NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Carisa akhirnya berdiri di dalam ruangan itu. Beberapa detik ia hanya diam di dekat pintu, sebelum benar-benar melangkah masuk.

“Kamu sengaja minta revisi mendadak?” tanyanya saat duduk berhadapan. “Supaya aku datang ke sini?”

Reynanda tidak langsung menjawab. Wajahnya tampak lelah, sisa mabuk semalam masih jelas. Ia memijat pelipisnya beberapa kali, seperti menahan sakit kepala yang belum hilang.

“Aku akan melakukan apa saja untuk bisa bertemu kamu, Carisa.”

Carisa menatapnya datar. “Jangan campur aduk kan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan, Pak Reynanda.”

Reynanda menghembuskan napas pelan. “Aku tahu, aku.tidak profesional.”

“Kalau tahu, jangan pakai pekerjaan sebagai alasan.”

“Aku memang perlu revisi,” katanya, lalu menatap Carisa. “Tapi aku juga ingin kamu yang datang.”

Carisa menggeleng tipis. “Kamu selalu bersikap semau mu.”

Reynanda terdiam. Kalimat itu jelas, tanpa celah.

“Aku cuma ingin bicara,” lanjutnya lebih pelan.

“Kita sudah bicara,” balas Carisa. “Dan semuanya sudah selesai.”

Reynanda tersenyum tipis, lelah. “Kalau benar selesai, kamu tidak akan setegang itu duduk di depanku.”

Carisa tidak menjawab. Tangannya saling menggenggam di pangkuannya.

“Semalam aku tahu sesuatu,” kata Reynanda tiba-tiba.

Carisa mengangkat pandangannya, sedikit mengernyit. “Apa?”

Reynanda menatapnya lurus. Kali ini tidak menghindar.

“Kamu pernah hamil.”

Carisa langsung membeku.

Untuk sesaat, ia hanya menatap Reynanda tanpa benar-benar melihat. Wajahnya tidak berubah banyak, tapi di matanya, ada sesuatu yang runtuh di sana.

“Lantas apa?” suaranya pelan, hampir seperti tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.

Reynanda tidak mengalihkan pandangan. “Aku dengar semalam. Dan aku ingin tahu kebenarannya”

Carisa menarik napas, tapi terasa berat. “Dari siapa kamu tahu?”

“Itu tidak penting.”

“Penting buatku,” potong Carisa, nadanya mulai tegang. “Siapa yang cerita?”

Reynanda menahan sebentar, lalu menjawab, “Arga.”

Carisa menutup matanya sejenak. Rahangnya mengeras.

“Dan kamu percaya begitu saja?” tanyanya.

“Aku tidak tahu harus percaya atau tidak,” balas Reynanda. “Makanya aku tanya langsung ke kamu.”

Carisa tertawa kecil. Pendek. Pahit.

“Setelah semua ini, kamu baru bertanya?” katanya pelan.

Reynanda tidak menjawab.

Carisa menggeleng, lalu berdiri dari kursinya. Ia berjalan beberapa langkah, mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak stabil.

“Kamu tidak ada saat itu,” ucapnya tanpa menoleh. “Kamu tidak tahu apa-apa.”

“Aku memang tidak tahu,” kata Reynanda ikut bangkit berdiri menghampiri Carisa, suaranya lebih rendah sekarang. “Dan itu masalahnya.”

Carisa berbalik. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia berusaha untuk tidak menangis. Kejadian itu adalah trauma terbesarnya, ia sudah lama tidak membahas itu.

“Kamu ingin tahu sekarang?” tanyanya.

Reynanda menatapnya, tidak menjawab, tapi jelas menunggu.

Carisa tertawa lagi, kali ini lebih lirih.

“Sudah terlambat, Nanda,” katanya. “Semua itu sudah lewat. Dan kamu memilih tidak ada di sana waktu itu.”

“Aku tidak pernah diberi tahu,” balas Reynanda cepat.

“Karena kamu sudah pergi.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa ditinggikan, tapi cukup untuk membuat udara di ruangan terasa berat.

Reynanda menatapnya, rahangnya menegang.

“Jadi itu benar?” tanyanya akhirnya, hampir seperti memastikan.

Carisa tidak langsung menjawab. Beberapa detik. Lalu ia berkata pelan,

“Kalau kamu tahu waktu itu… kamu tidak akan pergi?” tanya Carisa, senyumnya tipis, sinis.

“Carisa,” Reynanda menatapnya, penuh penyesalan. “Aku benar-benar minta maaf.”

Carisa menggeleng. “Aku muak dengar kata maafmu, Nanda.”

“Apa yang harus aku lakukan… untuk menebus semuanya?” Reynanda mencoba meraih tangannya.

Carisa langsung menghindar.

“Yang harus kamu lakukan,” katanya tegas, “berhenti mengganggu hidupku.”

Reynanda terdiam.

“Kamu tahu, Nanda,” lanjut Carisa, suaranya lebih rendah, tapi jelas, “aku sempat pikir aku masih punya perasaan ke kamu. Tapi ternyata tidak.” Ia menatap lurus ke arahnya. “Setelah lihat kamu sekarang… aku sadar, yang tersisa cuma kecewa.”

Reynanda tidak langsung bereaksi. Ia hanya berdiri di sana, seolah kata-kata itu butuh waktu untuk benar-benar sampai.

“Kecewa?” ulangnya pelan.

Carisa tidak mengalihkan pandangan. “Iya. Kecewa karena dulu aku pernah mempercayai kamu sebesar itu.”

Reynanda menghela napas berat. “Aku memang salah.”

“Itu bukan hal baru,” potong Carisa. “Masalahnya, kamu selalu datang terlambat. Selalu baru sadar setelah semuanya selesai.”

Reynanda menatapnya, kali ini tanpa berusaha membela diri. “Aku tidak tahu tentang itu… tentang kehamilanmu waktu itu.”

Carisa tersenyum tipis. “Kamu tidak tahu, karena kamu memilih pergi tanpa penjelasan apapun.”

Sunyi kembali jatuh. “Aku tidak minta kamu kembali,” lanjut Carisa. “Aku juga tidak butuh penjelasan lagi. Semua itu sudah lewat.”

Reynanda melangkah setengah langkah, lalu berhenti lagi. “Tapi buatku belum selesai.”

Carisa menggeleng pelan. “Itu urusanmu. Bukan lagi urusanku.” Nada suaranya tidak tinggi, tapi tegas.

Reynanda menatapnya lama, seolah masih mencari celah yang tersisa. Tapi tidak ada.

“Hidupmu sudah punya arah sendiri,” kata Carisa. “Begitu juga aku.”

Reynanda diam hanya menatap Carisa. Namun saat Carisa akan berbalik, ia berhasil meraih tangan Carisa.

"Lalu dimana anak itu sekarang?"

Reynanda terdiam, hanya menatap Carisa. Namun saat Carisa hendak berbalik, ia meraih pergelangan tangannya.

“Lalu… di mana anak itu sekarang?”

Carisa membeku.

Beberapa detik ia tidak bergerak. Tatapannya kosong ke depan, sementara napasnya perlahan berubah tidak teratur.

“Lepas,” katanya pelan.

Reynanda tidak langsung melepas. “Jawab aku dulu.”

Carisa menarik napas. Tatapannya dingin, jauh lebih sulit dibaca dari sebelumnya.

“Itu bukan urusanmu,” ujarnya.

Reynanda mengernyit. “Dia juga bagian dari hidupku.”

Carisa tersenyum tipis lebih seperti ironi.

“Hidupmu?” ulangnya pelan. “Sejak kapan kamu merasa punya bagian di sana?”

Kalimat itu membuat genggaman Reynanda sedikit menguat.

“Kamu tidak pernah ada, Nanda,” lanjut Carisa. “Jadi jangan datang sekarang dan bertanya seolah kamu berhak tahu.”

Reynanda menatapnya, rahangnya menegang. “Aku berhak tahu.”

“Tidak,” potong Carisa tegas. “Kamu kehilangan hak itu sejak kamu memilih pergi.”

Tatapan mereka bertahan beberapa detik, tanpa ada yang mundur.

Carisa kembali menarik tangannya, tapi tetap tidak di lepas oleh Reynanda.

“Dan tidak semua hal perlu kamu ketahui,” katanya lebih pelan, tapi justru lebih tajam.

Reynanda menatapnya lebih dalam. Ada sesuatu yang kembali lepas dari kendalinya.

Tanpa berpikir panjang, ia menarik tangan Carisa, mendekatkannya paksa, lalu menunduk dan mencium bibirnya.

Carisa langsung meronta. Tangannya mendorong dada Reynanda, berusaha menjauh, tapi cengkeramannya terlalu kuat. Nafasnya kacau, dadanya naik turun menahan panik dan marah yang bercampur jadi satu.

“Lepas!” suaranya tertahan.

Reynanda tidak melepas. Dan dalam satu gerakan refleks, Carisa menggigit bibirnya.

Reynanda tersentak. Cengkeramannya langsung mengendur. Ia mundur setengah langkah, tangan refleks menyentuh bibirnya yang terasa perih.

Dalam satu gerakan cepat, Carisa menarik tangannya dan menamparnya.

Plak!

Suara tamparan itu keras, memecah ruangan.

Reynanda langsung terdiam. Wajahnya sedikit berpaling karena benturan itu. Bibirnya terkatup, rahangnya mengeras.

Carisa terengah, mundur beberapa langkah, menjaga jarak.

Matanya menatap tajam. Kali ini tidak ada ragu sama sekali.

“Jangan pernah sentuh aku lagi seperti itu,” katanya, suaranya rendah tapi tegas.

Reynanda tidak membalas. Tidak juga mendekat.

Ia hanya berdiri di tempatnya, menerimanya.

Carisa berbalik, melangkah keluar, dan membanting pintu di belakangnya.

Suara itu memantul di sepanjang koridor, cukup untuk membuat beberapa kepala langsung menoleh. Aktivitas yang tadi berjalan normal mendadak melambat. Ketikan berhenti. Obrolan terputus.

Carisa berjalan lurus, langkahnya cepat, wajahnya kaku.

Beberapa orang saling pandang. Bisik-bisik mulai muncul, pelan tapi jelas terasa.

“Itu tadi dari ruang Pak Reynanda, kan?”

“Iya… siapa ya?”

“Kayaknya tim desain…”

Carisa tidak menoleh. Tidak juga memperlambat langkahnya. Tatapannya lurus ke depan, seolah tidak mendengar apa-apa.

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!