NovelToon NovelToon
Di Panggil Ras Iblis Kedunia Lain

Di Panggil Ras Iblis Kedunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:712
Nilai: 5
Nama Author: Agung Noviar

Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 PENGHARGAAN

Malam semakin larut di Beltrum. Di dalam kedai yang hangat, tawa para veteran mulai mereda menjadi dengkuran halus atau obrolan santai yang pelan. Di salah satu meja sudut, Zeta terlihat sudah tidak berdaya melawan kantuknya. Dengan posisi duduk, ia menyandarkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja. Napasnya teratur, wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan saat ia berada di medan tempur tadi siang. Rasa kenyang dan suasana akrab akhirnya memberikan pemuda itu istirahat yang sangat ia butuhkan.

Sementara itu, suasana di ruang perawatan istana jauh lebih formal namun penuh kehangatan. Luka-luka Putri Stella, Laksamana Airon, dan Jenderal Lytia sedang dibalut oleh tabib kerajaan.

"Besok akan ada acara pemberian penghargaan dari Raja untuk kita semua," ucap Stella sambil menahan ringis saat lukanya dibersihkan. "Beberapa bangsawan juga akan datang. Aku ingin kalian semua hadir, karena besok juga kita akan membahas persiapan terakhir melawan Zetobia. Waktu kita sudah tidak banyak, Zetobia pasti sudah hampir pulih dan bersiap."

"Baik, Putri." jawab Lytia dan Airon serempak.

Lytia kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang luas itu. "Oya... bicara soal hadir semua, di mana Zeta? Apa Putri tahu dia ke mana? Anak itu menghilang begitu saja."

Stella terdiam sejenak, tatapannya menerawang. "Tadi, saat aku sedang bersama ayah dan ibuku, aku melihatnya berjalan keluar gerbang istana sendirian. Entah kenapa... wajahnya terlihat seperti menyimpan sesuatu yang berat."

Airon mengangguk pelan, membenarkan firasat sang Putri. "Ternyata Putri juga menyadarinya. Lytia, apa selama di hutan dia pernah bercerita sesuatu padamu Lytia? Mungkin tentang dunianya?"

Lytia menggeleng lemah. "Tidak pernah. Dia orang yang sangat tertutup. Dia jarang memulai obrolan jika tidak penting. Sejujurnya, aku khawatir. Setelah pengobatan ini selesai, aku berencana mencarinya ke kota."

Tiba-tiba, pintu ruang perawatan diketuk. Seorang petualang muda masuk membawakan nampan berisi ramuan obat tambahan. Wajahnya terlihat berseri-seri, kontras dengan suasana serius di ruangan itu.

"Putri Stella, Jenderal Lytia... saya mohon izin untuk menyampaikan sesuatu," ucap petualang itu dengan sopan.

"Jangan terlalu formal, katakan saja ada apa," ujar Stella ramah.

"Terima kasih, Putri. Ini soal Ksatria Dunia Lain. Saat ini dia berada di kedai taring hitam. Dia sedang berpesta dan ditraktir oleh para veteran dan pemilik kedai."

Lytia menaikkan alisnya, terkejut. "Ditraktir? Bukankah tadi pagi mereka yang paling keras menuduh Zeta sebagai mata-mata?"

Petualang itu terkekeh pelan. "Benar, Jenderal. Justru karena itu, sebagai bentuk penebusan dosa dan rasa terima kasih karena telah menyelamatkan kota dan kesalahan pahaman, mereka menjamunya dengan sangat luar biasa. Saat saya pergi tadi, Ksatria Zeta sepertinya sudah tertidur karena kelelahan di sana."

Mendengar berita itu, Stella menghela napas panjang. Sebuah senyum lega terukir di bibirnya yang pucat. "Syukurlah...kalau dia tidak sendirian. Terima kasih atas informasinya."

Matahari pagi menyusup di balik jendela kedai, menyentuh wajah Zeta yang masih terlelap di atas meja kayu. Ia terbangun dengan aroma sup daging yang mengepul hangat. "Wah, enak sekali paman! Terima kasih, maaf aku merepotkan," ujar Zeta sambil melahap sarapannya.

"Sudahlah, ini tanda minta maafku karena kejadian kemarin. Oh ya, Zeta, kau tahu kan hari ini ada acara penghargaan di istana?" tanya Paman pemilik kedai. Zeta menggeleng bingung. "Kabarnya kau akan dapat medali emas, dan hari ini adalah persiapan terakhir sebelum perang besar besok."

Zeta tersedak. "Apa?! Aku baru tahu! Gawat, Lytia pasti akan mengamuk!" Ia segera menghabiskan makanannya dengan cepat lalu ia segera bergegas berpamitan dengan paman itu.

Saat Zeta berlari dengan kencang menuju istana, saat jaraknya tinggal 100 meter dari gerbang istana, langkah Zeta melambat. Ia melihat kereta-kereta kuda mewah berhias emas berhenti di depan pintu utama. Para bangsawan turun dengan pakaian yang sangat megah. Ada seorang gadis bangsawan yang sangat cantik, dan seorang pemuda bangsawan berambut perak yang terlihat sangat berwibawa dan keren.

Zeta menunduk, melihat pakaiannya yang hanya berupa jaket lusuh dan celana jeans dari dunianya. ‘Apa aku pantas masuk ke sana? Dibandingkan mereka, aku bukan siapa-siapa,’ batinnya minder. Namun ia menarik napas panjang. ‘Tenang, Zeta. Ini bukan duniamu. Kau tidak akan lama di sini. Percaya diri!’

Di dalam aula istana, suasana sangat megah. Laksamana Airon dan Jenderal Lytia sudah berdiri di tengah karpet merah. Saat Zeta masuk dengan terengah-engah, Lytia berbisik tajam, "Cepat baris! Untung kau tiba tepat waktu!"

Tak lama kemudian, pintu besar terbuka.Putri Stella muncul, dan seketika seluruh ruangan terkesiap. Ia mengenakan gaun putih elegan dengan aksen merah muda merona, membuatnya tampak seperti dewi. Namun, hati Zeta mencelos saat melihat Stella tidak berjalan sendiri; lengannya dirangkul mesra oleh pemuda bangsawan dari gerbang tadi.

‘Siapa dia? Kenapa dia bisa merangkul Putri Stella sesantai itu? Apa itu tunangannya?’ Zeta merasa ada rasa kesal yang membakar dadanya rasa cemburu yang coba ia sangkal. Lytia menyenggolnya sambil berbisik nakal, "Hehehe, ada yang cemburu nih?"

"Enggak!" jawab Zeta ketus dengan muka merah padam.

Raja berdiri dari singgasananya. "Selamat datang semua. Hari ini adalah bentuk terima kasih kami atas keberanian kalian melawan naga Fulnox dan para bangsawan yang telah membuat kita mereka semakin makmur dan maju tanpa memakan waktu banyak acara akan kita segera mulai saja”

Penghargaan dimulai. Laksamana Airon, Jenderal Lytia, dan Zeta masing-masing menerima medali emas dan kantong koin. Kemudian Raja memperkenalkan para Duke hebat Duke Arvando dari kota pendidikan Castellan, Duke Cedric dari kota wisata Aren, dan Duke Kaizen dari kota Lunareth sang produsen senjata. Terakhir, Raja memberikan tongkat sihir pusaka kepada Stella.

Namun, saat suasana seharusnya haru, putra Duke Arvando yang merangkul Stella tadi Raiga melangkah maju dan menunjuk Zeta dengan angkuh.

"Putri, jadi ini ksatria dunia lain yang kau panggil? Seharusnya kita tidak perlu mencuri gulungan rahasia Zetobia hanya untuk memanggil manusia ini. Itu tindakan licik yang mencoreng nama Beltrum!" ujar Raiga lantang.

Stella terkejut. "Tapi Raiga, saat itu kita terdesak..."

"Cih! Ibu kota selalu memalukan diri sendiri dan selalu mencoba untuk mandiri sendiri. Kalian lupa bahwa di kota Castellan banyak ksatria muda kami yang jauh lebih hebat dari manusia ini. Kita tidak butuh bantuan ras asing yang lemah!" Raiga menatap Zeta dengan jijik. "Dia hanya ras manusia biasa. Kekuatannya mungkin tak lebih dari warga sipil kelas bawah dan paling waktu melawan fulnox dia cuman beban doang”

"Maaf, Tuan Raiga," Lytia melangkah maju, suaranya yang tegas membelah keheningan aula. "Tapi Zeta sudah membuktikan kekuatannya. Dia telah mengalahkan banyak Minotaur sendirian, bahkan Naga Fulnox kemarin tidak akan tumbang tanpa kehadirannya. Sepertinya kami belum menjelaskan secara rinci apa yang terjadi saat serangan terakhir naga itu."

Raja Beltrum penasaran juga dan bertanya "Ah, benar. Laporan yang kuterima masih sedikit simpang siur. Saat serangan terakhir Fulnox, ada sebuah sihir angin yang melesat sangat besar hingga menghantam kepala naga itu. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Putri Stella melangkah satu langkah di depan Raiga, melepaskan rangkulan tangan pemuda itu dengan halus. "Ayah... itu adalah serangan dari Zeta," ucapnya dengan nada bangga yang tak bisa disembunyikan. "Zeta yang menyelamatkan kami semua di saat-saat kritis. Setelah dia melukai kepala Fulnox dengan telak, dia menghajar balik naga itu tanpa ampun sampai fulnox tidak bisa bergerak sama sekali. Barulah setelah itu, aku mengakhirinya dengan sihir cahayaku."

Keheningan sesaat menyelimuti aula megah itu, sebelum akhirnya berubah menjadi gumaman kagum. Para penasihat saling berbisik, para bangsawan menatap Zeta dengan pandangan baru, dan sang Raja tampak mengangguk puas.

Namun, pujian itu justru menjadi bahan bakar bagi api kemarahan di hati Raiga. Wajahnya memerah, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.

"Cih! Aku tidak percaya!" Raiga menyela dengan suara yang menggelegar, merusak suasana haru tersebut. "Siapa tahu itu hanya bualan kalian saja? Mungkin kalian hanya ingin menutupi kegagalan militer ibu kota di lembah nox dan terlalu membesar besarkan nama kesatria ini"

Raiga berjalan mendekat ke arah Zeta, tatapannya menghunus tajam. "Jika dia memang sehebat itu, aku menantang MANUSIA dunia lain ini untuk berduel denganku sekarang juga! Ini adalah pembuktian. Aku ingin melihat apa dia memang pantas berdiri di sini, atau hanya sampah yang kebetulan beruntung."

Beberapa penasihat dan bangsawan dari faksi Castellan mulai mengangguk setuju. Mereka juga meragukan pemuda asing itu.

Di sisi lain, Stella tampak cemas. 'Zeta memang kuat, tapi saat melawan Fulnox, fulnox itu sudah terluka oleh serangan kami sebelumnya,' batinnya gelisah. 'Raiga bukan lawan sembarangan. Dia adalah jenius dari Castellan yang kekuatannya hampir menyaingi Lytia, meski Lytia masih sedikit lebih unggul. Jika Zeta kalah di sini, harga dirinya akan hancur.'

Zeta, yang sedari tadi hanya diam menahan kesal karena diremehkan, tiba-tiba terkekeh pelan. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu menatap Raiga dengan senyum santai yang terlihat sedikit menantang.

"Hahaha, baiklah kalau itu maumu," ujar Zeta ringan. "Apa kita duel sekarang? Di sini saja? Biar cepat selesai."

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di belakang kepala Zeta.

"Aduh! Sakit, Lytia!" keluh Zeta sambil mengusap kepalanya.

Lytia berkacak pinggang dengan wajah garang. "Jangan bodoh Zeta! Ini ruang takhta Raja! Kau mau menghancurkan pilar-pilar berharga ini dengan sihirmu?"

Lytia kemudian menoleh ke arah Raja dan memberikan hormat. "Yang Mulia, mohon izinkan mereka menyelesaikan perselisihan ini di halaman belakang istana. Biarlah pedang dan sihir yang bicara."

Raja mengusap janggutnya, lalu menyeringai tipis. "Sangat menarik. Baiklah aku izinkan”

1
T28J
udah lama saya gak baca si Zeta 🙏
Pak Heru2025
lanjut thor
T28J
karena keren saya kasih anda /Rose//Rose//Rose/
Frando Wijaya
oh? cerita yg menarik...tpi nanti aja gw baca...krn ada novel lain yg gw blom baca
Zetavia: yeeyyy makasih kakk 😍😍
total 1 replies
Pak Heru2025
💪 lanjut min
Zetavia: siappp kakkk
total 1 replies
Pak Heru2025
lanjut
Zetavia: okee kakk
total 1 replies
Pak Heru2025
lanjut min
Alia Chans
semangat thort👈
Zetavia: makasih kakk
total 1 replies
Juun
kerjasama airon sama lytia keren hebattt
Juun
😍😍😍😍
Wawan
Semangat ✍️
T28J
kereeen 👍
Juun
wahh gilaaaaaaa asik bangettt
Zetavia: terima kasih 💪🙏😍
total 1 replies
Juun
keren dah
Juun
kalo di buat anime bagus loh ini
Juun
asikk bangettttt makin penasaran😍
Juun
suka banget biasanya pahlawan lawan raja iblis ini beda🤣
T28J
Zeta ... Zeta 🤣
T28J
mampir kemari,
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍
Zetavia: terima kasih kak boleh tuhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!