Dampaknya adalah pengakuan atas kedaulatan negara-bangsa dan prinsip cuius regio, eius religio, yang membatasi campur tangan eksternal dalam urusan domestik sebuah negara."

"Tepat! Seratus poin untuk meja 4!"

Sepanjang babak pertama, Rian dan Daffa tampil sangat sinkron. Jika soalnya berkaitan dengan hitungan rumit, Rian memberikan ruang bagi Daffa untuk mencoret-coret di kertas buram, sementara Rian bersiap menekan tombol saat Daffa memberikan kode anggukan.

Namun, memasuki babak rebutan, suasana menjadi semakin panas. Suhu di dalam aula yang ber-AC pun terasa gerah bagi para peserta.

"Soal rebutan! Nilai dua ratus poin. Jika salah, pengurangan seratus poin!" seru pembawa acara. "Jika sebuah partikel bergerak dengan kecepatan v dalam medan magnet B..."

TIIIIIT!

Bel dari meja 7—kelas Arsen—berbunyi bahkan sebelum soal selesai dibacakan.

"Gaya Lorentz yang dihasilkan akan tegak lurus terhadap arah kecepatan dan medan magnet, mengikuti kaidah tangan kanan!" Arsen menjawab dengan cepat dan penuh percaya diri.

"Benar! Kelas 11-B memimpin dengan selisih lima puluh poin dari kelas 10-A!"

Daffa tampak mulai panik. "Rian, mereka sangat cepat. Kita harus lebih agresif."

Rian menggeleng kecil, matanya tetap tajam menatap ke depan. "Jangan terpancing ritme mereka, Daffa. Soal berikutnya biasanya akan lebih kompleks. Tunggu saat yang tepat."

Benar saja, soal berikutnya adalah soal logika bahasa dan filsafat, bidang yang sering disepelekan oleh siswa yang terlalu fokus pada eksakta.

"Soal nomor sepuluh: Jelaskan paradoks 'Kapal Theseus' dalam konteks identitas metafisika!"

Aula mendadak sunyi. Arsen tampak ragu, tangannya menggantung di atas tombol namun ia tidak berani menekannya. Rian melihat kesempatan itu.

TIIIIIT!

"Paradoks ini mempertanyakan apakah sebuah objek yang seluruh komponennya telah diganti satu per satu tetap merupakan objek yang sama," suara Rian menggema, tenang namun meyakinkan. "Secara metafisika, ini beradu antara teori Formal Cause milik Aristoteles yang mementingkan struktur, dan teori materialisme yang mementingkan substansi fisik. Jika strukturnya tetap, maka identitasnya tetap, meski materinya berubah."

"Luar biasa! Dua ratus poin untuk Rian dan Daffa!"

Pendukung kelas 10-A kembali bersorak. Skor kini berbalik unggul untuk mereka. Arsen tampak mulai emosional, wajahnya memerah karena merasa terancam oleh siswa kelas sepuluh.

"Soal terakhir, penentuan! Nilai lima ratus poin!" suasana aula mendadak tegang. Ibu Martha mengambil amplop emas. "Hitunglah nilai integral dari fungsi..."

Soal matematika yang sangat rumit ditampilkan di layar besar. Deretan angka dan simbol kalkulus itu membuat penonton ternganga. Daffa langsung menggerakkan pena dengan kecepatan luar biasa, sementara Arsen juga tampak sibuk menghitung.

"Daffa, fokus pada limitnya!" bisik Rian sembari mengamati layar.

"Dapat! Hasilnya adalah dua akar dua!" bisik Daffa dengan napas terengah.

Rian segera menekan tombol. TIIIIIT!

"Meja 4, silakan!"

"Hasil akhirnya adalah 2\sqrt{2}," jawab Rian mantap.

Seluruh aula menahan napas. Juri berdiskusi sejenak, memeriksa lembar jawaban kunci yang tersegel. Detik-detik itu terasa seperti jam bagi Rian. Ia teringat akan kabar kehamilan Kak Luna tadi pagi. Ia ingin memberikan kemenangan ini sebagai hadiah pertama bagi calon adiknya.

"Jawaban... TEPAT! KELAS 10-A KELUAR SEBAGAI JUARA!"

Aula pecah dalam kegemuruhan. Kevin dan Bastian berlari ke panggung, menggendong Rian dan Daffa di atas bahu mereka. Arsen hanya bisa terduduk lemas di kursinya, tak percaya rekornya dipatahkan oleh seorang junior.

Di tengah keramaian dan sorakan itu, Rian tersenyum tenang. Baginya, kemenangan ini hanyalah satu anak tangga kecil. Ia segera mengambil ponselnya di loker setelah acara selesai, mengetikkan pesan balasan untuk Isaac.

"Terima kasih, Pak. Aku menang cerdas cermat hari ini. Hadiah ini untuk adik kecil di rahim Kak Luna. Aku akan segera pulang saat libur nanti."

Rian berjalan menuju asrama dengan langkah ringan. Di sekolah mewah yang penuh persaingan ini, ia telah membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar "anak panti" yang beruntung, melainkan petarung logika yang tangguh. Dan di atas bukit sana, sebuah kehidupan baru sedang menunggunya, memberikan alasan ekstra bagi Rian untuk menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri setiap harinya.

Keseharian Rian di kota memang penuh tekanan, namun setiap kali ia teringat wajah Isaac dan Luna, serta empat belas adiknya yang lain, rasa lelah itu hilang. Ia tahu, ia sedang membangun fondasi bagi masa depannya, dan kini, bagi masa depan adik kandungnya yang sedang dinantikan kehadirannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!